
Jessica berusaha memperjuangkan hak asuh Katy jatuh ke tangan Martha. Dia berdiskusi dengan Agnes juga Simon, memohon agar Simon memberikan pekerjaan yang layak untuk Martha.
"Sebaiknya kamu sarankan dia untuk datang ke gedung Merah hari Senin jam 08.00 pagi ketemu dengan temanku. Nanti aku kirim undangan wawancaranya.," ujar Simon.
"Tolong pastikan dia mendapatkan pekerjaan itu, Simon. Kasihan anaknya pasti tidak ingin berpisah dengan ibunya."
"Apakah kamu sudah bertemu anaknya?" tanya Simon.
Katy menggelengkan kepalanya.
"Jadi menurutmu itu tidak penting setidaknya melakukan wawancara dulu dengan anaknya? Ayolah Jessie, dengarkan suara kecil itu."
Jessica terdiam. Agnes menyahut," sebetulnya suara anak ini tidak bisa menentukan keputusan pengadilan karena mayoritas hakim mendengarkan saksi, tapi idemu boleh juga. Aku akan jadwalkan untuk bertemu dengan anak itu. Katy namanya," cetus Agnes.
"Kalian harus bertemu dengannya dan mendengarkan cerita Katy. Setidaknya kalian tahu dia ingin tinggal dengan siapa, meskipun seperti yang Agnes bilang tadi. Itu setidaknya menjadi bahan pertimbangan."
Setelah dijadwalkan akhirnya mereka bertemu dengan Katy yang dibawa oleh Martha.
Namun Jessica ingin melakukan wawancara dengan gadis kecil itu sendirian. Tentu saja Martha keberatan.
"Bagaimana kalau aku ikut dengan Katy? Tidak perlu, Nyonya. Kami ingin berbicara dengan Katy saja. Sesi ini hanya untuk dia."
Martha cemas meskipun di rumah tadi dia sudah menjejali Katy dengan banyak perkataan. Intinya dia memaksa Katy untuk bilang bahwa ingin tinggal dengan Martha, bukan dengan Juan.
Gadis itu juga sudah berulang kali mengganggu-anggukkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak ingin lebih lama tinggal dengan Martha.
"Jadi namamu Katy?"
"Iya. Mama memberiku nama yang lucu."
"Bagaimana kehidupan kamu saat tinggal dengan mama Martha? Apakah kamu happy? Oya, panggil aku Jessie."
Katy agak ragu-ragu saat menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu senang tinggal dengan mama Martha?" Katy terdiam sebentar lalu gadis itu terlihat ragu dan ketakutan.
"Tidak apa-apa, kamu katakan saja, karena kalau kamu katakan yang sejujurnya kami bisa membantumu."
Katy masih terdiam dan mencerna ucapan Jessica. Setelah terdiam beberapa saat gadis kecil itu menjawab," sebenarnya aku ...."
"Kamu ingin tinggal dengan mama atau papamu?" tanya Jessica lagi menegaskan.
"Apakah aku boleh memilih?" Jessica menganggukkan kepala.
"Kalau boleh memilih aku ingin tinggal dengan keduanya." Jessica tersenyum.
"Iya Katy aku tahu itu, tapi situasinya sekarang kamu tidak bisa tinggal dengan keduanya sekaligus, karena papamu sudah punya kehidupan sendiri. Bahkan aku dengar dia akan segera menikah akan menikah."
"Lauren aku sangat menyukainya." Wajah Katy berbinar seketika.
"Jadi kamu sudah mengenal kekasih papamu?" tanya Jessica memastikan.
"Lauren dia guru playgroup. Kami sering bermain bersama saat Papa mengunjungi aku."
"Berapa lama biasanya papa Juan mengunjungimu?"
"Papa hanya datang di pekan ketiga setiap bulan, dan aku sangat menantikan itu. Papa Juan orang yang baik. Aku harap bisa tinggal dengannya juga Lauren."
Kini giliran Jessica terdiam. Ini tidak seperti dugaannya.
"Sebenarnya kamu lebih senang tinggal dengan papa Juan atau Mama Martha?" tanya Jessica ingin memastikan. "Maafkan aku, Katy. Ini memang bukan pertanyaan yang baik."
"Mama Martha, mama yang baik. Aku kasihan padanya. Dia sudah bekerja sepanjang hari untuk menghidupi aku. Dia bilang untuk memenuhi segala kebutuhanku aku ingin Mama hidup bahagia kalau aku tinggal dengan papa Juan dan Lauren, Mama tidak perlu bekerja sekeras itu."
"Apakah kamu tahu kalau kebahagiaan terbesar mamamu adalah bisa berdekatan dan tinggal bersamamu?"
Katy menggelengkan kepalanya.
"Mama tidak menyukaiku, tapi aku tahu aku bisa menerima itu karena aku sudah membuat Mama lelah bekerja seharian."
"Apakah mama yang mengatakan ini padamu sayang?"
Katy menganggukkan kepala lalu menjawab," tidak usah mama katakan aku sudah tahu. Selama ini Mama harus bekerja keras demi aku, sedangkan papa dan Lauren mereka bekerja dengan senang hati."
Mendengar jawaban Katy yang lugas, Jessica ingin memperdalam pertanyaannya.
"Katy, kamu tahu di mana papamu bekerja?"
"Di bengkel mobil. Papa hanya perlu memperbaiki mobil yang rusak lalu dapat uang. Papa senang dengan pekerjaannya itu."
"Menurutmu pekerjaan papamu itu tidak berat ya?"
Katy menggelengkan kepala.
"Papaku selalu bekerja dengan senang hati dan itu membuat dia bahagia. Berbeda dengan mama setiap pulang Mama selalu marah, minum-minum dan menyuruhku untuk segera tidur. Aku tidak pernah punya waktu untuk mengobrol dengan mama, kalau dengan papa aku bisa bercerita apa saja. Dengan papa selalu menyenangkan. Itulah kenapa aku ingin tinggal dengan papa. Jessie, aku menyayangi Mama dan mencintai papa. Seandainya saja mereka tidak berpisah."
Katy menundukkan wajahnya, membuat mata Jessica berkaca-kaca.
Dia tidak pernah tahu Mama dan Papanya sejak kecil, tapi ucapan Katy tentang harapan sebuah keluarga ideal itu juga pernah ia impikan saat kecil.
Saat itu ia ingin memiliki papa dan mama yang lengkap, saat ia dikembalikan ke panti asuhan. Seketika ingatan Jessica melayang pada Merry dan Frans.
Saat mengingat Frans, tiba-tiba Jessica kembali merasa pusing.
Ia mengingat potongan adegan bagaimana Frans tertawa-tawa saat mereka main game. Benaknya dipenuhi kenangan manis itu. Mereka berdua memainkan game di ponsel, lalu Jessica berteriak," hore kita menang!"
Setelah itu mereka mendapatkan hadiah berupa video. Jessica senang melihat video itu tapi tak berapa lama kemudian raut wajahnya berubah, ketika ia menyadari dari melihat video itulah awal malapetaka terjadi, karena Frans tidak membiarkannya keluar dari kamar.
Sama seperti Richard yang memaksanya melakukan sesuatu, yang tidak dia suka. Namun saat dia kecil dia tidak bisa mengatakan ketidaksukaannya itu.
Dia hanya bisa menurut tanpa bisa menolak. Apalagi membuka mulut kepada orang lain. Berbeda dengan hati sekarang Katy bisa bercerita panjang lebar padanya.
Perlahan-lahan bulir bening mengalir di sudut mata Jessica. Hal itu membuat Katy heran.
"Apakah Anda menangis?"
Seolah tersadar Jessica segera menghapus air matanya.
"Tidak, aku hanya sedang membayangkan bagaimana kalau kamu hidup dengan dua orang tua yang utuh itu. Tentu sangat menyenangkan, Katy. Akan tetapi hidup memang begitu. Terkadang yang kita inginkan sangat sulit, seperti jauh dan tidak terjangkau. Aku bisa memahami perasaanmu."
Jessica mengelus rambut keemasan milik Katy.
"Tolong kalau Anda ingin membantuku, bantu supaya aku bisa hidup dengan papa, biar mama bisa bersantai dengan hidupnya dan tidak perlu bekerja keras lagi."
Katy menatap Jessica dengan tatapan memohon.
"Kamu begitu menyayangi mamamu, hingga tidak ingin dia bekerja untukmu?"
Katy mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Berapa kali dalam seminggu mamamu minum?"
Katy tergagap. Hal itu merupakan salah satu larangan dari Martha. Mamanya melarang dia untuk membicarakan tentang minuman