The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Trauma Datang Lagi



Jessica sudah dibutakan cinta Robin. Gadis itu tidak tahu ia sedang dimanfaatkan karena Robin tak tulus mencintainya.


Bagi Jessica ini adalah awal. Bersama Robin ia ingin mengawali hidupnya dari trauma yang tak ia mengerti.


Gadis itu menyadari mengalami trauma pada laki-laki. Jika dengan Robin dia bisa menyembuhkan diri, maka dia mau melakukannya. Jessica gadis yang patuh pada komitmen. Dia sepakat menjalin hubungan dan tidak akan mundur dari komitmen itu. Robin masih memeluknya, setelah kepergian Simon.


"Maafkan aku, Robin. Setelah ini aku tidak akan bertemu Simon lagi."


"Iya sayang, aku tahu kita sudah sama-sama dewasa untuk memulai hubungan ini. Satang, untuk menunjukkan keseriusanku, maukah kamu menikah denganku."


Tiba-tiba Robin berlutut sambil menyerahkan satu kotak perhiasan berisi cincin berlian. Jessica tidak menyangka dilamar dalam keadaan tidak siap. Gadis itu terpana melihat Robin yang bermuka serius di hadapannya.


"Kenapa kamu selalu melakukannya di waktu yang tidak tepat?" Jessica terharu, matanya berkaca-kaca.


"Sayang, aku selalu ingin memberi kejutan untukmu. Bagiku tidak ada waktu yang tidak tepat. Semua waktuku bersamamu adalah waktu terbaik. Apakah kamu setuju menikah denganku?"


Robin membuka kotak perhiasan itu. Kilau berlian menyilaukan pandangan Jessica.


"Robin aku rasa ini terlalu terburu-buru. Bagaimana kalau kita melakukan pesta pertunangan dulu?" sergah Jessica.


Gadis itu masih belum siap untuk terikat dalam ikatan resmi.


Akan tetapi karena ia ingin menyembuhkan traumanya, akhirnya ia menerima lamaran Robin.


"Baiklah kalau memang pesta pertunangan ini bisa membuat kamu bahagia, aku setuju."


Robin melingkarkan cincin itu di jari manis Jessica.


"Anggap saja ini latihan."


Jessica tersenyum bahagia.


"Terima kasih untuk semuanya, Robin. Kamu membuatku semakin yakin bahwa laki-laki itu bisa dipercaya."


"Aku akan terus memberimu yang terbaik, Sayang."


Robin memberi pelukan untuk Jessica, perempuan itu membalasnya dengan hangat.


Jessica yakin kini tidak ada hal yang perlu ia khawatirkan lagi, karena Robin sudah memberikan segalanya. Cinta yang besar, harta, dan komitmen, baginya itu sudah cukup.


Keesokan harinya Jessica membicarakan rencana pertunangannya dengan Agnes.


Agnes tidak terlalu setuju karena tahu reputasi Robin, tapi ketika dia sudah memberitahu Jessica namun Jessica lebih memilih jalannya sendiri mau tidak mau sebagai sahabat dia harus mendukungnya.


"Oh Jessie, aku senang kalau kamu juga bahagia. Jadi kapan rencananya pertunangan kalian dilakukan?"


"Kalau tidak ada halangan akhir pekan ini. Robin berjanji menyiapkan segalanya untukku."


"Kabari aku kalau kamu butuh bantuan, aku turut berbahagia untukmu, Jessie." Agnes meraih tangan Jessica.


"Terima kasih atas Agnes, dan maaf tentang kemarin."


"Tentang apa? Ayolah aku sudah melupakannya. Kamu sudah memilih Robin sebagai pasangan, kalian akan menikah, jadi aku pun harus menerimanya. Bagiku yang paling penting adalah kebahagiaanmu. Aku menyayangimu." Agnes memeluk Jessica.


"Aku juga."


Mereka berpelukan erat


Keduanya sering mengobrol, saling curhat sejak masih kuliah. Agnes punya pacar, mereka terpisah kota dan Agnes selalu curhat tentang kesetiaannya pada kekasih yang seakan tak mendapatkan balasan. Agnes sering galau dengan perasaannya sendiri.


Dulu Jessica bisa dengan mudah menasehatinya, tapi Agnes memilih mengakhiri hubungan dengan pacarnya. Akhirnya mereka berdua statusnya sama-sama tidak punya pacar.


Kini setelah resmi berpacaran dengan Robin, Jessica lebih banyak berempati. Dia tidak sering memamerkan hubungannya dengan Robin. Apalagi Jessica tahu diam-diam Agnes tidak setuju dia berhubungan dengan Robin.


Akhirnya malam pertunangan yang ditunggu-tunggu pun tiba.


Jessica terlihat bertambah cantik dengan gaun putih panjang menjuntai dengan aksen sederhana di bagian dada. Malam itu ia memakai perhiasan yang mahal pemberian Robin. Satu set perhiasan merk ternama, membuat penampilan Jessica semakin cantik dan glamor.


"Selamat untuk pertunangan kalian." Agnes mencium pipi Jessica."


"Terima kasih, Agnes. Kuharap tak lama lagi kamu segera menyusul."


"Halo Jessie, sayang aunty ikut bahagia atas pertunanganmu. Akhirnya kamu mendapatkan pasangan yang kamu cintai. Congrats, Dear."


"Terima kasih, Aunty."


Jessica menunggu Simon datang, tapi sedari tadi ia tidak melihatnya.


Saat Lyla memberikan ciuman di pipi Jessica, perempuan itu berbisik," Simon tidak datang, jangan menunggunya."


Sontak kabar dari Lyla itu membuat Jessica sedih. Wajahnya yang semula cerah berangsur tertutup mendung, meski ia berusaha menutupinya. Di balik kebahagiaannya, Jessica merasa ada yang kurang.


"Aku rasa Simon marah karena kejadian kemarin. Bahkan dia tidak mau datang ke pesta pertunanganku. Apakah aku menyakitimu, Simon?" gumamnya dalam hati.


Gadis itu bersedih karena di momen istimewa ini justru sahabatnya tidak bisa datang.


Sementara itu di apartemennya Simon sedang minum minuman beralkohol. Laki-laki itu mengalami patah hati terhebat.


"Selama ini aku menjagamu Jessie, sekarang kamu memilih pria lain untuk melakukan itu."


Sejak mereka kecil ia berusaha menjaga Jessica. Simon berharap suatu saat dia bisa menggandeng Jessica ke depan altar. Meresmikan status menjadi istrinya. Ternyata Jessica memilih pria lain dan itu sangat menyakitkan bagi Simon.


"Kamu mematahkan hatiku, Jessie. Apakah kamu tahu betapa hari ini aku tidak ingin hidup. Aku sangat putus asa. Kita pernah berjanji bersama-sama. Meskipun aku yakin kamu tidak mengingatnya."


Simon menenggak satu gelas minuman lagi.


"Meskipun hatiku hancur, aku berharap kamu bahagia. Semoga Robin tidak menyakitimu."


Simon menuang lagi minumannya. Dia mengingat bagaimana mereka berdua dulu sering bermain, berdebat, bercanda, dan bersepeda bersama. Saat Jessica kembali ke panti asuhan, hubungan mereka menjadi renggang.


Mereka berdua sibuk dengan kehidupan kuliahnya. Simon juga dikirim ke Jerman untuk kuliah di sana. Mereka baru dekat setelah keduanya sama-sama lulus kuliah.


"Aku harap ini bukan awal yang buruk untukmu, Jessie, tapi entah kenapa aku merasa Robin itu bukan pria yang baik. Semoga ini hanya perasaanku saja."


Simon ingin menghabiskan kesedihannya, supaya bisa memberi ucapan selamat kepada Jessica dengan tulus.


Sementara itu, setelah pesta pertunangan usai Jessica kembali ke apartemen bersama Robin.


Jessica melepaskan daunnya dibantu Simon. Robin mengusap punggungnya yang mulus, Jessica tidak menolak. Ia sudah bertekad untuk menyerahkan diri kepada Robin. Dia ingin mengukur sejauh mana rasa trauma di dalam dirinya.


Usapan lembut di punggung dan sikap Jessica yang hanya terdiam saat Robin mengelusnya membuat pria itu berani melakukan aksi berikutnya. Robin


memabut bibir mungil di hadapannya sambil membisikkan kata-kata indah di telinga Jessica..


"Mari nyalakan musiknya. Kita berdansa, sayang."


Mereka mengikuti alunan musik yang lembut.


"Malam ini aku bahagia sekali sayang," ucap Robin dengan lembut.


Jessica menganggukkan kepala," aku juga tidak sabar untuk segera menjadi Nyonya Robin."


Jessica tersenyum dan membalas ciuman mesra Robin. Malam semakin larut, Robin tak sabar menikmati malamnya bersama kekasihnya.


Satu persatu gaun Jessica sudah terlepas, Robin bersiap hendak membaringkan gadis itu di ranjang. Jessica masih bersikap biasa saja, ia berusaha menikmati segala perlakuan manis Robin.


Namun saat Robin hendak melabuhkan hasrat, pria itu mengelus perut ramping Jessica dengan lembut.


Saat itulah Jessica tersentak kaget. Dia seperti mengingat sesuatu, lalu tanpa sengaja tubuhnya mendorong Robin.


"Ya Tuhan, jangan lagi, Jess!"


Jessica panik dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, tapi napasnya mendadak sesak dan tersengal-sengal.


Robin tidak mau lagi menerima penolakan maka ia pun memaksa.


"Kali ini jangan menolak lagi."


Jessica tidak menjawab tapi dia terus berusaha mendorong tubuh Robin. Hingga pada satu titik Jessica sudah tidak bisa lagi berteriak. Gadis itu cuma pasrah saat Robin begitu kasar menarik rambutnya.


Jessica teringat lagi potongan-potongan adegan di kepalanya saat Richard juga menarik rambutnya dan memaksanya mengulum miliknya.


Lalu muncul ingatan saat Frans memainkan jari-jemarinya di area vital gadis itu. Dengan cepat Jessica mendorong tubuh Robin hingga pria itu terpental.