
Happy Reading...
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Lanjut...
Sesampainya di kawasan Desa Kabut Darah....
Kereta kuda mereka menjadi pusat perhatian karena baru pertama kali sebuah kereta kuda yang terlihat asing masuk dalam kawasan klan.
Hingga sebuah spirit beast menghampiri mereka, spirit beast itu adalah sang penjaga desa klan kabut darah.
Kaisar Chen menyingkap tirainya memperlihatkan sebuah spirit beast yang terbang di hadapannya.
" Ketua klan, selamat datang " Ucap sprit beast itu.
" Terima kasih " Datar Kaisar Chen.
" Selamat datang Ketua " Ucap para rakyat yang sadar sambil menunduk.
" Terima kasih " Balas Kaisar Chen.
Sesampainya di kerajaan, mereka turun dengan Queen di gendongan Hongli karena masih lemah untuk berjalan.
Masuk dan mengantar Queen ke kediaman yang sudah disiapkan untuknya terlebih dahulu.
" Biaomei, selamat tidur " Elus Hongli dan ingin mengecup kening kakak sepupunya namun dia merasakan tak dapat menjangkau dahi tersebut seolah ada yang menahannya sekeras mungkin.
Kepala dia menjauh dan menatap bingung, namun sebuah teriakan memanggilnya agar segera ke aula pun mengurungkan niat untuk berpikir lebih jauh dan keluar kediaman setelah memberi salam ke Queen.
Jendela terbuka tanpa suara dan sebuah angin yang agak kencang memasuki ruangan tersebut. Terlihatlah tubuh tegap yang menjulang itu, wajah nya mendominasi dingin tanpa ekspresi namun tak ada yang sadar akan tatapan nya yang membara.
" Tak akan kubiarkan kau bocah mengecup kening Yin' er, sudah kuberi kompensasi menyentuhnya dengan hanya menggendong. Tapi... " Pria itu adalah Mo Tian yang dalam mood geram, dilihat dengan jelas pipinya terlihat kaku karena menggertakkan giginya.
Pria itu menatap seorang gadis yang terbaring diranjang dengan tatapan sedikit melembut namun masih dingin.
Duduk di tepi ranjang dan mulai mengelus lembut surai Queen. Namun sebuah tangan kecil putih memegang dan menahan tangannya, Mo Tian sedikit terkejut namun mengembalikan rautnya jadi santai.
" Who? " Serak Queen. Mo Tian menaikkan alisnya sebelah, menjawab.
" Wei Mo Tian " Queen melepaskan tangannya yang memegang tangan Mo Tian tadi.
" Moge " Queen bangun dari tidurnya dan bersandar dibantu Mo Tian.
" Minum air ini " Datar Mo Tian sambil memberikan segelas air yang terlihat sangat jenih.
" Apa kau memberikan saya segelas air surgawi " Alis Queen berkedut dan dijawab deheman santai dari Mo Tian.
" Saya tak- " Ucapan Queen terpotong.
" Minum atau saya akan melahap mu " Ancam Mo Tian membuat Queen bingung.
" Emang saya makanan " Queen meminum segelas air surgawi dengan sekali teguk. Mo Tian hanya diam namun tak sadar bahwa dirinya menatap Queen dengan cahaya sedikit negatif tadi, namun dia tersadar dan hanya menggeleng kan kepala.
" Apa yang kau lakukan disini? " Tanya Queen.
" Menjenguk mu " Jawab Mo Tian dengan santai.
" Hmmm~ " Angguk Queen.
" Tak merindukanku " Goda Mo Tian.
" Tidak " Singkat Queen membuat Mo Tian mendengus.
" Kenapa? "
" Ekhem... bagaimana keadaanmu " Mo Tian mengalihkan pembicaraan dengan pipi merona tipis.
" Baik "
" Apa yang kau butuhkan " Tanya Mo Tian.
" Apa kau tipe orang yang basa-basi " Bukan menjawab tapi Queen menanyakan balik.
" Tdk " Jawaban yang sangat singkat dari Mo Tian yang menyadari dirinya terlalu cerewet menetralkan dirinya kembali.
" Kau cerewet " Ucap Queen sambil menepuk kepala Mo Tian. Tanpa disadarinya, ia telah membuat orang itu salah tingkah dan rona merah diwajahnya timbul.
Mo Tian mengambil tangan Queen yang ada di kepala nya dan menggenggamnya lembut. Menatap intens Queen dan sang empu hanya diam, tak merasakan sesuatu seperti merasa malu atau apa.
" Why? " Mo Tian yang mengerti itu hanya menjawab.
" Hanya ingin memegang tanganmu "
Beruntung saja Mo Tian mempelajari bahasa Benua Barat. Hanya karena Queen, dia mempelajarinya.
Sebelumnya dia hanya acuh akan bahasa tapi sekarang seorang gadis sering sekali mengajaknya berbahasa tersebut membuat dia kelimpungan karena tak mengerti dan memutuskan untuk mempelajari nya. Hanya bagian dasar belum yang lain, Queen yang mengetahui tersebut pun mengetes apakah Mo Tian benar-benar mengerti atau tidak.
" How are you today? " Mo Tian menjadi sedikit ngebug karena otaknya sedang loading.
" Ah, i'm fine " Setelah mengetahui apa yang ingin dia balaskan.
" Sepertinya kau mempelajari bahasa " Mo Tian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Jika kau kesulitan... " Ucapan Queen menjeda dan mengedahkan tangannya kedepan.
Swing...
Muncul sebuah buku yang terlihat unik dimata Mo Tian.
" Gunakan ini, jaga dengan baik karena tulisan di dalam nya adalah tulisan tangan saya " Mo Tian mengambil buku tersebut dan membuka lembaran nya. Terlihat bersih dan tulisannya rapi. Seperti kaligrafi ini sangat indah, batin Mo Tian mengagumi tulisan tangan Queen yang rapi dan indah.
" Itu bukan tulisan kaligrafi, ini hanya tulisan biasa saja " Seperti bisa membaca pikiran nya, Mo Tian menatap bingung Queen.
" Ini adalah huruf alfabet, kau bisa mempelajarinya karena buku itu lengkap atau bisa dibilang kamus bahasa yang lengkap, saya juga sudah mencatat disana pengertian maupun cara fonem nya " Jelas Queen detail.
" Apa itu fonem? " Tanya Mo Tian bingung.
" Fonem itu bentuk bunyi bahasa, fenom ini berbeda dengan bahasa negara benua timur maupun benua selatan bahkan sangat banyak. Mereka punya masing-masing fenom dan bahasa yang diucapkan pun maknanya berbeda "
" Yang penting, saya sudah mencatat semuanya disana. Kau boleh lihat jika ingin tahu "
" Pelajaran bahasa pun sangat diperlukan juga, bukan hanya teori Matematika, Ilmu Pengetahuan alam, Sosial, Seni, maupun sejarah. Yang harus kita pelajari tapi dengan adanya bahasa yang kau kuasai dapat digunakan ketika berbincang dengan bahasa yang sama atau hal lainnya " Bijak Queen.
Mo Tian hanya diam karena fokusnya ke pembicaraan Queen dan ucapan Queen yang baginya baru dia dengar saat ini sangat panjang.
" Saya ingin tidur " Tiba-tiba suara Queen melemah membuat Mo Tian tersadar dan tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya kepada Queen. Hanya gadis ini yang mampu mengeluarkan semua ekspresi maupun perasaannya yang bahkan tak dapat ia percayai.
" Hei, apa kau tak apa " Queen menggeleng kecil dan membaringkan badannya kembali.
" Sepertinya, saya akan menjadi putri tidur. Energiku terkuras " Lemah Queen.
' Apa kah ku harus memberikan energiku, tapi ini sangat berbahaya karena energiku hanya menggandung energi Yin yang sangat pekat dari pada Yang. Aku tak berani melakukan itu, sepertinya kekuatan Yin' er mendominan ke Yang daripada Yin! ' Monolog Mo Tian gelisa.
" Jangan berpikir untuk memberikan energimu, karena energi saya lebih kuat dari milikmu " Setelah mengucapkan itu, Queen tertidur karena efek pusaran darah. Ya, dia mengalami pusaran darah diam-diam tak ingin Mo Tian mengetahui hal tersebut.
Mo Tian tertegun dengan apa yang dikatakan Queen terakhir kali sebelum tertidur. Dia termerenung, apa itu benar. Jika ia, dia akan sangat senang.
Sebuah senyum misterius terbit dibibir sexy milik Mo Tian, entah apa arti dari itu tapi yang pasti hanya author dan Mo Tian yang mengetahui nya.