
Happy Reading...
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Lanjut...
" Ekhem... "
Semua mata teralihkan ke satu titik.
" SALAM PANGERAN KEDUA! " Mereka pun ber kowtow, kecuali Mo Tian.
Pangeran kedua dari kerajaan Wei yang dikenal sebagai pangeran termuda yang turun ke medan perang setelah pangeran pertama.
Queen yang ingin ber kowtow juga pun dihentikan oleh Mo Tian yang langsung menggendongnya.
" Huwaaa... " Queen nampak kaget ketika merasakan tubuhnya melayang.
" Gengdì, kenapa kau melakukan ini kepadaku? Ini memalukan " Queen melingkarkan tangannya ke leher Mo Tian.
" Menurutku ada yg lebih memalukan lagi " Datar Mi Tian membuat Queen menggembungkan pipinya.
" Humph... " Mo Tian menahan gemas tak menggigit pipi chubby bersih itu.
" Ekhem... nona, tuan kecil... " Mo Tian dan Queen menatap pangeran ke dua.
" HEI KENAPA KAU TIDAK SUJUD JUGA, BERANI...!!! " Pangeran menghalau pengawalnya yang jebakar jenggot tersebut.
" Perkenalkan saya adalah Pangeran kedua " Pangeran kedua menunduk kan sedikit kepalanya dan tersenyum ramah.
" Pangeran kedua? " Polos Queen dengan kepala memiring.
" Tuan kecil, kau nampak menggemaskan " Pangeran kedua yang ingin mencubit pipi Queen pun merasakan tangannya ditepis.
" Haha... Maafkan saya no- " Ucapan pangeran kedua pun terhenti.
Tatapan itu...
" Ge- " Seakan-akan suara nya dibuat menghilang.
" Diam "
Sring...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Gege, kenapa kau ada disana dan menyamar memalukan seperti ini?! " Teriak pangeran kedua.
" Paman, bisa kah kau jangan ber teriak " Imut Queen.
" Dan siapa anak ini? "
Mo Tian hanya diam dan mengganti pakaiannya tanpa tahu malu.
" AAAA... Gege, kenapa kau mengganti pakaian mu dihadapan ku " Pekik Pangeran kedua.
Swos...
Aaa...
Hueekk...
" Kau ribut sekali, seperti perempuan saja " Ketus Mo Tian yang sudah mengganti pakaiannya.
" Mei, ganti pakaianmu " Mo Tian memberikan pakaian gadis yang terlihat mewah.
" Baiklah Gengdì "
" Apa dia seorang gadis? " Bisik Pangeran kedua.
" Hem... " Mo Tian meminum teh hitam nya.
" Gengdì "
" Woaahh... " Pangeran kedua terpana.
Bruk...
" Akh... " Pangeran kedua meringis ketika wajahnya ditimpuk.
" Gendì, jangan gitu "
Deg...
Mo Tian menggeram ketika Queen malah peduli kepada pangeran kedua.
" Nama gege siapa? " Tanya Queen.
" Ekhem... na-nama saya Wei Huanrang, panggil Huan saja " Pipi pangeran kedua merona.
" Oh... gege Huan, kamu baik-baik saja kan? " Queen mengelus pipi Huan secara lembut.
" Ah oh " Huan sangat gugup.
Huan merasa berbunga-bunga tanpa mengetahui Mo Tian yang sudah kebakar jenggot.
Swiss...
" HUAAAAA!!!... "
" GEGE! KAMU JAHAaaat... " Huan ingin menangisi dirinya sendiri dan pasrah tubuh nya terbang dan terlempar.
" Jangan harap... " Gumam Mo Tian menghela napas dan masih dengan menenangkan dirinya.
" Gengdì, kenapa gege Huan dilempar? " Tanya Queen marah namun malah terlihat imut dimata Mo Tian.
" Kyaa... " Queen memeluk leher Mo Tian.
" Gengdì, kenapa sih? " Mo Tian hanya diam acuh dan mendudukkan Queen dipahanya. Queen menatap Mo Tian dengan tatapan bingung nya yang imut.
" ? " Mo Tian membalas tatapan Queen dengan tatapan datarnya, timbul seringai tipis diwajah sang empu membuat Queen merasa sedikit merinding.
Perasaan nya mulai tidak enak.
Plok...
Mata Queen membola, sedangkan Mo Tian hanya menyeringai puas.
" Makanya jangan main-main dengan saya, Chen Mei Yin " Bisik Mo Tian bagaikan melodi kematian.
" Gengdì JANGAN...!!! "
Plok...
" Ah... sakit! "
" Gengdì, aaa... " Mo Tian menyeringai puas.
Sedangkan diluar ruangan...
Glek...
" Ekhem... " Dua orang yang tak lain adalah penjaga yang menjaga ruangan itu pun canggung ketika mendengar sebuah teriakan aneh di dalam sana.
" Ja-jangan berpikiran aneh-aneh kamu " Teman nya menabok lengan teman nya yang terlihat melamun.
" Ma-mana ada " Gugup nya.
Aaa...
Glek...
Dipikiran mereka...
Gila, Yang Mulia ganas sekali...