
Happy Reading...
ππππππππ
Lanjut...
Malam hari...
" Yang Mulia ada pesan dari baginda Kaisar " Ucap seorang kasim yang sudah tua yang bekerja dengan kaisar datang mengunjungi Queen.
" Apa itu ? " Datar Queen tanpa mengalihkan tatapan nya dari gulungan walau ia tak dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri.
" Besok yang mulia harus bersiap ke desa kabut " Kasim itu mengerutkan dahinya bingung.
" Hanya itu " Kepala Queen terangkat.
" I-iya Yang Mulia " Ucap kasim itu terbata bata.
" Hm... kau kembalilah " Kasim itu menunduk dan berlalu.
Queen membereskan mejanya dengan sekali jentikan jari dan berlalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
" YANG MULIA PUTRI MAHKOTA TELAH TIBA ! " Teriak seorang kasim yang menjaga didepan pintu. Semua yang ada di dalam mengalihkan perhatian nya ke satu orang yang tak lain adalah Queen. Keluaraga kerajaan yang mengirimkan surat kunjung tadi siang pun terpesona dan kagum akan aura yang dikeluarkan Queen.
" YIN' ER " Teriak Tian yang duduk di salah satu dari sana pun beranjak dan dengan cepat berjalan ke Queen.
Tunggu dulu, ada yang aneh... mata mereka membola ketika melihat sesuatu yang tak terduga.
Hyat...
Bruk...
Queen hampir oleng karena ulah Tian. Tian ternyata melompat ke gendongan Queen, sungguh tak terduga. Dan lihatlah tampang bodoh nya itu seolah tak berdosa, membuat mereka menggeleng takjub. Untung Queen kuat mengangkat beban hidup, eh salah beban berat.
" HIKS.... HWAAA~ YIN' ER, TIAN RINDU HIKS... " Ucap Tian sambil menangis keras.
" Jangan teriak " KEWOT Queen membuat Tian cengengesan sambil sesegukan.
Note : KEWOT ( KEtus + seWOT ).
" Hehe... Yin' er, Tian rindu " Cengengesan Tian sambil memeluk Queen dengan sangat erat, hampir membuat Queen sesak napas.
Sedangkan Queen, ekspresi wajah nya kian menghitam.
' Pria ini... ' Queen diam - diam menggeram.
Kakek Chen, Kaisar Chen, Tsu Zu, dan Nenek Chen pun hampir menyemburkan tawanya. Sama halnya dengan yang lainnya, namun mereka tahan agar tak membuat Queen tambah menghitamkan wajahnya.
' Kagak ada akhlak ' Batin Kakek Chen, Kaisar Chen, Tsu Zu, dan Nenek Chen, jangan lupa Queen.
" Ish... kenapa sih baru kesini ! Ah... Andai saja Tian bisa kesini lihat Yin' er, tambah cantik saja " Tian mengelus dan mencubit cubit pipi tembem Queen yang mulai memerah karena cubitan Tian dipipinya.
Queen menatap datar Tian yang ada digendongannya.
" Bisa kau berhenti " Tian menatap Queen dan menjadi kikuk sendiri dan melepaskan tangannya dari pipi Queen.
" Chen Mei Yin " Panggil Kaisar Chen, Queen menatap Kaisar Chen beserta para tamu kerajaan Wei pun menundukkan kepalanya.
" Salam semuanya " Singkat + datar, hingga membuat semua orang melongo. Queen duduk diantara mereka namun Tian ada dipangkuan Queen bagai ayah yang sedang dipangku oleh anaknya sendiri. Bagaimana tidak, badan Queen yang mungil harus tertindih oleh tubuh besar dan tinggi Tian.
" Jadi Kaisar Wei, apa motif anda untuk mengunjungi kerajaan kami " Tanya Kaisar Chen.
" A- ah... sahabatku, kami datang berkunjung disini ingin membahas sesuatu. Kebetulan salah satu anak kami merindukan putri mahkota kerajaan mu " Ucap Kaisar Wei agak kikuk saat ucapan terakhir.
" Ah, rindu hm " Angguk Kaisar dan saat itu Tian berbalik menampilkan wajah julidnya karena habis nangis, sudut mulutnya seketika berkedut.
" Silahkan minum " Tsu Zu serobot karena Kaisar lama diamnya jadi dia berinisiatif.
Sedangkan Tian dan Queen sibuk dengan dunianya sendiri.
" Yin' er " Tian memeluk lembut Queen sambil mendusel di leher Queen yang bukan lagi tertutupi oleh rambut, melainkan kerah pakaiannya.
" Hm " Queen hanya diam dan menatap datar didepannya.
" Hiks... kau merindukan ku " Bodoh Tian.
" Tidak " Cuek Queen.
" Hiks... kenapa ? " Lesu Tian.
" Entah " Asal Queen.
Seketika Tian memberontak membuat Queen melotot dan meringis.
" Ssh... " Desis Queen membuat Tian berhenti memberontak dan menatap Queen dengan mata memicing.
" Yin' er, kau mendesah " Queen melotot sama halnya dengan yang lain karena mereka fokus dengan perdebatan nya sedari tadi.
" Kau... siapa yang ajarin " Geram Queen.
" Gege Hong Juan "
Brush...
Uhuk...
Orang yang namanya disebut tadi pun tersedak dan menyemburkan teh yang ia teguk tadi.
Semua pun menatapnya tajam tak terkecuali keluarganya yang lebih menatapnya bagai musuh, tapi Queen tak bisa karena tertutup kain, tapi Hong merasakan tatapan menusuk sangat menusuk ke arahnya.
" Ternyata putramu yang satu ini mesum juga, " Ledek Kakek Chen memecahkan keheningan.
" Sama sepertimu kawan " Kaisar Wei seketika kikuk.
" Ma- mana ada "
" Pangeran ke 3 " Hong Juan melirik patah patah kearah Queen.
Wush...
Tak...
Glek...
Hong Juan melirik tanpa menggerakkan kepalanya kesamping dan melihat sebuah belati sudah tertancap dinding di sebelahnya, hampir mengenai matanya. Seketika dia melemas, Queen melempar cepat belati miliknya bahkan tak bisa dilihat dengan mata ketika Queen yang melempar.
Padahal Queen tak menggunakan kekuatannya untuk melempar dan hanya menggunakan tenaga.
Tak lagi mempedulikan Hong Juan yang sudah Mental breakdown, Queen mengacuhkaan dan lanjut minum.
" Queen " Rengek Tian sambil menggoyangkan badannya.
" Jangan banyak gerak Tian " Sabar Queen.
" Kenapa ? "
" Kau berat dan bokongmu tajam "