The Secret Of Jessica

The Secret Of Jessica
Tentang Asal Usul



Lyla terkejut mendengar penolakan Jessica. Dia tak menyangka gadis itu bersikap dingin, padahal dirinya hanya ingin membantu. Jika bukan karena permintaan Simon, dia juga akan mengabaikannya.


Isabelle yang melihat Jessica sedang berdebat dengan Lyla, mendekati gadis itu lalu berkata pelan.”


“Kamu lihat sendiri, kan, tidak ada orang yang menyukaimu. Mereka semua membencimu. Apalagi kalau adikmu lahir, mereka pasti membuangmu karena kamu cuma anak angkat.”


Kata-kata Isabelle memancing kemarahan Jessica, mereka baru saja berbaikan tapi sekarang Isabelle sudah mencari gara-gara lagi.


“Sebaiknya tutup mulutmu, atau aku akan membunuhmu,” ancam Jessica. Dia hanya ingin menakut-nakuti Issabelle. Dan benar saja gadis itu berlari ketakutan menjauhi Jessica. Sejak saat itu Jesscia belajar dia harus menjadi kuat. Sedikit ancaman bisa membantunya.


Sejak pulang sekolah Jessica selalu cemberut. Wajahnya tampak begitu kesal. Merry tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis kecilnya itu karena ketika masuk kamar Jessica langsung mengunci pintu kamarnya. Baru kemudian saat Lyla menceritakan semuanya kepada Merry, wanita yang tengah hamil muda itu paham.


"Sepertinya suasana hati Jessica tidak baik setelah kamu membahas soal rencana agar dia tinggal bersamaku, Simon yang memintaku melakukkannya," ucap Lyla dalam sambungan telepon.


"Dia memang sempat bertanya apa aku tidak suka tinggal dengannya. Aku pikir dia hanya merasa agak dipaksa, tapi aku tidak menyangka kalau ternyata dia mengkhawatirkan soal calon adiknya ini. Padahal aku sudah mengatakan kepadanya bahwa aku tentu senang jika dia ingin tinggal di sini."


"Tapi sepertinya ucapan temannya memang membuat Jessica takut, makanya dia merasa khawatir seperti ini."


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Apa dia benar-benar mengatakan tidak ingin bertemu denganku lagi?"


"Dia tidak mengatakan itu, dia hanya minta untuk tidak pergi ke sekolah atau dijemput pulang olehmu. Dia memintaku yang melakukannya. Tapi aku tidak bisa. Kau juga tahu alasannya."


Memang saat pulang tadi Jessica langsung turun dari mobil Lyla tanpa mengucapkan terima kasih atau melambaikan tangan kepada Lyla dan Simon. Gadis itu langsung berjalan terus masuk ke rumahnya dan duduk di bangku di samping Merry yang sedang membuat catatan keuangan.


Saat Merry tanya ada apa, Jessica langsung menjawab kalau dia tidak ingin ke sekolah dan pulang diantar oleh Lyla. Namun saat Merry tanya apa alasannya, Jessica tak mau menjawab. Dia hanya teriak "pokoknya tidak mau!" Lalu bangkit dari kursi dan berlalu ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.


Merry sudah berusaha mengetuk pintu dan membujuk Jessica untuk membuka pintu untuknya. Tapi Jessica diam saja. Dia bahkan tidak menjawab panggilan Merry sama sekali.


Merry merasa bingung dan khawatir. Karena tidak biasanya Jessica seperti ini. Bahkan bisa dibilang ini adalah pertama kalinya Jessica bersikap demikian. Namun, setelah mendengar penjelasan dari Lyla, Merry jadi tahu apa yang membuat putrinya berubah seperti itu.


"Aku rasa mungkin sebaiknya aku menjaga jarak dulu dengan Jessica. Mungkin dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya. Dia perlu diyakinkan kalau dia memang tidak akan diasingkan setelah memiliki adik atau tidak diperlakukan berbeda dengan sebelumnya, seperti yang temannya bilang."


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja jika jauh dari Jessica?"


"Ini tidak akan berlangsung selamanya. Aku malah khawatir jika aku memaksakan Jessica untuk semakin dekat denganku, dia akan semakin menghindar."


"Baiklah, aku akan berusaha membicarakan ini nanti dengan Jessica."


Merry pun menutup sambungan teleponnya.


Lyla menatap handphone nya. Dia menatap sebuah gambar yang menampilkan foto keluarga kecilnya. Di mana dia, Lucky, Simon, dan Jessica sedang berjalan-jalan ke taman hiburan sewaktu Jessica menginap di rumah ini saat akhir pekan.


Saat Lyla tengah termenung sambil menatap foto di handphone nya, Simon datang dan langsung memeluk mommy nya itu.


"Mommy, maaf atas apa yang Jessica katakan," ucap Simon yang sangat paham jika mommy itu pasti sedang sedih atau permintaan Jessica waktu pulang sekolah tadi.


"Mommy baik-baik saja, Sayang." Lyla balas memeluk Simon dan tersenyum lebar kepada putranya itu.


"Mommy tidak perlu menutupinya. Aku tahu kalau Mommy pasti sedih."


Lyla mengusap rambut Simon, bahkan mengacak-acaknya. Dia merasa senang karena di saat seperti ini lagi-lagi Simon selalu berhasil membuat perasaannya jadi lebih baik.


"Aku yakin sebentar lagi Jessica pasti akan lupa dengan apa yang dikatakannya. Dia hanya sedang emosi saja. Dia tidak mungkin membenci Mommy. Aku juga minta maaf karena aku, Mommy jadi dibenci Jessica."


"Kamu tenang saja. Mommy mengerti kalau saat ini Jessica pasti sedang sedih, makanya dia bicara seperti itu."


"Mommy tidak kecewa kepada Jessica, kan?" tanya Simon sambil melepas pelukannya dan menatap wajah Lyla.


"Tentu saja tidak. Kalian ini masih anak-anak, jadi bagaimana bisa Mommy kecewa kepada kalian?"


Sementara Lyla berusaha untuk mendamaikan hatinya agar tidak terlalu mengambil hati apa yang Jessica ucapkan, di rumah Merry, Merry malah harus panik saat dia mendapati Jessica jatuh sakit. Badannya demam tinggi dan tubuhnya menggigil kedinginan.


Merry pun langsung menelpon ibunya dan meminta wanita yang telah melahirkannya itu untuk datang.


Saat ini Merry bingung hendak meminta bantuan kepada siapa. Dia tidak mungkin menyetir dalam keadaan seperti ini. Menelpon Lyla lebih tidak mungkin karena khawatir kondisi Jessica jadi semakin buruk. Satu-satunya orang yang bisa dimintai bantuan adalah Margarita. Dan beruntung ibunya segera tiba bersama seorang teman dokternya.


Dokter itu pun memeriksa kondisi Jessica lalu menuliskan resep.


"Sepertinya saat ini dia begitu tertekan dan stres," ucap sang dokter.


Mendengar itu Merry jadi merasa bersalah karena telah membuka pembicaraan yang tidak tepat pada waktu yang tidak pas..


Maka, setelah mengantar dokter sampai luar, Margarita kembali dan menghampiri anaknya itu. Dia mengatakan kalau menjadi orang tua memang tidak mudah. Mereka akan dituntut untuk belajar dan belajar lagi setiap waktu.


Malam ini ibu Merry memutuskan untuk menginap di rumah anaknya ini. Dia khawatir jika Merry sedang banyak pikiran dan butuh teman untuk bicara. Karena wanita hamil itu rentan stres, apa lagi jika tidak memiliki teman bicara di saat masalah besar melanda.


Namun, Merry bilang dia akan bercerita kepada ibunya besok pagi, karena malam ini dia ingin menemani Jessica. Biasa di saat Jessica sedang sakit begini memang bocah itu tidak pernah mau jauh dari Merry, bahkan cenderung sangat menempel.


Merry menatap wajah Jessica. Gadis kecilnya itu sedang tertidur pulas dengan kening yang ditempelkan stiker penurun demam. Dan air mata pun menetes begitu saja dan jatuh mengenai pipi Jessica, sehingga gadis itu terjaga dari tidurnya.


"Maafkan Mommy, Honey."


"Temani aku ya, Mom," pinta Jessica sambil memeluk Merry erat. Gadis itu baru saja mimpi buruk yang membuatnya gelisah sepanjang malam.