The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Belum Berterus-terang



Simon berlari dan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Akhir-akhir ini memang kesehatan Lyla mulai memburuk. Terkadang dia jatuh sakit, setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit ia pulang dan bisa beraktivitas seperti biasa. Akan tetapi beberapa waktu kemudian Lyla kembali roboh dan harus dilarikan ke rumah sakit.


Ada masalah serius dengan lambungnya.


"Daddy tidak tahu, Mom mungkin salah makan, mama selalu mengeluh sakit perut mual dan muntah seperti sekarang mommy sudah tidak kuat lagi makanya langsung Daddy bawa ke rumah sakit," ujar Lucky. Pria yang kantung matanya kian menebal itu kian merasa khawatir.


"Oke Daddy. Tenang saja, Simon akan mengurus semuanya.


Simon segera menuju ke ruang tempat di mana Lyla dirawat.


"Mommy!"


"Sayang ..." Lyla menggapai tangan Simon, kemudian mengecup dahi Mommy-nya.


"Mommy kenapa tak mendengarkan kata-kataku untuk minum obat dengan teratur?"


"Mommy bosan minum obat. Sudahlah tidak apa-apa, mungkin Mommy hanya butuh beristirahat."


"Iya Mommy harus istirahat. Simon akan komunikasi sama dokter yang menangani Mommy. Maaf kalau Simon datang terlambat."


"Simon Mommy ingin bicara dengan kamu, Nak."


"Iya Mommy."


"Kamu masih belum mengungkapkan perasaanmu pada Jessica. Perempuan itu tahu betapa Simon sangat mencintai Jessica. Dia juga tahu Simon sangat terluka saat Jessica bertunangan dengan Robin."


Anak laki-lakinya itu merasa hancur karena telah mencintai Jessica sejak kecil, tetapi hingga dewasa seperti sekarang ia tidak berani mengatakannya. Simon selalu merasa takut jika Jessica menjauhinya dan mereka tidak akan berteman lagi.


"Setidaknya cobalah, Simon. Jessica anak baik sejak kecil kalian bersahabat. Mommy minta maaf kalau dulu sempat memisahkan kalian, hingga sekarang kamu merasa canggung saat ingin mendekatinya. Bukan hanya itu, beberapa waktu ini kamu sudah menghabiskan hampir seluruh hidupmu untuk mencintainya, Sayang. Tetapi gadis itu terlalu bodoh hingga tidak mengerti ada laki-laki begitu baik yang memperhatikan dan mencintainya."


"Mommy please, jangan pikirkan aku tapi pikirkan kesehatan Mommy." Simon mengelus tangan Mommy-nya.


"Mommy pasti sehat kalau melihat kamu telah menikah dengan wanita yang kamu cintai. Sejujurnya Mommy suka melihatmu dengan Vivian."


Lyla terbatuk perlahan. Vivian adalah perempuan yang sangat mencintai Simon.


"Simon, Mommy memang sempat berpikir yang tidak baik tentang Jessie saat itu. Dia penyebab Merry dirawat di rumah sakit jiwa."


Simon menautkan alis," apa maksud Mommy? Aunty Merry memang sudah menderita depresi dari awal akibat Baby Blues syndrome yang tak kunjung sembuh. Sampai sekarang Aunty Merry justru semakin parah keadaannya saat Om Frans meninggal, bukan?"


Lyla terdiam, ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.


"Frans mengatakan sesuatu kepada kami tapi Mommy tetap merahasiakannya, Sayang."


"Mommy bisa mengatakannya kepadaku."


"Tidak sebelum kamu menyatakan perasaanmu pada Jessica. Mommy ingin tahu bagaimana reaksi gadis itu."


"Mommy kenapa bersikap begini?" tanya Simon tak mengerti.


"Sejak papamu menemukan video itu di ponselnya, sikap anak itu berubah. Mommy tidak tahu apa yang terjadi di belakang semua ini, tapi Mommy rasa kamu harus segera menentukan sikap."


Lyla berkata dengan napas tersengal-sengal.


Simon menundukkan wajahnya. Dia hanya memberi penguatan kepada mamanya supaya lekas sembuh.


Lucky masuk ke dalam ruangan, Simon pamit pergi menemui dokter yang merawat Lyla.


Simon masih memikirkan ucapan mommy-nya.


"Apa rahasia yang pernah dikatakan oleh Frans kepada Daddy dan Mommy?" batin Simon. Ia harus tahu tapi benar kata mommy-nya. Dia akan menunggu sebentar lagi untuk mengatakan perasaannya pada Jessica. Setidaknya setelah sidang kasus Martha dan hak asuh anaknya usai. Simon akan memberanikan diri untuk berbicara jujur tentang perasaannya.


Laki-laki itu mengamati ponselnya. Ada pesan masuk dari Vivian. Perempuan yang akhir-akhir ini intens mendekatinya untuk memulai hubungan baru, tapi Simon masih belum siap.


Vivian sangat penyabar dan cantik sudah mengungkapkan perasaannya kepada Simon, bahkan gadis itu rela menunggu Simon membuka pintu hatinya. Akan tetapi Simon hanya terdiam, karena dia merasa Jessica adalah satu-satunya wanita yang ia cintai.


[Bolehkah aku datang untuk menjemputmu makan siang?] Pesan dari Vivian terbaca oleh Simon. Laki-laki itu terdiam.


Karena pesannya tak dibalas, akhirnya Vivian menelepon Simon. Laki-laki itu tergagap dan segera mengangkatnya.


"Iya halo,Vivian."


"Kenapa kamu tidak membalas pesanku, Simon?"


"Maaf aku sibuk saat ini. Mama masuk rumah sakit."


"Penyakit lambungnya kumat."


"Ya Tuhan. Baiklah aku segera ke sana."


"Tidak, bukan begitu maksudku. Aku tidak bermaksud memberitahu supaya kamu datang."


"Aku akan marah kalau kamu tidak memberitahuku." Bibir Vivian mengerucut.


"Sudahlah Simon, kamu diam saja. Aku akan datang ke rumah sakit sekarang. Kebetulan pekerjaanku tidak banyak, jadi aku bisa menyusulmu."


Belum sempat Simon mencegah kedatangan Vivian, gadis itu segera bersiap menuju ke rumah sakit tempat Lyla dirawat. Pada saat bersamaan, Jessica juga datang karena ia tadi sempat mendengar Lyla dirawat di rumah sakit.


"Di mana aunty Lyla?" tanya Jessica.


"Dia ada di ruangan itu." Simon menunjuk ruangan tempat Lyla dirawat.


"Aku juga akan masuk ke dalam." Vivian tak mau kalah.


"Oh iya, kenalkan Jessie ini Vivian temanku. Vivian ini Jessica."


"Hai."


Keduanya bersalaman sambil tersenyum. Jessie diam-diam mengagumi kecantikan Vivian. Wanita itu terlihat cantik dan sangat matang serta percaya diri.


"Jadi kamu temannya Simon? Kamu dokter juga?" tanya Jessica. Vivian menggelengkan kepala.


"Bukan, aku bekerja di media." Vivian tersenyum.


Mereka masuk bersamaan. Di kamar Lyla, perempuan itu sedang mengobrol dengan Lucky saat melihat dua gadis cantik menuju ke arahnya.


"Halo Vivian, Jessie, kalian ada di sini rupanya." Lyla menyapa mereka.


"Tante maaf Simon baru kasih tahu jadi saya baru bisa datang." Vivian memberi pelukan untuk Lyla yang juga menyambutnya dengan hangat.


Jessica merasa minder meskipun dia telah mengenal Lyla lebih lama, tapi sikap Lyla kepada Vivian sangat berbeda.


"Makasih, Sayang."


Simon masuk mengikuti kedua gadis itu.


"Jadi kamu mengabari keduanya?" tanya Lyla dengan pandangan menyelidik.


"Aku sedang bersama Jessica, saat Daddy mengabarkan kalau mommy dirawat di sini."


"Iya aunty, kami sedang bersama tadi, tapi aku tidak bisa langsung ikut Simon karena masih ada beberapa pekerjaan," jawab Jessica.


"Iya Sayang. Tidak apa-apa. Aunty sampai merasa tidak enak karena kamu sudah datang."


Vivian merasa tidak enak sendiri. Dia merasa canggung.


"Kira-kira aku bisa memesankan makanan apa buat tante, yang tidak membuat mual dan muntah?" tanya gadis berkacamata itu.


"Vivian sudah cukup rumah sakit ini sudah menyediakan makanan untuk Mommy," tukas Simon.


Dia bingung saat ini harus bersikap bagaimana kepada Vivian dan Jessica.


Vivian mendominasi perhatian mamanya, sedangkan Jessica hanya bisa terdiam melihat kedekatan keduanya.


"Jessie, mungkin kita harus keluar sebentar supaya Mommy dan Vivian bisa mengobrol." Simon mencoba menetralkan suasana.


"Jangan lama-lama, ya."


Lyla kecewa melihat Simon yang lebih memilih keluar bersama Jessica ketimbang Vivian, tapi wanita itu mencoba menahannya.


Ada satu hati lagi yang merasa kecewa dengan sikap Simon, yaitu Vivian.


"Apakah perempuan itu Jessica, Tante?" tanya Vivian.


"Maksud kamu apa, Sayang?"


"Aku sudah tahu kalau Simon mencintai gadis lain. Apakah dia Jessica?