The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Melihat yang Tak Seharusnya



Pagi hari terlihat kesibukan di rumah Lyla, wanita itu segera bangun lebih pagi dari biasanya. Dia sadar bahwa hari ini harus menyiapkan sarapan Simon dan Jessica untuk berangkat ke sekolah. Perlahan Lyla turun dari ranjang, ia membuka pintu kamar tetapi sebuah tangan kekar melingkar pada pinggangnya.


"Sayang, mau kemana? Masih pagi lho," kata Lucky sambil menarik lagi Lyla ke atas ranjang.


"Hari ini mereka sekolah bareng, Sayang. Aku harus segera bangun buat masak dan menyiapkan semua," balas Lyla.


"Sini, peluk dulu!" pinta Lucky.


Namun, bukan hanya pelukan yang diminta Lucky. Tadi malam ia terlalu lelah untuk meminta jatah, hingga tertidur duluan. Akibatnya pagi ini ia bangun dalam keadaan pusing. Maka Lucky pun menuntaskan hasratnya sebagai aktifitas mengamati pagi yang masih gelap. Lyla tak punya pilihan selain melayani suaminya. Lucky seperti biasanya selalu memberinya kenikmatan ranjang yang panas. Begitupun Lyla yang menyukai **** di pagi hari. Wanita itu sampai tidak sadar pintu kamarnya belum menutup sempurna.


Jessica saat itu hendak menanyakan handuknya, saat ia mendatangi kamar Lyla tetapi matanya melebar, jantungnya terpacu lebih kencang saat menyaksikan sendiri aaktifitas suami istri yang dilakukan Lyla dan Lucky. Jessica teringat perlakuan Richard, rupanya orang dewasa biasa melakukan itu, dan tidak mengapa. Sejak saat itu Jessica tidak merasa bahwa yang dilakukan Richard terhadapnya adalah hal yang salah. Jessica terperangah saat mendengar lenguhan panjang Lyla, gadis itu segera berlari masuk ke dalam kamarnya lagi.


Akhirnya setelah menyelesaikan aktifitas ranjang yang melelahkan, dan memeluk suami tercinta, Lyla pun turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian wajah wanita itu keluar dengan wajah segar dan langsung melangkah keluar dari kamarnya.


Langkah kaki Lyla pun menuju ke kamar  Simon, dilihatnya pria kecil itu sedang tidur berselimut tebal. Lyla berjalan mendekat untuk membangunkan pria kecil itu dengan lembut.


"Simon, bangun Sayang! Ayo sudah hampir jam lima pagi," ucap Lyla dengan nada rendah saat membangunkan putranya.


"Uumm, Mommy!" Simon mulai membuka matanya, lalu bibirnya mengulas senyum tipis.


Lelaki kecil itu segera memeluk sang mommy lalu menghidu aroma tubuh wangi. Simon pun semakin mempererat pelukannya dan memejamkan mata untuk sesaat, setelah puas barulah lelaki kecil itu beranjak meninggalkan mommynya untuk membersihkan diri.


Karena Simon sudah masuk dalam kamar mandi, maka Lyla pun keluar dari kamar itu untuk menuju ke kamar Jessica. Sebelum masuk, Lyla mengetuk pintu kamar Jessica terlebih dahulu.


"Masuk, Aunty." Terdengar suara Jessica dari dalam membuat Lyla segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar putrinya.


"Wah, anak cantik sudah mandi ternyata! Hebat," puji Lyla.


"Iya, Aunty. Jessica sudah biasa bangun pagi saat bersama Mommy Merry. Apakah Mommy Merry masih lama tinggal di rumah sakit?" tanya Jessica. Dia tidak menyukai tinggal di sini. Apalagi melihat aktifitas seperti yang dilakukan Lyla dan Lucky tadi, gadis kecil itu ingin segera kembali ke rumah Merry.


Lyla mengetuk pelipisnya, wanita itu mengulur waktu untuk memberi informasi bahagia pada putrinya. Namun, waktu sudah datang untuknya berpisah kembali dengan Jessica. Lyla pun mengulas senyum masam, lalu beranjak ke meja Jessica, mengambil gelas kotor dan membesihkan meja itu.


"Jessica, Aunty ke dapur dulu ya, mau siapkan sarapan buat kalian. Nanti jika sudah siap, segera turun buat sarapan. Jangan lupa pkai seragammu dengan benar, Sayang!" ujar Lyla.


Jessica yang ada di dalam kamar hanya memutar matanya malas. Dia sudah bisa memakai seragamnya sendiri. Tiba-tiba Jessica teringat bahwa salah satu temannya kemarin ada yang membawa ponsel diam-diam ke sekolah. Nindy, temannya itu memperlihatkan sebuah game menarik. Ada video yang bisa disaksikan jika seseorang berhasil menyelesaikan misi di dalam game tersebut. Video anime tentang aktifitas seperti yang dilakuakn Lyla dan Lucky.


Setelah menyiapka diri, Jessica segera mengetuk pintu kamar Lucky.


“Masuk!”


“Oh, buat apa?”


“Jessie bosan, ada game bagus di HP, boleh kalau Jessie pinjam sebentar untuk main game?” Lucky yang tak menaruh curiga segera menyerahkan ponselnya. Dia bahkan sengaja mendownload game itu di HP-nya supaya bisa dimainkan Jessica.


Dengan riang gadis itu membawa ponsel ke ruang tengah. Sebentar saja Jessica sudah tenggelam dalam permainan di dalam game tersebut. Matanya menatap lekat-lekat layar ponsel. Ia bahkan tak menyadari saat Lucky sudah duduk di kursi makan, diikuti Simon yang sudah rapi.


“Jessie, waktunya sarapan!” teriak Lyla. Tentu gadis itu tak mendengarnya karena ia sedang menikmati pemandangan tak pantas dari ponsel itu.


“Jessie, serahkan kembali ponsel uncle Lucky, kita harus sarapan sebelum kalian terlambat,” seru Lyla.


Lucky segera mendekati Jessie berteptan dengan berakhirnya video yang ditonton gadis itu. Jessie terkejut seketika saat mendapati wajah Lucky sedang menatapnya.


“Ini ponselnya, Om.” Gadis bermata biru itu menyerahkan ponsel milik Lucky kepada pemiliknya lalu berlari menuju meja makan.


Di atas meja sudah tersedia semua menu sehat hasil olahan koki yang handal. Jessica memandang satu per satu menu yang terhidang pada pagi ini. Semua sudah siap melakukan kegiatan sarapan pagi.


Hening, tidak ada suara, hanya denting sendok yang beradu pada piring. Setelah selesai Jessica berdiri hendak mengambil segelas minum. Merasa bahwa di meja tidak ada segelas air putih maka gadis kecil itu berinisiatif untuk mengambilkan air putih.


Jessica terlihat murung, selama makan hanya sering diaduk dan hanya sedikit yang masuk dalam mulutnya. Kemudian kepalanya mendongak melihat wajah Lyla dan Lucky bergantian. Bibirnya seakan hendak nengeluarkan suara, tetapi hanya bisa bungkam.


"Sayang, ada apa? Tidak enak ya?" tanya lembut Lyla.


"Katakan pada Om, Jessica ingin makan dengan menu apa?" tanya Lucky.


"Mungkin Jessie ini sedang kangen dengan mommy dan daddynya yang di sana, Mom, Dad. Sehingga dia terlihat murung," tebak Simon.


"Simon," tegur Lyla pelan.


Simon hanya tersenyum kikuk mendapati bola mata sang mommy yang melebar seakan bola mata itu hendak keluar dari sarangnya. Simon mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V yang artinya --piss--. Lyla mengembuskan napas kasar. Lalu dengan sedikit sentuhan akhirnya Lyla menjelaskan bahwa Merry akan segera pulang.


“Sayang, kamu bersabarlah sebentar. Mommy akan segera pulang. Jangan sedih karena nanti Aunty jadi ikut sedih.”


“Benarkah mommy akan segera pulang?”


Lyla menganggukkan kepalanya. Jessica berteriak,” horeee! Mommy pulang!”


Saat mendengar berita yang disampaikan oleh mommy-nya, senyum Jessica seketika terbit. Sorot matanya berbinar mengisyaratkan kebahagiaan. Lalu dengan cepat gadis kecil itu menyendok nasi hingga tandas. Kemudian dia segera pamit untuk mengambil tasnya. Simon menatap heran pada Jessica.