
Banyak barang-barang yang terdengar dibanting di dalam apartemen Martha. Tak tahan mendengarnya, Agnes kemudian mengetuk pintu apartemen.
"Jangan dibuka!" teriak Martha saat gadis kecil itu hendak membuka pintu. Katy berpikir yang datang adalah Papanya.
Tanpa menghiraukan perkataan Martha, gadis itu segera membuka pintu, lalu tampaklah Agnes yang sedang mengamati mereka. Tentu saja kehadiran Agnes membuat Marta tergagap. Dia tidak menyangka Agnes datang, karena sudah setengah mabuk Martha pun menghardik Agnes.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mengikuti aku?" teriak Martha tidak senang.
"Nyonya Martha, kita sama-sama tahu ini tidak baik untuk Anda."
"Nona Agnes, aku hanya memintamu membantu mendapatkan hak asuh Katy, bukan menjadi penasehatku," protes Martha dengan galak.
"Anda tahu jika hal ini sampai ke pengadilan, Anda tidak akan mendapatkan hak asuh Katy sampai kapanpun."
"Jangan menceramahiku, aku paling tahu apa yang terbaik untuk Katy. Aku yang mengandung dan melahirkannya, hanya aku yang berhak merawatnya," teriak Martha histeris.
Alkohol sudah memengaruhi pikirannya. "Lihatlah, Anda bahkan berkata-kata kasar di depan Katy. Semoga hakim tidak melihat."
"Hakim tidak akan melihat kalau kamu bisa tutup mulut!"
"Nyonya Marta sebaiknya Anda menyerahkan hak asuh kepada Tuan Juan," ujar Agnes.
Dia sendiri tidak tega melihat Katy yang ketakutan dengan sikap mamanya seperti sekarang.
Martha melotot ke arah Agnes. Perempuan itu berjalan terhuyung.
"Apakah katamu? Coba ulangi lagi! Aku harus menyerahkan hak asuh kepada Juan? Jangan mimpi! Kamu benar-benar tidak berguna! Aku tidak mengira orang yang aku percaya dari firma hukum ternyata justru berpihak kepada lawan. Dasar kamu perempuan tidak bisa dipercaya!"
Martha menghujani Agnes dengan kata-kata kasar. Ia terus merekam kejadian itu tanpa sepengetahuan Martha. Sampai akhirnya Martha tidak bisa lagi mengendalikan emosinya.
Dia mendorong Agnes dengan keras. Agnes terpelanting hingga menabrak ke dinding.
"Mama hentikan!" teriak Katy.
"Sudahlah ayo kita masuk Katy!" Martha berteriak sambil menarik tangan Katy.
Perempuan itu seperti kerasukan setan. Ia juga mendorong tubuh kecil Katy hingga anaknya itu membentur pintu.
Agnes tidak tinggal diam dia berusaha melindungi Katy dari amukan Martha.
"Berlindunglah di belakang punggungku, Katy.'
'Hei ******, jadi sekarang kamu juga membela anak tidak tahu diri ini?"
Martha terus mengamuk, dia sudah kalah. "Kalian ini benar-benar sialan! Kalian tidak bisa memberikan aku kesenangan sedikitpun. Ayo Katy, masuklah ke dalam kamarmu," perintah Martha.
Gadis itu hanya bisa meringkuk di balik punggung Agnes. Tak lama kemudian Martha merasa kepalanya pusing dan ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Wanita itu berlari menuju ke kamar mandi.
Saat Martha muntah di kamar mandi, hal itu dimanfaatkan Agnes untuk bicara dengan Katy.
"Sayang kamu kembali ke kamarmu sekarang. Kunci pintunya dan jangan biarkan Mamamu masuk."
Katy menggeleng.
"Kalau sudah muntah begini mama biasanya akan tertidur."
Katy berucap dengan pelan, Agnes mengelus rambut gadis kecil di hadapannya itu.
Bahkan gadis itu sudah hafal segala perilaku Martha, dan itu membuat Agnes miris. Benar kata Jessica bahwa dia harus menyelamatkan Katy. Jika membiarkan Katy hidup dengan Martha mungkin hal ini akan menimbulkan trauma mendalam baginya.
"Kamu bisa melakukannya sekarang, Sayang. Masuklah ke dalam kamar."
"Tapi aku takut," ujar Katy."
"Jadi apa yang kamu inginkan sekarang? Apakah kamu ingin aku membawamu kepada papa Juan?"
Katy menganggukkan kepala dengan senang.
"Baiklah kemasi barangmu sekarang."
Katy masuk ke dalam kamarnya, lalu mengambil beberapa barang untuk keperluan sekolahnya.
Dengan cepat Agnes mengantarkan Katy menuju ke apartemen Juan.
Tentu saja Juan sangat terkejut melihat kedatangan putrinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Juan panik, saat melihat raut wajah ketakutan Katy.
"Ya Tuhan anakku, sini sama papa."
Agnes segera menyerahkan Katy kepada Juan. Pria itu memeluk hati sementara Katy menangis di pundak papanya.
"Jangan menangis Sayang. Papa akan melindungimu."
"Aku tidak mau tinggal dengan Mama. Aku mau tinggal sama papa saja," rengek Katy.
"Sayang Nona Agnes ini yang akan membantu kita untuk bisa tinggal bersama," ucap Juan sambil menatap tajam ke arah Agnes.
Agnes menganggukkan kepalanya karena tak punya pilihan.
"Baiklah, saya permisi dulu. Anda tahu yang harus dilakukan besok saat Martha tersadar, bukan?"
Juan menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak akan membiarkan dia mengambil Katy lagi."
"Sebelum keputusan pengadilan turun Anda tidak bisa melakukan itu, tapi setidaknya ini bisa menjadi bukti bagi hakim bahwa Martha bukan ibu yang baik untuk Katy."
"Terima kasih, Agnes. Kamu sudah menyelamatkan putriku."
"Sama-sama, Tuan Juan Saya permisi."
Agnes segera kembali ke mobil. Di sana juga Jessica sedang muntah-muntah di belakang bagasi mobil.
"Tuan Putri sudah tersadar rupanya, cepatlah masuk ke mobil aku akan mengantarmu ke apartemen."
Jessica hanya menurut perkataan Agnes dia kembali lagi ke jok mobil dan membaringkan diri di jok belakang.
Pada saat bersamaan Simon menelepon Agnes.
"Halo Simon ada apa?"
"Apay kamu sedang bersama Jessi sekarang?" tanya Simon dengan nada khawatir.
"Tenang saja, Simon. Tuan putrimu berhasil aku selamatkan. Kita berdua sekarang menuju ke apartemen Jessie."
"Oh baiklah aku juga sedang ada di apartemennya, tapi ternyata dia tidak ada. Aku akan menunggu di sini."
Simon menutup panggilan telepon. Dia menanti kedatangan Jessica dan Agnes.
Saat Agnes sudah tiba di parkiran, ia menelepon Simon. Ia meminta pria itu untuk membantu membawa tubuh Jessica naik ke atas apartemen.
"Apakah dia mabuk?" tanya Simon panik saat melihat tubuh lunglai Jessica terkulai di jok mobil belakang.
"Begitulah ratumu ini sok-sokan minum alkohol di bar, beginilah akibatnya."
"Kenapa kamu mengantarkannya ke bar, Agnes? Harusnya kamu mencegah Jessica mabuk-mabukan.
"Simon, kami sedang menjalankan misi."
"Misi apa yang dilakukan di pub?" Simon sedikit marah.
"Kami sedang mengikuti Martha dan benar malam ini kita mendapatkan fakta baru. Besok aku akan ceritakan semuanya. Sekarang ayo kita bantu Jessica kembali ke dalam kamar."
"Sudah biar aku saja yang menggendongnya."
Simon akhirnya menggendong Jessica.
Agnes tersenyum melihat sikap Simon yang sangat protektif terhadap Jessica.
"Si bodoh ini harus tahu kalau kamu sangat mencintainya," ucap Agnes saat mereka berada di lift.
Simon salah tingkah mendengar ucapan Agnes.
"Kamu tidak harus menyembunyikannya terus-menerus dariku. Kamu pikir aku sebodoh itu sampai tidak tahu? Aku bukan Jessica yang tidak menyadari ada orang yang rela menyerahkan hidupnya untuk dia."
Simon terdiam, mulutnya terasa terkunci.
"Kamu juga, sampai kapan mau bersikap pengecut seperti ini? Seharusnya dari peristiwa Robin kemarin kamu bisa lebih berani mengatakan perasaanmu kepada Jessie."
Simon tergagap.
"Aku hanya takut sikapnya berubah dan persahabatan kami jadi hancur berantakan. Kamu tahu kan sejak kecil kami bersama-sama dan aku belum siap kehilangan Jessica. Aku tidak mau rasa sayang, rasa cintaku kepadanya ini merusak persahabatan kami," ucap Simon dengan lirih.