The Reincarnation Queen Of The World

The Reincarnation Queen Of The World
( CHAP 45 )



Happy Reading...


πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


Lanjut...


" Tapi, saya senang kalau dekat dengan dia karena dia polos dan idiot. Tanpa dibuat - buat seperti pembohong dan bermuka dua " Yakin Queen, Mo Tian terkekeh kecil dan memilin rambut panjang Queen tapi didalam hati dia merasa campur aduk.


" Bagaimana jika dia tidak seperti yang kau bayangkan " Pelan Mo menatap lekat manik Queen yang selalu tersirat misterius jika ditatap lebih dalam.


" Hm... mungkin ku menjauhinya dan tak ingin melihatnya " Mo Tian merasa miris akan hal itu.


' Maaf, sepertinya kau akan menjauhiku juga jika kau mengetahui sebenarnya siapa aku '


" Hey... "


" Hm "


" Menurutmu, bagaimana denganku "


" ... "


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disisi lain, Kaisar Chen, Tsu Zu, kakek Chen, bahkan sebagian keluarga inti berkumpul di aula kecuali Queen. Terlihat mereka sangat serius...


" Besok kita harus membawanya ke desa, walaupun sebenarnya umur Queen itu kalau nggak salah 16 tahun, tetap saja dia kembali menyusut beserta umur " Tegas Kakek Chen.


Sebagian dari mereka terkaget, tak menyangka putri yang dibanggakan jiwanya sudah remaja.


" Tak lama lagi, umurnya akan bertambah menjadi 10 tahun. Umur yang seharusnya mengalami pusaran darah ketika berumur 12 tahun, harus mengalaminya diumur masih dibawah "


" Dia termasuk orang yang abnormal di klan "


" Jika tidak segera membawanya, mungkin seluruh kekuatannya akan musnah dikarenakan mengalami pusaran darah "


" Itu akan sangat berbahaya " Ucap salah satu dari mereka.


" Itulah, kita harus persiapkannya malam ini untuk berangkat " Kakek Chen berdiri.


" Rapat hari ini selesai, kalian bersiaplah yang mempunyai ' nya ' "


" Baik "


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Menurutmu " Queen menatap Mo Tian.


" Hm... biasa saja " Jujur Queen seperti tak ada dosa. Mo Tian melototi Queen segera cemberut.


' Apakah aku harus berpenampilan kaya si Tian sialan itu, agar mendapat perhatian Yin' er. Hih... apa istimewanya dia itu, dan kenapa aku merasa tak terima yak !?? ' Batinnya.


" Apa benar saya tak ada istimewanya " Dingin Mo Tian mencoba menggertak.


" Ho' oh " Angguk Queen.


" Kenapa kau jujur sekali " Gerutunya kesal.


" Tapi... " Jeda Queen.


" Tapi apa ?? " Mo Tian menggu dengan berharap.


" Bisakah kau menyingkir dulu, saya mau buang air " Dengan terperangah Mo Tian bangkit dan Queen berlalu dari sana.


" Wah, dia membuatku kesal, kenapa dia berubah menjadi menyebalkan seperti ini " Setelah mengucapkan itu, dia merubah tatapannya menjadi dingin.


Swosh...


" Salam yang mulia " Ucap bayangan yang sedari tadi mengintai tuannya itu.


" Kau siapkan undangan kerajaan Wei untuk berkunjung ke Kerajaan Jian, tanyakan ke baginda ayahanda untuk membuatkanku itu " Dingin Mo Tian.


" Dilaksanakan " Setelah itu, bayangan pergi tanpa meninggalkan jejak namun ada daun kecil dengan segera Mo Tian membakarnya tanpa menyentuh.


" Yin' er, apa yang kau bawa ? " Datanglah Queen dengan membawa nampan kecil.


" Teh " Mo Tian penasaran pun duduk dan membiarkan Queen menyajikan teh tersebut. Wanginya nampak tak asing dari teh biasanya dan warnanya juga, itulah yang ada dipikiran Mo Tian.


" Teh apa ini ? " Tanya Mo Tian sambil mengendus aroma teh yang bubuk itu.


" Teh greentea " Datar Queen sambil membuat teh hijau tersebut.


" Teh greentea, apa itu ?! " Beo Mo Tian, dia penasaran dan hanya diam.


" Kau mau hangat atau dingin " Mo Tian menaikkan sebelah alisnya namun menjawab...


" Yang hangat " Ucap Mo Tian sedikit ragu.


Queen membuat yang hangat terlebih dahulu. Dia menuangkan bubuk dan menyeduhnya dengan air hangat, dia mengaduknya menggunakan pengaduk bambu yang berasal dari Jepang.



Queen menyiapkan cangkir yang sudah ada susu cream kocok didalam. Menuangkan bubuk teh hijau tersebut secara perlahan agar hasilnya tak amburadul dan yap, udah jadi.



" Cobalah " Dengan penasaran Mo Tian menyeruputnya dan mengecap rasanya. Satu kata yang cocok untuk ini, sangat nikmat. Agak pahit namun ini enak, Ia tak pernah merasakan rasa seperti ini.


" Ini teh hijau " Pantas saja rasanya tak asing ternyata.


" Hm " Dehem Queen.


" Ini enak, aku menyukainya " Jujur Mo Tian, ia merasakan rasanya lebih enak dari teh hijau alami yang pernah ia rasakan.


Tiba - tiba ada burung merpati pos atau pembawa pesan datang dan bertengger manis di tangkringan parrot khusus bertengger para burung pembawa pesan


Mengambil pesan tersebut di kaki burung tersebut dan memberi makan sebelum merpati itu pergi.


Bum...


Gulungan itu membesar dan membukanya. Menaikkan sebelah alisnya.


' Hm kerajaan Wei mau berkunjung '


" Ada apa Yin ? " Tanya Mo Tian.


" Ada kerajaan yang datang berkunjung nanti " Mo Tian mengangguk seolah - olah tak mengetahui sesuatu.


" Bukankah kau pangeran dari kerajaan Wei " Mo Tian sedetik mematung dan menjawab.


" Benar " Angguk Mo Tian.


" Pulanglah " Mo Tian diam - diam mendelik, kenapa dia selalu di usir seperti ini. Tapi dia menuruti karena ada urusan yang baru saja menghampirinya.


" Kalau begitu, aku pergi " Mo Tian menghilang tanpa jejak.


Queen berjalan ke jendela menatap langit yang sudah mulai menggelap. Dia tersenyum sinis...


" Aku membantumu agar leluasa menyamar... Tian "