The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Penaklukan Goblin



Para petualang menatap ke arah Aludra dan Bellatrix dengan tajam setelah mendengar identitas Bellatrix melalui Takt. Tampaknya tidak sedikit orang yang mengenali Bellatrix sebagai pahlawan.


Waktu satu tahun mungkin sudah cukup untuk membangun reputasi. Aludra merasa sedikit menyesal karena tidak mengetahui informasi apapun satu tahun belakangan ini lantaran dia hanya meletakkan fokus untuk mencari jalan kembali ke bumi.


Aludra bersiap untuk melakukan pertarungan kalau saja para petualang menyerangnya. Dia tidak yakin bisa menang, tetapi Bellatrix harusnya kuat, jadi bukannya tidak mungkin mengalahkan mereka semua.


“Apa kamu baru saja bilang pahlawan?” ujar salah seorang petualang dan mulai diikuti seruan lainnya.


“Belum lagi pahlawan panah yang digadang-gadang sebagai pahlawan terkuat?”


“Yang benar saja … Pahlawan panah, Bellatrix ada di kota kecil seperti ini?”


“Lihat lencana yang terbuat dari Orichalcum! Bentuknya menyerupai busur dan anak panah.”


“Dari yang aku dengar para pahlawan memiliki lencana Orichalcum dengan bentuk dari senjata suci. Hanya ada dua belas yang seperti itu.”


“Maka artinya …”


“Itu tidak salah lagi-!”


Para petualang mulai bergetar hebat, sesaat Aludra berpikir mereka akan menyerang sehingga dia hampir menghunuskan pedang namun nyatanya tidak. Para petualang itu justru mengangkat tangannya serempak dan berteriak:


“NONA BELLATRIX!”


Aludra hampir bisa melihat mata mereka berubah menjadi bentuk hati. Dalam waktu singkat Bellatrix sudah dikelilingi para petualang yang ingin bersalaman dengannya.


Tampaknya pahlawan tak dibenci, seperti pada umumnya. Pahlawan begitu dikagumi namun Aludra merasa Bellatrix populer karena cantik. Faktanya mayoritas yang mengelilinginya adalah pria.


“Apa dia sepopuler ini?” gumam Aludra dengan jengkel karena harus terombang-ambing oleh para petualang yang mendekati Bellatrix.


Kini dia tahu alasan Bellatrix menyembunyikan identitasnya, itu karena para petualang akan ramai seperti sekarang ini. Bukannya takut atau segan akan identitas pahlawan, para petualang justru berani menghampiri dan mengatakan sesuatu seperti "Aku mencintaimu, menikahlah denganku!", dan berbagai kalimat lainnya.


Pada suatu waktu Aludra pernah mendengarnya dari Maria, bahwa para petualang adalah sekelompok orang berjiwa bebas dan kasar. Kehormatan ataupun gelar bukan hal yang luar biasa di mata mereka.


Butuh waktu yang tidak sedikit bagi guild menenangkan keributan tersebut. Pada akhirnya Aludra dan Bellatrix dialihkan ke ruangan VIP. Meski ada banyak keluhan dan seruan kekecewaan namun akhirnya keributan berhasil diredam.


Saat ia meninggalkan ruangan, Aludra menemukan tatapan sinis dari para petualang yang seakan berniat membunuhnya. Aludra tidak tahu apa maksudnya namun sepertinya mereka memikirkan hal tidak baik. Aludra tidak berpikir mereka akan macam-macam sehingga mengabaikannya.


“Saya mohon maaf atas kelalaian yang saya lakukan sebelumnya!” Takt menunduk dan berkata keras, penuh penyesalan. Bahkan Aludra bisa melihat bocah itu hampir menangis.


“Tidak, tidak apa, kok. Aku memakluminya,” ujar Bellatrix tersenyum masam selagi melambaikan tangannya seraya menolak permintaan maaf. “Lagi pula kamu anak magang dan ini pertama kalinya bertemu denganku jadi itu wajar.”


“Lain kali kamu harus berhati-hati, Takt,” ujar pria tua dengan rambut putih dan botak di bagian tengahnya. “Saya Bauman, selaku pemimpin guild cabang kota Dart, berterima kasih sebesar-besarnya karena anda mau memaafkan kesalahan memalukan ini.”


“Apa ada yang bisa saya bantu?” lanjut Bauman. “Jika anda kemari untuk quest, maka saya bisa menyediakannya.”


Aludra merasa tenang karena dia datang bersama Bellatrix karena ada berbagai hal tentang pengetahuan umum yang belum Aludra pahami tentang dunia ini.


Yang Aludra ketahui hanya sedikit dan bahkan dia mempelajari hal-hal umum melalui cerita Maria setahun belakangan.


‘Meski menjengkelkan mendengarkannya bercerita tanpa henti namun aku bersyukur karena berkatnya aku memahami sedikit budaya dunia ini. Lain kali aku akan berterima kasih dengan benar.’


Hanya butuh sedikit waktu bagi Bauman menyiapkannya sehingga Aludra bisa segera pergi ke hutan dalam.


Di perjalanan Bellatrix banyak mengeluh dan menghela napas karena banyaknya orang mengidolakannya. Dari yang Aludra ketahui diantara para pahlawan, Bellatrix sedikit lebih unggul namun tak hanya itu.


Bellatrix adalah orang yang baik, ramah, hangat dan juga cantik. Bukan berarti pahlawan lainnya buruk rupa hanya saja dari rumor yang beredar, kepribadian mereka tak begitu menyenangkan terhadap rakyat jelata. Berkat gelar pahlawannya, banyak diantara mereka jadi merendahkan orang lain.


“Mereka hanya bersikap sopan kepada sesama pahlawan, bangsawan bahkan orang-orang penting lainnya. Bahkan tak banyak orang kuat yang mereka hormati,” ujar Bellatrix.


Kekuatan yang terlalu besar mendatangkan kesombongan dalam diri seseorang sampai membuatnya lupa kalau dia tetap seorang manusia.


Dengan itu Aludra menyadari bahwa Bellatrix adalah orang yang paling normal dan mudah didekati. Oleh karena itu dia jauh lebih populer dibandingkan yang lain.


“Selain kamu, aku tak terlalu mengenal dekat yang lainnya. Apakah mereka semua orang baik menurutmu?” tanya Aludra.


Selain Bellatrix, Aludra hanya melakukan kontak dengan Alnilam. Itupun baru terjadi belum lama ini.


Bellatrix menatap langit dan tersenyum riang, “Ya! Beberapa dari mereka memiliki sikap yang buruk namun semuanya baik, kok!”


“Begitu, kah.”


Aludra tak melanjutkan basa-basi tersebut dan terus melangkah menuju titik perburuan mereka. Setelah melakukan perjalanan ke dalam hutan, mereka menemukan sebuah gua.


“Itu dia. Para goblin bersarang di sana,” ujar Bellatrix selagi mengeluarkan botol kecil berisikan darah. “Goblin memiliki hidung yang sensitif. Mereka sangat tertarik kepada bau darah dan juga gadis.”


Aludra telah membaca bahwa goblin sering menyerang wanita dan melakukan pemerkosaan kepada tangkapannya. Baik pria atau wanita takkan ada yang lolos namun kebanyakan wanita adalah korban.


Mereka dapat berkembang biak dengan cepat, tentunya tidak ada kasus manusia melahirkan goblin. Umumnya mereka yang menerima benih goblin akan terkena racun yang sulit disembuhkan. Oleh karena itu permintaan pemusnahan goblin tak pernah ada habisnya.


“Aku akan mendukungmu dari belakang, jika kamu tampak kesulitan maka aku akan langsung melenyapkan goblin-goblin itu, tak masalah kan?” ujar Bellatrix, membuka tutup botol berisi darah.


Aludra mengangguk dan meminum potion peningkat stamina, dia kemudian menghunuskan pedangnya, “Aku siap!”


Bellatrix mengangguk dan melemparkan botol berisi darah tepat ke depan hidung gua. Aludra perlahan mengambil langkah dan bersiaga di depan gua.


Dia bisa melihat beberapa pergerakan dari dalam gua. Makhluk hijau dengan kepala botak, mata putih sepenuhnya dan taring yang mencuat. Tubuhnya kurus dan pendek, hanya ada cawat yang menutupi selangkangannya.


“Mereka terlihat menjijikkan,” gumam Aludra selagi mengerutkan alisnya.