
Margarita yang sejak awal kurang suka dengan kehadiran Jessica yang menurutnya memberi beban untuk Merry menegaskan pada Merry agar secepatnya dia memberitahukan berita kehamilan itu kepada keduanya.
Sebelum pergi ke kantor, Frans berpesan kepada Lyla untuk menitipkan Jessica sebentar di rumahnya. Nanti setelah pulang dari kantor dia akan menjemput Jessica. Lyla sempat menyarankan agar Jessica menginap di tempatnya saja. Tapi Frans tidak bisa mengambil keputusan itu secara sepihak.
"Biar Jessica tinggal denganku hari ini. Agar Merry bisa istirahat yang cukup. Aku akan menyampaikan ini nanti kepada Merry."
"Aku sih senang-senang saja. Tapi, aku tidak bisa menjawabnya sendiri. Sebaiknya nanti kau tanyakan langsung kepada Jessica apakah dia bersedia menginap di tempatmu dulu atau ingin pulang saja?"
"Aku rasa Jessica tidak akan mau tinggal denganku, apa lagi jika harus meninggalkan Merry yang sedang sakit. Waktu Merry di rumah sakit saja Jessica selalu tampak murung, dia terus bertanya kapan Merry bisa pulang dari rumah sakit."
"Kalau begitu, bisa aku minta kau untuk menjemput Jessica dan meminta kepada Jessica untuk menungguku di rumahmu? Aku akan menjemputnya sore sebelum pergi ke bandara."
"Baik, Frans."
Dan benar saja tebakan Lyla. Jessica menolak saat ditanya apakah dia akan menginap. Tapi gadis itu tidak keberatan jika harus menunggu Frans datang menjemputnya di mansion orang tua kandungnya. Meski ada adegan tawar menawar dulu dari Jessica.
"Apa Mommy bisa mengantarku untuk langsung pulang saja?" tanya Jessica.
"Tapi Daddy Frans memintamu untuk menunggu dulu di sini.”
“Aku ingin bertemu dengan Mommy Merry. Aku ingin lihat apa Mommy Merry sudah sembuh atau belum.”
“Mommy sudah tanya Mommy Merry, katanya kondisinya sudah agak baikan. Mommy Merry juga sudah periksa ke dokter.”
“Dengan siapa?”
“Dengan Grandma Margarita.”
Jessica kelihatan agak bingung. Selama ini Merry memang jarang sakit, apa lagi sakit yang sampai separah ini. Biasanya Jessica yang sakit dan meminta mommy nya itu untuk menemaninya. Mommy nya juga akan merawatnya dengan baik. Tapi kali ini Merry yang sakit dan ibunya yang merawatnya.
“Apa setiap anak yang sakit akan dirawat oleh mommy mereka?” tanya Jessica.
Lyla tampak berpikir sejenak. Dia ingin mengatakan iya, tapi kadang saat Sandy sakit tidak selalu Lyla yang merawatnya. Apa lagi saat Jessica sakit, selalu Merry yang merawatnya.
Jadi, Lyla memutuskan untuk menjawab:
“Seringnya begitu. Meski tidak selalu.”
Jessica mengangguk-anggukkan kepalanya seolah dia paham dengan penjelasan yang diberikan oleh Lyla.
Kemudian Jessica berlalu dari hadapan Lyla dan menghampiri Sandy yang sedang menatap seekor kumbang yang sedang berjalan di atas daun.
“Sandy, apa saat kamu sakit Mommy Lyla yang merawatmu?” tanya Jessica penasaran.
“Kadang Mommy, kadang Daddy, kadang juga Uncle Alex atau Grandma. Kenapa?” jawab Sandy yang beralih menatap Jessica.
“Ah, tidak apa-apa.”
“Memang kalau kamu sakit, siapa yang biasa merawatmu?”
“Mommy.”
“Hanya Mommy?”
Jessica mengangguk.
“Daddy mu?”
“Kadang sih. Tapi aku lebih suka dirawat oleh Mommy.”
Sandy yang kali ini mengangguk. Lalu dia fokus lagi menatap kumbang di hadapannya.
“Ini namanya kumbang koksi, atau biasa disebut kumbang kepik,” ucap Sandy kepada Jessica.
“Kenapa kamu suka sekali dengan serangga?” tanya Jessica.
“Hmm ….” Sandy berpikir sejenak sebelum menjawab. “Karena mereka menarik.”
Setengah jam kemudian, Frans datang menjemput Jessica. Dia mengucapkan terima kasih kepada Lyla karena sudah mau membantunya menjaga Jessica.
“Dia juga anakku, Frans. Jadi kau tidak perlu berterima kasih. Ini adalah tugasku sebagai mommy nya,” jawab Lyla.
Frans tersenyum. “Maafkan jika ucapanku barusan membuatmu tersinggung.”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Baiklah, kalau begitu aku dan Jessica pulang dulu.”
“Iya. Titip salamku untuk Merry. Semoga dia lekas sembuh.”
Sebelum masuk ke mobil, Frans mengingatkan kepada Jessica untuk berpamitan dulu kepada Lyla dan Sandy. Jessica memeluk Lyla dan mengecup pipi wanita itu, kemudian dia melambaikan tangan kepada Sandy.
Mobil pun meluncur membelah jalanan kota yang lumayan ramai sore ini. Setelah mengantar Jessica pulang, Frans rencananya akan langsung pergi ke bandara.
Begitu sampai di rumah, Frans melihat wajah Merry yang masih pcat tidak selemas tadi pagi. Istrinya itu tampak berseri-seri, seperti habis mendapatkan sesuatu yang baik. Sementara ibu mertuanya sudah tidak ada di rumah. Kata Merry ibunya baru saja pergi beberapa menit lalu.
“Mommy sudah mendingan?” tanya Jessica sambil meletakkan punggung tangan di kening Merry, persis seperti yang Merry lakukan saat mengecek suhu badan Jessica.
“Sudah, Honey. Mommy tidak sakit,” jawab Merry sambil tertawa kecil.
“Ada apa? Apa Mommy habis menyampaikan kabar baik? Sejak tadi aku lihat kamu tampak begitu senang,” tanya Frans yang penasaran.
Merry mengangguk, dan itu membuat Jessica langsung berseru minta diberi tahu ada kabar baik apa.
“Ada apa, Mom? Ayo beri tahu aku! Aku ingin tahu!” seru Jessica.
“Apa Mommy mengatakan dia ingin tinggal di sini?” tebak Frans.
Jessica menatap daddy nya itu. “Grandma tinggal di sini?” Lalu Jessica beralih menatap mommy nya. “Betul, Mom?”
“Tidak. Bukan itu,” jawab Merry.
“Lalu?”
“Aku berencana untuk memakai jasa pembantu untuk mengurus rumah ini, bagaimana menurutmu, Frans?” Merry malah melempar pertanyaan, bukan jawaban.
“Aku oke saja.” Frans mengangguk-angguk. “Tapi kenapa?” tanyanya bingung.
“Aku mungkin akan butuh bantuan untuk mengurus rumah ini selama aku hamil,” kata Merry sambil tersenyum.
“Ya, kalau kamu sedang hamil kamu memang butuh ….” Frans yang baru tersadar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Merry langsung menghentikan ucapannya dan menatap istrinya. “Kamu hamil?” tanyanya dengan mata membola saking terkejutnya.
Merry mengangguk. “Iya, Frans.”
Frans yang merasa senang langsung memeluk Merry.
“Astaga, aku tidak menyangka kalau kita akan segera punya anak,” ucap Frans penuh haru.
“Frans …,” panggil Merry.
Frans melepaskan pelukannya dan menatap sang istri.
“Apa ada?”
Merry melirik ke arah Jessica, dan Frans hampir lupa kalau dia memiliki Jessica sebagai anak mereka. Tapi, bukan begitu maksud Frans. Yang dia katakan adalah setelah hampir menyerah dan pasrah dengan takdir, Frans tidak menyangka kalau Tuhan memberikan kesempatan kepada dia dan Merry untuk memiliki anak sendiri. Anak yang lahir dati rahim Merry nantinya.
Frans pun mendekati Jessica lalu menjelaskan kepada Jessica kalau gadis kecil itu akan memiliki seorang adik.
“Sebentar lagi kamu akan menjadi kakak, Princess,” ucap Frans sambil tersenyum bangga.
Jessica diam saja, dia menatap kedua orang tuanya dengan bingung. Menjadi kakak itu artinya dia harus berbagi, dan Jessica tidak menyukai itu, dia ingin menjadi satu-satunya yang disayangi di dalam keluarga Frans Harrison.