The Reincarnation Queen Of The World

The Reincarnation Queen Of The World
( CHAP 28 )



MALAM BERLALU...


Matahari telah terbit, semua penghuni kediaman Kerajaan Jia telah terbangun. Kecuali dengan gadis yang masih terlepap bagai mayat, sekeluarga pun pergi ke kediaman lavender milik Queen.


Tak segan segan Kakek Chen menendang pintu kediaman tetapi tidak terlepas karena hanya menggunakan kekuatan lembeknya tetapi itu membuat sekeluarga menatapnya horor.


Brak..


" KAKEK / AYAH ! " Pekik mereka sembari menatap horor Kakek Chen.


" Hehe.. " Hanya dibalas Cengengesan olehnya membuat mereka jengkel setengah mati.


" Kakek kalau tulang belikatmu encok, bukan urusanku lagi " Geram Hongli ditekan.


" Cu.. kau sangat kejam " Ucap Kakek Chen seraya menampilkan muka nelangsanya.


" Cih.. Ayah ingat umur, kau sudah tua. Apakah kau bisa sedikit mengurangi sedikit kelebay anmu itu " Ucap Kaisar Chen dengan nada meledeknya.


" Dasar anak durjana " teriak Kakek Chen murka.


" Durhaka ayah dur.. ha.. ka " Geram Tsu Zu sembari mengeja kata dengan frustasi.


" Oh iya hehe.. Kita ulangi, Ekhem.. DASAR ANAK DURHAKA ! " teriak Kakek Chen ke Kaisar Chen.


Jleb..


Kaisar Chen memegang dada kirinya sembari menampakkan wajah sedihnya.


' Ck.. kok gw punya bokap gini amat, mana begonya nggak ketulungan lagi ' Umpat Kaisar Chen ke Ayah tercintanya itu.


" Chen Ming Hao Kau Tahu! Mengumpati Orang Tua tidak baik loh " Ucap Kakek Chen dengan nada rendahnya.


Glek..


Kaisar Chen meneguk susah payah salivanya, bahkan dengan nama lengkapnya disebut seperti itu bisa membuat nya diam seribu bahasa.


" Hahaha... anda kalah telak " Ucap Kakek Chen sembari tertawa penuh kemenangan membuat Kaisar Chen mengelus dadanya sabar. Sedangkan Tsu Zu dan Hongli hanya diam menahan tawanya melihat perdebatan ayah dang anak ini.


" Sampai kapan kalian berdebat seperti itu, kita datang kesini bukan bukan mau berdebat tapi melihat Queen entah kenapa ia belum bangun dari tidur cantiknya itu " Kata Tsu Zu sembari berjalan masuk ke kediaman lavender yang sunyi itu. Semua nya mengikuti dari belakang. hingga...


" Astaga ini anak " Geram Tsu Zu melihat Queen yang masih terlelap di tidurnya.


" WOI ANAK DAJJAL, BANGUN LOE " Teriak Tsu Zu membahana hingga membuat Kediaman Lavender bergetar karena pantulan suara cempreng tersebut, tapi Queen tak terbangun dari tidurnya.


" Ibunda stop, sepertinya ia telah pulang ke rahmatullah. Mari kita doakan dia supaya tenang disana ! " Ucap Hongli se dramatis mungkin.


" Iya nak, semuanya hiks mari kita doakan hiks " Ucap Tsu Zu juga dramatis, semuanya pun begitu.


" Siapa yang berpulang hm " Tiba tiba terdengar suara lembut tapi mematikan itu membuat mereka menatap ketempat tidur dan langsung cengengesan. Queen sebenarnya tidak tertidur namun jiwanya sedang pergi ke ruang artefak milik orang tuanya untuk melihat lihat, tetapi mendengar keributan dari luar sana membuat ia kembali ke tubuhnya dan melihat semua sedang merapalkan doa dan tunggu... Apa katanya ! apa mereka mendoakannya cepat mati, wajahnya langsung menggelap.


" Huaaaa.. sepupu akhirnya kau terbangun juga, ta.. tapi bisakah kau memperlihatkan wajah tampak ekspresimu saja dan emm mata nya jangan menatapku seperti itu hehe.. " Ucap Hongli sembari cengengesan, gugup.


" Ma.. maafkan kami Queen, janji deh tidak begitu lagi hehe " Ucap Tsu Zu terbata bata sembari cengengesan kikuk, semuanya pun begitu, Queen hanya menghela napas dan beranjak. Semuanya masih terdiam sembari menatap gerak gerik Queen membuatnya risih.


" Ada apa dengan kalian " Datar Queen.


" Lo mau kemana " Pertanyaan bodoh dari Kaisar Chen ke Queen.


" Ck.. gw mau mandi " Balas Queen dengan datar ke Kaisar Chen menggunakan bahasa gaulnya, dan berlalu kekamar mandi.


......................



Baiklah sekarang semuanya telah berada di ruang makan, hening yang menyelimuti. Mereka makan dengan tenang sesekali melirik Queen. Mengapa? Karena hari ini ia tampak imut, dengan rambut yang dikepang dua serta pakaian sederhana yang mereka tahu adalah pakaian dari jaman modern, wajahnya yang Cubby serta rona nya. Hah.. wajah itu sungguh mengerikan untuk mereka yang tidak kuat.


Setelah itu, mereka kumpul di gazebo sembari menikmati teh serta cemilan kecil, dengan keindahan aesthetic di sekitarnya menambah ketenangan dan kenyamanan tersendiri.



" Bagaimana kabarmu ? " Tanya Kakek Chen ke Queen.


" Hm " Deheman dari Queen membuat Kakek Chen kesal.


" Ck.. cu~ kau tak berubah, kenapa tidak sekalian kau kesambet saat berpindah " Gerutunya Kakek Chen membuat semua orang terkekeh kecuali Queen.


" Ternyata kau imut juga " Nilai Tsu Zu sembari menatp Queen dari atas sampai bawah dengan terkekeh geli.


" Iya, kau benar ! saat masih didunia modern kau saja tak pernah memakai pakaian santai seperti ini bahkan dirumah kau hanya menggunakan celana kain hitam, kaos putih, serta blazer senada dengan celanamu itupun jika rumahmu sudah dikantor ; atau kau menggunakan pakaian tomboy mu sebagai pakaian santaimu saat bepergian " Jelas Kaisar Chen.


" Kalian belum melihat sisi lainku saja " Acuh Queen.


" Emm, apa ini wujud aslimu " Tanya ragu Hongli ke Queen.


" Bukan " Singkat Queen datar.


" Pantas saja kau jadi pendek begini, ternyata kau mengalami penyusutan hahaha.. " Ledek Kaisar Chen sembari tertawa terbahak bahak.


" Cih.. diam lo bambank " Sarkas Queen sembari melempar kulit kuaci.


" Hei nama gw Bambam bukan bambank maemunah " Ucap bantah Kaisar Chen tak terima.


" Haduh mereka mulai lagi, tak di zaman sana dan disini mereka sama saja " Gumam Kakek Chen dan Tsu Zu sembari menepuk dahinya, kecuali Hongli yang mendengar gumaman mereka hanya terbingung.


" Hih.. kau selalu buat aku kesel lama lama gw pecat kao jadi ponakan " Geram Kaisar Chen sembari berekspresi Hih.. gemes pen sentil ginjalnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ”«.


" Pecat aja gw masih punya harta, berlimpah lagi " datar Queen membuat wajah Kaisar Chen sudah memerah dan sedari tadi sudah ada perempatan pada kepalanya itu, mungkin ada juga asap mengepul dari kepalanya.


" Hah.. kapan gw bisa menang beradu argumen dengannya " Lirih Kaisar Chen sembari menghela napas pasrah.


Tanpa mereka ketahui Queen menatik sudut bibirnya membentu lengkungan keatas memperlihatkan senyuman kemenangannya walau tipis.