
Happy Reading...
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
" Huhu~ " Suara tangisan itu menggema seluruh ruangan.
Mo Tian yang mendengar itu menghentikan kegiatannya, dia jadi gelagapan. Tidak pernah terpikirkan oleh nya Queen akan menangis ditengah-tengah perlakuannya seperti ini.
" Chen Mei Yin " Queen menatap Mo Tian dengan tatapan kecewa.
Deg...
" Gengdì hiks... kau jahat huhu~ " Queen mengelus pantat nya yang terasa sakit dan panas akibat ditampar oleh Mo Tian secara terus menerus.
Mo Tian menggeram menahan gemas nya ketika melihat wajah Queen bertambah imut ketika menangis. Mata bulat itu, pipi, serta hidungnya memerah itu membuat nya merasa sangat gemas.
" Gengdì, jika kau tidak berhenti memukul bokongku mungkin aku akan mati " Dengan nada melas dan tidak berdayanya, Queen mencoba bersikap dramatis.
" Humphh... kau tdk boleh mati dulu tanpa seizinku bocah " Mo Tian mencubit pipi Queen dengan gemas.
" Aww... sakit tau " Sewotnya dengan galak, namun itu membuat nya semakin imut.
Mo Tian dengan cepat memajukan wajahnya ingin mengecup bibir imut itu. Namun...
" Ah... " Kepala Mo Tian di tepis oleh Queen tanpa ampun.
" Humph... jangan harap " Queen langsung turun dari pangkuan Mo Tian dan berlalu dari sana dengan perasaan cemberut.
Sementara Mo Tian hanya tertawa namun beberapa saat dia terpaku...
Apa aku barusan saja tertawa? Monolognya tak percaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bruk...
" Aww... " Queen merasa tubuh nya tersungkur pun meringis.
" Apa kau tak apa nona kecil? " Queen menatap uluran tangan itu dan menerimanya.
" Aku tak apa kek " Sedangkan orang yang diajak Queen bicara pun tertegun.
Apa aku memang sudah terlihat tua?
Monolog seseorang itu tak percaya dengan tidak berdaya.
" Ah oh... kamu siapa? " Tanya Queen dengan polos membuat seseorang itu rasa nya ingin pingsan saja.
Apakah anak ini tidak mengenal orang besar seperti nya.
" Nama saya adalah Wei Jin Luo, Kaisar di kerajaan ini "
" Oh salam kenal kek, nama saya Chen Mei Yin " Queen membungkukkan badannya sejenak dan menegakkan kepalanya sembari tersenyum ramah yang terlihat polos.
Tunggu dulu, mengapa nama itu terasa tidak asing.
" Bisakah kamu jangan memanggil Zhen dengan panggilan tua itu nak Mei? " Pinta Jin Luo tak berdaya.
" Emm... apa aku harus memanggil mu paman kek? "
" Terdengar lebih baik dari sebelumnya " Ucap Kaisar Wei sambil menghela napas.
" Emmm... siapa itu? " Ucap seseorang ketika melihat seseorang yang ia kenal bersama seorang yang tidak asing menurutnya.
" Salam Ayahanda " Sopan seseorang itu sambil membungkukkan badannya.
" Ah, salam mu di terima nak "
" Wei Tian Mo perkenalkan, ini Chen Mei Yin. Putri dari kerajaan Jia " Queen menatap Tian yang sedari tadi menatap nya dengan penasaran.
" Mei-mei! "
Bruk...
" Aduh... "
" Hiks... huaa~... " Queen seketika menangis histeris.
" Ka-kamu tu-turun da-dari sana hiks... " Tangis Queen membuat Tian yang menjadi biang keroknya, panik dan menanyakan keadaan Queen dengan khawatir.
" A-apa kau tak apa? Ma-maaf kan aku M-ei-Mei " Mata Tian terasa memanas.
" Kamu siapa hiks?... " Bingung Queen sambil menangis.
" A-apa! Apa ka-kau su-sudah m-melup-akan-ku Mei-Mei? 😢 " Gagap nya sedih.
" Apa kau Gengdì? Kalian terlihat mirip " Kata nya dengan lirih.
" Si-siapa gengdì? "
" A-aku... aku juga tidak tahu? " Bodohnya sedih membuat Kaisar menepuk jidat nya.
Ah dia ingat, anak ini adalah anak itu. Si Putri Mahkota yang pernah menggendong anak nya bagaikan tanpa beban.
Dan kenapa anak ini menjadi seperti ini? Sebelumnya anak ini terlihat sangat 'tegap' dengan aura agungnya. Mengapa dia menjadi lemah dan seimut ini kayak anak kecil? Seperti nya dia akan mengirimkan pesan ke kerajaan Jia nanti.
" Ada apa ini? "
" Gengdì! "