The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Memilih Diam



Menyadari Jessica bersikap brutal terus mendorong dirinya, Robin tak punya pilihan selain meninggalkan kekasihnya. Robin berteriak sembari memaki-maki Jessica dengan kasar.


"Dasar ******! Kamu tidak pantas menolak aku! Aku juga nggak layak kamu perlakukan seperti ini! Kamu wanita gila, Jess!"


Robin terus memakai-maki Jessica yang ketakutan. Gadis itu meringkuk di bawah tangga membiarkan Robin pergi dengan kemarahannya.


Robin menghidupkan mesin mobilnya lalu pria itu pergi meninggalkan apartemen Jessica. Kemarahannya memuncak. Dia sudah sejauh ini, bahkan malam ini ia telah melamar Jessica secara resmi. Tapi menurut Robin Gadis itu tidak cukup berjuang untuk melepaskan trauma.


"Jangan pikir kamu satu-satunya perempuan di dunia. Aku bisa mendapatkan banyak wanita. Robin menelepon seseorang.


"Datanglah ke apartemenku sekarang," ucapnya sambil memukul setir. Pria itu benar-benar kalap ditolak kekasihnya.


Sesampainya di apartemen dia menunggu sesaat lalu datang seorang gadis berambut blonde yang langsung menciumnya.


"Kita berpesta malam ini, Sayang."


Sementara itu, Jessica masih ketakutan di apartemen. Perlahan-lahan ia bangkit lalu mengambil segelas air putih. Setelahnya Jessica minum obat penenang yang di resepkan Simon. Dia teringat perkataan Simon," jangan minum obat ini kecuali kamu benar-benar membutuhkannya."


Saat ini Jessica sangat membutuhkan obat itu. Setelah meminum obat itu perlahan-lahan, debar jantungnya mulai teratur. Ia menarik napas panjang.


Jessica duduk di sofa, sekarang pikirannya mulai bisa diajak berkompromi. Dia teringat bagaimana Robin dengan marah meninggalkan apartemen.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Aku menyakiti hati Robin, ah aku membuatnya marah."


Gadis itu akhirnya memilih untuk mendatangi apartemen Robin. Dia ingin meminta maaf sekaligus menjelaskan situasinya.Jika memang Robin tidak bisa menerima kondisinya, dia siap mengembalikan cincin pertunangan itu. Jessica segera melarikan mobilnya menuju apartemen Robin.


Awalnya Jessica mengira Robin tidak berada di apartemennya, karena sangat sepi. Dia sudah diberi akses untuk bisa masuk ke dalam apartemen, sehingga dengan mudah Gadis itu memasuki apartemen. Perlahan-lahan Jessica melangkah masuk.


"Apakah Robin tidak ada di sini?" tanyanya dalam hati.


"Mungkin dia sedang menghabiskan waktu di bar. Sebaiknya aku menyusulnya."


Jessica tahu tempat Robin biasa berkumpul dengan teman-temannya. Dia hendak melangkahkan kaki keluar dari apartemen, saat mendengar suara ******* dari dalam kamar Robin. Jessica menajamkan pendengarannya.


Perlahan-lahan gadis itu mendekat ke kamar Robin. Hatinya mulai tak tenang. Suara suara ******* itu semakin lama semakin jelas terdengar.


Alangkah terkejutnya Jessica saat melihat Robin sedang bersama dengan seorang wanita, bergumul tanpa busana. Seketika pandangan Jessica gelap tapi gadis itu mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Jessica meraba dadanya yang terasa nyeri.


Semakin lama Jessica makin tidak kuat, lututnya goyah, tubuhnya gemetar. Jessica jatuh terduduk. Ia menangis tanpa suara di depan kamar, sementara Robin dan gadis berambut blonde itu menuntaskan birahi mereka.


Suara itu, Jessica tidak asing dengan suara percintaan, lalu potongan ingatan itu kembali datang menyiksanya. Bagaimana dulu Frans memperlakukannya, lalu bagaimana dulu Richard memaksanya. Adegan itu seperti rekaman film yang diputar di hadapannya, dan semua ini nyata. Kini Jessica mengingat semuanya, kepalanya sangat sakit. Gadis itu memegang kepalanya kuat-kuat.


Jessica tidak mau bersikap lemah meskipun dengan hati yang terluka, gadis itu merangkak keluar dari apartemen Robin. Sesampainya di mobil, Jessica baru bisa menangis dia berteriak sangat keras, lalu ia melajukan mobilnya.


Saat Jessica menutup pintu apartemen terdengar suara cukup keras dan hal itu membangkitkan rasa ingin tahu Robin. Dia sedikit terganggu dengan suara pintu itu.


"Cukup Marty," ucap Robin. Marty, gadis berambut blonde itu tentu saja kecewa.


"Aku belum sampai, Sayang. Kamu nggak bisa begini!"


Robin memakai celananya, lalu melangkah ke pintu. Dia yakin tadi ada ada seseorang.


"Apakah Jessica ke sini?" gumamnya dalam hati.


"Kalaupun iya, biar dia melihat sendiri aku tidak bisa diremehkan."


"Robin, cepatlah aku sudah tidak tahan lagi!" teriak Marty.


Robin menyambutnya, mereka kembali melanjutkan aktivitas di atas ranjang yang tertunda.


Jessica melarikan mobilnya menuju ke pantai. Gadis bertubuh ramping situ sekarang sudah mengingat bahwa rasa trauma yang timbul di dalam hatinya akibat perlakuan tak menyenangkan dari dua pria dewasa saat ia dulu masih berusia 8 tahun.


Jessica menangis, hatinya terasa perih. Satu benang kusut di dalam kepalanya telah terurai.


Badan Jessica menggigil, hingga gadis itu tak bisa lagi menahan diri. Dia jatuh pingsan di pinggir pantai. .


***


Jessica terbangun, perlahan-lahan ia membuka kelopak matanya, lalu menatap ruangan yang berbau obat-obatan.


"Jessie, syukurlah kau sudah bangun. Kau membuat aku cemas."


Simon duduk di hadapannya Jessica mengerjapkan matanya. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi.


"Kamu pingsan di pantai, seseorang menemukanmu lalu membawanya ke rumah sakit ini. Beruntung aku melihatmu."


Jessica mengingat semuanya.


"Simon seharusnya kau tidak menolong aku."


"A pa yang terjadi? Bukankah tadi malam adalah hari istimewamu? Kamu bertunangan dengan Robin."


" Jangan sebut namanya lagi," teriak Jessica lemah.


Kini Simon tahu apa yang menyebabkan Jessica pingsan di tepi pantai.


"Kadi pria itu menyakitimu? Katakan Jessie, biar aku yang menghajarnya."


Jessica mengurut keningnya yang masih terasa nyeri.


"Sudahlah sebaiknya sekarang jangan pikirkan pria itu, tapi pikirkan supaya kamu cepat sembuh."


"Aku mengingatnya." Jessica berkata lirih.


Simon mendekatkan telinganya. "Katakan apa yang kamu ingat."


"Aku mengingat semuanya. Mereka jahat padaku Simon."


"Siapa yang kamu maksud?"


Jessica tidak menjawab. Ia larut dalam tangisnya, hingga Simon perlahan-lahan merapatkan tubuhnya. Di dalam pelukan Simon, Jessica menumpahkan semua kesedihannya, tapi gadis itu tetap tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Setidaknya potongan ingatan sebagian sudah kembali, ternyata hal itu sangat menyiksanya.


"Kamu yakin tidak apa-apa? Aku bisa membawa psikiater ke sini kalau kamu membutuhkannya."


Jessica menganggukkan kepala, aku baik-baik saja tapi ini terlalu sakit."


"Jangan disimpan, Jessie. Berbagilah denganku. Aku akan mendengarkan semuanya."


"Simon, kamu benar-benar tidak tahu apa yang menimpaku dulu?"


"Ini tentang apa?"


"Aku mengingat seseorang. Sepertinya dia bukan keluarga kita, tapi pernah ada di rumah . Dia ... Ya Tuhan aku tidak bisa mengatakannya." Jessica kembali terisak. Semua terasa berat baginya.


"Kalau kamu tidak mau menceritakannya, tidak apa-apa."


"Dia menyakitiku. Mereka menyakitiku, Simon."


"Iya aku tahu ini pasti terasa berat dan menyakitkan untukmu. Sekarang kamu istirahat dulu, dan minum obat."


Simon membelai rambut Jessica. Dia sangat menyayangi gadis itu.


Kalau bisa Simon ingin mengangkat kesedihan hidup Jessica, tapi gadis itu seolah-olah menyimpan semua sendiri dan tidak mengizinkannya masuk.