The Reincarnation Queen Of The World

The Reincarnation Queen Of The World
( CHAP 44 )



Happy Reading...


πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


Lanjut...


" Apa kau bosan hidup ! Heh, saya tak menerima rasa kasihan mu kepada ku. Saya muak dengan itu ! "


" Ma- maaf " pria itu sedikit bergetar menjawab.


" Cih, kenapa kau dikirim ke sini. Saya tak membutuhkanmu " Queen menyentakkan kerah pria itu dengan sadis.


" Uhuk, saya kesini atas perintah pemimpin " Ucapnya tegas.


" Si Bambang yang kirim kau kesini " Pria itu menaikkan alisnya sebelah tanda heran dan bingung dengan nama yang disebut Queen, kecuali Mo Tian.


" Si Kaisar jelek itu " Dan pria itu mengangguk.


" Pekerjaan kau itu kasim saya "


" Benar yang mulia "


" ... " Pria itu harap - harap cemas takut ditolak untuk bekerja sebagai kasim disini.


" Nama "


" Chyou yang mulia "


" Dari klan mana "


" Yang anda tahu, klan Kabut darah " Cahaya terkejut yang samar lewat di netra Mo Tian yang kembali tenang seolah tak terjadi apa apa.


" Hm, punya keluarga "


" Tidak Yang mulia "


" Apa kau jelek "


" Saya sangat tampan yang mulia " Sudut mulut Mo Tian dan Queen berkedut. Kenapa pria ini sangat narsis dan percaya diri, bahkan ada kata ' sangat ' dibelakang tampan itu.


" Kau berani " Dingin Queen entah kenapa menjadi arogan.


" Saya sangat ber-... "


Sring...


Tak...


Mata pria itu melotot selebar - lebarnya. Matanya bergetar menatap samping nya yang tertancap sebuah belati di dinding tiang yang terbuat dari kayu jati, ditengah tengah nya ada sebuah ukiran seperti papan target.


" Hem, lemah " Remeh Queen sembari mengambil belati itu dengan kasar tapi tancapan itu rapi.


" Refleksmu tidak bagus, saya terima tapi kau harus dalam pelatihan " Datar Queen menautkan kedua tangannya dengan siku yang di tumpukkan kemeja.


" Saya terima " Tegas Chyou sembari membungkuk dan mengepalkan tangannya.


" Dalam 1 bulan, kau harus segera berpotensi walau belum 100% tapi jika dibawah 99% kau akan kukembalikan ke klan " Mata Chyou melebar karena tercengang.


' Apakah bisa, wah aku jadi benar benar takut sekarang ' Batinnya gelisa tapi diluar dia menampilkan raut santainya tapi tidak dengan matanya.


" Menerima perintah " Suara itu terdengar dingin sama seperti Queen tapi masih lebih dingin Queen.


" Antar dia dan latih " Dingin dan datar Queen mengandung nada perintah.


" Diterima "


Sring...


" Wah aku tidak menyangka " Queen menatap Mo Tian datar walau tertutupi kain.


" Kau arogan juga kasar yak, aku tak pernah menduganya " Datar Mo Tian.


Queen tak mempedulikannya dan hanya mengambil gulungan dan membukanya. Mo Tian menatap gerak - gerik Queen dengan lekat tanpa bosan sama sekali.


Ia berdiri dan berjalan perlahan ke belakang Queen. Masalah kekeringan disebuah desa yang terkenal akan bambunya. Sesuai namanya, adalah Desa Bambu yang terletak di sebelah bagian timur ujung benua ini.


Tapi ia mengalihkan pandangannya ke pundak Queen yang tertutupi oleh kain katun. Queen merasakan pundaknya tertimpa sesuatu ia menoleh.


" Apa yang kau lakukan " Mo Tian hanya acuh dan hanya diam sembari menutup matanya. Aura yang dikeluarkan oleh Queen sangat luar biasa, damai dan tenang. Mo Tian sedikit merapat dan memeluk Queen lembut, dan mendusel di tengkuk leher Queen dengan nyaman.


Karena posisi mereka duduk dilantai, membuat Mo Tian semakin mudah memeluk Queen.


" Biarkan seperti ini sebentar " Serak Mo Tian mendusel.


" Hm " Queen tak peduli dan mengerjakan gulungan itu, walau tak dapat melihat dengan mata kepala sendiri dia tetap bisa mengerjakan sesuai dengan naluri ataupun perasaan insting nya. Jangan lupa dia dapat melihat dengan pikiran.


Hari mulai petang, Queen tanpa makan dan minum menyelesaikan gulungan tersebut. Ia lupa jika Mo Tian masih ada disini. Dia menoleh mendapati wajah Mo Tian sangat dekat, Queen menatap Mo Tian lekat. Dan tak lama, pria itu menggeliat dan bergumam.


" Elus " Gumamnya merengek seperti pernah terjadi saat peristiwa dalam hutan itu. Queen tak peduli membuat Mo jengkel dan menarik tangan Queen untuk mengelus kepalanya.


Bugh...


Mo Tian sedikit terkesiap ketika dia sudah terbaring dengan kepala nya yang menindih paha Queen.


" Kau sangat merepotkan " Datar Queen sambil mengelus kepala atau rambut Mo dengan lembut.


Pipi Mo Tian bersemu, menatap Queen dari atas. Betapa indahnya ciptaan sang pencipta ini. Elusan itu membuatnya nyaman dan merasakan kupu-kupu beterbangan dan debaran aneh yang selalu membuatnya merasa linglung.


" Ekhem, Yin " Mo Tian yang ingin memanggil Queen lebih dekat dengan 'er namun tak jadi dan hanya memanggilnya dengan singkat.


" Hm... " Queen memilin rambut Mo Tian yang berwarna hitam legam itu. Ia tak menyangka rambut pria ini sangat halus dan lembut.


" Bagaimana dengan bocah itu ? " Tanya Mo Tian.


" Tian " Mengerti dengan arah pembicaraan, Queen menjawab tanpa ragu.


" Hem... "


" Apanya "


" Penilaianmu terhadapnya " Mo Tian sedikit merasa gugup dalam hati.


" Mmm... dia seperti bocah ingusan " Diam diam Mo Tian merenggut.


" Tapi, saya senang kalau dekat dengan dia karena dia polos dan idiot. Tanpa dibuat - buat seperti pembohong "