
Happy Reading...
πππππππ
Keesokan harinya...
Seorang gadis yang terbangun dari tidurnya sembari meringis memegang kepalanya, ia duduk dan bersandar dikepala ranjang. Ada yang janggal dia meraba matanya dan hap, ia memegang kain yang menutupi matanya.
Ia membukanya dan menyesuaikan pencahayaan yang ada. Matanya masih sama seperti kemarin namun anehnya matanya sedikit berwarna terang namun masih gelap berwarna darah. Terlalu fokus dengan penglihatannya, ia merasakan rasa sakit itu menyerang lagi.
" Ssh... " Menutup matanya sembari meremas rambutnya sedikit kuat tidak membuat rambutnya rontok.
Hingga ia merasakan tangannya ditepis dan pundaknya disentakkan. Ia mengerjap karena sebuah mata berwarna merah kehitaman menatapnya dengan tajam dan dingin. Pundaknya terasa diremas sedikit kuat namun matanya semakin sakit ia menutup mata untuk mengurangi rasa sakitnya.
Sesuatu yang melingkar dipinggangnya dan telapak tangan besar berada dikepalanya.
" Tenang lah " Suara yang sangat ia kenal itu.
" Gege Mo Tian " Ya, pria itu adalah Mo Tian karena ingin lagi mengunjungi Queen dan melihat keadaannya.
Mo Tian tertegun dengan sebutan yang diberikan Queen.
" Sejak kapan kau memanggilku gege " Datar namun meledek.
" Hari ini " Lemas Queen, Mo Tian terkekeh kecil dan melepaskan pelukan yang ia buat sendiri.
Matanya menajam ketika darah Queen berada pada penglihatannya. Menghapusnya dan membaluti kembali mata itu dengan kain yang ada ditangan Queen.
" Saya mau mandi "
" Kenapa kau menanyakannya kepada saya, apakah kau mau aku mandikan " Goda Mo Tian.
" Karena kau ada dikamarku dan silahkan keluar " Datar Queen tak mengubris godaan yang keluar dari mulut Mo Tian.
" Baiklah baiklah, kalau begitu... "
Sring...
Mo Tian menghilang dan Queen hanya menghela napas.
" Dia sangat menyebalkan " Gumamnya jengkel dan berjalan ke kamar mandi.
Tak lama, Queen keluar dengan hanfunya yang berwarna hitam dengan corak emas di kainnya yang berbahan katun itu.
Dia yang akan menghiasi rambutnya sendiri tanpa bantuan pelayan atau bisa dibilang dayang. Hanya membayangkannya saja rambutnya telah berubah dengan riasan yang ringan.
Ia mengambil sebuah pedang peninggalan dari sang ibundanya yang dulunya pernah menjabat sebagai putri mahkota sebelum dirinya. Ibunda Queen dulu adalah seorang putri mahkota yang disembunyikan dipublik maupun rakyat sendiri. Itulah mengapa keadaan jabatan putri mahkota masih stabil hingga saat ini.
Mo Tian memandang Queen yang keluar dari bilik kamarnya dengan perasaan campur aduk. Tapi disembunyikan dengan rautnya yang dingin.
" Kau masih ada disini " Datar Queen sembari menyarungkan pedangnya dan ia gantung dipinggang.
" Ya " Queen hanya acuh dan berjalan ingin keluar ruangan tapi sebuah tangan menahannya.
" Ada apa ? " Tanya Queen dengan datar.
" Apa kau bisa berjalan sambil tak melihat " Tanya Mo Tian.
" Hah... apa kau bodoh tuan " Ucap Queen dengan nada yang ditekan.
" Apa maksudmu " Delik Mo Tian tak terima.
" Ekhem... saya hanya menanyakan apakah kau bisa beradaptasi dengan penglihatan yang tertutup seperti itu " Ucap Mo Tian berdalih mencoba mencari alasan yang logis dan Queen hanya mengangguk seperti percaya akan ucapan dari Mo Tian.
Tapi tanpa diketahui olehnya, Queen menyeringai dalam hati. Tentu Queen tahu apa yang dipikiran Mo Tian, rautnya saja tentu bisa dibaca jelas oleh Queen walau air muka Mo Tian datar sedatar temboknya aspal.
" Kalau begitu saya pergi dulu " Mo Tian masih diam menatap punggung Queen yang tegap dan mulai mengecil dari pandangannya.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
" Selamat pagi yang mulia putri mahkota " Ucap serempak seorang prajurit dengan hormat ala gongshou.
" Hm " Queen membalas dengan deheman dan masuk kedalam ruang kerjanya. Sedangkan kedua prajurit tadi hanya menampilkan wajah datarnya tanpa mempedulikan sikap Queen seperti itu, memaklumi karena sudah terbiasa.
Ruang kerja dengan arsitektur mewah dengan ukiran rumit berwarna emas disetiap dindingnya. Satu kata untuk ruangan tersebut, perfect. Ruangan ini suasananya gelap, tentu Queen sangat menyukai jika ruangannya gelap.
Tapi ada satu yang membuat Queen sedikit jengkel dan risih.
" Moge, kenapa disini ? " Datar Queen kepada orang tersebut. Mo Tian sedang minum teh di meja yang tak jauh dari meja kerja miliknya, seperti pada umumnya di dunia modern, jika diruang kerja atau CEO pasti ada tempat untuk mereka ingin beristirahat atau meeting pribadi seperti khususnya untuk CEO dan karyawannya.
" Kau lama sekali, aku duluan saja tadi " Acuh Mo Tian sembari menyeruput tehnya dengan gamblang.
Queen hanya menghela napas dan duduk di kursi kebesarannya. Sebelum itu Queen menaruh pedangnya di tempat pedang atas meja tak jauh darinya.
Tok...
Tok...
Tok...
Yang mulia, saya mengantarkan gulungan - gulungan anda !
Masuk...
Seketika diam - diam mata Mo Tian melotot. Kenapa tidak, seseorang yang membawa gulungan yang mengetuk ruangan Queen itu adalah seorang pria muda, bukan kasim yang membawa. Tampan, ya pria itu tampan tapi tak setampan dirinya.
" Siapa kau " Dingin Queen.
Pria itu menatap yang mulianya yang ditutupi kain oleh bagian mata membuat ia mengasihaninya. Tentu, dia tahu apa yang terjadi akan mata itu yang sekarang di baluti oleh kain.
Buktinya, ia sangat mengenal kain itu. Kain yang digunakan ketika seseorang yang mempunyai kekuatan mata khas klan kabut darah yang mengalami pusaran darah.
" Lancang sekali kau menatap yang muliamu seperti itu " Suara dingin itu membuat pria itu diam - diam merasa takut dan bergidik ngeri tapi ia berusaha tenang. Pria itu menunduk karena merasa sudah sangat lancang.
" Sa-... " Pria itu terpotong ketika kerahnya ditarik kuat dan disentak ke dinding. Lagi - lagi Mo Tian melotot melihat kejadian didepannya ini.
Pria itu membuka matanya dan tertegun melihat Queen yang menyentakkan nya ke dinding.
" Ya- yang Mu- mulia " Gagapnya karena terkejut dan tiba tiba dia dilanda gugup yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
" Hei apa yang kau lakukan " Mo Tian sedikit keras tapi ia tak bisa menghentikan apa yang dilakukan oleh Queen.
" Hei kau " Pria itu tambah gugup ketika suara dingin yang berasal dari gadis didepannya ini terdengar menusuk ditelinganya.
" I- iya... "
" Apa kau bosan hidup ! Heh, saya tak menerima rasa kasihan mu kepada ku. Saya muak dengan itu ! "