The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Mencari Tahu



Agnes mendengar bunyi bel sebelum kemudian Felicia menutup ponselnya. Jadi benar Robin datang ke apartemen Felicia. Bukankah dia sekarang sedang mendekati Jessica?


"Jessica memang bodoh! Aku sudah memperingatkannya berkali-kali." Agnes kesal karena Jessica tidak mendengar kata-katanya.


Agnes kembali melanjutkan tidurnya. Keesokan paginya ia berangkat ke kantor dan bertemu dengan Jessica yang wajahnya berseri-seri.


"Morning Jessica, sepertinya ada yang sedang happy, nih."


Jessica tersenyum simpul sambil memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Apa ini? Oh my god! Jangan bilang kamu menerima lamaran. Siapa yang melamarmu? Simon atau Robin?" tanya Agnes.


"Tebak siapa.'


"Siapa ya? Kalau Simon aku pikir dia tidak akan secepat itu melamarmu. Kalau Robin sama saja, masa Robin ...."


"Iya tebakanmu benar! Robin kemarin malam sudah melamarku, tapi ini bukan seperti pertunangan seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya sudah berkomitmen." Wajah Jessica berseri-seri.


"Maksudnya kalian jadian?" tanya Agnes lagi.


Jessica menganggukkan kepala. Baru tadi malam Agnes mendengar cerita Felicia bahwa Robin datang ke apartemennya, tapi sekarang Jessica menceritakan dia sudah resmi menjadi kekasih Robin.


"Jadi memang benar Robin itu buaya," batinnya.


Agnes tidak ingin merusak kebahagiaan Jessica. Gadis itu hanya terdiam.


"Kalau boleh tahu, dengan siapa kamu menghabiskan waktu tadi malam?"


"Maksud kamu?"


"Iya aku cuma kepo saja, aku cuma ingin tahu saja, biasanya untuk kekasih yang baru jadian, mereka menghabiskan malam bersama, bukan?"


Raut wajah Jessica berubah.


"Haruskah begitu, Agnes?" tanya Jessica.


"Ayolah, kita tahu sendiri lah untuk merayakan jadian biasanya berakhir di tempat tidur, bukan?" Agnes memancing Jessica.


"Iya, kamu benar Robin sepertinya juga menginginkannya. Tadi malam kami berdansa sangat romantis, ah bodohnya aku ternyata itu yang Robin inginkan."


Agnes mendengar dengan seksama.


"Dia memelukku sangat erat dan tidak ingin melepaskan aku. Aku bisa merasakan kalau dia juga ingin membawaku bercinta, tapi aku tidak bisa."


"Maksudmu tidak bisa bercinta?" teriak Agnes. Mulutnya langsung dibungkam Jessica.


"Agnes bisakah aku menitipkan satu rahasia kepadamu?"


Agnes menganggukkan kepala.


"Tentu saja, memangnya kepada siapa lagi kamu mau bercerita kalau bukan sama aku? Kita sudah berteman lama, bahkan sejak di semester pertama kuliah sama teman dan sahabat akrab."


Jessica dan Agnes kuliah di kampus yang sama, kelas yang sama, dan beruntungnya lagi mereka sekarang bekerja di company yang sama.


"Sebenarnya aku kehilangan ingatan saat aku berumur 8 tahun. Aku terjatuh dari tangga dan setelahnya aku tidak bisa mengingat apa pun."


Agnes memandang sahabatnya dengan tatapan prihatin.


"Jadi sekarang yang aku ingat adalah aku di panti asuhan. Aku benar-benar tidak mengerti tapi setiap kali bersentuhan dengan pria ada rasa takut yang muncul."


"Rasa takut seperti apa? Apakah kamu merasa pria itu akan menyakitimu Jessi?" tanya Agnes berempati.


Jessica menganggukkan kepalanya lemah.


"Bukan hanya itu saja, jantungku berdetak lebih kencang, dan aku mengeluarkan banyak keringat saat bersama Robin. Kupikir dia ingin menyakitiku."


Agnes bangkit lalu memeluk Jessica.


"Itulah kenapa aku tidak mau punya kekasih, dipegang saja aku rasanya jantung ini mau lepas," keluh Jessica lagi.


Jessica terdiam. Apakah betul ia merasa trauma pada laki-laki? Sepertinya ia harus bertanya pada Simon, teman kecilnya. Simon pasti tahu semua hal yang terjadi kepadanya.


"Baiklah aku akan mempertimbangkan nasehatmu, Agnes. Tetapi untuk sekarang sepertinya aku belum membutuhkan psikolog."


"Jadi akhirnya kalian tidak menghabiskan malam di ranjang?" tanya Agnes.


"Iya, aku menolak Robin, dan dia pulang, sepertinya dia kecewa, tapi aku bisa berbuat apa? Aku juga tidak mau memaksakan diri."


Agnes tahu jawabannya. Robin kecewa dengan penolakan Jessica, lalu dia melampiaskannya kepada Felicia. Sungguh brengsek pria itu.


"Jessie, aku bukan mau ikut campur dengan urusan pribadimu, tapi apakah kamu yakin Robin itu pria yang baik?" tanya Agnes.


"Kamu tahu sekarang aku sudah pindah apartemen berkat dia. Robin juga menghadiahiku mobil mewah. Seumur hidup aku belum pernah menerima fasilitas mewah seperti ini, Agnes."


"Bukan itu yang kita bicarakan, bukan tentang semua fasilitas itu tapi tentang perasaanmu."


Jessica terdiam. Kalau tentang perasaan, bukankah aku sudah bilang kalau aku akan berkomitmen dengannya, dan kita sama-sama ingin mencoba.


"Jessie, kamu tidak menjawab pertanyaanku. Apa kamu yakin Robin pria yang baik? Jujurlah pada dirimu."


"Oke aku mungkin belum bisa menjawab, tapi dengan semua yang aku sudah ceritakan, apakah kamu tidak bisa melihat sendiri kebaikan Robin?"


"Kalau mau jujur sebetulnya iya."


"Apa maksudmu, Agnes?"


"Mungkin Robin menginginkan sesuatu darimu, kita tidak tahu apa itu. Bayangkan seandainya kalian menghabiskan malam berdua, mungkin sikapnya akan berbeda."


"Jadi kamu berpikir dia hanya menginginkan tubuhku?"


Jessica sedikit emosi, Agnes bingung bagaimana menjelaskannya, tapi dia ingin Jessica berpikir sendiri.


"Kamu tahu 'kan aku sangat menyayangimu, dan aku tidak ingin kamu terluka oleh laki-laki. Apalagi kamu tidak pernah pacaran, bahkan semua teman kampus kita yang dulu sempat mengatakan suka padamu juga langsung kamu tolak tanpa memikirkannya."


"Entahlah aku dengan Robin bisa memulai hubungan juga melalui proses panjang." Jessica menggumam.


"Bagaimana dengan dokter Simon yang kamu bilang dia sahabat kecilmu, tapi dari tatapannya ia bukan hanya menganggapmu sahabat."


"Please, Agnes ini tentang perasaan."


"Nah itu yang aku tanyakan sejak tadi. Bagaimana perasaan kamu dengan Robin? Berkali-kali aku memperingatkanmu dan bilang dia bukan pria baik. Pria baik tidak akan datang ke apartemen wanita lain saat ia tidak mendapatkan tubuh kekasihnya."


Akhirnya Agnes keceplosan.


"Apa maksudmu, Agnes? Apakah Robin pria seperti itu?"


"Aku tidak mau mencampuri urusanmu, tapi sebaiknya kamu cari tahu sendiri. Maaf kalau aku bukan sahabat yang baik tapi aku hanya tidak ingin kamu terluka, itu saja."


"Agnes, sebaiknya kamu katakan apa yang kamu ketahui. Aku mohon."


"Kemarin malam usai pulang dari apartemen kamu, ternyata Robin datang ke apartemen Felicia. Dia kesana setelah kamu menolaknya. Apakah menurut kamu pria seperti itu adalah pria yang baik?"


"Oh tidak, itu tidak mungkin!"


"Itulah, Jessie. Aku tidak mau kamu terluka. Ah, sebaiknya aku menyimpan rahasia ini untukku saja."


"Jangan bilang Robin melakukannya. Aku benar-benar tidak percaya."


"Jangankan kamu, aku juga marah mendengar pria seperti itu.


Aku punya ide. Bagaimana kalau kita mencari tahu sendiri."


"Maksudmu?" Jessica menautkan alisnya.


"Iya kita ikuti dia.


Kita akan menyelidiki apakah benar Robin itu pria yang baik seperti yang kamu gambarkan, atau justru dia itu pria brengsek yang hanya ingin mendapatkan kesenangan darimu ataupun gadis-gadis lainnya. Ayo kita cari kebenarannya!"