
Usai menghadiri pesta pernikahan Anne, Merry dan Frans kembali pulang ke rumah mereka. Karena melihat Aaron masih bersedih Merry mengajak adiknya untuk turut serta pulang bersama mereka. Ternyata Richard pun ingin menikmati liburan sementara di rumah Merry, mereka akhirnya bersama-sama datang ke rumah Merry.
“Wah rumah kamu pasti ramai karena ada om Aaron dan om Richard, kalian akan bermain bersama?” tanya Simon.
“Tentu saja, om Aaron sudah janji akan mengajakku main bola.”
“Kamu ini anak perempuan, mana bisa bermain bola?” jawab Simon.
“Itulah gunanya aku belajar pada ahlinya, supaya aku bisa ikut main bola sama seperti kalian.” Jessica membalasnya dengan ketus.
“Jessy, ayo naik, kita akan pulang sekarang!” teriak Merry.
“Mommy boleh aku ikut mobil om Aaron?” tanya Jessica.
Merry berpikir ini kesempatan bagus supaya keduanya bisa lebih mengakrabkan diri.
“Minta izin dulu sama daddy, Sayang.”
“Daddy bolehkan aku ikut om Aaron, biar dia tidak kemana-kemana dulu tapi langsung pulang ke rumah kita.” Frans tergelak mendengar perkataan putrinya.
“Ide yang bagus, Sweety, jangan biarkan om kamu itu mampir kemana-mana dulu, ya.”
Jessica sangat senang diperbolehkan ikut mobil Aaron. Saat berpapasan dengan Simon ia menjulurkan lidahnya. Simon hanya memandangnya kesal.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Jessica terus mengoceh membuat Aaron maupun Richard tertawa-tawa karena terkadang pertanyaan Jessica sungguh membuat mereka pusing menjawabnya.
“Nanti kalau adik Jess lahir katanya akan muntah darah, apakah itu benar, Om?”
Aaron keheranan dari mana anak ini mendapat informasi itu.
“Teman-temanku bilang kalau bayi yang baru lahir itu pasti ada darahnya. Sampai belepotan semua tubuhnya.”
Richard tertawa, sementara Aaron menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Nanti aku tidak mau menunggui Mommy saat adikku lahir.”
“Kenapa, bukankah itu moment yang menyenangkan?” tanya Aaron.
“Aku nggak mau lihat adik kecilku muntah darah. Kalau dia sudah sehat baru aku akan datang untuk menengoknya.”
“Itu keputusan yang bagus, Jessy, sama Om Richard juga tidak suka lihat darah.”
Mereka berbincang ringan hingga tak terasa sudah sampai di rumah Merry.
Jessica segera menghambur ke pelukan mommynya setelah turun dari mobil.
“Kenapa Sayang?”
“Aku mau peluk mommy banyak-banyak sebelum adik lahir, kata om Richard ibu hamil butuh banyak pelukan.”
Merry tertawa mendengar perkataan putrinya. Merry memberikan kunci pavilion kepada Richard dan Aaron.
“Ruangannya sudah bersih, kalian akan nyamann beristirahat di sana,” ujarnya.
Keesokan harinya, Merry merasakan sakit di perut bagian bawahnya. Namun, sakit perutnya berbeda dengan sakit perut yang biasanya dan yang membuat Merry merasa sangat terkejut adalah karena dia melihat ada bercak kecokelatan di ****** ********.
Merry yang tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya pun merasa panik, terlebih karena perutnya terasa semakin sakit. Merry pun memutuskan untuk istirahat sebentar, berharap rasa sakit tersebut bisa berkurang. Namun, rasa sakit itu tak kunjung hilang dan hal tersebut membuat Merry memutuskan untuk menelepon Frans yang sudah berangkat ke kantor.
"Ada apa, Honey? Tumben jam segini telepon, biasanya menjelang jam makan siang baru telepon?" tanya Frans menyapa istrinya.
"Sakit perut kenapa, Sayang? Kamu kebanyakan makan sambal mungkin," jawab Frans.
"Beda, Frans. Sakit perutnya beda sama sakit perut yang itu. Kali ini rasa sakitnya itu seperti mau melahirkan, terasa sampai ke pinggang dan tadi aku melihat ada sedikit bercak berwarna cokelat seperti tanda orang sudah waktunya melahirkan."
"Hah? Benakah? Baiklah, kalau begitu aku pulang sekarang, ya, kamu diam saja jangan banyak bergerak. Tidur atau berbaring di tempat tidur saja, yang penting jangan terlalu banyak bergerak," titah Frans, suaranya terdengar sangat panik.
Frans pun mematikan panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban lagi dari istrinya, Merry. Pikirannya sudah sangat kalut sekali, terlebih mendengar bahwa istrinya mendapati bercak cokelat seperti tanda- tanda hendak melahirkan. Hal tersebut membuat Frans menjadi panik luar biasa.
Frans pun bergegas berlari menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya yang terparkir rapi di parkiran tempat dia bekerja dan tanpa menunggu lebih lama lagi, dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke arah rumahnya.
Sementara itu, di rumahnya, Merry yang masih merasa kesakitan pun memilih berbaring untuk meredakan sakit di perut bagian bawahnya dan pinggangnya yang semakin kuat menderanya. Sambil berbaring di tempat tidur, Merry mengusap perut dan pinggangnya.
Entah sudah berapa lama dia menanti Frans, dia tidak tahu, yang jelas di saat sakit perutnya semakin menjadi, terdengar suara derap langkah kaki suaminya berjalan di lorong depan kamar mereka dan membuka pintu kamar dengan sangat tergesa- gesa.
"Sayang, bagaimana? Apa masih sakit?" sapa Frans begitu melihat ekspresi wajah istrinya yang meringis kesakitan.
"Ugh! Masih. Ini sakit, sekali rasanya. Aagh." Merry meringis ketika serbuan rasa sakit itu kembali datang.
"Sakitnya bagaimana rasanya? Apakah melilit atau bagaimana?" cecar Frans seraya memasukkan beberapa lembar pakaian istrinya ke dalam sebuah tas kecil yang sengaja disiapkan oleh Merry, untuk persiapan dia melahirkan dua bulan lagi.
"Rasanya seperti ... ah ... aduh, entahlah. Yang pasti seperti ada kontraksi di dalam perut, rasanya seperti diremas dan dipelintir di dalam sana," jelas Merry lirih.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, usai memasukkan beberapa perlengkapan milik istrinya, Frans pun bergegas menggendong tubuh istrinya yang terlihat berisi karena kehamilannya yang sudah lumayan besar, sambil mencangklong tas jinjing itu di bahu kirinya.
Frans mendudukkan Merry di kursi depan untuk penumpang dan menyetel posisinya kursi mobil tersebut hingga setengah tidur. Frans menyuruh istrinya menunggu sebentar sementara dia mengunci pintu rumah mereka.
Saat mereka hendak berangkat muncul Aaron dan Richard yang baru pulang jogging.
“Aaron, kakakmu sepertinya akan segera melahirkan, bisa kau antar kami ke rumah sakit? Biar aku yang memegang Merry di belakang.”
Aaron segera mengangguk.
“Frans, kau tolong temani Jessica di rumah sebentar ya. Nanti Lyla yang akan menjemputnya.”
“Jangan khawatir, saya pasti menjaganya,” jawab Richard.
Merry yang sudah tidak bisa berkata apa- apa lagi karena perutnya yang sudah semakin sakit tersebut hanya bisa memberikan isyarat melalui kedipan matanyanya saja. Aaron gegas berlari ke arah mobil dan kembali melajukan kendaraan beroda empat itu, menuju ke sebuah rumah sakit tempat Merry biasa memeriksakan kandungannya.
"Sabar, ya, Sayang. Kamu jangan banyak bergerak, ya. Berdoa semoga tidak terjadi apa- apa pada anak kita," titah Frans yang tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Merry.
*
Sesampainya di rumah sakit, Frans bergegas membawa Merry ke bagian pemeriksaan kandungan. Beruntung sekali, dokter langganan istrinya sedang berada di tempat dan tidak ada pasien. Dengan tergesa, Frans meminta dokter Shen untuk segera memeriksa keadaan istrinya.
Melihat keadaan Merry yang sudah mengeluarkan keringat , tanpa banyak tanya dokter Shen segera memeriksanya dan menemukan sebuah indikasi bahwa janin Merry tidak mendapatkan pasokan makanan seperti seharusnya.
Dokter Shen pun segera memasang infus dan melekatkan jarum dan selang infusnya di tangan kiri Merry, kemudian memberikan beberapa suntikan berisi obat dan vitamin. Dokter cantik itu bekerja dengan sangat sigap dan cekatan untuk menolong Merry.
"Saya sudah berusaha sekuat saya untuk menolong mempertahankan bayi yang ada di dalam kandungan Nyonya Merry. Semoga janin tersebut bertahan hingga waktunya lahir ke dunia nanti," ucap dokter Shen.
Frans menganggukkan kepalanya, dia sudah tidak bisa berkata apa- apa lagi, rasa khawatir, takut dan gelisah menguasai pria berparas rupawan tersebut. Dia merasa tidak tega melihat keadaan Merry, istrinya saat itu.
Frans melakukan sebuah metode meditasi singkat dengan cara menarik napas dalam- dalam dan menahannya beberapa saat sebelum mengembuskannya dengan perlahan dan hal itu dia lakukan berulang kali hingga terasa rasa khawatir itu berkurang di dadanya.
"Jadi, bagaimana keadaan istri saya sebenarnya, Dok?" tanya Frans setelah bisa berpikir normal kembali. Dia melihat kecemasan di wajah dokter Shen.