The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Rencana Vivian



"Memangnya apa yang terjadi dengan kakakku?" tanya Aaron ingin tahu.


"Datanglah sekarang, kami tidak bisa membicarakannya di telepon."


Aaron bergegas menuju rumah sakit. Dia bertemu dokter Shen.


"Merry sudah semakin membaik. Tadi malam dia mengingat sesuatu. Dia bilang tidak membunuh bayinya."


Aaron terkejut mendengar penuturan Dokter Shen.


"Bukankah itu justru kemunduran? Kemarin dia sudah mengakui semuanya. Kenapa sekarang berubah dan Anda bilang dia sembuh?"


"Kita akan mengetahui faktanya. Saya butuh bantuan Anda. Saya mempercayai semua yang dikatakan Merry. Apakah ada CCTV di rumah Merry saat itu?" tanya dokter Shen.


"Kejadiannya sudah lama. Rumah itu sudah dijual pada orang lain, kalaupun ada pasti file-nya tidak bisa dibuka."


"Meskipun begitu saya tetap ingin Anda memeriksanya."


"Jika bukan Merry lalu siapa pelakunya? Dokter Shen, jangan main-main. Ini perkara serius."


"Merry juga mengatakan Frans mungkin tidak bunuh diri, karena sehari sebelumnya Frans datang kesini dan bicara dengan Merry. Frans ingin membawa Merry pulang."


"Maksud Anda apa? Saya tidak mengerti." Aaron mengernyitkan dahi.


"Anda tidak mencurigai seseorang? Orang dekat. Pelakunya mungkin sama. Orang yang membunuh baby Moana dan Frans adalah orang yang sama."


Kini Aaron benar-benar syok.


Selama ini Merry sudah menyesali dirinya sendiri karena menderita baby blue syndrome. Ia menebusnya bertahun-tahun dengan rasa bersalahnya karena telah membunuh baby Moana. Akan tetapi keterangan dari Dokter Sean tadi membuat Aaron tak mengerti. Bagaimana bisa Merry yang tidak melakukan hal itu tetapi mengakuinya.


Aaron tidak serta-merta percaya dengan apa yang dikatakan dokter Shen. Bisa saja dokter salah. Tapi kini kepalanya dipenuhi dilema dan tanda tanya. Bagaimana caranya ia bisa membuktikan kalau kakaknya tidak bersalah?


Terutama bagian Frans yang dinyatakan bunuh diri. Frans harus ditemukan di dalam apartemennya sudah tidak berdaya dengan obat tidur yang sangat banyak di dalam tubuhnya.


Keterangan dokter mengatakan Frans sengaja memasukkan obat tidur yang sangat banyak ke dalam minumannya, hingga menyebabkan ia meninggal dunia. Apakah fakta ini juga tidak benar?


Frans sangat ingin menyelidiki hal ini, tetapi ia tak tahu harus memulai dari mana.


Frans bertemu Merry yang terlihat sangat segar.


"Jadi benar kakak sudah sembuh?" tanya Aaron.


Merry mengganggukan kepala.


"Aaron, aku tidak membunuh anakku. Aku sangat yakin dengan kejadian itu. Aku sudah bisa mengingat, setelah aku ingat bertahun-tahun ternyata aku memang tidak pernah membunuhnya. Aku juga tidak tahu, tiba-tiba dia sudah tidak bernyawa di atas boxnya.


Aaron bingung dia tidak bisa mempercayai ucapan Merry begitu saja. Ini terlalu rumit.


"Frans juga. Dia tidak mungkin bunuh diri. Aku sangat mengenalnya, bahkan kami berencana untuk pindah ke luar kota dan memulai hidup baru. Frans meyakinkan aku kalau kami masih punya masa depan yang panjang. Aku menyambutnya dengan gembira. Tapi siapa sangka tiba-tiba dia dinyatakan bunuh diri? Aaron, ada yang aneh dan kita harus menyelidikinya."


Merry bersikeras tidak merasa bersalah dan tidak melakukan pembunuhan itu.


"Jika yang kakak katakan benar, hanya ada Jessica di rumah saat itu, bukan?"


Merry menganggukkan kepalanya. "Apakah kakak juga bisa membaca pikiranku?"


Merry menganggukan kepalanya lagi.


"Aku sendiri tidak yakin, tapi saat itu memang hanya ada Jessica. Jadi sekarang kita akan mencari kebenarannya. Kemarin Simon mengatakan kalau Jessica menginginkan Kakak kembali ke rumahnya. Ini kesempatan kita satu-satunya."


Merry senang mendengar berita itu.


"Jadi Jessica menginginkan kakak tinggal di apartemennya?"


Sekarang bantu Kakak. Kakak ingin mengetahui kebenarannya. Izinkan kakak tinggal di apartemen Jessica."


Merry memohon. "Baiklah aku percaya pada kakak. Tapi kakak harus meyakinkan aku kalau kakak sudah sembuh."


"Aku sudah sehat, Aaron. Dokter merawatku dengan baik dan aku bisa mengingat semuanya."


"Aaron, kamu bisa mempercayai kakakmu."


Melihat tatapan kakaknya yang terlihat normal, Aaron akhirnya percaya. Dia segera menghubungi Simon via telepon.


"Halo Simon, aku sedang bersama kak Merry sekarang. Dia sudah sembuh dan diperbolehkan pulang. Kapan rencananya Jessica akan ikut menjemput kakakku?" tanya Aaron.


"Wah jadi ini benar? Uncle Aaron, aku ikut senang kalau Aunty Merry sudah sembuh. Tunggu dulu jadi kamu mengizinkan Jessica tinggal dengan Aunty Merry?" tanya Simon.


"Tentu saja. Jessica adalah putrinya dan aku yakin dengan tinggal bersama Jessica, kakakku akan semakin membaik. Dokter mengatakan kalau sekarang dia sudah mulai mengingat apa yang terjadi dulu. Kita belum bisa berharap banyak. Dokter juga bilang lebih baik jika dia tinggal dengan orang-orang yang menyayanginya. Kamu tahu kan betapa Merry sangat mencintai Jessica."


Aaron ingin meyakinkan Simon supaya Jessica dan Merry bisa tinggal bersama.


"Tentu aku tahu itu. Begitupun sebaliknya. Jessie juga merindukan mamanya." Simon menjawab dengan senyum lebarnya.


"Baiklah Simon. Kamu bisa katakan sama Jessica kita bertemu di rumah sakit hari Senin pekan depan."


Simon tak sabar mengabarkan hal itu kepada Jessica. Dan seperti yang ia duga Jessica sangat antusias pergi ke rumah sakit jiwa untuk menjemput Merry.


Jessica menghambur ke dalam pelukan Merry saat melihat perempuan paruh baya itu menyambutnya.


"Mommy! Jessie kangen sama Mommy!"


"Iya sayang, Mommy juga merindukanmu."


Mereka mengurai kerinduan lewat pelukan hangat. Jessica merindukan pelukan itu.


"Sayang, kamu benar tidak keberatan kalau Mommy tinggal di apartemen kamu?" tanya Merry.


"Tentu saja aku tidak keberatanmu. Datanglah, aku datang untuk menjemput Mommy."


"Baiklah apalagi yang kita tunggu Sekarang saatnya kita pulang ke apartemen Jessica."


Sesampainya di apartemen ternyata Jessica sudah menyiapkan pesta kecil untuk menyambut kedatangan Merry.


Perempuan paruh baya itu sangat berbahagia karena di dalam apartemen itu juga ada Lyla dan Lucky yang menyambutnya.


Mereka berpelukan.


"Oh senang sekali aku bisa melihatmu Merry," ucap Lyla.


"Lyla, aku dengar kamu masih sakit, kenapa sekarang sudah berada di sini?" tanya Merry. Lyla tersenyum. "Aku baik-baik saja," jawabnya.


"Jangan katakan kamu keluar paksa dari rumah sakit, Lyla."


Meskipun masih terlihat agak pucat tetapi Lyla senang bisa menyambut Merry di apartemen Jessica. Mereka semua menikmati hidangan yang sudah disiapkan.


Simon mengobrol dengan Aaron sementara Jessica terus berbincang dengan Agnes yang juga diundang untuk datang.


Tak berapa lama kemudian terdengar bel apartemen berbunyi, lalu muncul lah Vivian. Simon heran, begitu juga dengan Jessica karena ia merasa tidak mengundang Vivian.


"Masuklah, sayang. Jessie kamu tidak keberatan kan kalau Vivian bergabung dengan kita?" tanya Lyla.


"Oh tentu saja tidak, Aunty. Silakan masuk Vivian."


"Terima kasih."


Vivian langsung masuk dan menghampiri Merry.


"Selamat datang Nyonya Merry, senang bertemu dengan Anda," ucap Vivian. Merry sedikit bingung karena tidak mengenal Vivian.


"Dia teman dekat Simon. Mungkin dia akan menjadi istri Simon," ucap Lyla membuat Simon dan Jessica terkesiap mendengarnya.


"Maaf Tante, saya belum yakin karena saat ini saya sedang dekat dengan Aaron."


Aaron yang disebut namanya menoleh mendengar ucapan Vivian. Dia memang berniat mengenalkan Vivian kepada Merry, tapi tidak secepat ini.


Yang tak kalah terkejut adalah Lyla karena yang menduga selama ini Vivian sangat mencintai putranya, tapi kenapa justru Vivian malah memperkenalkan diri sebagai kekasih Aaron?