
Simon sedang menenangkan Jessica yang terserang panik. Mobil ambulans sudah datang, banyak petugas kepolisian yang berdatangan ke apartemen Jessica. Mereka membawa Jessica ke kantor polisi dan meminta keterangan.
Jessica mengatakan kalau Robin hendak memperkosanya dan dia mencoba membela diri. Jika tidak maka ia yang akan terbunuh. Alibinya membuat polisi tak percaya begitu saja.
Namun saat mengecek TKP yang dilengkapi dengan CCTV, polisi juga menanyai beberapa tetangga apartemen yang mendengar keributan itu.
Simon menjamin Jessica dengan sejumlah uang. Setelah menyewa pengacara, kali ini Jessica mau berkonsultasi dengan psikolog. Simon terus memaksanya supaya ia bisa terbebas dari tuduhan pembunuhan. Ada banyak prosedur rumit yang harus ia lewati.
Wawancara dengan petugas kepolisian menyita tenaganya, begitu juga dengan hasil pemeriksaan psikolog, memang mereka mendapati fakta bahwa Jessica mengalami trauma akibat peristiwa itu.
"Jessie kamu sekarang baik-baik saja?"
Simon berbicara pelan kepada Jessica yang saat ini masih berada dalam pengawasan psikiater. Jessica meminta dirawat di tempat khusus sampai ia benar-benar bisa melupakan traumanya.
"Simon aku sekarang sudah jadi pembunuh, kuharap kamu tidak menemuiku lagi."
"Hei ada apa denganmu? Kamu melakukannya karena terpaksa. Polisi juga sedang menyelidiki ini dan meminta keterangan dari para gadis yang sering bersama Robin.. Dia memang suka berganti-ganti perempuan dan sering berbuat kasar kepada mereka."
Jessica memejamkan mata. Sejatinya dengannya Robin baru tadi malam ingin memaksa. Sebelumnya Robin tidak berani menyakitinya. Entah dorongan apa yang membuat Jessica begitu berani mengayunkan rak sepatu itu dan melukainya, ia sendiri juga tidak tahu.
"Kamu harus bisa menerima kenyataan ini, Jessie. Bahwa Robin memang bukan orang yang baik," ujar Simon menenangkan.
"Tetap saja aku pembunuh, Simon. Aku seorang pembunuh."
Melihat kondisi Jessica yang masih terguncang, Simon merasa Jessica ada kecenderungan persamaan dengan Merry yang sama-sama merasa menjadi pembunuh.
Dengan sabar dan telaten, perlahan-lahan Simon mulai mengajak Jessica keluar untuk jalan-jalan. Awalnya gadis itu menolak, tetapi Simon dengan sabar menghadapinya.
Akhirnya kesabaran Simon membuahkan hasil. Jessica sudah mulai kembali ke kantor. Agnes menyambutnya dengan gembira.
"Aku senang melihatmu kembali ke kantor ini, Jessie!" sambut Agnes dengan senyuman lebarnya. Mereka berpelukan.
"Pak Andrew sudah menunggumu di ruangannya, Jessie."
"Apakah ada yang penting?"
Agnes menggelengkan kepalanya. "Sepertinya begitu."
"Baiklah aku ke ruangan Pak Andrew dulu kalau begitu. Agnes aku juga melihatmu."
Jessica segera menuju ke ruangan pimpinan.
"Selamat siang, Pak Andrew."
"Jessie, kamu sudah sehat? Masuklah." Jessica duduk di hadapan bosnya.
"Aku sudah pelajari kasus yang kemarin menimpamu. Aku turut prihatin. Kamu melakukannya karena terpaksa, Robin hendak memperkosa kamu, bukan?"
Jessica menganggukkan kepala sejujurnya dia tidak ingin membahas masalah itu lagi. Setiap kali ia teringat bagaimana ia menghantam kepala Robin, Jessica merasa kepalanya sakit.
"Sebelumnya saya minta maaf kalau ini mungkin akan terdengar seperti tidak memihak kepadamu, tapi saya tidak mau reputasi kantor hukum ini menjadi buruk karena insiden itu."
Jantung Jessica berdetak lebih kencang.
"Untuk sementara waktu lebih baik kamu saya nonaktifkan saja."
"Apa maksudnya, Pak? Saya dipecat?" Jessica tersentak.
"Bukan dipecat, hanya dinonaktifkan saja. Kamu bisa bekerja dari rumah, dengan memberi bantuan analisa kasus yang sedang dihadapi oleh para lawyer lainnya. Kamu lawyer nonaktif, tapi tetap bisa bekerja dari rumah."
Jessica bingung karena tiba-tiba Andrew berbicara seperti itu. Dia tahu kalau perempuan yang melakukan kekerasan sekalipun untuk membela diri, itu dianggap membahayakan. Sungguh menyudutkan.
"Baiklah saya memilih keluar dari pekerjaan ini."
"Jangan gegabah, pikiran baik-baik. Dengan begini kita bisa saling diuntungkan."
"Saya memutuskan resign dari kantor ini, keputusan saya sudah bulat."
"Kamu masih bisa memikirkannya lagi."
Jessica menggelengkan kepala. "Tidak ada lagi yang harus saya pikirkan. Tekad saya sudah bulat. Saya akan mengundurkan diri dari perusahaan Bapak. Baiklah jika kamu memaksa, dan itu menjadi keputusanmu.
Agnes terkejut melihat Jessica keluar dari ruangan bos mereka.
"Jessie apa yang terjadi?" Agnes melihat mata Jessica berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa lagi bekerja di sini, Agnes."
"Tunggu dulu, apakah Pak Andrew memecatmu"
Jessica menggeleng lalu menjawab," tidak begitu, tapi aku mengundurkan diri."
"Iya tapi kenapa? Katakan padaku alasannya!"
"Di mata Pak Andrew aku sekarang seorang kriminal, meskipun aku melakukannya untuk membela diri. Kantor hukum ini tidak boleh tercela Agnes."
"Ya Tuhan, sebegitunya Pak Andrew bersikap kepadamu."
"Tidak apa-apa, mungkin memang di sini bukan tempatku. Aku akan mencari pekerjaan lain," ucap Jessica lirih.
"Jangan membuatku bersedih, kalau memang Pak Andrew mengeluarkan kamu karena kasus kemarin, aku rasa aku juga tidak akan bertahan di sini."
"Agnes jangan bodoh ini tentang aku, bukan tentang kamu."
"Iya tapi bagaimana bisa sebuah perusahaan justru memecat karyawan hanya karena dia membela diri saat ingin dirudapaksa pria bejat? Ini benar-benar tidak adil!" celetuk Agnes. Perempuan itu segera menuju ruangan bosnya.
"Agnes tunggu!"
Percuma Jessica melarang, perempuan itu sudah masuk ke ruangan pimpinannya.
"Kalau Jessica keluar saya juga memutuskan untuk tidak bergabung di perusahaan bapak."
Andrew hanya mencebikkan bibir, lalu mengangkat bahu dan berkata," kalau begitu kemasi barangmu sekarang."
Agnes berkaca pinggang.
"Anda tidak tahu cara bersikap terhadap korban pelecehan seksual! Saya harap hal-hal seperti itu tidak menimpa putri Anda!" teriak Agnes dengan berani membuat Andre terdiam.
Agnes segera menyerahkan name tag-nya di hadapan Pak Andrew, lalu perempuan itu keluar. Ia mengemasi barang-barangnya bersama Jessica.
"Agnes apa yang kamu lakukan?" Jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali!"
"Kita sudah bersama-sama sejak dulu, kalau kamu keluar aku juga keluar. Ini salah satu bentuk dukunganku kepadamu, Agnes."
Akhirnya mereka berdua keluar dari firma hukum itu mengendarai mobil Agnes.
Pada saat bersamaan Simon menelepon Jessica.
"Kamu ada di mana sekarang, Jessie, aku mau mengajak makan siang."
"Hai Simon, aku sedang bersama Agne. Dengar, kita berdua mulai hari ini jobless, alias tidak punya kerjaan."
" Haha, apa maksudmu? Bilang jobless tapi nadamu ceria dan gembira."
"Iya kami berdua sama-sama memutuskan untuk mengundurkan diri dari firma hukum ini."
"Kenapa? Apakah ini ada hubungannya dengan kasus yang menimpamu kemarin?"
Jessica menganggukkan kepala. "Tentu saja Simon, mana ada perusahaan yang mau mempekerjakan karyawan yang sudah pernah melakukan pembunuhan."
"Wah bosmu itu bodoh! Baiklah aku akan menjemput kalian berdua. Kita makan siang dan kita bicarakan rencana selanjutnya."
"Rencana apa maksudmu?"
"Sudahlah kamu diam saja." Jessica masih bertanya-tanya apa maksud Simon.
"Kenapa dengan Simon?" tanya Agnes sembari menyetir.
"Dia akan menjemput kita untuk makan siang."
"Nah kan, apa aku bilang, Simon itu menyukaimu, tapi kamu tidak pernah membalasnya, malah memilih Robin."
Jessica mendelik.
"Upsss, maaf aku keceplosan! Kamu jangan khawatir Jessie, Simon tidak akan membiarkan kita berdua tidak punya pekerjaan. Kita lihat saja kejutan apa yang akan ia berikan kepadamu."