The Reincarnation Queen Of The World

The Reincarnation Queen Of The World
( CHAP 42 )



Happy Reading...


πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


Hari - hari yang dilalui oleh Queen dengan jabatannya yang sekarang. Memimpin sebuah jabatan membuat ia sedikit tidak bebas dikarenakan harus berurusan dengan para mentri maupun jabatan lainnya yang setiap saat ingin menjilatnya.


Ia juga tak pernah bertemu Tian setelah kejadian sebelum ia tidur bersamanya.


Semua berjalan mulus hingga pada malam hari dia merasakan pusing yang luar biasa. Dan matanya perlahan - lahan mengeluarkan sungai berwarna merah pekat, dengan simbol aneh yang ada di dahinya.



Yah kayak gini. Sensasi panas dari dahinya membuat ia berdesis dan memegang dahi tersebut. Matanya seolah - oleh berubah dari merah darah, perak, hitam, dan violet mata aslinya. Matanya sekarang mulai terasa sakit dan menutup matanya agar rasa sakitnya berkurang walau sedikit, namun entah kenapa tidak bisa.


Kediamannya terasa mencekam karena rintihan lirih Queen. Mencoba telepati sang pasutri alias paman dan bibinya agar datang kekamarnya.


' Bangun dan segera kekamarku '


Seolah bel darurat, pasutri serta kakek dan nenek langsung muncul disana.


BRAK...


Tanpa diduga, pintu langsung roboh dan rusak akibat ulah si Kakek Chen. Namun saat ini pikiran mereka tertuju kepada seseorang yang sangat mereka sayangi.


" QUEEN ! " Pekik mereka dan berusaha tenang kakek Chen segera mendekati Queen yang duduk di samping kasur dan segara mengulurkan tangannya ke mata Queen. Tanpa kakek Chen sadari, simbol yang tepat pada dahi Queen tadi langsung menghilang ketika orang orang ada disini.


" Gawat, Queen mengalami pusaran darah. Kekuatan mata itu mulai bangkit "


" Apa ! Bagaimana bisa. Umurnya belum beranjak tapi kenapa ia merasakan pusaran darah ketika belum umurnya ? " Mata mereka terbelalak dan menatap kasihan ke arah Queen yang memejamkan matanya dengan dahi berkerut dalam. Saat ini Queen berbaring diranjang dan orang - orang mengelilinginya.


" Apakah efeknya nggak bisa hilang, lihatlah dirinya. Kita tak pernah melihat dia seperti ini, dahinya berkerut dalam mungkin karena menahan rasa sakit " Sendu Tsu Zu dan nenek Chen sambil menatap anak dari seseorang yang mereka anggap luar biasa sekaligus seorang keluarga yang sangat mereka sayangi seumur hidup dan mati.


" Tunggu, Ming... " Kaisar Chen langsung mengerti dan berjalan ke samping Queen dan jari tengah dan telunjukkan ia arahkan ke tengah antara alis nya yang terlihat diukir khusus oleh sang pencipta namun bukan saatnya memuji.


Dahi yang awalnya berkerut kini menjadi normal dan tenang. Napas Queen juga terdengar teratur menandakan ia terpulas setelah melewati tahap kesakitan yang berada di bagian mata.


Semua pun langsung menghela napas lega sembari tersenyum lembut. Kaisar Chen menutup mata Queen dengan kain yang sudah diberi sesuatu agar Queen tak selalu merasa perih dimata.


Nenek Chen pun mengelus lembut rambut dan kepala Queen, tanpa diberitahu dia sangat sayang kepada cucunya ini walau mereka agak canggung ketika berdua dan Queen yang mempunyai sifat yang dingin dan acuh, membuat sang nenek merasa harus sedikit jaga jarak. Ingat garis bawahi sedikit nggak lebih, namun ia tetap memerhatikan Queen dan menyayanginya layaknya seorang cucu.


" Apakah kita harus membawanya ke Klan " Tanya Kaisar Chen ke sanga ayahnya itu.


" Ya, kita harus mendiskusikan tentang mata Queen dan mencari pengobatan agar nanti tidak repot. Ini juga berbahaya dikarenakan umurnya yang belum cukup untuk mendapatkan mata ini " Serius Kakek Chen dengan sedikit dingin.


" Itu terdengar aneh, mata itu seharusnya ketika anak - anak berumur 10 tahun tapi entah Queen berbeda. Apakah karena... " Tsu Zu menjeda karena mewanti wanti sesuatu.


" Semoga saja tidak. Kita harus kembali, kita jangan membuat keributan atau Queen akan bangun " Ucap nenek Chen membuat semua mengerti dan menghilang menggunakan jurus telesportasinya dan memperbaiki pintu dengan tenaga supernaturalnya yaitu kayu atau bisa dibilang tanaman tumbuh menjadi pintu geser yang sempurna tanpa lecet.


Kriet...


Dwaecitan dari jendela. Dan terlihatlah sosok tubuh tegap dengan zaoshannya yang sedikit berkibar dikarenakan angin malam. Sosok itu bagai dewa yang datang dari dunia fantasy, dengan aura dingin dan agungnya membuat ia tampak lebih sempurna. Sosok itu menatap Queen dengan arti yang tak dapat diungkap.


Perlahan mendekat dan berdiri disamping Queen. Dan perlahan ia mendekatkan tangannya ke kepala Queen, namun ia ragu. Tapi dengan yakin ia mengelus rambut itu kaku namun berusaha lembut.


Tatapannya sedikit menyendu dibalik tatapan tajamnya.


" Kau pasti merasa sangat kesakitan. Maaf, aku menambahkan banyak beban di tubuhmu " Dengan tatapan bersalah ia meminta maaf kepada lawan jenisnya itu. Jika orang ada yang mengenal dirinya mungkin akan langsung meninggoy ditempat karena si pria tampang es ini berujar maaf dan berbicara lembut. Mungkin mereka berpikir dua kali, apakah kiamat sudah dekat ?...


Termasuk Zu Ling yang tak menyangka, seorang yang kejam berdarah diri melebihi dia yang bahayanya seperti bunuh orang dan dingin kepada semua itu bisa berujar seperti itu.


Zu Ling bungkam sebelum.


" Wei Mo Tian, kau beruntung lagi ! " ~ smirk