The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Masalah Hak Asuh



Jessica tergagap mendengar pertanyaan dokter Stevie. Seharusnya memang dia tidak merasa perlu panik, cemas, dan lain-lain karena dendamnya sudah terbalas. Richard sudah meninggal. Pria yang menyakitinya itu telah pergi karena dia yang menyingkirkannya. Itulah tujuannya, membalaskan sakit hatinya kepada pria yang membuatnya trauma.


Akan tetapi tapi kenapa sekarang justru dia dihimpit perasaan bersalah yang begitu besar?


"Saya tidak menyembunyikan apa-apa, Dok. Saya hanya merasa gelisah dan tidak tahu penyebabnya."


"Jessica, semua pasti ada sebab dan akibat. Kalau kamu bilang sudah memaafkan orang yang melecehkan kamu, semoga itu benar." Dokter Stevie menatap Jessica penuh tanda tanya.


"Mau tidak mau saya harus melakukannya, Dok. Bukan untuk orang itu, tapi demi saya sendiri. Saya harus tenang."


Dokter Stevie menganggukkan kepalanya.


"Karena dia sudah tidak ada, makanya sekarang saya sedang mencari lagi penyebab kecemasanmu ini. Jessica, bagaimana hubungan kamu dengan mamamu?" tanya dokter Stevie.


"Mama angkat? Saya dan Mommy Merry saling menyayangi," tutur Jessica.


"Kemana orang tua kandungmu?"


"Mereka ... Saya tidak tahu di mana mereka. Sejak lahir saya tidak mengenal mereka. Mama kandungku tidak pernah menginginkan aku lahir. Sejak kecil aku diserahkan ke panti asuhan."


Dokter Stevie terdiam. Pasien di hadapannya ini memiliki masalah yang kompleks. Meskipun kelihatan diam, tapi dari pengamatannya Jessica menyimpan banyak dendam.


"Jessica, kamu boleh ungkapkan semua rasa kecewa itu supaya bebanmu sedikit terangkat."


Jessica hanya diam. Dia memang merasa tak diinginkan oleh mamanya sendiri. Lalu papanya, entah siapa dia.


Jessica tidak mau bicara lagi, dia tidak bisa mengatakan bahwa dia adalah pembunuh Richard. Gadis itu pulang ke apartemen dengan perasaan gelisah yang tak ada habisnya.


Hari berlalu kantor firma J&A mulai ramai menerima kasus orang-orang yang butuh bantuan hukum. Saat bekerja gadis itu mulai tidak berkonsentrasi. Dia tertegun di depan komputer mengetikkan huruf demi huruf untuk membela sebuah kasus kasus perebutan hak asuh anak.


Pada saat yang sama Agnes sedang menemui perempuan itu. Nyonya Martha, sang ibu tidak mau melepaskan hak asuh anak, sedangkan pihak sang bapak terus menginginkan asuh anak itu setelah mereka bercerai. Masalahnya sang Ibu tidak punya kemampuan ekonomi untuk menghidupi anak perempuan mereka, hingga pengadilan akan memutuskan sang ayah yang menjadi wali dari anak tersebut.


Hal itu membuat nyonya Martha meminta bantuan di kantor hukum Jessica.


"Nyonya Martha, kami akan membantu, tapi kalau kemampuan ekonomi Anda memang lemah ini akan menjadi sulit," ucap Agnes.


Nyonya Martha menangis tersedu-sedu. Perempuan itu tidak ingin dipisahkan dari anaknya yang baru berumur tujuh tahun. Anak perempuan yang sangat cantik selalu membuat Martha khawatir jika mantan suaminya akan merebut anak itu.


"Jika pengadilan sudah menetapkan kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Nyonya. Jadi kita harus memanfaatkan waktu yang diberikan pengadilan sebaik-baiknya." Agnes mencoba menenangkan Martha.


"Apa yang bisa saya lakukan supaya hak asuh anak jatuh ke tangan saya? Oh Katie, saya sangat menyayanginya."


"Saya paham, Nyonya. Ibu mana yang ingin melepaskan anaknya? Tidak ada, semua ibu pasti ingin bersama-sama anaknya. Akan tetapi dari kemampuan finansial, hakim sangat berhati-hati. Sebaiknya Anda mencari pekerjaan yang layak. Kami akan coba mengulur waktu. carilah pekerjaan tetap yang membuat hakim percaya Anda bisa menghidupi Katie."


Martha menggangguk- anggukkan kepalanya.


"Sebetulnya saya sekarang juga sudah bekerja mengasuh anak, bekerja part time sebagai cleaning service juga, tapi kenapa hakim tidak mempertimbangkan itu?" tanya Martha.


"Karena pendapatan Anda tidak menentu, Nyonya. Terkadang Anda bekerja terkadang, terkadang tidak. Sesuai panggilan saja. Hal ini yang membuat hakim berpihak kepada mantan suami Anda, karena dia bekerja."


Agnes memberi penjelasan dengan sangat hati-hati.


"Jika Katie ikut ayahnya, dia tidak akan mendapat perhatian. Ayahnya sangat sibuk bekerja. Saya berani menjamin itu, apakah hakim tidak berpikir ke sana?" Martha masih bertanya.


"Itu akan kami beberkan juga di persidangan untuk membantu Anda. Hanya saja untuk saat ini yang menjadi prioritas hakim adalah, bagaimana Katie bisa tercukupi secara materi. Meskipun perhatian juga diperlukan. Jika Anda bisa membuktikan bahwa mantan suami itu tidak akan memperhatikan Katie sebagaimana Anda melakukannya, maka anda harus membeberkan faktanya di pengadilan nanti."


"Betul, Agnes."


Jessica yang mendengar perbincangan itu terdiam. Ada seorang ibu yang sangat ingin mempertahankan hak asuh anaknya, sementara dirinya sudah tahu dari Simon bahwa sejak kecil diangkat anak oleh Merry.


"Aku anak yang tidak diinginkan. beruntungnya Katie punya orang tua seperti Nyonya Martha," batin Jessica.


"Kami bisa saya bisa membantu Anda Kalau anda mau bekerja dan mengubah penampilan, Nyonya."


"Apa maksudmu?" Agnes memandang Jessica.


"Maaf nyonya Martha kami akan berbicara sebentar."


Jessica menggamit lengan Agnes, lalu membawanya masuk ke dalam ruangan.


"Kita harus membantu dia memenangkan hak asuh putrinya, Agnes. Ayo kita beri pekerjaan."


Agnes memandang Jessica tak mengerti.


"Iya tapi bagaimana caranya? Sekarang pun dia sudah bekerja."


"Itu hanya pekerjaan serabutan dan kamu tahu sendiri tahu, kan, hakim tidak menganggap pekerjaan seperti itu. Aku akan bicara pada Simon. Simon harus membantu kita. Mungkin dia bisa menjadi cleaning service di rumah sakit tempat Simon bekerja."


"Wah, ide yang bagus. Coba kamu bicarakan dengan Simon. Tak berapa lama kemudian Jessica menelepon Simon dan mengatakan masalahnya.


"Jadi perempuan itu butuh pekerjaan tetap? Baiklah aku akan membantunya. Meskipun tidak di rumah sakit, aku punya beberapa teman yang mungkin bisa memberinya pekerjaan."


Simon setuju untuk membantu meskipun dia harus berbicara dulu dengan direktur rumah sakit.


Mereka kemudian menemui Martha lagi.


"Sebaiknya Anda tunggu di rumah, kabar selanjutnya kami akan beritahu jika sudah dapat pekerjaan. Tenang nyonya, kami sedang membantu mencarikan Anda pekerjaan."


"Oh, terima kasih nona Agnes dan nona Jessica. Anda berdua begitu baik meskipun belum punya anak. Saya tidak akan melupakan jasa baik Anda ini. Jika benar nanti hak perwalian jatuh ke tangan saya, saya rela melakukan apa saja untuk Katie."


"Ya Nyonya, kami percaya itu. Sekarang Anda boleh pulang. Terima kasih banyak."


Nyonya Martha pulang kembali ke apartemennya yang sempit.


Di sana ia melihat Katie yang sedang bermain. Gadis kecil itu menyambutnya.


"Mama baru pulang?" tanya Katie sambil tersenyum lebar.


"Tidak usah banyak tanya, sebaiknya kamu segera makan lalu cuci piringmu sendiri. Mama sangat capek," ucap Martha dengan kasar.


"Mama bolehkah aku bertemu Papa?" tanya Katie.


Martha yang saat itu sedang lelah tersulut amarahnya.


"Beraninya kamu bilang ingin bertemu papamu dan tinggal dengannya? Mama akan membunuhmu kalau kamu berani melakukannya."


D engan cara itu ia berharap Katie akan diam dan menurut. Sesungguhnya ia sudah lelah mengasuh Katie sejak kecil. Sedangkan mantan suaminya tidak peduli, tapi ia pun harus mempertahankan hati karena tidak mau kalah dengan Alex, mantan suaminya.


"Laki-laki itu tidak berhak berbahagia dengan anakku. Apalagi saat dia menikah dengan pacarnya itu," batinnya.


Martha menuangkan segelas minuman lalu menenggaknya.


Katie beranjak pergi. Ia selalu ketakutan melihat ibunya saat mabuk-mabukan pada malam hari.


Tak jarang saat mabuk Martha meneriakinya, memarahinya, terkadang juga menghajarnya.


Katie merasa sangat ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa.