The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Hati yang Patah



Perbincangan Aaron dan Richard terhenti saat dua wanita itu tiba dengan makanan di tangannya. Tassy mengambilkan Richard kue kering kesukaannya, sedangkan Cindy membawakan Aaron kue basah. Tentu saja Aaron protes karena ia tak begitu suka kue basah. Ia lebih suka kue kering dan cookies seperti milik Richard.


“Aku tidak mau ini, aku mau yang seperti itu.” Aaron menunjuk piring kue milik Richard.


“Ambil sendiri. Kenapa kau menyuruhku?” Cindy menghardik Aaron yang tak tahu berterima kasih.


“Kau kan yang mengambil duluan, jadi lakukan dengan benar.”


“Memang aku siapamu sampai harus melakukan itu?”


“Lihat Tassy, ia saja mau mengambilkan makanan kesukaan Richard.”


“Itu karena mereka memang pacaran. Kita kan hanya rekan kerja.”


“Siapa bilang mereka pacaran?” tanya Aaron yang mengira Cindy asal bicara.


“Tassy yang bilang tadi. Ia bilang kalau Richard suka ini, Richard suka itu, jadi jelas bukan kalau mereka memang pacaran?”


Kata-kata Cindy membuat Aaron menatap kedua sahabatnya yang sudah merah padam menahan malu. Mereka berdua tampak seperti pasangan pengantin baru yang ketahuan berciuman di depan umum. Saat beralih ke Cindy, Aaron melihat wanita itu tak tahu apa yang sudah ia bicarakan itu sangat besar dampaknya bagi kedua orang di belakangnya.


“Anu ... Cindy, bisa kau mengantarku ke meja kuenya? Aku akan mengambilnya sendiri.” Aaron ingin kabur dari sana karena suasana jadi terasa canggung.


“Manja sekali.”


Aaron menatap tajam sehingga Cindy bergidik ngeri.


“Baiklah, baiklah ... ayo!”


Cindy dan Aaron berlalu ke meja kue. Sementara itu, Richard dan Tassy hanya terdiam sambil memikirkan harus bicara apa agar suasana bisa kembali menyenangkan.


“Aku ....”


“Kamu ....”


Mereka berdua bicara secara bersamaan. Mereka akhirnya saling tatap dan malah tertawa menyadari keadaan yang berubah canggung seperti itu. Untuk meredakan perasaan mereka, mereka memakan camilan yang ada di depan mereka.


“Apa yang dibilang Cindy tadi, apa itu benar?” tanya Richard setelah dirasa sudah waktunya ia bicara.


“Hmmm ... iya. Aku memang menceritakan kalau kau suka kue ini dan suka minuman itu. Apa aku salah?” tanya Tassy mulai berdalih.


“Tidak, tidak salah sama sekali. Aku malah sangat senang karena kau mengingat hal-hal yang aku sukai.”


“Kita sudah berteman beberapa tahun, apa masih aneh kalau aku tahu semua hal tentang kalian berdua?”


“Tidak aneh. Hanya saja, sepertinya aku tidak mau terus seperti ini.”


Tassy berpaling ke arah Richard. Ia mencoba mencari tahu apa yang mau dibicarakan oleh pria di hadapannya ini.


“Kau mau kita putus hubungan sebagai teman?” Tassy tak percaya Richard mengatakan hal sekejam itu.


“Iya. Sudah terlalu lama rasanya. Sudah waktunya kita akhiri persahabatan ini.”


“Baiklah. Aku tidak percaya kau bisa berkata begitu meski aku tak tahu apa kesalahanku padamu. Aku masih akan menganggap Aaron sebagai sahabatku, tapi tidak denganmu.”


“Aku juga begitu.”


Tassy tidak tahu kenapa semua jadi begini. Apa salahnya kalau ia bercerita kepada Cindy mengenai hal-hal yang Richard sukai? Kenapa Richard semarah itu?


“Aku akan menjemputmu besok sore. Kita akan kencan untuk pertama kalinya. Jadi, pastikan kau bersiap-siap.”


“Eh?”


Saat Aaron sibuk mengambil kue kesukaannya, ia ditepuk oleh seseorang. Merry sedang menatapnya dengan pandangan jahil. Aaron lupa kalau Frans adalah pemilik perusahaan tempat mereka bekerja, jadi tidak aneh jika istrinya berada di sini juga.


“Kenapa tidak menunggu kakak datangnya?” tanya Merry dengan bisik-bisik. Ia tahu kalau Aaron tidak mau semua orang tahu dia adik dari pemilik perusahaan.


“Kakak jangan dekat-dekat, nanti ada yang tahu!” Aaron mengelak.


“Hoho ... jadi kau tidak mau ketahuan, ya? Baiklah, tapi jelaskan dulu siapa dia?” Merry menunjuk Cindy yang sedang melihat ke arah mereka berdua dengan heran.


“Dia partner kerjaku di kantor. Kami datang bersama karena memang satu arah.”


“Benar begitu?”


“Iya, Kak. Tolong pergilah ke depan bersama Kak Frans dan dua bocah itu. Nanti aku bisa ketahuan, Kak.” Aaron gemas karena kakaknya malah memperhatikan Cindy dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Ibu, kenapa Ibu di sini? Pak Frans kan ada di depan sana.” Cindy datang dengan polosnya bertanya pada istri bosnya dengan kurang sopan.


“Ah, aku hanya menyapa karyawan yang datang saja. Kau sendirian?” Merry mencoba memancing informasi dari Cindy.


“Aku datang bersama Aaron, Bu.”


“Kalian pacaran?”


“Tidak ...”


“Belum...”


Aaron dan Cindy menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda arti di telinga Lyla. Aaron bilang kalau mereka belum pacaran, itu artinya adiknya akan menyatakan perasaan sebentar lagi. Baiklah, ini waktunya Merry mempercayakan kisah cinta sang adik.


Tanpa mereka sadari, Jessica dan Simon tiba-tiba menghampiri mommy nya yang lama sekali mengambil kue. Mereka terkejut karena melihat ada pamannya di sini. Sontak saja mereka berteriak memanggil nama pamannya.


“Om Aaron!”


Aaron semakin bingung. Jika kedua keponakannya sudah datang, maka ia akan berada dalam masalah. Semua tamu di sini bisa tahu kalau dirinya adik dari pemilik perusahaan. Itu akan membuat kehidupan nyaman di kantor bisa berantakan.


“Om sama siapa ke sini?” tanya Jessica dengan polosnya.


“Sama Tante ini, Sayang.” Merry yang menjawabnya.


“Ooooh ... Tante cantik sekali,” puji Simon yang melihat wanita di samping pamannya.


“Terima kasih. Kalian juga sangat manis.”


“Tentu saja. Om kami juga sangat manis. Mommy sering bilang kalau Om Aaron selalu seperti anak TK di matanya.” Simon dengan polosnya membongkar kedok Aaron di depan Cindy.


“Eh? Kami pergi dulu, ya. Bersenang-senanglah!” Merry tahu Aaron sudah ketahuan oleh wanita itu. Jadi, Merry lebih baik melarikan diri sebelum adiknya itu mengamuk.


Cindy hanya kebingungan, tapi tak bertanya lebih lanjut. Dari kalimat Simon, hanya kata-kata anak TK yang menjadi fokusnya.


“Hei, kau dibilang mirip anak TK oleh anak TK! Hahaha .... lucu sekali!” Cindy terbahak mengingat hal itu.


Aaron diam saja. Ia sebenarnya takut kalau Cindy mengetahui identitasnya karena ucapan Simon. Namun, ia tak menyangka kalau Cindy sebodoh itu.


“Dengar ....”


Dugh! Tubuh Cindy membentur punggung Aaron yang berhenti tiba-tiba. Ia melongok ke depan untuk mencari tahu apa yang dilihat Aaron sampai jadi patung begitu. Di atas panggung sana, sudah berdiri kedua mempelai yang terlihat sangat bahagia. Senyuman mereka sangat lebar sehingga yang tidak mengenalnya pun tahu kalau mereka saling mencintai.


Namun, saat beralih ke Aaron, Cindy tak mengerti kenapa ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Apa pria ini terharu karena melihat seniornya menikah? Ataukah ... jangan-jangan Aaron menyukai Anne diam-diam? Cindy ingin menampik itu, tapi terlihat jelas kalau Aaron sedang patah hati.


Sedangkan di ujung sana,  Richard sedari tadi terus mengamati Jessica yang sedang menikmati es krim hingga bibirnya belepotan. Gadis kecil itu lebih menyita perhatian Richard hingga diam-diam laki-laki itu memotretnya.