
"Apa kamu yakin ingin menemui mamamu?" tanya Simon saat melihat Jessica terlihat ragu-ragu memasuki pelataran rumah sakit jiwa.
"Aku tidak mengingat sosok mommy Merry, tapi rasanya jantungku deg-degan, Simon."
Jessica meraba dadanya.
"Aku sudah bilang kalau aunty Merry dulu sangat menyayangi kamu. Cuma kamu yang menerima perhatian begitu banyak dari semua orang. Aunty Merry dirawat di sini karena dia terkena sindrom baby blues usai melahirkan. Dia membunuh bayinya sendiri."
Jessica terdiam, dia sama sekali tidak bisa mengingat momen itu. Momen sebelum terjadinya kecelakaan itu seolah-olah hilang dari ingatannya.
Petugas mempersilahkan mereka duduk untuk menunggu Merry. Tak lama kemudian perempuan yang kini sudah terlihat lebih tua itupun keluar menemui mereka. Merry memandang ke arah Jessica dengan ragu-ragu.
Ia mengulurkan tangannya.
"Jessica sayang, apakah ini kamu?"
Jessica menganggukkan kepalanya. Ia hampir saja menangis saat Merry memeluknya sangat erat.
"Kemana saja kamu, Nak?"
"Mommy, Jessie di sini untuk menjemput mommy."
Seketika Merry mengurai pelukannya, lalu kembali duduk di atas kursi."
"Sayang di sini memang tempat mommy, kamu bisa datang kapan saja untuk menemui mommy."
Mata Merry terlihat menerawang.
"Mommy harus berjuang untuk sembuh. Kita bisa tinggal berdua seperti dulu lagi. Apa mommy tidak merindukanku?" tanya Jessica.
Merry terharu mendengar pertanyaan putrinya.
"Tentu saja Mommy merindukan kamu, Sayang. Setiap hari mommy selalu menyebut namamu." Merry mengelus punggung tangan putrinya.
"Mommy melakukan kesalahan fatal dan kini harus menebusnya seumur hidup.
"Mommy sudah menyebabkan kekacauan hidup kalian," sesal Merry.
"Mommy sudah cukup menyiksa diri, aku akan berbicara pada dokter dan memperjuangkan supaya Mommy bisa keluar dari sini."
Jessica melihat tatapan mata Merry yang kosong. Gadis itu merasa sesuatu telah terenggut dalam diri Merry.
Meskipun tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat itu, tapi Jessica merasakan hatinya menghangat saat memeluk Merry.
Sudah jelas baginya bahwa Merry sangat menyayanginya dulu, bahkan mungkin sampai sekarang.
"Daddy sudah tidak ada, Mommy tapi aku juga tidak bisa mengingatnya."
"Daddy masih ada sayang, dia sedang menjaga baby Moana." mendengar ucapan Merry.
Jessica terdiam dan menoleh ke arah Simon. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepala. Dia memberi kode bahwa Merry masih belum sembuh. Dia tetap tidak baik-baik saja.
Mereka mengobrol, Jessica menghibur Merry yang terlihat sangat sedih.
"Apakah Mommy masih mengingat Daddy?" tanya Jessica.
"Kenapa dengan Daddy? Tentu saja masih Mommy tidak akan pernah melupakan dia. Terlalu banyak momen-momen indah bersama Daddy."
"Apakah Daddy dulu suka menyakitiku?" tanya Jessica.
Tiba-tiba raut wajah Merry berubah. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan Jessica.
"Apa maksudmu? Daddy orang baik. Dia pria yang setia dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Dia tidak pernah memaksa siapapun. Katakan apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Frans padamu?"
Tiba-tiba Merry menarik kerah baju Jessica, membuat Gadis itu ketakutan.
"Mommy tolong lepaskan!"
"Aunty Merry, lepaskan Jessica!" teriak Simon.
"Ahhh, kepalaku sakit sekali!
Sepertinya sudah cukup pertemuan hari ini. Kami akan pulang sekarang. Merry masih belum bisa ditenangkan. Perempuan itu berteriak-teriak tidak jelas. Jessica terus menangis meninggalkan rumah sakit jiwa.
"Simon, aku sangat sedih melihat kondisi Mommy seperti itu."
"Begitulah, keadaannya belum membaik, meskipun sudah dirawat bertahun-tahun. Aunty Merry seperti tidak ingin sembuh. Ia terus tenggelam dalam kesalahannya. Tapi kamu tidak usah khawatir, karena aku selalu memeriksanya secara berkala."
Simon selama ini memantau keadaan Merry atas permintaan Lyla.
"Semua ini terasa menyakitkan, Simon. Bawa aku pergi dari sini."
Simon segera membawa Jessica menuju ke mobil.
"Sekarang kamu tahu kenapa aku tidak pernah mengizinkanmu untuk menengok aunty Merry? Karena kamu belum siap, begitu juga dengan aunty Merry. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kemana rasa cinta dan kasih sayang kalian dulu?"
"Ahh, kepalaku pusing, Simon. Antarkan aku pulang sekarang."
Akhirnya Jessica memilih pulang diantar Simon.
Saat mereka tiba di apartemen, Robin juga datang apartemen Jessica. Dia ingin memastikan kondisinya Jessica.
Dia terkejut melihat Jessica yang sedang dipeluk oleh Simon.
"Apa-apaan ini?!
Jessica terkejut melihat kedatangan Robin yang tiba-tiba.
"Robin ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Ternyata begini kalian di belakangku. Ada apa ini? Apa yang tidak aku ketahui? Untuk apa kamu ada di sini, Simon?
"Robin, pelankan suaramu. Aku dan Jessi baru saja pulang. Aku mengantarkan dia menemui mamanya di rumah sakit jiwa." Simon berusaha menjelaskan situasinya.
"Robin, jangan berpikir macam-macam, kami hanya ke rumah sakit menemui mamaku."
"Kemarin kamu bilang tidak mau ke psikolog atau psikiater, tapi bersama Simon justru kamu pergi menemui mamamu. Kamu benar-benar tidak menganggap aku."
Robin marah dia berlari keluar apartemen, hingga terpaksa Jessica menyusulnya. Sementara Simon menjambak rambutnya.
"Tunggu dulu Robin, aku bisa menjelaskannya kepadamu!"
"Sudahlah, aku rasa aku memang tidak penting dalam hidupmu. Kamu lebih memilih Simon daripada aku."
"Bukan begitu, tolonglah mengerti. Simon tahu masa laluku dan bersamanya ku ingin menyusuri jejak masa lalu, karena aku tidak tahu dari mana rasa trauma ini berasal." Jessica mencoba berkata jujur.
"Lalu apa yang kamu dapatkan sekarang? Apakah kamu sudah tahu penyebab trauma itu? Jangan terlalu banyak alasan Jessie. Kamu bilang trauma dengan laki-laki, tapi dengan Simon kamu malah berpelukan. Ini tidak adil untukku."
Robin tidak mau menerima penjelasan Jessica. Pria itu sengaja melakukannya untuk membangkitkan rasa bersalah Jessica. Jika gadis itu sudah merasa bersalah, dia pasti mau melakukan segalanya.
"Robin, maafkan aku. Tunggu dulu, oke aku salah, mulai sekarang aku tidak akan berhubungan lagi dengan Simon. Aku akan fokus pada hubungan kita. Sekarang jangan marah lagi, ya."
"Apa kamu yakin mau melakukannya?"
"Tentu aku memegang komitmen kita, hubungan kita ini memang harus diawali dengan kejujuran. Ayo kembali ke apartemen."
Mereka berdua kembali ke apartemen dan menemukan Simon yang sedang berdiri sambil bertopang dagu.
"Simon, aku mohon pergilah. Terima kasih atas semua bantuanmu, tapi mulai sekarang aku bisa mengatasi semuanya sendiri." Jessica menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu yakin?"
"Tentu saja, aku sudah punya Robin, dan tidak membutuhkan orang lain. Semuanya harus kami hadapi berdua." Jessica menggandeng Robin. Pria itu kini telah merasa menang.
"Simon, terima kasih sudah menjaga Jessica selama ini dan terima kasih juga selama ini kamu peduli sama dia, tapi ingat dia sudah punya aku dan tidak membutuhkan siapa-siapa lagi. Mulai sekarang Jessica hanya punya aku," tandas Robin.
Simon memandang ke arah Jessica, mencoba mencari kesungguhan kalimat gadis itu.
Ini bukan seperti Jessica yang ia kenal, tapi karena Simon tidak ingin mencari masalah. Ia menghormati keputusan Jessica meskipun hatinya remuk.
Ia pun segera berlalu dari apartemen Jessica. Sebelum meninggalkan perempuan yang ia cintai Simon berkata," ingat Jessie, aku selalu ada untuk kamu."