
Happy Reading...
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Lanjut...
" Kau berat dan bokongmu tajam "
Brukh...
HAHAHAHAHA... !!!
Seketika semua nya tertawa keras, Tian mendelik dan turun dari pangkuan Queen dengan cemberut.
" Ada apa dengan wajahmu Xiao Didi ? " Ledek Pangeran ketiga sambil terkekeh.
Note : Xiao Didi, artinya adik laki - laki yang paling kecil atau bisa di bilang sebagai adik bungsu.
" Katanya bokongku tajam dan aku berat, hah... sepertinya aku harus mengurangi berat badan " Dengan wajah marah namun terlihat imut.
Mereka yang dari keluarga kerajaan Huang atau kerajaan terbesar dan terkuat ke 2 ini pun hanya tertawa namun didalam hati mereka sangat - sangat merasa tercengang alias terkejut setengah mampus. Pria yang mereka kenal bertingkah menjadi seperti ini, mereka merasa konyol dan agak geli dengan tingkah yang baru saja mereka lihat.
" Selamat malam Yang Mulia, maaf mengganggu tapi izinkan kami untuk menghidangkan hidangan makan malam ini! " Sopan seorang kepala koki istana tersebut sambil menunduk.
" Silahkan saji " Tegas Kaisar Chen.
" Dilaksanakan! " Dibantu pelayan lain kemudian setelah itu, mereka izin kembali dan berlalu.
Sajian kali ini terlihat aneh namun unik bagi keluarga Wei.
" Selamat makan " Ucap mereka serempak dan makan dengan khidmat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Kami ingin pulang sekarang, kami tahu kalian akan berangkat ke desa kabut darah " Senyum tipis Kaisar Wei.
" Bagaimana kau mengetahuinya " Kaisar Wei terkekeh pelan dan tersenyum kecil, mendekat ke arah Queen dan ia menepuk pelan kepala nya bagai seorang ayah dan anak.
" Kain ini... sepertinya kalian punya masalah. Jika benar itu, kalian boleh minta pertolongan ke kami " Baik Kaisar Wei membuat mereka kagum kecuali Queen yang hanya acuh dan Tian yang masih ada di dekat Queen dan bermanja sebelum pulang.
Kaisar Chen melotot ketika istrinya menatap kagum seorang pria yang bukan dirinya pun segera menarik kepalanya dan menaruhnya diketek, tanpa mempedulikan apa itu sopan santun.
" Oi, suami nggak ada akhlak, lepasin goblok " Umpatan Tsu Zu yang teredam di dalam ketek Kaisar Chen.
" Maafkan ulah istri saya hehe... silahkan Kaisar, pulang " Ucap Kaisar Chen seolah tak berdosa termasuk kepada sang istri.
" Ah... Iya kalau begitu kami permisi " Kekeh Kaisar Wei dan kaluarga tersebut memasuki kereta kuda, kecuali Tian yang merasa tak rela meninggalkan Queen alias tak mau jauh dari Queen. Bahkan selama ini dia sangat rindu kepadanya.
" Pulang sana " Usir Queen agak halus.
" Queen " Rengek Tian sambil memeluk Queen gemas.
" Hei nak, pulanglah ayahanda mu menunggu " Ucap Kaisar sambil terkekeh.
" Pulanglah, atau... " Queen mendekatkan bibirnya di daun telinga Tian dan membisikkan sesuatu yang membuat sang empu merasa panas dan menggeram.
" Kau tak dapat melihatku lagi " Napas hangat itu yang membuat Tian salah fokus, wajahnya memerah dan segera masuk kedalam kereta tanpa menjawab sepatah katapun.
" Selamat tinggal " Kereta itu pun perlahan menjauh dari penglihatan.
" Ck... Sunmi, napa seh kamu nabok suamimu yang tampan ini " Sepertinya sikap narsistik Bambam tak akan meninggalkan jiwa Kaisar Chen selamanya.
" Gw hampir mati dodol " Geram Sunmi akan suaminya yang ia anggap goblok, untung sangat sayang bahkan lebih.
" Apa yang hampir membuat mu mati sayang " Panik Bambam yang membuat Sunmi salting, tidak akan karena Bambam menghancurkan semuanya.
" Ketekmu itu bau Bambank " Ketus Sunmi meninggalkan sang suami sendiri yang memeriksa keteknya. Yang lain sudah pada nyelonong masuk ke kediaman tanpa mempedulikan perdebatan mereka yang sudah hidup setiap hari.
" Dosa nggak sih durhaka sama suami sendiri, haih... " Gumam Sunmi merasa pening.
" Istri, kau kejam 😭 " Lebay Bambank dan ikut masuk
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya...
Mereka sudah ada di kereta kuda masing - masing, Queen tertidur di paha Hongli setelah mengalami pusaran darah yang bertambah parah membuat dirinya pingsan selama beberapa jam. Seolah energi spritualnya menghilang dan terkuras secara perlahan, dia saat ini menjadi sedikit lemah.
" Biǎomèi, kau cantik sekali dan imut " Gumam Hongli sambil menguyel nguyel pipi putih Queen bagai mencubit mochi dengan gemas.
Biǎomèi : Sepupu perempuan.
Pukh...
Sang ibu menabok lengan anaknya dengan sedikit tenaga.
" Dia sepupumu, ingat itu " Peringatan Tsu Zu kepada anaknya.
" Ibu, siapa juga yang mau dengan iblis yang berwujud gadis ini " Elak Hongli salting.
" Ya elah... ngelak kamu " Ledek Tsu Zu membuat Hongli merona merah.
" Bunda " Panggil Hongli mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
" Hm "
" Apakah Hongli punya kakak? " Tanya Hongli ragu.
" Ada " Hongli terkejut tak percaya.
" Hehe... kakakmu yang ' itu ' dulu adalah adik dari iblis yang kau katakan itu " Cerita Tsu Zu.
" Benarkah " Angguk Tsu Zu,
" Tapi, sebenarnya kakakmu itu adalah...??? "
" Sulit dipercaya " Masih dalam keadaan tak percaya dengan cerita sang ibu.
" Kau harus percaya, itu adalah salah satu dari ribuan rahasia yang Queen ceritakan kepada ibu " Dengan menatap kedepannya, Tsu Zu senyum tipis dengan tatapan penuh kerinduan yang amat sangat dalam.
" Sabar bunda, ada anakmu yang tampan ini akan menggantikan posisi kakak sementara dan melindungimu " Tegas Hongli membuat sang ibu tersenyum lembut dan mengelus kepala Hongli dengan kasih sayang. Sikap narsistik suaminya ternyata menurun ke anak bungsunya, makin sayang saja sama duplikat sang suami.
" Terima kasih sayang "
Tanpa mengetahui, Queen telah bangun dan mendengarkan semua apa yang mereka katakan dalam mata tertutup seperti tak pernah bangun.
' Bagaimana kabar anak itu, hm... sepertinya dia sudah besar '