
Juan memandang Jessica dengan tatapan keheranan seolah-olah Jessica pernah mengalami peristiwa itu. Diduakan atau tidak diperhatikan saat adiknya lahir.
"Maaf mungkin pertanyaan saya terlalu personal, baiklah saya sudah bisa membuat kesimpulan kalau Anda selama ini sudah melakukan kewajiban sebagai seorang ayah dengan baik." Jessica mengatakan pendapatnya.
"Satu-satunya yang tidak saya bisa saya berikan kepada Katy adalah waktu yang banyak, dan itu karena Martha selalu membatasi."
Jessica terdiam. Dia merasakan ketulusan dalam ucapan Juan.
"Jadi itu alasan utama saya menggugat hak asuh anak. Katy terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan dia juga tidak sepenuhnya bisa mengurus Katy. Sedangkan gadis kecil itu baru saja bertumbuh. Dia butuh pendamping."
"Saya setuju Tuan Juan. Seandainya Anda mendapatkan hak asuh Katy, apakah Anda berjanji akan menjaganya dengan baik, meskipun Anda nanti menikah dengan Lauren?
Saya perlu menanyakan ini untuk meyakinkan hakim."
Mata Juan berpendar dia tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu dari pengacara lawan. Entah apa yang terjadi tapi juga merasakan Jessica kini berpihak kepadanya dan ini akan bagus untuknya bisa merebut hak asuh atas Katy.
"Tentu saja dia anakku dan aku akan menyayanginya sepenuh hati. Anda bisa berbicara dengan Lauren. Dia ada di luar."
"Baiklah cukup sesi wawancara ini, saya ingin bicara dengan kekasih Anda."
Juan lalu memanggil Lauren yang sudah siap di depan.
Wanita muda itu masuk lalu menyapa Jessica.
"Halo perkenalkan saya lauren. "
"Saya Jessica, silakan dudu. Jadi Anda sudah siap menjadi mama tiri Katy?" tanya Jessica langsung pada intinya.
'Begitulah sebutannya, tapi saya tidak sepenuhnya setuju dengan stigma tentang ibu tiri yang jahat. Anda tahu sendiri, kan, banyak juga ibu kandung rasa ibu tiri."
Jessica menarik napas panjang. Selama ini dia merasa sudah sangat beruntung memiliki Merry. Masalah timbul saat Merry yang mengandung calon adiknya.
"Lauren, apa persiapan Anda untuk menjadi Ibu yang baik bagi Katy?"
"Persiapan apa maksudmu?" tanya Lauren.
"Saya tidak menyiapkan apa pun kecuali menyambut gadis kecil itu dengan penuh sukacita. Bersama kami dia akan mendapatkan banyak cinta perhatian dan kasih sayang."
"Maaf Lauren, kita tidak sedang menonton melodrama, jadi saya ingin bertanya apakah kamu akan tetap menyayangi Katy seperti anakmu sendiri ketika kamu nanti juga sudah punya anak?"
"Mungkin itu tidak bisa dikatakan sekarang, karena faktanya saya belum mengalami. Tapi dengan cinta dan kasih sayang sebesar ini saya rasa kami semua akan bisa berbagi termasuk dia."
Lauren menghentikan ucapannya sejenak.
"Gadis kecil yang baik, aku yakin dia tidak akan iri dengan adiknya dan itu tidak akan menjadi masalah besar untuk kami orang."
Lauren berkata tegas, tatapan matanya benar-benar memberi kenyamanan. Tak heran jika Juan mencintai yang seperti itu. Lauren sangat berbeda dengan Martha yang terlihat emosional. Mungkin karena Lauren adalah seorang pengajar dia seperti punya aura wanita pelindung yang sangat hebat.
"Kalian berdua sudah cukup meyakinkan saya, tapi kita tidak tahu bagaimana dengan hakim nanti. Satu saran saya Lauren, kita tidak akan tahu sifat asli Katy nanti ketika dia sudah punya adik. Jadi tolong jaga itu."
Lauren terdiam mendengar perkataan Jessica. Ia kemudian menyahut," saya percaya Katy anak yang baik dan kami akan berusaha mendidiknya sebisa mungkin."
Ada rasa pahit tertelan di hati Jessica saat mendengar Lauren mengatakan itu. Dulu dia juga sangat berharap bisa berbagi dengan adik barunya. Tapi waktu itu orang-orang sekitar seolah-olah tidak berpihak kepadanya. Mereka justru menyulut amarah di hati kecilnya yang saat itu belum mengerti apa-apa.
"Selain menikmati kasih sayang papa dan mama yang utuh, Katy beruntung sekali memiliki kalian," desis Jessica.
"Sama nona, kami juga sangat beruntung memiliki gadis kecil itu. Dia seperti bunga mawar yang mekar dan mengharumkan seluruh taman dan kami orang-orang beruntung yang bisa menghirup aroma wangi itu. Mungkin sesekali duri itu mengganggu, tapi bukankah duri di dalam bunga mawar itu bertugas untuk melindungi kelopaknya? Begitu juga Katy, jika suatu saat nanti muncul duri kecil di dalam hatinya mungkin itu hanya cara dia untuk melindungi harga dirinya supaya tidak terluka."
Jessica memejamkan mata, mencoba menelan semua peristiwa kelam di dalam hidupnya.
"Baiklah nona Lauren, sudah cukup wawancara kita. Saya pegang omongan Anda, tetapi saya tidak bisa memastikan hakim juga akan berpikir sama seperti kita di sini."
"Oh tolonglah nona Jessica."
"Saya mendukung Katy supaya mendapat perlindungan dan perlakuan yang baik, jangan khawatir."
"Oya satu lagi nona Jessica, jika memang asuh anak itu jatuh di tangan kami kami tidak akan membatasi pertemuan Katy dengan mamanya, selama itu baik untuknya. Hanya saja kami akan mengawasinya lebih leluasa," ucap Lauren meyakinkan Jessica.
Perempuan itu terdiam dia hanya tersenyum.
"Semua orang berucap sangat manis tapi mereka belum tahu apa yang akan terjadi ke depannya," gumamnya dalam hati.
Setelah Juan dan Lauren pamit pulang, Jessica menatap kepergian mereka dengan pandangan tak tenang.
"Agnes ayo kita bicara di ruanganku," ajaknya.
Agnes juga merasakan kegalauan yang sama dengan Jessica.
"Jessie, kasihan Nyonya Marta yang sudah menggantungkan harapannya ke firma hukum kita. Jika kita tidak memihaknya dia pasti sangat kecewa."
"Itulah yang mau aku bicarakan dengan kamu. Sebaiknya kita mencari bukti bahwa Nyonya Martha memang layak mengasuh Katy atau dia harus melepaskan hak asuhnya itu sebelum sampai di pengadilan."
"Maksudmu kita harus datang ke rumahnya?" tanya Agnes.
Jessica mengangguk.
"Bukan hanya ke rumahnya, tapi juga ke tempat dia kerja. Kita akan mengamati dari dekat aktivitasnya untuk beberapa hari ini, supaya kita juga yakin bagaimana kira-kira nasib Katy saat berada dalam asuhannya. Apakah lebih baik daripada asuhan Juan dan Lauren."
"Apakah dengan hasil wawancara saja tidak cukup?" tanya Agnes.
Jessica menggelengkan kepalanya.
" Aku tidak mau menggantungkan nasib seorang anak pada hasil wawancara saja. Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kita memang sudah mendengar dari banyak pihak, tapi bukan berarti itu yang terjadi. Jangan tertipu Agnes."
Agnes hanya terdiam kita ini lembaga bantuan hukum bukan detektif. Mudah-mudahan kamu tidak lupa."
Kata-kata Agnes membuat Jessica tersenyum. Masa lalu yang pahit mendewasakan Jessica. Masa depan seorang anak bisa ditentukan dari siapa orang-orang yang berada di balik pengasuhannya.
Saat menyampaikan hal itu kepada Simon, laki-laki itu justru sangat mendukungnya.
"Bagus Jessie, itulah yang aku mau. Kalian mendapatkan bukti dan fakta yang valid bukan hanya berdasarkan keterangan, tetapi juga sudah terbukti. Semangat terus Jessie dan Agnes," tutur Simon.
Saat Simon sedang berbincang-bincang dengan Jessica, tiba-tiba masuk panggilan dari Papanya.
"Simon segeralah ke rumah sakit, mamamu sekarang masuk rumah sakit."
Wajah Simon menegang.
"Oke papa, aku akan segera kesana."
"Ada apa, Simon?" tanya Jessica.
"Mamaku masuk rumah sakit."