
Jessica tahu beban gadis kecil di depannya. Pasti mamanya melarang ia menceritakan ini.
"Jangan takut, Sayang. Saat ada seseorang yang membungkam mulutmu, tetaplah berbicara."
Katy menggeleng.
"Tidak, aku tidak mau mama sedih."
"Iya aku tahu kamu ingin mamamu happy, kamu tidak ingin mamamu bekerja keras, tapi memang begitulah, saat kita menginginkan sesuatu terkadang kita tidak bisa menjangkaunya. Itu terasa sangat jauh dan mustahil."
"Jessie bantu aku untuk bisa hidup dengan papa." Katy memohon.
"Apakah kalau kamu hidup dengan papamu dan Lauren, kamu akan merasa bahagia?" tanya Jessica.
Katy menganggukkan kepalanya. "Aku ingin merasakan kebahagiaan itu," sahut Katy dengan pandangan menerawang jauh.
"Kamu tidak berpikir kalau papamu dan Lauren nanti punya anak, kamu akan tersingkir?" ujar Jessica.
Ia tidak tahu dari mana ia bisa berpikir seperti itu, tapi ada potongan ingatan yang seolah-olah melekat di otaknya. Jessica kembali terdiam merasakan potongan ingatan perbincangannya dengan Merry.
"Setelah punya adik pasti kamu akan tersingkir!"
Ternyata itu bukan suara Merry, tapi suara Anabelle dan itu membuat Jessica gelisah.
"Baiklah sepertinya sudah cukup kita melakukan obrolan ini. Kamu bisa kembali ke mamamu dan jangan mengatakan apapun tentang apa yang kita omongkan hari ini. Tetap simpan untuk kita sendiri. Yang penting aku sudah tahu dengan siapa kamu ingin tinggal."
"Jessica, berjanjilah untuk membantuku hidup bersama papa."
"Oh, sayangnya aku tidak bisa."
Wajah Katy berubah mendung, dan Jessica menjadi iba.
"Baiklah, kalau kau tak bisa berjanji aku tidak akan memaksamu. Terima kasih."
"Jangan khawatir Katy, jaga dirimu. Semoga kamu bisa mendapatkan yang kamu mau."
Martha lega saat melihat Katy keluar dari ruangan Jessica. Saat menunggu putrinya, dia ditemani Agnes. Mereka mengobrol dan waktu terasa berjalan begitu lambat.
Martha sangat cemas kalau Katy mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya, setidaknya hanya dengan berkata jujur saja sudah membuat Martha ketakutan.
Setelah Katy keluar, Martha segera memeluknya.
"Sayang apakah kamu senang di dalam sana?" tanya Martha.
"Tentu Mama. Jessica sangat baik aku menyukainya," ujar Katy.
" Nyonya Martha, saya sudah bicara dengan Katy. Dia anak yang sangat cerdas," puji Jessica.
"Terima kasih saya mendidik Katy sebisa saya."
"Satu hal yang patut Anda banggakan adalah Kitty sangat menyayangi anda, Nyonya Martha," tandas Jessica.
Martha melihat sikap Jessica yang sedikit berbeda, tapi baginya itu sebuah pujian.
Setelah tiba di rumah, Jessica segera memberondong dengan pertanyaan.
"Kamu melakukan sesuai yang mama katakan? Apa yang kamu katakan dengan Jessica tadi?"
"Aku hanya berbicara apa adanya. Aku tidak ingin mama bekerja keras lagi."
"Apa maksudmu Katy. Jessica bertanya ingin tinggal dengan siapa aku bilang aku ingin tinggal dengan mama dan papa."
"Oh sayang kamu tahu itu tidak mungkin, bukan?"
"Jessica bilang aku harus berkata jujur, Mama."
"Ya, baiklah Mama memaafkanmu kali ini. Apalagi tadi Jessica juga memujimu. Kamu menyayangi Mama?"
"Tentu saja, mama tidak perlu bertanya itu."
"Oh sayang terima kasih." Keduanya berpelukan erat.
Martha memang sangat menyayangi Katy, tapi ia pun merasa frustrasi dengan kehidupannya yang tak kunjung membaik, hingga terkadang pelampiasannya kepada anak semata wayangnya itu.
Di dalam pekerjaannya, Martha sering mendapat tekanan. Beban hidupnya terasa berat.
Martha berpikir, sedikit melampiaskan kekesalan kepada Katy itu tidak mengapa.
Sementara itu di kantor firma hukum JA, Jessica dan Agnes sedang berbincang-bincang dengan serius.
"Sepertinya kamu menemukan satu hal yang menarik tentang Katy, katakan apa itu?" tanya Agnes.
"Kamu tidak akan percaya, Agnes. Ini benar-benar luar biasa."
"Kamu benar, Katy sangat menyayangi mamanya. Sayangnya Martha tidak memperlakukannya dengan baik."
Wajah Agnes menegang.
"Apa maksudmu? Aku tadi berbicara panjang lebar dengan Martha. Dia bilang sangat mencintainya dan dari cara dia ingin mempertahankan Katy, bukankah itu merupakan satu fakta yang baik?"
"Agnes, terkadang kita tertipu dengan apa yang ada di permukaan. Memang kita harus melindungi hak-hak klien, tetapi dalam kasus ini aku ingin Katy mendapatkan keinginannya."
"Memangnya apa yang dia inginkan?"
"Panggil Juan dan Lauren. Aku ingin mengadakan wawancara dengan mereka. Jadwalkan pertemuan dengan mereka segera."
Meskipun penuh tanda tanya, Agnes segera melakukan perintah Jessica. Jika Jessica sudah berbicara, ia pasti mempunyai dasar yang kuat. Agnes tak bisa menolaknya lagi. Satu minggu kemudian jadwal wawancara dengan Juan pun dilakukan.
"Kenapa Anda berpisah dengan Nyonya Martha?" tanya Jessica.
"Kami sudah tidak ada kecocokan. Mungkin terdengar klise tapi mental kami masing-masing harus diselamatkan." Pria berkumis itu menjawab dengan tegas.
"Kalian bertengkar sepanjang hari?" tebak Jessica.
Juan menganggukkan kepala.
"Bukan hanya bertengkar, terkadang Martha juga main fisik dan itu membuatku sebagai laki-laki merasa rendah. Aku merasa tidak dihargai oleh istriku sendiri."
"Seperti apa tindakan Nyonya Martha yang Anda sebut melakukan kekerasan fisik itu?" Jessica tidak ingin percaya pada satu pihak.
"Dia sering marah, menampar, juga mendorongku. Tapi aku tidak pernah terpancing untuk meladeni semua itu. Aku anggap Martha belum selesai dengan dirinya sendiri."
"Kenapa Tuan Juan?"
"Martha punya masa lalu yang cukup pelik. Dulu dia korban kekerasan seksual orang-orang terdekatnya. Hal itu membuat ia menolak dirinya sendiri dan selalu merasa kurang percaya diri termasuk ketika menikah denganku. Aku berusaha melimpahinya dengan banyak cinta dan kasih sayang. Martha tidak pernah merasa cukup."
Jantung Jessica berdegup lebih kencang mendengar penuturan Juan. Dia seperti sedang dinasehati oleh pria di depannya itu. Jessica tertarik untuk mengulik kehidupan Martha dan Juan lebih dalam.
"Sampai Anda memutuskan untuk berpisah dengan Nyonya Martha saat Jessica baru lahir. Apakah menurut Anda itu keputusan terbaik saat itu?"
"Iya tapi aku sangat menyayangi Katy. Sejak dia lahir aku ikut membantu biaya hidupnya sampai sekarang pun aku masih sering memberikan apa yang menjadi hak Katy." Jessica mendongakkan wajahnya.
"Maksud Anda memberikan uang bulanan untuk Katy?"
"Iya, tentu saja. Dia anakku."
Juan menganggukkan kepala. Jessica kembali melihat berkas catatan di hadapannya di sana tertulis informasi dari Martha, Juan tidak pernah memberikan uang bulanan ataupun biaya untuk kehidupan Katy.
"Yang Anda lebih cukup lebih dari cukup? Maaf saya harus menanyakan ini."
"Meskipun aku hanya pegawai rendahan seorang mekanik, aku menghidupi anakku dengan layak."
"Bisa anda sebutkan nominalnya?" desak Jessica.
"Menurut Anda, berapa biaya yang pantas untuk kehidupan anak berusia tujuh tahun?"
Juan balik bertanya.
"Kamu bisa menanyakan itu kepada Martha, yang jelas lebih dari dua ribu dolar setiap bulan. Itu sangat cukup untuk kehidupan anakku. Karena itu seharusnya ibunya tidak perlu bekerja keras kebutuhan anakku. Dia sudah tercukupi kalau Martha benar-benar mengelola dan menggunakannya sesuai keperluan."
Juan memperlihatkan beberapa bukti transfer ke rekening Martha. Jessica terdiam sesaat. Ia tak tahu kalau Martha tak berkata jujur tentang ini.
"Tuan Juan, Anda tahu saat ini Nyonya Martha sedang mempertahankan hak asuh anak Katy bukan? Kenapa Anda ingin membawa Katy? Kenapa Anda tidak berbahagia dengan hidup Anda sendiri dengan kekasih Anda?"
"Martha terlalu membatasi waktu pertemuanku dengan Katy. Dia tidak membebaskanku bertemu Katy. Baru satu hari aku bersamanya dia sudah ribut padahal jatah waktu pertemuan adalah setiap akhir pekan. Pengadilan memutuskan dua hari aku bisa menemui dan merawat anakku. Tapi sejak dulu Martha selalu mempersulit aku bertemu Katy."
"Jadi itu alasan Anda menggugat hak asuh anak kepada Nyonya Martha?"
Juan menganggukkan kepalanya.
"Aku merasa sudah memberikan kewajiban seorang ayah tapi Martha tetap tidak menghargai itu. Jadi kupikir dengan cara ini bisa membuat Katy senang.
Sekarang Jessica tahu kenapa Katy sangat menginginkan hidup dengan Juan. Pria di depannya ini terlihat sangat tenang. Dia tahu apa yang ia lakukan. Tidak ada emosi sama sekali di dalam ucapannya. Bahkan ia juga tidak menjelek-jelekkan Martha. Sebaliknya justru Martha yang menjelek-jelekkan Juan dan kekasih barunya.
"Apa yang Anda lakukan kalau nanti mendapatkan hak asuh Katy? Bukankah sebentar lagi Anda akan menikah? Bagaimana respon pacar Anda?"
"Oh, Lauren sangat baik dia menerima Katy. Dia suka anak-anak. Lauren mencintaiku. Itu artinya dia juga harus mencintai putriku," jawab Juan dengan percaya diri.
"Apakah Anda yakin hal itu akan berlangsung seterusnya? Biasanya saat Anda punya anak maka hal itu hanya seperti sebuah omong kosong besar, karena tidak ada seorang ibu yang bisa mencintai anak-anak melebihi anaknya sendiri."
Juan terkejut dengan ucapan Jessica.
"Ada apa dengan Anda? Kenapa tiba-tiba Anda berbicara seperti ini? Saya tidak tahu pengalaman Anda, tapi saya rasa pernyataan Anda barusan tidak sepenuhnya benar."
Juan menatap Jessica yang terlihat gelisah.