
Simon tak menduga Mommy dan Daddy-nya punya rencana gila itu. Mengembalikan Jessica ke panti asuhan sama saja mengembalikan luka lama Jessica. Sejak kecil ia tidak mengenal orang tuanya. Hal itu juga sama memberi luka baru karena Jessica akan terpisah dari orang-orang yang menyayanginya.
Kenapa Mommy dan Daddy tega melakukan itu?" hanya Simon tidak mengerti.
"Sayang ini yang terbaik, kamu tahu sendiri kan uncle Frans sedang terguncang karena Aunty Merry sekarang dirawat di rumah sakit jiwa. Nanti Jessica tidak ada yang mengawasi."
"Izinkan dia tinggal di sini, Mommy. Biarkan Jessica bermain dengan aku.'
"Sebetulnya kami tidak keberatan, tapi kami tidak bisa memberikan perawatan yang terbaik untuk Jessica. Kamu tahu sendiri 'kan Daddy sibuk Mommy juga sama, jadi prosedurnya memang begini, Sayang."
Simon terus mempertahankan pendapatnya. Dia ingin Jessica tinggal di rumah mereka, tapi apa daya suaranya tidak didengarkan oleh orang tuanya. Mereka punya pendapat sendiri yang tidak bisa dibantah. Simon frustrasi mendengarnya.
Merry masih belum menunjukkan perubahan yang berarti. Dia tetap menyesali kematian Moana dan berpikir itu kesalahannya. Merry tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Meskipun Dokter Lim yang mendampinginya sudah mencoba untuk mengurai emosi.
"Jadi apa yang Anda rasakan sekarang Nyonya Merry?"
Merry terdiam. Perempuan itu hanya memandangi jendelanya.
Di luar jendela, burung gereja sedang beterbangan. Suaranya yang merdu membuat Merry tenang. Dia sedang membayangkan Moana berlari-lari di taman, bermain mengejar kelinci, lalu berteriak-teriak ingin menangkap burung gereja.
Pasti gadis kecilnya itu senang.
Tiba-tiba air matanya merebak, Merry menangis tersedu-sedu. Dokter Lim membiarkan perempuan itu menangis, lalu ia pun berkata," semua yang terjadi bukan kesalahanmu, Merry. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."
"Aku membunuhnya. Aku membunuh anakku! Moana seharusnya masih hidup, jadi dengan cara apa aku harus memaafkan diriku sendiri?"
Merry menunjuk dadanya yang terasa nyeri.
"Cepat atau lambat kamu memang harus melakukannya, karena tidak ada sesuatu hal yang terjadi dengan sia-sia mungkin kemarin kamu melakukan kesalahan karena tidak menyadarinya. Yang terpenting, sekarang kamu masih punya Frans. Kalian masih bisa bersama-sama lagi, siapa tahu Tuhan mengizinkan kamu hamil lagi."
Merry terdiam terkadang emosinya stabil dan dia bisa diajak bicara, tetapi di waktu lain tiba-tiba kesedihannya seolah-olah tak tertahankan.
Dan benar saja beberapa saat kemudian Merry menangis tersedu-sedu, lalu mulai memukul-mukul dadanya sendiri. Ia juga menjambak-jambak rambutnya.
"Baiklah sudah cukup saya sekitar hari ini kalau kamu masih belum bisa memaafkan dirimu sendiri perbincangan kita ini tidak akan menjadi berguna, Merry. Beristirahatlah sekarang, saya akan kembali besok."
Dokter Lim keluar dari ruangan. Merry, sementara Frans juga masih asik dengan dunianya sendiri. Laki-laki itu sama dengan Merry bedanya Meri berada di rumah sakit jiwa sedangkan dia berada di rumahnya sendiri tidak mengerjakan pekerjaannya dengan baik dia lebih suka minum mabuk-mabukan sesekali bahkan orang Sudah berani menyewa perempuan tidak ada yang tahu bahwa laki-laki itu juga menyesali dirinya sedalam itu Lyla Dan lucky mengambil keputusan untuk mengembalikan Jessica ke pantai asuhan.
Tujuh belas tahun kemudian
Jessica tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Ia sudah selesai menyelesaikan kuliah dan sekarang jadi pengacara yang sedang makan magang di kantor pengacara senior.
"Jessie, apakah kamu sudah selesai mengurus kasus Tuan Smith?" tanya Agnes, satu teman seprofesinya.
"Berkasnya ada di mejaku, Agnes. Ambil saja kalau kamu ingin memeriksanya."
"Hei wajahmu cerah sekali. Apa kamu akan pergi dengan dokter Simon?"
"Aku rasa tidak malam ini. Kami tidak ada janji temu." Jessica hanya tersenyum.
"Kapan kamu akan meresmikan hubunganmu dengan dokter Simon? Dia setia denganmu, Jessie, laki-laki begitu jangan dilepas."
"Dia teman baikku," tegas Jessica menjawab pertanyaan Agnes. mereka masih berteman Simon sejak kecil mengunjunginya ke panti asuhan dan kini telah sama-sama tumbuh dewasa, mereka berteman akrab.
Simon sekarang sudah menjadi dokter. Dia membuktikan ucapannya menjadi dokter demi mengembalikan ingatan Jessica. Ia sedang menempuh pendidikan dokter spesialis jiwa.
Jessica hidup sebagai Jessica yang baru. Dia tidak sama sekali tidak mengingat masa lalunya. Masa kecilnya dia hanya tahu punya orang tua angkat bernama Merry dan Frans tetapi karena beberapa hal mereka tidak bisa merawatnya.
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari Simon.
"Ya, halo, Simon, ada apa?" Jessica menerima panggilan itu.
Agnes melihat ekspresi Jessica saat menerima telepon dari Simon. Ia hanya bisa berdehem.
"Lihat itu, baru saja diomongkan, dia sudah menelpon. Simon udah kayak pengawal setiamu. Dia memang nggak mau rugi, ya."
Jessica meletakkan jari telunjuknya di depan bibir pertanda Agnes harus diam. Perempuan itu tersenyum lalu kembali menatap layar laptopnya.
"Kamu tidak bosan terus-terusan mengajak aku keluar? Simon, mungkin sesekali kamu harus udah mulai ngedate sama gadis yang kamu suka. Bagaimana dengan Enzy? Aku dengar dia menyukaimu.'
"Jessie, aku mengajakmu dinner tapi kamu malah membicarakan gadis lain."
Jessica tersenyum, Simon selalu tak mau membahas perempuan lain. Mereka memang berteman baik. Dia tidak mau pertemanan itu membuat Simon menutup diri dengan gadis lain. Bagi Simon ia tetap harus bersama Jessica.
Simon ingin mengembalikan ingatannya seperti dulu, ia berharap Jessica mengingat saat-saat mereka bermain bersama dan berjanji selalu bersama. Jessica harus tahu Simon selalu mendukungnya.
"Simon, aku bukan mau menolak ajakan kamu makan malam, tapi Robin sudah lebih dulu menghubungiku. Aku tidak bisa membatalkan makan malam dengan Robin."
Simon memukul meja. Dia merasa kalah cepat.
"Seharusnya kamu tidak menerimanya sebelum minta izin dariku," seloroh Simon membuat Jessica tersenyum.
"Memangnya kamu suamiku?" Ucapan itu langsung menohok Simon.
"Aku harap itu akan terjadi, Jessie," ucapnya dalam hati.
Dia sangat mencintai Jessica tetapi tidak ingin merusak hubungan pertemanan mereka. Yang bisa ia lakukan adalah menjaga Jessica dari jauh.
"Apa kamu menyukainya," tanya Simon ingin tahu.
"Robin maksudmu? Aku tidak tahu. Maksudku aku belum mau memikirkan hal itu, tapi iya aku rasa aku senang kalau makan malam atau pergi berdua dengannya."
Jessica hanya mengungkapkan apa yang ia rasakan tetapi hal itu membuat Simon semakin sedih.
Ia ingin melihat Jessica bahagia. Dan bersama dirinya, ia akan mewujudkan keinginan itu.
Sejak dulu ia ingin membawa kebahagiaan kecil itu untuk Jessica, tapi saat Jessica dewasa lebih memilih pria lain. Kenapa hal ini terasa menyakitkan?
"Baiklah aku harap Robin membatalkan janji rencananya denganmu karena sesuatu hal."
"Kamu kenapa berharap hal buruk terjadi pada Robin?" Jessica cemberut lalu melanjutkan omongannya," aku tidak percaya mendengarnya dari mulutmu, Simon."
"Setidaknya aku masih punya kesempatan. Jangan lupa kalau Robin hilang ingatan, dia tidak jadi datang, kabari aku. Jessie jangan lupa minum obatmu."
"Baik, dokter Simon. Terima kasih karena tak bosan mengingatkanku minum obat."
Jessica menutup panggilan.
"Aku bilang juga apa, Simon menyukaimu, Jessie," ucap Agnes.
"Tutup mulutmu, Agnes. Kami berteman sejak kecil dan dia memang selalu ada untukku. Aku sudah ada janji dengan Robin. Pria itu baik bersikap baik kepadaku dan aku menyukainya."
Jessica tersenyum simpul.
"Hati-hati, Robin itu buaya," ucap Agnes.
"Dari mana kamu tahu?"
"Seluruh teman-temanku sudah tahu circle pertemanan dia. Mereka rata-rata pria brengsek yang hanya mempermainkan wanita. Aku harus mengingat kamu, Jessie, supaya kamu tidak salah langkah," ucap Agnes serius.