
Malam harinya, saat Merry dan Jessica sudah bersiap untuk tidur, seperti biasa mereka akan melakukan perbincangan terlebih dahulu. Kadang mereka akan membicarakan tentang apa saja yang Jessica lakukan selama di sekolah, membahas cita-cita Jessica ketika sudah dewasa, hal apa yang akan mereka lakukan pada akhir pekan, dan banyak lagi.
Sekarang Merry berencana untuk membahas tentang hak asuh Jessica. Bukannya dia sudah tidak mau mengurus Jessica lagi karena telah memiliki anak sendiri, tapi dia merasa perlu membahas ini dengan Jessica agar nanti Jessica bisa membuat pertimbangan. Apakah memang akan tetap tinggal di rumah ini atau tinggal dengan Lyla, atau membuat giliran tinggal, entah setiap satu dua minggu atau setiap satu dua bulan.
Apa pun keputusan Jessica nanti, Merry akan mendukungnya. Lagi pula jika Jessica tinggal dengan Lyla, maka Merry dan Frans masih bisa datang ke rumah itu untuk bertemu dengan Jessica. Mereka tak akan benar-benar berpisah hanya karena tidak tinggal seatap lagi.
“Jessica, ada yang ingin Mommy katakan.”
Jessica mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Merry, karena saat ini posisi kepalanya ada di dada Merry. Gadis kecil itu berada dalam pelukan mommy nya.
“Tentang apa, Mom?”
“Tadi siang Mommy Lyla menyampaikan kepada Mommy tentang rencana untuk mengajakmu tinggal dengannya.”
“Maksud Mommy menginap di akhir pekan seperti biasanya?”
“Bukan, Honey.”
“Lalu?”
“Kamu akan tinggal di sana dengan Mommy Lyla, Daddy Lucky, dan Simon.”
Jessica tidak menjawab, dia memperhatikan wajah Merry dengan seksama, menunggu kelanjutan ucapan mommy nya.
“Jika kamu mau, kamu bisa tinggal bergantian, di tempat Simon dan di sini.”
“Apa Mommy tidak ingin aku tinggal di sini?” tanya Jessica dengan raut sedih. Ternyata benar apa yang ia pikirkan, kehadiran bayi kecil di perut Merry akan membuatnya tersingkir.
“Bukan, Honey. Mommy hanya berpikir, mungkin kamu ingin mencoba untuk lebih dekat lagi dengan Mommy Lyla dan Daddy Lucky. Mereka akan sangat senang jika kamu ingin tinggal dengan mereka.”
“Tapi aku ingin di sini saja.”
Merry memeluk Jessica erat.
“Baiklah jika itu keputusanmu. Besok Mommy akan sampaikan kepada Mommy Lyla. Tapi, jika kamu berubah pikiran, kamu bisa mengatakannya kepada Mommy.”
Jessica menganggukkan kepala tanpa menjawab sepatah kata pun.
Beberapa hari ini Lyla memang sering menanyakan apakah Jessica ingin menginap di tempatnya dan Jessica selalu menolak. Tapi, tidak dengan Merry. Hanya sekali itu Merry bertanya tentang apakah Jessica mau mencoba untuk menginap di rumah orang tua kandungnya. Dan Merry tidak pernah bertanya kepada Jessica lagi setelah Jessica mau mencoba untuk menginap di sana.
Tapi sekarang, setelah Merry hamil, tiba-tiba saja dia mengajukan pertanyaan seperti itu kepada Jessica sehingga membuat Jessica berpikir mungkin apa yang dikatakan oleh Isabelle benar. Bahwa mommy nya mulai tidak menyayanginya dan tidak peduli lagi padanya. Buktinya sekarang mommy nya seolah-olah menawarkan kepada Jessica untuk hidup di tempat lain.
Namun, karena tidak ingin membuat mommy nya sedih, Jessica berpura-pura kalau pembahasan tentang kepindahan ini bukanlah masalah. Dia masih tetap ceria seperti biasa di hadapan Merry dan Lyla. Tapi saat di sekolah dia tidak bisa menutupi kemurungannya.
“Kenapa? Apa mommy mu mulai memarahimu sekarang?” tanya Isabelle dengan senyum mengejeknya.
Gadis itu yakin kalau Jessica pasti murung karena memikirkan mommy nya.
“Mommy mu akan bilang dia sayang kamu, tapi dia akan jadi berbeda. Apalagi kamu bukan anak kandungnya. Tentu dia akan lebih menyayangi anak kandungnya sendiri. Dan nanti nasibmu akan seperti Cinderella,” ucap Isabelle memanas-manasi Jessica.
Jessica yang sedang tidak mau berdebat dengan Isabelle meminta temannya itu untuk diam, tapi Isabelle terus saja berbicara, membuat Jessica kesal dan akhirnya bangkit dari kursinya lalu mendorong temannya itu.
“Sudah aku bilang mommy ku tidak seperti itu!” teriak Jessica setelah mendorong tubuh Isabelle sampai terjatuh.
Isabelle menangis kencang dan seorang temannya pergi menemui guru untuk melaporkan kejadian ini. Dan hal itu membuat Jessica dan Isabelle diminta untuk datang ke kantor untuk membahas hal ini.
“Isabelle yang mulai lebih dulu!”
“Aku hanya bicara dengan Jessica, tapi dia mendorongku.”
“Aku hanya menyuruhnya menyingkir dari depan mejaku, bukan sengaja mendorongnya.”
“Kamu jelas mendorong kuat sekali, makanya aku terjatuh,”
Saat mereka ditanya lebih lanjut, akhirnya Jessica mengatakan kalau Isabelle terus mengatakan kalau mommy nya tidak akan menyayangi setelah punya anak lagi, apalagi Jessica memang bukan anak kandung Merry. Karena kesal makanya Jessica mendorong Isabelle untuk memberikan gadis itu pelajaran untuk tidak bicara sembarangan lagi tentang mommynya. Tapi Isabelle berusaha membela diri dengan mengatakan kalau dia hanya bilang yang sesungguhnya.
Setelah selesai memberikan pengakuan, Mrs. Yasmin meminta kedua anak itu untuk saling berbaikan.
“Aku tidak mau. Isabelle yang salah, jadi dia harus minta maaf lebih dulu padaku, Bu!” ucap Jessica.
“Kamu yang jelas-jelas mendorongku, kenapa aku yang harus minta maaf?” sahut Isabelle.
Mrs. Yasmin berusaha untuk menahan diri agar tidak bersikap keras kepada anak-anak ini meski telinganya rasanya panas juga karena sejak berada di kantor Jessica dan Isabelle tak henti-hentinya bertengkar. Mereka saling melempar kesalahan satu sama lain.
“Jessica, Isabelle. Meminta maaf itu bukan tentang siapa yang salah. Tapi agar kalian tidak lagi menyimpan dendam. Selain itu, jika kalian membuat kesalahan, kalian perlu untuk sadar bahwa kalian memang salah, tidak peduli siapa yang lebih dulu memulai,” jelas Mrs. Yasmin.
Akhirnya Jessica dan Isabelle pun saling berjabat tangan meski terpaksa. Kedua bahkan membuang muka.
Dan ketika pulang sekolah, Mrs. Yasmin pun menemui orang tua Jessica dan Isabelle untuk membahas tentang hal ini. Mommy Isabelle dan Lyla mengucapkan maaf kepada Mrs. Yasmin dan saling meminta maaf satu sama lain atas apa yang sudah diperbuat anak-anak mereka.
Setelah itu Lyla menghampiri kedua anaknya yang sedang menunggu dia di halaman sekolah.
“Sudah, Mom?” tanya Simon.
“Sudah.”
Lyla menatap ke arah Jessica yang wajahnya ditekuk.
“Sejak tadi Jessica tidak mau bicara ketika aku mengajaknya mengobrol,” ungkap Simon.
Lyla menghela napas lalu berjongkok di hadapan Jessica. Namun, sebelum Lyla sempat membuka mulut, Jessica sudah lebih dulu bicara.
“Aku tidak mau tinggal dengan Aunty. Jadi tolong jangan minta mommy ku untuk membujukku tinggal dengan Aunty Lyla.”