
"Bagaimana, semuanya sudah siap, Sus?" tanya seorang dokter Shen.
"Sudah, Dok. Bagaimana ini apakah pasien kita infus sekarang atau menunggu pemberitahuan masalah administrasi, Dok?" Suster jaga tersebut balik bertanya.
"Infus nutrisi saja, Sus supaya ibu hamil nanti memiliki tenaga yang cukup saat pembukaan sudah lengkap. Oh, ya, tolong ambilkan sarung tangan lateks itu sepasang. Saya mau memeriksa sudah bukaan berapa sekarang," titah dokter Shen.
Shen memberitahu Merry mengenai kondisinya saat ini. "Jika Anda masih kuat, bisa berjalan- jalan di sekitar ruangan ini untuk mempercepat proses pembukaan. Kita akan menggunakan cara alami terlebih dahulu, bila tidak berhasil barulah kita memakai induksi."
"Baik, Dok. Terima kasih, nanti setelah suami saya datang, saya akan menjalankan perintah Dokter untuk berjalan- jalan di sekitar ruang bersalin," ucap Merry.
Dokter Shen pun mengganggukkan kepalanya dan undur diri karena harus memeriksa pasien- pasien yang lainnya. Sepeninggal Dokter Shen, Merry pun memutuskan untuk langsung mengerjakan perintah sang dokter tanpa menunggu kedatangan Frans dan Jessica.
Merry baru saja turun dari ranjang tempat tidurnya ketika Frans dan Jessica datang dari ruang administrasi. Melihat Merry turun dari ranjang tempat tidur, Frans dan Jessica gegas berlari menghampiri Merry dengan wajah khawatir.
"Merry, Sayang! Kenapa kamu turun dari tempat tidur? Apa kamu ingin pergi ke kamar mandi atau apa?" cecar Frans dengan nada khawatir.
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, suster jaga tersebut segera mengambil sepasang sarung tangan lateks dan menyerahkannya kepada sang dokter jaga yang langsung di terima dan dipasang.
Setelah terpasang sempurna, dokter Shen mengoleskan gel pelumas agar sarung tangan tersebut tidak menyakiti pasien saat memeriksa. Kemudian dengan ketelitian, dokter itu pun memberikan sebuah instruksi pada Merry.
"Nyonya Merry, kita akan melakukannya sekarang, saya periksa dulu. Tolong buka kakinya lebar- lebar, pegang mata kaki jangan sampai terlepas. Tolong jangan tegang, santai aja supaya tidak merasa sakit saat diperiksa."
"Baik, Dokter," sahut Merry yang langsung mengerjakan perintah sang dokter pribadinya itu.
Dengan sekuat tenaga Merry memegang kedua mata kakinya erat- erat setelah kedua kakinya terbuka dengan lebar memperlihatkan miliknya. Dengan menghela napas dalam, Merry berusaha mengenyahkan rasa malunya meski pun para perawat, bidan, dan dokter jaga pada siang hari itu adalah wanita dan untuk merelaksasikan tubuhnya seperti yang diminta oleh dokter tersebut sebelumnya.
Meskipun sudah berupaya agar tubuh dan pikirannya menjadi lebih santai, tak pelak Merry masih terpekik saat jemari sang dokter berhasil menembus bagian inti tubuhnya. Untuk beberapa saat sang dokter memeriksa keadaan pembukaan jalan lahir dan melepaskan sepasang sarung tangan lateks tersebut dan meletakkannya di sebuah kantong platik untuk membuang sarung tangan tersebut.
"Kondisi pembukaan jalan lahir berada dalam kondisi normal dan baik. Kontraksi juga baik. Sekarang posisi pembukaan jalan lahir sudah pada pembukaan lima, perkiraan nanti jam lima sore atau paling lambat jam enam bersamaan dengan waktu senja Ibu akan melahirkan." Dokter
"Tidak apa- apa. Tadi Dokter Shen menyuruh untuk banyak berjalan sambil menunggu pembukaan lengkap, karena berjalan bisa mempercepat proses pembukaan. Apa kamu mau menemani aku berjalan- jalan sebentar? Atau Jessica barangkali yang mau menemani Mommy?" tanya Merry.
Jessica pun menganggukkan kepalanya, dan akhirnya mereka bertiga berjalan bersama mondar mandir di sekitar ruang bersalin tersebut.
Jam menunjukkan tepat pukul lima sore ketika Merry merasa kontraksi yang dialaminya sudah semakin kuat dan sering, sehingga membuatnya tidak kuat lagi berjalan. Frans yang melihat hal itu pun bergegas menggendong Merry kembali ke ruang bersalin dan meminta pertolongan kepada para suster, bidan dan dokter jaga yang bisa temui di ruangan tersebut.
"Oke, pembukaan sudah lengkap sepuluh. Suster tolong siapkan chromic catgut, infus baru, anestesi, suntikan dan adult pampers. Kita mulai sekarang," titah dokter Shen.
Tanpa menunggu lebih lama, para petugas medis itu pun gegas mengerjakan perintah dokter Shen. Sementara itu, dokter Shen meminta Merry untuk membuka kakinya lebar- lebar dan mengatur napasnya dengan baik dan tidak berteriak agar tidak kehabisan tenaga saat proses melahirkan nanti.
Setelah semuanya siap, dokter Shen pun meminta Merry untuk mengejan kuat- kuat supaya sang bayi bisa segera keluar. Merry melaksanakan perintah dokter Shen dan setelah beberapa berjuang antara hidup dan mati akhirnya lahirlah sang putri yang dinanti.
Sore harinya, Merry sudah diperbolehkan pulang. Sesampainya di rumah, Merry dibantu oleh Frans meletakkan bayi mereka di kamar yang memang sengaja sudah disiapkan khusus untuk buah hati mereka. Merry menatap buah hatinya dengan bahagia karena yang dinanti selama ini akhirnya bisa bersama mereka di dunia.
Kehidupan Merry, Frans sangat bahagia dengan kehadiran malaikat kecil yang cantik di dalam keluarga mereka, hingga pada hari keempat paska kehadiran bayi cantik itu, hidup Merry berubah sibuk. Kini hari- harinya dipenuhi dengan air mata, kemarahan yang tak terkendali dan yang paling parah dari semuanya adalah Merry terkadang merasa benci dan ketakutan pada bayi mungilnya.
Merry terkadang menampakkan sikap defensif ketika Frans menyodorkan bayinya untuk disusui. Terkadang Merry menangis tersedu- sedu hingga napasnya sesak, terkadang wanita itu merasa ketakutan saat melihat bayinya tersenyum seakan ingin mengajaknya bermain. Seperti yang terjadi saat ini, Merry tampak histeris bukan main.
"Diam! Diam! Berhenti bersuara! Aku benci mendengar suara itu! Aku benci! Jauhkan dia dariku! Pergi kau! Pergi!"
"Sayang, Merry! Sadar, Sayang ini anak kamu! Buah hati kamu, darah daging kamu! Kamu kenapa? Kenapa kamu begitu ketakutan seperti itu, Sayang?" Frans bertanya dengan raut wajah kebingungan.
"Tidak! Dia bukan putriku! Bukan darah daging dan bukan juga buah hatiku! Usir dia! Jauhkan dia dariku! Jauhkan!" Merry masih berteriak histeris sambil berusaha menjauhkan bayi mungilnya dari dirinya. "Kalau makhluk itu masih berani mendekat -- maka aku akan membunuhnya atau aku akan bunuh diri! Kalau kamu tidak ingin itu terjadi, jauhkan dia dariku, Jauhkan!"
Frans tampak terluka dengan sikap Merry yang tiba- tiba saja berubah menjadi aneh seperti itu. Dia tidak pernah menyangka jika Merry bisa menjadi seperti itu. Dengan perasaan sakit, Frans membawa bayi mereka menjauh dari Merry dan terpaksa membuatkan susu formula karena putri kecilnya itu sudah sangat kelaparan.
Kini hari- hari di rumah Frans dan Merry bagaikan di neraka, tidak ada lagi keceriaan, kegembiraan dan hangatnya kasih sayang. Jessica pun sekarang terkadang merasa takut jika berdekatan dengan Merry. Karena merasa penasaran dengan sikap Merry yang menjadi aneh dan sering melakukan hal- hal yang tidak masuk akal, Frans pun memutuskan untuk mencari tahu ada apa dengan istrinya.
Sementara itu, sikap Merry yang seperti itu semakin menjadi. Dia bahkan tidak segan memukul atau menyakiti dirinya sendiri hanya supaya bisa jauh dari hantu bayi yang menurut suaminya adalah putri mereka.
Suatu pagi di hari Minggu saat Frans sedang ke supermarket membeli keperluan mereka, Jessica yang ketakutan mendengar Merry terus berteriak-teriak akhirnya mengambil jalan pintas. Gadis itu segera membekap bayi mungil di atas box yang menangis menjerit-jerit hingga suara jeritan itu perlahan-lahan hilang. Setelah memastikan suara itu hilang, Jessica segera mengembalikan bantal, lalu meninggalkan rumah, ia mengambil sepedanya dan mengayuhnya berkeliling komplek.
Frans baru pulang saat melihat bayi mungilnya ia kira tertidur di dalam box, tapi saat melihat Merry menangis tersedu-sedu di kamarnya, Frans terkejut bukan kepalang.
“Frans, aku membunuh bayi kita.”