The Reincarnation Queen Of The World

The Reincarnation Queen Of The World
( CHAP 22 )



Di tempat tamu kerajaan, ada seseorang serta orang disampingnya melihat kejadian tersebut dengan seringai yang selalu terpatri di bibirnya...


" Dia tidak pernah berubah " Gumam seseorang tersebut sembari tersenyum tipis, dia adalah seorang pria paruh baya yang terlihat muda dan tampan.


" Hah... Aku merindukannya " Gumam orang ada disampingnya, Dia seorang wanita paruh baya tapi masih terlihat muda dan cantik. Seseorang yang ada di sebelah mereka hanya melihat kejadian itu dengan wajah datarnya.


Disisi lain, Mentri Rong serta keluarganya kaget melihat wajah sang Putri Annchi yang sangat cantik menurutnya membuat mereka menggeram, dan kaget saat mendengar suara anak itu bahkan lebih kagetnya lagi melihatnya memegang pedang yang berat menurut orang yang tidak bisa memegang pedang, dengan satu tangan ia memegang dengan santai seperti tidak mengangkat beban.


" Ba.. bagaimana bisa " Tergagap Mentri Rong, dan lainnya hanya kaget melihat itu kecuali Selir ke 2 serta anaknya yang menyeringai licik.


Kembali lagi ke Annchi...


" Blhkh sy mmliny " Singkat dan datar yang diucap kan Annchi membuat satu aula cengo dengan wajah bodohnya, bahkan ada yang sifatnya tanpa ekspresi sekarang mengerutkan keningnya. Sedang Annchi hanya menghela napas dan mengoreksi ucapannya...


" Bisakah saya memulainya " Koreksi Annchi datar sembari menghela napas.


" Emm.. em.. Si Silahkan " Ucap Kaisar Wu dengan terbata bata. Annchi sudah berada di tengah aula sembati memejamkan matanya sejenak...


' Bersiaplah ' Telepatinya ke anggota nya yang berada dalam bayangan sembari menyeringai tipis. Dan membuka mata sembari berjalan perlahan dengan tegas semakin berjalan semakin kencang ia berjalan dan


SRING ~


SRING..


SRING..


SRING...


SRING...


TAK...


TAK...


TAK...


TAK...


Suara jeritan membuat mereka berteriak kaget serta ketakutan melihat mayat yang jatuh dari bayang bayang yang terdapat belati tepat pada jantungnya dengan bersimbah darah berwarna kehitaman menandakan racun itu mematikan.


Shizuka melempar pedang tersebut agar menghalau belati tersebut terkena kepada orang orang kekaisaran, tetapi ia kurang tepat karena masih ada satu belati yang siap ingin menusuk seorang pria pemuda yang menampakkan tatapan polosnya kepada belati tersebut dan ia segera lari sekencang kencangnya kearah dan memeluknya dan belati tersebut tertancap di pinggangnya saat ingin segera memeluk pria pemuda itu dan hampir memuntahkan darah tapi segera ia tahan dan menelannya.


Semua orang melihat itu terkaget membuat semua tamu undangan berlari lari karuan takut dengan ini. Kecuali keluarga kerajaan serta keluarga Mentri Rong.


" Maaf " Bisik Annchi datar namun terdengar lembut ditelinga Pria bungsu itu. Ia melepas pelukannya dan berjalan tegak walau ia terluka pada pinggang, ia berhenti berjalan sembari memegang belati yang tertancap pada pinggangnya dan dengan sekali menarik darah lansung merembes dan Annchi melempar belati tersebut kearah seseorang membuat semua orang kaget.


Pria serta wanita paruh baya yang melihat kejadian tersebut langsung bersiap siaga dan membantu. Mereka adalah Kaisar Chen dari kerajaan Jia dan Permaisuri tercintanya serta orang yang disamping mereka adalah putra pertama dari Kerajaan terkuat no 1 dibenua timur.


Kaisar Chen segera menggumamkan mantra sembari menutup matanya karena ia perlu fokus dengan pikirannya agar tetap tenang dan...


SRING...


Seketika aula pun hening tanpa ada kehidupan kecuali Keluarga seseorang tersebut serta Annchi/ Queen dan Kaisar Chen dan Permaisuri Tsu Zu dan putranya yang bernama Jiang Hongli.


Ternyata Kaisar Chen mentransportasi orang orang yang ada di aula ke ruang bawah tanah istana sebagai tempat pengungsian ketika terjadi bencana sejenisnya atau tempat perlindungan untuk para rakyat serta keluarga Kaisar.


" Bagaimana Mentri Rong " Ucap Annchi alias Queen sembari menyeringai melihat wajah Mentri Rong serta sekeluarga murka....


APA YANG TERJADI... TUNGGU CHAP SELANJUTNYA OK JANGAN KEPO πŸ˜‰πŸ˜‚


BYE... !