The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Dilema Melanda Hati



Seharian ini Jessica tampak tak begitu senang. Bahkan saat masuk ke kelas dia yang biasa menyapa semua temannya satu per satu sekarnag lebih banyak murung. Sikap Jessica yang lain dari biasanya ini membuat teman-temannya kebingungan. Mereka bertanya apa yang sedang terjadi dengan Jessica.


Akhirnya karena penasaran, Glen beranjak dari kursinya dan melangkah menghampiri Jessica.


"Jessica, ada apa? Sepertinya kamu sedang tidak senang,” sapa Glen.


Jessica menganggukkan kepala dengan bibir yang manyun.


“Kamu habis dimarahi orang tuamu?” tanya temannya yang lain.


“Aku sebentar lagi akan punya adik!” ucap Jessica.


Teman-teman Jessica langsung berkomentar.


“Apa punya adik itu adalah sesuatu yang bagus?”


“Wah, jadi kamu punya teman bermain sekarang.”


“Adikmu laki-laki atau perempuan?”


“Adik bayi itu kan berisik.”


“Nanti orang tuamu tidak akan sayang lagi padamu kalau mereka sudah punya adik bayi.”


Dan masih banyak lagi komentar yang diberikan oleh teman-temannya dan membuat kelas seketika jadi gaduh dengan informasi baru ini.


Lalu Isabelle menghampiri Jessica dan mengatakan kalau punya adik itu tidak enak.


“Mommy mu pasti nanti tidak akan sayang kamu lagi.”


“Tidak, Mommy sayang menyayangi aku,” bantah Jessica berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


“Itu karena adikmu belum lahir. Tapi kalau adikmu sudah lahir, mommy mu pasti akan lebih menyayangi adikmu.” Jessica terdiam, ucapan Isabel memang selalu ia pikirkan.


“Mommy bukan orang yang pilih kasih.” Dia berkata pelan, mencoba berpikir baik.


“Mommy ku juga dulu sama seperti mommy mu. Dia sayang aku. Tapi sejak aku punya adik, mommy ku jadi sering memarahi dan lebih menyayangi adikku. Kamu nanti lihat sendiri saja, pasti mommy mu tidak lama lagi jadi sering marah-marah kepadamu. Apa lagi setelah adikmu lahir, kamu pasti tidak akan diperhatikan lagi karena mommy mu hanya sayang dan perhatian kepada adikmu saja.”


“Mommy bukan orang seperti itu!” bentak Jessica yang kesal karena tidak suka jika mommy nya dijelek-jelekkan.


“Hanya belum saja.”


“Mommy tidak akan seperti itu!”


“Kamu—”


“Sudah, sudah. Isabelle, kamu jangan bicara seperti itu pada Jessica,” lerai Glen.


Glen mencoba untuk menenangkan Jessica yang tampak sangat begitu kesal karena ucapan Isabelle.


“Sudah, kamu jangan terlalu memikirkan ucapan Isabelle. Aku yakin kalau mommy mu tidak akan seperti itu.”


“Iya, Mommy memang tidak akan seperti itu.”


Akhirnya sepanjang hari ini dilalui Jessica dengan bad mood. Dia bahkan sampai tidak mau bicara lagi dengan Isabelle. Dia yakin kalau apa yang Isabelle katakana itu tidak benar. Merry tidak akan seperti itu.


Wajah kesal Jessica masih belum juga berubah bahkan sampai dia pulang sekolah. Simon yang sedang menunggu Lyla bersama Jessica pun langsung bertanya kepada sepupunya. Dia bingung kenapa Jessica tampak begitu kesal.


“Ada apa, Jessica? Apa ada yang mengganggumu di kelas?” tanya Simon.


Jessica menggeleng.


“Lalu kenapa kamu kelihatan sangat marah?”


“Aku tidak suka dengan Isabelle!”


“Apa Isabelle melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?”


“Dia bilang kalau Mommy melahirkan adik bayi, Mommy tidak akan sayang aku lagi dan hanya sayang kepada adik bayi saja. Itu tidak benar kan, Simon?”


Jessica menatap Simon, berharap kalau Simon mengatakan iya. Dan Simon pun mengangguk.


“Aku yakin Aunty Merry tidak akan begitu. Tidak semua mommy akan seperti itu.”


Simon mengangguk sekali lagi.


“Mommy juga selalu sayang aku meski aku punya adik sepupu yang menyebalkan sepertimu,” celetuk Simon.


Jessica yang tadi sedang menatap lurus ke depan langsung beralih melotot kepada Simon secepat kilat.


“Kamu menagatakan aku menyebalkan? Apa kamu tidak salah bicara?”


“Tidak, Jessica. Kamu memang benar menyebalkan kok.”


Jessica pun mencubit lengan Simon dan membuat kakak sepupunya itu mengaduh kesakitan.


“Au …. Sakit, Jessica!”


“Siapa suruh kamu mengatakan sesuatu yang jahat seperti itu.”


“Padahal itu kan fakta,” ucap Simon sambil mengusap lengannya yang terasa sakit bekas dicubit Jessica.


“Dan aku yakin, bukan kamu yang nanti menderita punya adik bayi, tapi adik bayi yang akan menderita punya kakak yang galak sepertimu,” lanjut Simon.


Jessica semakin memelotot dan Simon langsung menghindar sebelum Jessica kembali mencubitnya.


“Kalau begitu, kamu cobalah jadi adik yang baik dulu untukku, biar kamu juga bisa jadi kakak yang baik untuk adikmu,” ucap Simon menasehati


Jessica menganggukkan kepala. Apa yang Simon katakan cukup masuk akal. Tapi sepertinya dia tidak tertarik untuk jadi adik yang pendiam untuk kakak semembosankan Simon. Gadis kecil itu yakin jika dia tidak mengisengi Simon, maka Simon akan terus diam saja seperti biasanya. Dan itu sama sekali tidak seru.


Tak lama menunggu, Lyla pun akhirnya datang juga.


“Maaf membuat kalian menunggu lama. Tadi Mommy ada urusan sebentar dengan Grandma,” ucap Lyla.


“Mau pulang sekarang?” tanyanya kepada kedua anak kembarnya.


Simon dan Jessica mengangguk.


“Kalau kita makan ice cream dulu bagaimana, Mommy?” tanya Jessica ketika mereka sudah masuk ke mobil.


Lyla menatap Simon dan Jessica bergantian.


“Itu ide yang bagus. Bagaimana, Simon?”


“Oke.”


Akhirnya Lyla pun meminta sopir untuk mengantar mereka ke kafe dulu. Di sana Lyla memesan dua ice cream, satu untuk Simon dan satu untuk Jessica. Sementara dia memesan jus.


Saat tengah menikmati ice cream, Jessica melemparkan pertanyaan kepada Lyla.


“Mommy, apa aku boleh bertanya?”


“Kamu ingin bertanya apa, Jessica?”


“Apa benar nanti Mommy tidak akan sayang aku jika adik bayi sudah lahir?”


Lyla tak langsung menjawab, dia malah menatap kedua anaknya.


“Teman Jessica menakut-nakuti Jessica, Mom,” jelas Simon.


“Iya. Isabelle bilang kalau mommy dia sudah tidak sayang dia lagi setelah dia punya adik. Mommy ku tidak akan begitu, kan?”


Lyla tersenyum dan mengusap kepala Simon dan Jessica bergantian.


“Tentu saja tidak. Mommy Merry itu sangat menyayangimu, jadi meski pun adik bayi sudah lahir, Mommy Merry pasti akan tetap menyayangimu,” kata Lyla.


Meski kalimat Lyla menenangkan, tapi dalam hati Jessica tetap khawatir tentang hal ini. Selama ini Merry menyayangi Jessica karena wanita itu belum punya anak, bahkan divonis susah punya anak. Lyla jadi resah apakah nanti Merry akan menyayangi Jessica seperti sekarang jika punya anak sendiri? Karena bagaimana pun Jessica memang bukan anak kandung Merry dan Frans.


Lyla kembali menatap Jessica. Tampak gadis kecil itu menyantap ice cream nya dengan wajah murung. Dan Lyla berharap Jessica memang akan terus sebahagia itu.


Sejak Merry hamil, Jessica memang biasa diantar jemput oleh Lyla.


“Kenapa masih murung, Sayang? Mommy Merry pasti akan sayang pada kalian berdua, percayalah sama Aunty.”


Mata Jessica mengerjap, ia ingin membuktikan ucapan Aunty Lyla.