
Jessica terus meracau di antara demamnya yang tinggi. Dia mimpi buruk dan berkali-kali terbangun. Di dalam mimpinya Jessica merasa Isabelle terus mengejeknya, bahkan Isabelle juga mendorongnya ke dalam kobaran api yang sangat panas.
“Ahhh!”
Jessica berteriak hingga membangunkan Merry yang tidur di sampingnya.
“Sayang, kamu mimpi buruk?”
“Dia jahat, Mommy.”
“Siapa yang jahat?”
Jessica tidak menyahut, dia sibuk merintih karena suhu tubuhnya yang belum menurun.
Sementara itu Lucky tahu kalau Jessica memang butuh waktu untuk beradaptasi lagi dengan keluarga mereka. Usulan dari Simon yang menginginkan Jessica tinggal dengannya cukup merepotkan. Entah apa alasannya, tapi Simon seolah-ola ingin menyelamatkan Jesscia dari sesuatu. Dan menurut Lucky itu tidak masuk akal.
“Sayang, apa kita tak terlalu memaksakan Jessica untuk tinggal di sini?” tanya Lucky kepada Lyla yang baru saja melepas kepergian Jessica bersama orang tua angkatnya.
“Maksudmu?” Lyla duduk di samping suaminya dan mencoba mencerna apa yang sedang ia pikirkan.
“Dengar, Jessica mungkin sesekali mau menginap di sini. Tapi kalau harus dipaksa karena keinginan Simon, aku tidak yakin ini berhasil.
“Baiklah, aku juga berpikir begitu. Bicara tentang Jessica selalu membuatku sedikit tidak nyaman. Sayang, kamu masih belum bisa menemukan wanita yang melahirkannya? Setidaknya kita bisa menelusuri asal usul keluarganya.”
“Tidak ada petunjuk. Hanya informasi itu yang kami ketahui. Ibunya remaja labil yang hamil di luar nikah. Dia juga dari keluarga broken home.”
Lyla menghela napas panjang. Tak adil jika harus menilai Jesscia berdasarkan asal usul keluarganya, tapi Lyla sungguh penasaran. Bukankah pengaruh gen tidak pernah salah?
“ Aku akan bicara padanya saat mengantar Simon ke sekolah besok.”
“Oh iya, kita juga perlu bicara kepada Simon soal ini. Anak itu terlalu menyayangimu, Lyla. Jadi, apa pun yang membuatmu sedih pasti ia akan berusaha mewujudkannya. Bicaralah juga padanya.”
“Tentu. Simon memang menyayangiku, tapi sepertinya ada gadis lain yang membuatnya overprotective selain aku. Meski mereka tak berteman sejak kecil, tapi aku yakin hubungan Simon dan Jessica memang sekuat itu. Simon benar-benar menyayangi Jessica, jadi kupikir tak ada salahnya jika ia menginginkan untuk terus bersama temannya itu.”
Lucky memeluk Lyla dengan haru. Saat awal menemukan Jescsica mereka memang merawtnya, sebelum Merry dan Lucky menginginkannya. Simon sudah menyayangi Jessica sejak saat itu. Jesscia bahkan pernah hilang dalam asuhan Lyla dan itu membuatnya sangat khawatir.
Seandainya Jessica tak ditemukan, entah bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depannya. Lyla lebih sering menjadi pribadi yang tertutup semenjak kehilangan Jessica. Kini, ia bisa melihat lagi sorot mata yang selalu membuat Lucky jatuh cinta lagi dan lagi kepada wanita yang sama.
Sesuai kesepakatan, Lyla bicara kepada Simon mengenai rencana untuk tidak memaksakan Jessica agar anak itu tidak merasa tertekan lagi, dan Simon menyetujuinya. Ia bilang, sudah cukup baginya bisa bertemu di sekolah dan menjaganya di sana.
Lyla selalu bangga kepada putranya itu. Sikapnya yang begitu dewasa kadang membuatnya merasa bersalah, tapi juga terharu. Selanjutnya, mereka yakin Jessica akan mulai terbiasa dengan mereka tanpa paksaan lagi.
Beberapa bulan berlalu, keluarga Lucky dan keluarga Frans mulai bersatu. Mereka mulai bergantian menginap di rumah satu sama lain dengan alasan untuk mendekatkan diri. Sekaligus supaya Lyla bisa sharing-sharing soal kehamilan kepada Merry yang sudah melewati trimester pertamanya.
“Aku senang kau menginap di sini, Lyla. Aku minta maaf karena seharusnya kami yang ke sana, tapi malah kau yang datang ke sini.” Merry yang sedang terbaring di ranjang merasa tak enak hati melihat Lyla dan Lucky juga Simon datang menjenguknya.
“Aku tidak tahu kalau hamil akan separah ini. Aku tidak enak hati karena kalian jadi harus bolak-balik mengurus Simon dan Jessica di rumah yang terpisah begini.”
“Tidak apa-apa. Tenang saja. Selagi kau masih diharuskan bedrest, lakukanlah dengan perasaan senang. Aku akan menjaga mereka dengan baik, jadi jangan khawatir. Kau hanya perlu berpikir untuk segera kuat dan fokus pada kehamilanmu ini.”
Merry memang sangat susah untuk hamil. Bertahun-tahun menikah dan berusaha, tetap tidak ada hasil. Kini, saat diberi anugerah oleh Tuhan, Merry malah diuji dengan kehamilannya.
“Mommy, apa kami boleh pergi membeli es krim di minimarket depan sana?” tanya Jessica kepada kedua mommy nya.
“Boleh, tapi perginya bersama Daddy. Oke?” Lyla yang menjawabnya.
“Daddy Lucky atau Daddy Frans?” Simon menimpali dengan polosnya.
“Tentu Daddy Frans, kenapa kau bertanya?” Jessica merasa pertanyaan Simon sangat aneh.
“Ada dua daddy di sini, jadi aku tidak tahu harus mengajak siapa.”
“Kau itu manja sekali. Kenapa hal seperti itu saja harus kau tanyakan pada Mommy?” ledek Jessica melihat kakaknya sangat ingin makan es krim tapi kebingungan karena memiliki dua ayah.
“Tanyakan pada keduanya, siapa yang bisa mengajak kalian ke sana. Sudah, jangan berdebat lagi.” Merry akhirnya angkat suara karena gemas melihat yang selalu meributkan hal-hal kecil.
“Baiklah, Mom.”
Kedua anak itu kembali keluar dengan wajah semringah. Ditariknya kedua ayah mereka untuk membawa mereka ke minimarket.
Tanpa pikir panjang, Frans maupun Lucky mengajak anak-anak mereka untuk membeli es krim. Untuk sekarang, mereka cukup bahagia seperti ini. Tak perlu ada pemaksaan karena pada dasarnya Jessica telah dianggap anak kandung mereka berdua.
Saat jam istirahat semua siswa sedang bermain di halaman sekolah. Jessica melihat Issabelle sedang sendirian di taman belakang sekolah. Gadis itu sepertinya sedang berusaha menangkap kupu-kupu.
Jessica merasa saat inilah waktu yang tepat untuk memberikan Isabelle pelajaran.
Isabelle yang melihat kupu-kupu hinggap di tembok pagar sekolah, berusaha meraihnya tapi tangannya tak sampai. Gadis itu segera mengambil tangga yang berada di sudut pagar.
Dengan susah payah Isabelle berhasil menaiki tangga itu.
Saat Isabelle sedang berkonsentrasi menangkap kupu-kupu, Jessica menarik tangga itu hingga membuat Isabelle kehilangan keseimbangan lalu gadis itu terjatuh dari tangga. Tanpa ragu Jesscia yang melihat Isabelle jatuh tertelungkup segera menjatuhkan tangga besi itu. Tangga itu mengenai kepala Isabelle yang sudah tak sadarkan diri.
“Sekarang kamu baru bisa diam Isabelle.”
Dengan wajah dingin Jessica meninggalkan Isabelle.
Simon tak sengaja melihat Jessica muncul dari taman belakang. Ia tak menaruh curiga apa pun. Saat ia hendak menyapa Jessica muncul temannya yang langsung mengajaknya bermain bola
“Ayolah Simon, kita sudah lama tidak bertanding.”