
Robin menempati janjinya untuk mengajak Jessica makan malam di restoran romantis. Mereka berdua menikmati makan malam yang syahdu. Robin pria tampan dengan sejuta rayuan merasa saat ini ia harus segera mengatakan perasaannya kepada Jessica.
Sudah lama ia mengagumi gadis itu. Gadis cantik yang punya prestasi gemilang di kampusnya, dan sekarang direkrut menjadi salah satu tim lawyer dari pengacara terkenal di kotanya.
Sudah lama Robin ingin mengatakan perasaannya kepada Jessica, tapi gadis itu selalu menghindar. Di saat gadis lain berlomba-lomba menjadi kekasih Robin, Jessica bersikap biasa saja. Bahkan ia cenderung dingin. Hal itu justru membuat Robin sangat penasaran dengan Jessica.
Dulu saat kuliah, Robin pernah menembaknya, menyatakan perasaan sukanya. Jessica bilang ia tidak bisa menjawab. Dia belum ingin terlibat dalam hubungan dengan seorang pria.
"Tidak sekarang Robin, karena aku sedang konsentrasi untuk menyelesaikan kuliahku dulu," ucap Jessica.
Sambil menunggu Jessica menerima cintanya, Robin yang memang digandrungi para gadis sempat berpacaran dengan beberapa wanita. Hal itu yang membuat kabar tak sedap tentangnya beredar. Bahwa ia hanya memacari para gadis sebentar saja, lalu setelah dia bosan, Robin akan membuangnya.
Robin pantang menyerah. Meskipun ia ditolak Jessica berkali-kali, ia tetap berjuang memperebutkan hati gadis pujaannya.
Sekarang Jessica sudah bekerja dan tidak ada alasan lagi bagi gadis itu untuk menolak, maka Robin segera melakukan serangan bertubi-tubi. Dia mulai mengajak Jessica keluar jalan-jalan, memberikannya banyak barang mahal, Robin tidak ingin melewatkan kesempatan sedikitpun. Hingga akhirnya Jessica mulai nyaman dengan perhatian Robin.
"Jessi aku rasa sekarang saatnya yang tepat. Aku tak menyerah meskipun kau menolak berkali-kali. Aku harus bilang jujur sama kamu, kalau aku menyukaimu dan tak bisa melupakanmu meskipun cuma sebentar. Aku tersiksa dengan rasa ini," ucap Robin.
Jessica tersenyum. Dia juga menyukai Robin tapi tak mau bersaing dengan gadis-gadis lain.
Entahlah sepertinya hari ini semesta sedang berpihak kepadanya.
Meskipun Agnes sudah memperingatkan ia agar lebih berhati-hati kepada Robin, tetapi itu tak membuatnya berpikir ulang . Kali ini ia merasa sudah cocok dengan Robin, dan ingin mengawali hubungan baru.
Malam itu Robin membawa Jessica menikmati candle light dinner romantis di restoran mewah. Restoran yang dihias sangat indah, dekorasinya disesuaikan dengan tema warna malam itu. Merah hati.
Jessica tak menyangka malam itu benar-benar menjadi malam spesial untuknya. Jika tahu Robin membawanya ke restoran romantis ini, mungkin ia akan memakai gaun yang lebih pantas. Meskipun saat ini ia sudah mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam yang sangat cocok dengan kulitnya, tapi Jessica tetap merasa seharusnya ia tampil lebih maksimal.
"Jess, aku ingin kamu jadi kekasihku," ucap Robin sembari membuka sebuah kotak perhiasan. Kotak cincin berbentuk hati.
"Ini bukan lamaran pernikahan. Maksudku kita saling mengenal dulu, kan?" tanya Jessica.
"Bisa dibilang begitu, aku memang ingin mengenalmu dulu. Anggap saja ini ikatan antara kita berdua. Jess, kalau kamu mau aku akan membuat pesta pertunangan yang sangat indah untukmu."
Jessica terharu mendengar ucapan Robin.
"Kamu tidak perlu melakukannya. Aku rasa sekarang jantungku ingin meledak," tutur Jessica.
Robin menyematkan cincin di jari manis Jessica diiringi alunan musik romantis.
Jika ia terlambat, bisa-bisa Jessica akan berpaling dengan laki-laki lain. Robin tahu dulu di kampus banyak pria yang menyukai Jessica. Robin satu kampus dengan Jessica, hanya beda jurusan.
"Jadi mulai malam ini kita sepakat untuk memulai hubungan. Aku akan menjadi kekasih terbaik untukmu."
"Aku harap kamu tidak mematahkan hatiku, Robin. Aku sebenarnya belum siap menerima kehadiran laki-laki, entahlah aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya perasaanku belum mau menerima kehadiran laki-laki. Meskipun usiaku sudah 25 tahun, tapi untuk makan malam denganmu saja aku harus mengumpulkan keberanian," ucap Jessica jujur.
"Pelan-pelan saja kita melakukan pendekatan, lalu saling mempelajari karakter masing-masing."
Robin meyakinkan Jessica. Ia juga memperlakukan Jessica seperti ratu. Ia menjemput Jessica dengan mobil limosin yang sangat mewah mengajaknya berkeliling kota sebelum akhirnya mengantarkan gadis itu pulang ke apartemennya.
"Jess, apa kamu keberatan kalau pindah ke apartemen yang lebih besar?" tanya Robin pada suatu malam.
"Menurut kamu apartemenku ini kenapa? Aku senang dan nyaman tinggal di sini."
"Gadis secantik kamu harus ditempatkan di tempat terbaik," ucap Robin.
Pemuda itu memang kaya. Orang tuanya pejabat yang cukup penting, dia mempunyai banyak usaha. Sejak dulu Jessica tahu Robin juga banyak digandrungi oleh para wanita karena ketampanan dan kekayaannya itu.
Justru hal itu yang membuat Jessica tidak mau terburu-buru menerima cinta Robin. Hanya saja Robin adalah pria yang tidak mudah menyerah. Ia terus saja mendekati Jessica tanpa kenal menyerah. Hingga malam ini ia berhasil mendapatkannya.
"Aku rasa aku lebih nyaman tinggal di sini."
"Oh tidak, aku akan menyewakan apartemen yang lebih bagus."
Jessica hanya terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tapi baginya ini sangat indah. Hari-harinya bersama Robin membuatnya menjadi perempuan istimewa. Akhirnya Jessica pindah ke apartemen yang lebih bagus dan hubungan mereka menjadi lebih serius.
"Kamu menyukai apartemen ini?" tanya Robin.
"Tentu saja. Ini lebih dari ekspektasiku. Ruangannya sangat lega. Letaknya juga tidak jauh dari kota, akses ke mana-mana sangat mudah. Aku tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk naik bus."
Jessika sangat menyukai apartemen itu.
"Jess, ini hadiah selanjutnya." Robin menyerahkan satu kotak yang membuat Jessica penasaran.
"Apa ini?"
"Buka saja. Ini hadiah untukmu."
Jessica menerima kontak itu, lalu saat membuka kotak hitam itu, ia terperanjat. Sebuah kunci mobil.
"Jangan bilang kalau kamu,-
" Iya sayang aku tidak mau kamu menghabiskan waktu di bus atau taksi. Mulai sekarang kamu harus menyetir sendiri. Ini mobil kamu dan kamu berhak memakainya semaumu.
"Robin, aku sudah bilang kamu tidak perlu melakukan ini semua."
"Yang terbaik untuk bidadariku, aku akan memberikannya." Ucapan Robin benar-benar membuat Jessica terbang ke atas awan.