
Frans tak bisa berkata apa-apa saat mendapati Merry sedang menjambaki dirinya sendiri. Perlahan-lahan ia mendatangi bayinya di dalam box. Bayi kecil itu sedang tertidur pulas. Iya, Frans melihatnya begitu. Jadi kenapa Merry bilang ia usai membunuh bayinya?
Frans terus mengamati bayinya. Wajahnya emmucat saat emnyadari bayi itu sudah tak bernapas lagi.
“Tidakkk!”
Jessica terus berkeliling komplek, gadis itu sangat senang karena berhasil menyingkirkan penyebab mommy-nya jadi bersikap aneh akhir-akhir ini. Setelah adiknya lahir, hidupnya menjadi tidak tenang.
Awalnya Jesscia sangat senang dengan kehadiran adik barunya itu. Kembali mengingat kejadian saat bayi itu baru tiba di rumah.
Saat Merry mandi ataupun sedang makan, Jessica pasti selalu sigap membantu menjaga adik barunya. Jessica tak pernah mengeluh. Jessica sangat gemas pada adik barunya itu.
“Jessica, bisa bantu Mommy sebentar?” tanya Merry.
Jessica yang sedang asyik dengan aktivitasnya langsung menoleh pada Merry.
“Bantu apa, Mom?” Jessica bertanya pada Merry.
“Jaga adik bayi sebentar, Mommy mau ke kamar mandi sebentar.” Merry berkata sambil menatap Jessica penuh harap.
“Tentu saja bisa, Mom. Lama pun Jessica mau, kok. Iya, kan, Simon?” Jessica menoleh pada Simon yang saat itu sedang bermain dengannya.
“Benar, Mom, Simon dan Jessica akan siap siaga menjaga adik bayi.” Simon menjawab dengan sangat antusias.
Kebetulan Simon sepulang dari sekolah langsung ikut Jessica, karena ingin bertemu dengan adik barunya. Saat dilarang pun Simon tetap memaksa, akhirnya Lyla pun mengizinkan asal tidak merepotkan Merry. Tentu saja Simon menyanggupi. Dia mengatakan kalau tidak akan pernah merepotkan Merry, justru akan membantu menjaga sang adik. Lyla pun nanti akan ke tempat Merry untuk membantu Merry merawat anaknya yang baru lahir.
Merry sangat terharu dengan ketulusan mereka dan mereka sangat menyayangi adik barunya itu. Sebelumnya Merry sangat khawatir dan takut kalau Jessica akan membenci adik barunya. Sebab beranggapan kalau Merry lebih menyayangi adik barunya itu. Kini, perasaan Merry sedikit lega.
Simon juga sangat senang jika diminta untuk membantu Merry menjaga sang adik.
“Ya, kan, biar rame, Simon.” Jessica gemas sekali pada adik barunya itu. “Lihatlah Simon, dia ini sangat lucu dan cantik seperti aku,” ucap Jessica dengan bangganya.
“Lebih cantik adik bayilah,” sahut Simon.
Mendengar jawaban Simon, Jessica merasa kesal. Lalu, melotot ke arah Simon yang berdiri tepat di sampingnya.
“Sama-sama cantik. Kayak Mommy juga,” ucap Jessica dengan kekeh.
Jessica dan Simon memang suka berdebat hal-hal remeh jika sedang bersama, tetapi mereka sebenarnya saling menyayangi.
“Ada apa, sih, ini, berantem mulu,” ucap Frans yang baru pulang dari kantor.
Jessica dan Simon langsung menoleh ke arah Frans.
“Ini Daddy, adik bayi sama Jessica lebih cantik adik bayi, kan?” tanya Simon mendahului Jessica.
“Nggak, Daddy, kami sama-sama cantik, kan?” Jessica tak mau kalah.
Frans yang mendengar perdebatan mereka pun hanya diam. Lalu, tersenyum menatap kedua keduanya. Kemudian, adik bayi mereka pun menangis. Tepat saat Merry baru datang dari kamar mandi.
“Loh, kok, adiknya nangis? Kenapa? Kalian apakan?” tanya Merry dengan suara agak keras.
Jessica dan Simon kaget mendengar Merry bersuara agak keras.
“Jessica dan Simon nggak ngapa-ngapain mereka, kok, Mommy.” Jessica menjawab dengan pelan.
Kemudian, Merry pun mulai menggendong bayinya yang menangis. Namun, bayinya tersebut tak kunjung diam. Merry pun semakin emosi. Dia mengomel-ngomel tak jelas.
Jessica dan Simon pun takut melihat Merry terlihat kesal.
“Merry, sudah jangan emosi.” Frans menepuk pundak Merry pelan.
Merry pun langsung menoleh ke arah Frans. Saking kesalnya dia tak menyadari kalau suaminya sudah pulang.
“Kapan kamu pulang?” tanya Merry sambil masih menggendong bayinya.
“Tadi, pas kamu masih di kamar mandi,” sahut Frans.
Frans kemudian menenangkan Merry agar tidak lagi emosi. Merry menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia merasa heran karena semenjak melahirkan emosinya naik turun. Kadang dia merasa tiba-tiba sedih tanpa sebab. Takut tiba-tiba Jessica meninggalkannya dan lebih memilih tinggal bersama Lyla. Kadang Merry juga takut kalau tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk bayinya. Bahkan, takut pilih kasih.
“Bayi kita bangun bukan karena Jessica dan Simon, mungkin dia haus atau popoknya basah.” Frans mengambil alih bayinya dari gendongan Merry.
Sebagai suami, Frans harus selalu siap siaga membantu istrinya. Dia tak mau membuat Merry merasa diabaikan. Karena itu Frans selalu berusaha pulang tepat waktu seperti sekarang ini. Belum sampai malam sudah di rumah.
“Nah, benar, kan, popoknya udah penuh, jadi perlu diganti,” ucap Frans sambil tersenyum.
“Biar Jessica ambilin popok adik bayinya, Daddy,” ucap Jessica dengan antusias. Lalu, dia mengambil popok adik bayinya di rak baju bayi. Lalu, menyerahkan kepada Frans. Simon dengan senang hati menemani Frans, mengganti popok sang adik.
Melihat semua itu, Merry terharu. Dia merasa bersalah karena tadi membentak Jessica dan Simon.
“Jessica, Simon, maafin Mommy, ya? Tadi Mommy sudah emosi duluan,” ucap Merry.
Jessica dan Simon pun mengangguk.
“Nah, udah nggak nangis lagi, udah Daddy ganti popoknya.” Frans mencium pipi sang bayi.
Lalu, Merry mengambilnya dan memberinya ASI, sepertinya memang haus dan lapar. Sementara, Frans ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ganti baju.
Jessica dan Simon duduk di samping Merry sambil terus berceloteh. Merry senang mendengarnya.
Setelah itu, sang bayi pun tidur, Merry membaringkannya kembali ke box bayi. Lalu, mengajak Jessica dan Simon untuk keluar kamar, tetapi mereka menolak. Mereka masih ingin menjaga sang adik bayi. Merry pun membiarkannya.
“Yang penting jangan ramai, biar adik bayinya tidak bangun lagi. Kasihan.” Merry tersenyum menatap Jessica dan Simon.
Jessica dan Simon pun mengangguk. Mereka duduk di samping box sang adik. Mereka sangat senang mempunyai adik baru.
Hari beranjak malam. Merry yang sangat kelelahan mengurus bayinya sedang berbaring di ranjang saat Frans menyentuh pipinya.
“Aku merindukanmu, Sayang,” bisik Frans di telinga Merry membuat perempuan itu menggeliat malas. Dia baru saja bisa memejamkan mata dan sekarang Frans mengganggunya. Maka emosi Merry yang tak stabil pun kembali terganggu.
“Jangan dekati aku, Frans. Kau tahu mengurus bayi itu sangat melelahkan.”
“Aku hanya mengelus tubuhmu karena merindukanmu, Sayang.” Frans kembali mengelus paha putih Merry. Ia hanya ingin bermain-main sebentar dengan istrinya. Setidaknya sedikit sentuhan bibir seksi Merry memanjakan ‘miliknya’ itu sudah cukup.
Pemandangan itu ternyata tak luput dari Jessica. Gadis itu baru saja akan memberitahu bahwa adik bayinya terbangun. Melihat pemandangan itu, Jesscia kembali berpikir setelah bayi itu lahir, Frans tidak akan bermain game dengannya lagi. Bahkan mungkin ponselnya pun akan ditarik kembali.