The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Potongan Ingatan



Sebenarnya Jessica ingin menyetujui usulan Agnes untuk melihat langsung, apakah benar yang dikatakan Agnes bahwa malam itu Robin datang ke apartemen Felicia. Jika itu benar mungkin sekarang saatnya Jessica harus menentukan langkah.


"Kalau kamu butuh Felicia untuk bicara aku akan mengajak kalian makan di restoran dan kamu bisa menanyakan hal itu langsung pada Felicia." Jessica menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, aku akan mencari kebenarannya sendiri." Melihat raut wajah sahabatnya yang keruh,


"Maafkan aku kalau sudah membuat kamu pusing, tapi kadang-kadang kita memang harus terhempas lebih dulu untuk mencari sebuah kebenaran." Agnes sedikit menyesali ucapannya tentang Felicia. Tadinya ia berharap Jessica percaya, tapi ternyata gadis itu bergeming.


"Aku menghargai apa yang kamu lakukan, ini pasti untuk kebaikanku. Terima kasih Agnes."


Sepanjang hari Jessica tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Jika benar yang dikatakan Agnes, Robin ternyata buaya darat maka ia sudah berniat untuk meninggalkannya.


Gadis itu membuat janji temu dengan Robin. Ia ingin makan malam di restoran tepi pantai. Tentu saja dengan senang hati Robin menyanggupi. Dia bahkan menjemput Jessica tepat waktu.


"Ayo aku sudah siap, Sayang. Kita berangkat sekarang."


Robin melihat malam itu Jessica sangat cantik. Laki-laki itu selalu tergila-gila pada Jessica."


"Ayo aku juga sudah siap."


Keduanya menuju ke mobil.


Robin melajukan mobilnya perlahan-lahan. Mereka menikmati udara pantai yang menyegarkan. Malam itu banyak gemerlap bintang membuat suasana makan malam mereka semakin romantis.


"Kenapa kamu tiba-tiba memilih restoran di pinggir laut?" tanya Robin.


"Ini restoran terapung terbaik di kota ini. Aku ingin suasana baru. Robin menurutmu apakah hubungan kita bisa dilanjutkan?" tanya Jessica. Robin heran dengan pertanyaan itu.


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Robin, aku tidak tahu, tapi seperti yang pernah aku katakan padamu, aku punya trauma terhadap laki-laki. Bahkan mungkin saat kita menikah kamu akan menerima perlakuan yang tidak baik dariku dan aku tidak menyadarinya." Jessica menundukkan wajahnya.


"Sayang, aku bisa bertahan dengan semua itu. Aku mencintaimu dan tidak ada lagi yang harus aku ragukan darimu."


"Apakah kalau aku punya trauma, itu juga tidak mengganggumu, Robin? Aku tahu semua pria menginginkannya, termasuk kamu."


"Jess, kamu bisa melakukan terapi, aku juga bisa membantumu."


"Apa maksud kamu? Membantu apa?"


"Perlahan-lahan nanti rasa traumamu akan hilang. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mempercayai pria. Mereka tidak akan menyakitimu." Robin meyakinkan Jessica.


"Benarkah?" tanya Jessica ragu. "Tentu, Sayang, aku mencintaimu dan tidak akan mempedulikan apa pun selain mencurahkan perhatian kepadamu."


Jessica bingung, jika dihujani dengan pujian dan perhatian seperti ini siapa yang tidak luluh.


"Mungkin Agnes hanya mengada-ada," pikirnya.


Malam itu mereka menikmati makan malam yang sangat romantis. Keduanya banyak bercerita, bercanda, dan tertawa seolah-olah hari itu dunia milik mereka berdua.


Minuman anggur yang disuguhkan atas pesanan Robin membuat badan Jessica menghangat. Robin melingkarkan syalnya di leher Jessica, sebelum membimbing gadis itu pulang ke apartemennya.


Malam itu mereka kembali berbincang di dalam apartemen. Robin mencium kening Jessica, lalu berkata," jangan pikirkan hal lain, jangan dengarkan suara-suara di luar kita. Aku sangat mencintaimu."


Robin menarik dagu Jessica yang lancip. Gadis itu awalnya menikmati ciuman itu, tapi tiba-tiba ia teringat lagi potongan-potongan ingatan saat Richard juga melakukan hal yang sama, ******* bibirnya dengan rakus.


Lalu potongan ingatan lainnya muncul saat Frans juga melecehkannya. Jessica terkejut, sontak ia membuka matanya.


"Kenapa, Sayang?" Robin bertanya karena wajah Jessica tiba-tiba menegang.


"Sekarang aku mengingatnya."


"Mengingat apa?


"Ya Tuhan ini sangat menyakitkan!" Tiba-tiba Jessica menangis dan memegangi kepalanya. Potongan-potongan ingatan itu memberinya rasa perih yang tak tertahankan. Jessica menangis histeris, Robin berusaha menenangkannya, tapi Jessica segera mendorong tubuh Robin hingga pria itu terkejut. Tubuhnya terjajar ke belakang.


"Pergi kamu dari sini!"


Robin terkejut dengan sikap Jessica.


"Aku bilang pergi dan jangan menemui aku lagi."


Jessica menatap Robin dengan tatapan kebencian.


"Hei, tenanglah, Sayang."


"Pergi kataku! Jangan berani pegang-pegang aku!"


"Jessica mungkin ini terasa sulit bagimu, tapi kita harus menghadapinya berdua."


"Aku tidak membutuhkan kamu. Pergi dari sini! Pergi!"


Hal itu membuat Robin sedikit ngeri. Dia menyaksikan tatapan yang tak biasa. Selama ini Jessica adalah gadis lemah lembut lembut, kini sudah hilang berganti dengan perempuan penuh kemarahan.


"Sayang, aku bisa membantumu." Robin masih berusaha membujuk Jessica.


"Pergi dari sini atau aku akan membunuhmu!"


Robin terdiam. Ia masih berusaha menenangkan Jessica.


Pria itu maju lalu memeluk kekasihnya. Jessica akhirnya melemah dan menangis di dada Robin.


"Aku tidak bisa," ucapnya terbata-bata.


"Sayang, kita akan menghadapinya berdua. Terima saja, terima semuanya, rasa sakit dan ketakutanmu." Robin mengelus-elus bahu kekasihnya.


Setelah Jessica agak tenang Robin kemudian memberikan segelas air putih. Jessica segera menyambarnya lalu meminumnya hingga habis.


"Besok kita akan menemui psikiater. Setidaknya kamu bisa mengatakan apa yang kamu rasakan."


"Tidak, oh tidak aku tidak mau, aku tidak membutuhkan psikolog ataupun psikiater." Jessica menggelengkan kepalanya berkala.


" Oke, Sayang, aku tidak akan memaksamu. Sekarang kamu istirahat ya, aku akan pulang."


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Kamu tidak apa-apa kalau kutinggalkan sendirian? Aku bisa menemanimu kalau kau mau."


Robin menawarkan diri tapi Jessica meyakinkan Robin, dia bisa menjaga dirinya sendiri.


"Aku ingin sendirian.'


Akhirnya Robin pulang dengan perasaan kecewa. Dia belum bisa menaklukkan Jessica.


Sementara itu Jessica terus gelisah, ia ingin tahu apa yang terjadi dengan potongan ingatan itu.


"Aku harus tahu apa yang terjadi, kenapa potongan-potongan ingatan ini terasa menyakitkan? Aku harus menelepon Simon.


Gadis itu segera menelponnya.


"Bisakah kamu datang ke apartemenku malam ini, Simon?"


Mendengar suara Jessica yang sendu, Simon yang bersiap tidur kembali bangkit.


Telepon dari Jessica membuatnya kembali segar.


"Jessie, ada apa? Tentu aku akan datang. Sekarang tunggu aku."


Dengan cepat Simon datang ke apartemen Jessica. Saat Simon datang, Jessica langsung menghambur dalam pelukannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat begini?"


"Potongan ingatan itu datang lagi, Simon. Aku ingat tapi hanya sebagian dan itu terasa menyakitkan."


"Simon apakah ada hal buruk yang terjadi padaku saat aku kecil dulu?"


"Kamu terjatuh dari tangga dan itu mengubah semuanya. Hanya itu."


"Apa benar kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku sebelum itu?"


"Apa maksudmu? Katakan apa yang kau ingat, aku coba menjelaskan jika aku tahu."


Jessica terdiam. Jika Simon tidak tahu maka dia tidak akan menceritakannya. Bahwa ia pernah dipaksa untuk melakukan sesuatu di luar kemauannya.


Tiba-tiba Jessica merasa badannya gemetar dan kedinginan. Hal itu membuat Simon membaringkan Jessica di atas kasur.


"Jessie, apa yang kamu rasakan sekarang?"


"Aku kedinginan. Setiap mengingat kejadian itu badanku selalu menggigil "


"Kejadian apa yang kamu maksud?"


Jessica masih menutup mulutnya dia tidak bisa berbicara yang sebenarnya. Akan tetapi dia ingin menyelidiki semuanya dan itu dimulai dari satu nama, Frans.


"Simon apakah aku bisa bertemu daddy Frans? Dia masih bisa ditemui, bukan?"


"Maaf, Jessie sekarang aku harus mengatakan yang sebenarnya. Uncle Frans sudah meninggal. Hanya aunty Merry yang masih hidup, dan sampai sekarang masih ada di rumah sakit jiwa."


"Ya Tuhan, aku ingin bertemu dengannya, bisakah kamu menemani aku kesana?"