The Reincarnation Queen Of The World

The Reincarnation Queen Of The World
( CHAP 27 )



Malam hari...


Terdapat siluet seorang gadis yang sedang tertidur di atas ranjang, pemandangan sangat indah serta aura nya yang damai membuat seseorang akan merasakan ketenangan yang amat sangat.


Wajahnya yang putih bersih serta rona yang terdapat pada pipinya yang lembut, alis seperti diukir khusus sang pencipta, bibirnya yang tanpa polesan berwarna sedikit memerah alami dengan bibir yang basah membuat kesannya semakin terlihat sangat menggoda untuk dicicipi, rambut hitam segelap malam elegantnya yang terlihat berkilau dan lembut memberi kesan bahwa ia adalah seorang gadis dibawah sinar bulan dengan bulu mata yang lentik indah dan mata yang selalu memperlihatkan tatapan datar serta elang itu terpejam dengan wajah yang biasanya tanpa ekspresi kini terlihat polos dan damai, sungguh ciptaan yang sangat sempurna.


KRIETT..


WOSH..


Suara decitan jendela yang terdengar sangat pelan itu serta sedikit hembusan angin seperi tertahan. Sosok dibalik jendela pun perlahan masuk dengan auranya yang suram dan membunuhpun menjadi tenang seperti tak perna ada noda aura gelap disekitarnya. Dia seorang pria dengan topeng peraknya memperlihatkan matanya yang berwarna hitam gelap yang dapat membuang orang orang akan terjebak akan ilusinya pun terlihat dingin.


Memperhatikan seorang gadis yang ada ditempat tidur dengan disirami sinar bulan memperlihatkan betapa mempesonanya ia, membuat hati pria itu menjadi gatal tapi hangat. Berjalan perlahan agar tak membuat gadis itu terbangun dari tidurnya, sekarang dia berada disisi ranjang dimana gadis itu terbaring.


Menatapnya dengan dingin dan menelisik wajahnya dari dahi, alis, hidung, pipi, serta bibir basah itu membuat tenggorokannya sedikit kering. Dan pria itu duduk di pinggir ranjang dan melihat gadis yang masih terlelap itu terdengar dengan napasnya yang beraturan itu.


Mengulurkan tangannya kearah bibir. Namun anehnya arah tangan tersebut malah ke leher seperti ingin meraihnya namun..


' Swish.. '


' Brukk.. '


Terdengar suara seperti terjatuh. Mata pria itu sedikit melewatkan cahaya, terkejut. Sekarang posisi pria itu sedang terbaring dengan gadis itu sekarang berada diatasnya berbaring.


" Siapa " Suara datar tapi serak dan membuat tenggorokan pria itu seketika kering karena posisi ini sangatlah intim menurutnya serta suaranya tadi terdengar menggoda ditelinganya membuat telinga itu memerah tapi masih dengan wajah dinginnya.


Pria itu hanya diam saja tanpa bergerak namun matanya masih menatap gerak gerik gadis diatasnya ini.


" Ah maaf, saya pinjam badan mu sebentar untuk berbaring " Suara gadis itu serak tapi tulus membuat pria itu menutup matanya untuk menahan api dalam dirinya agar tidak naik.


Keheningan melanda, gadis itu masih bersandar sembari memejamkan matanya dan pria itu hanya menatap langit langit kamar itu. Menghirup serta merasakan aura gadis ini membuatnya tenang.


" Ya.. " Jawab pria itu dengan pelan dan serak tapi dingin yang terdengar sangat menggoda.


" Apa kau tidak ingin berkenalan terlebih dahulu " Pelan Gadis itu pelan datar.


" Hm.. " Gumaman pria itu. Gadis itu berdiri dari posisinya dan pindah ke samping pria itu. Pria itu merasakan perasaan kosong saat gadis itu tidak berada dalam dekapannya pun hanya menghela napas dan bangun menghadap kearah gadis itu dengan menatap matanya dingin dan lama, sama halnya dengan gadis itu ia juga menatap mata pria itu tapi datar. Memiliki sesuatu yang tersembunyi dibalik mata tersebut namun mereka terlihat belum mengerti dengan artinya itu.


Gadis itu memulai pertama..


" Chen Mei Yin " Singkatnya datar membuat pria itu menaikkan sedikit alisnya, nama gadis ini sungguh indah persis dengan arti namanya dan emm, lupakan !.


" Wei Mo Tian " Ucap pria itu dingin.


" Apa kau Raja Neraka " Tanya Queen ke Mo Tian.


" Bagaimana kau tahu " Datar Mo Tian.


" Rumor mengatakan kau sangatlah kejam dan bringas dimedan perang " Singkat tapi jelas dari Queen, Mo Tian mendengar itu hanya terkekeh sedikit sinis sedetik. Suasana hening kembali, Mo Tian merasakan aura gadis didepannya ini sedikit aneh menurutnya. Dia merasakan auranya bercampur dengan aura seseorang dan merasa tidak asing. Kemudian Mo Tian diam diam memeriksa aura apa tersebut, beberapa menit kemudian dia membolakan matanya yang tak pernah tercetak pada wajahnya. Untungnya dia memakai topeng yang menutup bagian matanya.


" Kenapa aura mu terasa berbeda " Dingin Mo Tian. Diam diam Queen terkekeh sinis.


" Ada yang mengutukku " Ucap Queen datar dan santai, Mo Tian merasa ucapan itu terasa sindiran halus untuknya walau tak disengaja menurutnya. Namun pikirannya sangatlah salah, nyatanya dia memang di sindir.


Queen mengetahui siapa yang mengutuknya, karena saat itu ada sedikit jejak aura seseorang dan ia mendeteksinya. Tapi ia mengetahui bahwa dia melakukannya dengan tidak sengaja, jadi dia memaklumi karena sedang berbaik hati.


" Apa kau tak kembali " Datar Queen ke Mo Tian dan pria itu hanya diam sembari perlahan berdiri dari ranjang dan memperbaiki Zaoshannya yang berantakan karena tertidur di ranjang.


" Aku pergi " Ucap pria itu dingin, jika didengar lebih teliti lagi nada pria itu seperti enggan dan menghilang tanpa jejak tepat dihadapan Queen yang menatap tempat yang ditapaki oleh pria itu.


Perlahan sudut mulutnya ter naik membentuk sebuah kurva ah bukan sebuah seringai yang cukup misterius dan menatap jendela yang memperlihatkan bulan yang bersinar serta bintang yang selalu bersamanya.