The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Ancaman Lain



Acara baby shower pun mulai digelar. Rumah Frans terlihat ramai oleh beberapa kerabat dan handai taulan. Semua anggota keluarga diundang dan para tetangga pun ikut diundang untuk meramaikan acara tersebut.


Selama acara sosok Jessica jarang ada. Gadis kecil itu duduk sendiri di tepian kolam ikan milik Frans yang baru saja dibangun. Jessica memandang ikan yang berenang memutari sebuah tangkai bunga teratai putih. Terlihat kesedihan terpancar pada wajah Jessica. Sudah satu minggu ini dia terus memainkan game dan itu membuatnya senang, tapi tadi malam mendadak Frans tak memberikannya izin untuk memegang ponsel.


Jessica sudah ketagihan game itu, jadi sekarang gadis kecil itu merasa gelisah.


"Ikan, apakah di sana juga ada acara baby shower?" tanya Jessica.


"Apakah kamu tahu jika acara itu sangat menyita waktu mommy? Sehingga sulit untuk Jessica sentuh. Dan daddy sekarang sudah mulai jahat karena tidak membolehkan aku main game," lanjut Jessica.


Gadis kecil itu terus berbicara sendiri tanpa berniat pindah dari tepian kolam ikan koi. Jessica terus memandang sendu pada ikan tersebut. Hingga tanpa dia sadari sosok Frans sudah berdiri di sampingnya.


"Hai, Sayang!" sapa Frans. Jessica melihat daddy-nya dengan pandangan marah.


"Daddy! Sebaiknya temani mommy, jangan di sini bersamaku. Apakah tidak mengapa jika Daddy meninggalkan mommy sendirian di sana?" tanya Jessica. Ia tidak mau berdekatan dengan siapapun saat ini.


"Sayang, daddy harus membicarakan sesuatu. Kamu harus tahu kenapa daddy tidak meminjamkan lagi ponsel untuk kamu. Karena ternyata game yang kamu mainkan itu sangat berbahaya. Mulai saat ini daddy akan mengawasi kamu!" ucap Frans dengan nada tegas.


“Bahaya bagaimana? Bukankah semua game begitu? Pembunuhan itu cuma game saja, Daddy.”


“Bukan game-nya tapi hadiahnya,” tegas Frans.


Seketika wajah Jessica memerah. Ia sangat malu sekaligus bingung.


“Daddy akan mengajakmu bicara dengan mommy juga tapi itu nanti saat acara ini berakhir, ayo ikut daddy.”


Jessica hanya diam saja, tetapi kakinya ikut melangkah di belakang daddy-nya. Gadis kecil itu terus berjalan mengikuti langkah Frans. Hingga akhirnya sampailah Jessica pada acara baby shower.


Ritual baby shower berlangsung meriah. Tampak ruang tamu yang sudah disulap menjadi cantik, ada banyak balon hias di dinding, tamu-tamu teman Merry maupun Frans berdatangan.


Simon yang melihat Jessica baru kelaur langsung menggandeng sahabatnya itu.


“Ayo kita ke teras samping, di sana banyak makanan. Om Frans biar aku bermain bersama Jessica.”


Frans mengangguk, ia merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menasehati Jessica.


“Kenapa kamu mainkan game itu?” tanya Simon tak mengerti.


“Memangnya anak perempuan tak boleh memainkannya?”


Simon menggeleng lalu menjawab,” tidak boleh karena game itu dilarang. Ada adegan tak pantas di video rewardnya. Kau tahu mommy dan daddy aku sampai bertengkar gara-gara masalah ini.” Jessica terdiam. Jadi rupanya Lucky yang memberitahu Frans, pantas saja ia melihat sepertinya daddy-nya tadi ingin memarahinya. Kini Jessica merasa situasi semakin taka man bagi dirinya.


"Simon, jika ornag tua kita tahu, apakah mereka akan mengusirku?" tanya Jessica dengan nada khawatir.


"Tidak seperti itu. Tapi kamu harus meminta maaf, siapa yang mengajarimu memainkan game itu?” tanya Simon. Dia yakin Jessica tahu dari orang lain. Dan saat Jessica memberi tahu orangnya, Simon sangat terkejut mendengarnya.


“Pantas saja kemarin aku lihat Nindy dipanggil kepala sekolah, dia didampingi orang tuanya.”


Jessica semakin mengekerut ketakutan.


“Kamu ingat kan, Nindy memang sering bciara kotor. Mulai sekarang kamu tak perlu lagi berteman dengannya, Jessie."


Simon mencoba menjelaskan bagaimana seharusnya Jessica bersikap apabila ada temannya yang mengajarkan kepadanya tentang hal-hal yang tidak baik. Masalahnya Simon tidak menyadari kalau Jessica sudah mulai kecanduan dan tidak menganggap jika tontonan itu berbahaya.


“Aku rasa aku akan segera dikucilkan dari keluarga ini,” gumam Jessica.


Mendengar jawaban Jessica, seketika Simon tertunduk. Entah apa yang ada di dalam pikiran Jessica. Namun yang pasti, bulir bening tampak jatuh di pipinya. Perlahan kakinya melangkah melipir menghindari keramaian ritual mommy-nya. Jessica terlihat bersedih.


"Lyla, tolong dampingi Jessica terlebih dahulu. Sepertinya anak itu merasa tersisihkan," bisik Merry pada Lyla.


"Jadi seperti ini acara baby shower itu. Ramai dan seru sekali hingga mommy susah berpaling dan sekedar melihatku disini. Bayi yang belum lahir itu bahkan sudah merebut mommy dariku," gumam Jessica. Langkah kaki gadis kecil itu membawanya pada sebuah ayunan yang berbentuk bola.


Meski acara itu untuk calon bayi mereka, tetapi acara tersebut terbilang cukup meriah. Aneka kado menumpuk di meja membuat kemeriahan suasana. Sesuai namanya, baby shower maka sang mama pun kebanjiran hadiah. Acara ini diadakan supaya sang mama lebih siap untuk menghadapi persalinan karena banyak dukunga dan doa positif yang diucapkan.


Merry dan Frans tampak bahagia dan senyum mereka tidak pudar hingga akhir acara. Jessica yang sejak awal selalu menghindari tatapan Merry dan Frans kini tidak terlihat sosoknya. Lyla dan Lucky sudah mencari keberadaan gadis kecil itu, tetapi belum menemukannya. Sedangkan Simon hanya melihat dari jauh saat Jessica sedang berayun di taman belakang rumah. Tubuhnya tertutup daun-daun bunga yang rindang.


"Bagaimana Sayang, apakah sudah ketemu si Jessica?" tanya Lucky.


"Belum, apakah kita berpisah untuk mencari keberadaan Jessica, Sayang?" tanya Lyla.


"Boleh, jika perlu kita minta tolong pada Simon saja. Pasti Simon tahu di mana Jesscia karena kata Lucky tadi mereka bermain," jelas Lucky.


Kemudian Lyla dan Lucky mencari Simon untuk meminta bantuannya dalam mencari keberadaan Jessica. Namun, seakan kedua anak itu hilang bagai ditelan bumi hingga Lucky dan Lyla tidak bisa menemukan anak kembar itu.


Tanpa mereka sadari, Simon sudah menjaga Jesscia dari kejauhan. Lelaki kecil itu melihat Jessica sedang rebahan dalam sebuah ayunan rotan. Awalnya Simon mengira jika Jessica masih terjaga sehingga dia meninggalkan gadis kecil itu berayun sendiri. Sementara dia masuk ke dalam guna mengambil cemilan untuk teman dia dan Jessica ngobrol.


"Jes, Jessie!" panggil Simon.


Simon elangkah lebih dekat pada Jessica. Gadis kecil itu terlihat duduk sandar pada sebuah ayunan dari rotan yang dirajut sedemikian rupa berbentuk lingkaran. Tubuh kecilnya meringkuk dengan mata terpejam. Simon hanya memandang wajah sendu sahabatnya. Tangan kecilnya menyibak surai rambut Jessica setelah meletakan barang bawaannya di atas meja.


"Kamu cantik, Jessica. Jadi janganlah bersedih hati," lirih Simon.


Lalu Simon melangkah masuk ke dalam rumah, kakinya menyusuri setiap ruang menuju ke kamar Jesscia. Pria kecil itu pun masuk untuk mengambil sebuah selimut. Saat keluar dari kamar Jessica, Simon berpapasan dengan daddy-nya.


"Simon!" panggil Lucky.


"Sedang apa kamu? Mengapa membawa selimut tebal milik Jessica?" lanjut Lucky.


"Ini buat Jessica, Dad. Dia sedang meringkuk dalam ayunan rotan, sepertinya Jessie benar-benar tidak tahu tentang game itu. Daddy tolong kalian jangan marahi dia," jawab Simon.


"Wow, anak pintar. Mari daddy bantu bawa selimutnya. Jangan khawatir, Om Frans hanya akan emmberitahu Jessie yang seharusnya ia ketahui, supaya tidak terulang lagi. Maukah kamu membantu kami untuk menyemangi Jessie?" pinta Lucky.


“Tentu Daddy, kasihan Jessie.”


Kedua lelaki beda usia itu pun melangkah beriringan. Lucky terlihat bersemangat mengikuti langkah putranya. Senyum Lucky terukir dibibir bila mengingat sikap hangat Simon. Namun, berbeda dengan Simon. Pria kecil itu sedikit sendu dan hal itu luput dari pengawasan Lucky.


Lyla yang sekilas melihat bayangan Lucky dan Simon sedang berjalan menuju taman belakang rumah Frans segera melebarkan langkahnya agar bisa mengejar langkah dua pria kesayangannya. Lyla sedikit tertinggal hingga netranya menyapu seluruh lokasi taman tersebut. Senyum mengembang saat bayangan Simon terlihat sedang berdiri di samping ayunan rotan.


"Ah, di sana rupanya kalian, Sayang!" lirih Lyla.


"Tunggu, akan aku bawakan sedikit cemilan untuk kita berbincang," lanjut Lyla.


Kemudian wanita itu pun berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam rumah guna membuatkan minuman hangat dan sedikit cemilan.


"Lyla!" panggil Frans dari arah ruang tamu.


Lyla tersenyum menyambut kedatangan Frans yang terlihat berjalan cepat dengan sorot cemas akan keadaan Jessica. Frans begitu terlihat sendu dan sedih saat mendengar kabar bahwa Jessica sedikit menghindar dengan menghilang dari runtutan acara baby shower yang dia adakan untuk calon bayinya.


"Bagaimana Lyla? Apakah Jessica sudah kalian temukan?" tanya Frans.


"Jangan khawatir, sepertinya Simon sudah menemukan sosok Jessica. Terbukti mereka sudah berkumpul di satu tempat sambil membawa selimut tebal," jelas Lyla.


"Selimut? Lalu untuk apa kamu siapkan minuman hangat itu?"


Lyla tersenyum, wanita itu akhirnya menjelaskan pada Frans maksudnya membuat minuman hangat tersebut. Setelah mendengar  penjelasan Lyla, Frans merasa sedikit lega.


Pria itu akhirnya berbalik badan kembali pada acara inti mereka. Untuk Jessica sementara semua diserahkan pada Lyla. Namun nanti jika waktunya sudah tepat ia akan berbicara empat mata dengan Jessica. Jika Jessica sudah kecanduan game itu, bukankah ini kesempatan baginya karena Merry selama hamil tak pernah lagi melayaninya.