
Ada enam goblin keluar dari gua. Mereka membawa senjata berupa pisau kecil yang mungkin hasil rampasan dari merampok pedagang.
Setelah melihatnya secara langsung kini Aludra mengerti bahwa monster sungguh menyeramkan dan juga amat menjijikkan.
“Mari mulai,” Aludra tersenyum kecil, dia merasa adrenalin besar memenuhi dirinya serta jantung yang memompa lebih cepat dari biasanya.
“Kekekek!” Salah satu goblin tertawa seperti suara cicak dan menerjang langsung ke arah Aludra.
Aludra di sisi lain tetap tenang dan menarik napas dalam, “Mari lihat apakah aku masih ahli dalam hal ini. Sudah lama aku tak melakukannya.”
Hanya tinggal beberapa meter lagi jarak keduanya dapat menyentuh satu sama lain. Aludra dengan tenang mengambil langkah menggunakan kaki kanannya, bentuk kuda-kuda.
Goblin tersebut melompat ke arahnya namun saat monster itu mencapai garis tebasan, Aludra dengan cepat berputar dan mengayunkan pedangnya 360 derajat, yang dengan tangkasnya membelah dua tubuh goblin tersebut.
Darah merah yang amis terciprat ke wajahnya namun itu tak membuat Aludra mengendur. Aludra tak bangga karena berhasil membunuh satu lantaran masih ada lima lainnya yang menunggu.
“Jika kalian tak datang, maka biar aku saja!” Aludra dengan cepat bergerak menuju salah satu goblin. Gerakannya begitu cepat sampai para goblin cukup terkejut.
Aludra mengayunkan pedangnya dengan kuat namun tak terduga goblin incarannya berhasil menahannya dengan susah payah. Aludra cukup terkejut karena serangannya bisa dihentikan, tetapi dia tak memiliki waktu tuk kagum. Toh, dia sadar bahwa pertarungannya takkan mudah.
Goblin lainnya melompat ke arahnya dari sisi lain, Aludra melompat menjauh dan merunduk untuk menghindari tikaman, dengan tangan kirinya dia meraih tangan goblin dan membantingnya ke tanah.
Dengan celah itu Aludra menggunakan pedangnya dan menusuk leher dari goblin yang dia banting.
“Dua tewas, sisa empat,” ujar Aludra selagi mengamati sisa goblin yang ada.
Aludra dengan cepat mengambil pisau yang digunakan goblin itu dan melemparkannya ke goblin terdekat.
Pisau tersebut berhasil melukai sedikit tangan goblin yang coba menahannya namun itu hannyalah umpan. Selagi goblin tersebut sibuk menahannya Aludra sudah berlari ke arahnya dan menikam pedangnya ke perut goblin tersebut.
“Sisa tiga lagi—” saat Aludra bersiap membantai sisa goblin yang lainnya, dia telat menyadari kalau dirinya sudah dikepung.
Satu goblin hampir meletakkan pisau ke tengkuknya namun dengan sigap Aludra berhasil menangkis dengan pedang, hal itu menyebabkan pedangnya sedikit retak.
Serangannya belum berakhir. Goblin lainnya dengan cerdas menyerang dari tempat di mana pedang Aludra tak bisa mencapainya.
“Sial!” Aludra mengumpat dan nekat menahan pisau goblin tersebut dengan tangannya langsung.
Rasa sakit dari tangan yang teriris, darah meninggalkan tubuh Aludra melalui tangan kirinya. Dengan sigap Aludra mengambil pisau dari goblin tersebut, tetapi dia lengah dan membiarkan satu goblin lainnya menusuk bahu kanannya dari depan.
“Keparat!” Aludra mengumpat dan membenturkan kepalanya ke goblin tersebut.
Rasanya sedikit sakit dan membuatnya berkunang-kunang namun Aludra berhasil bertahan. Dia kemudian menarik goblin yang ada di genggamannya, Aludra mengambil pisau tersebut dan menusuk leher goblin sebelum melemparkannya ke goblin lainnya.
“Mati!” Aludra menggunakan pedangnya untuk membelah kepala goblin dan menyebabkan gagangnya patah. “Lima tewas, satu dalam perjalanan.”
****
Bellatrix menatap pertarungan Aludra dari kejauhan dengan terkesima. Awalnya memang mengkhawatirkan karena dia yakin Aludra tidak memiliki pengalaman dalam pertarungan yang mempertaruhkan nyawa.
Namun setelah melihat aksinya Bellatrix hanya bisa berdecak kagum. Aludra sangat berbeda dari ekpektasinya.
“Dia ahli kendo dan mengetahui beberapa gerakan bela diri,” gumam Bellatrix selagi tetap bersembunyi dan bersiaga.
Pertarungannya terus berlanjut sampai akhirnya Aludra terpojok.
“Aku harus membantu—” Bellatrix tak menyelesaikan kalimatnya.
Dia baru saja mau menarik busurnya, tetapi terhenti setelah melihat Aludra yang jelas bertekad untuk menyelesaikan semuanya sendiri.
Sorot mata Aludra seakan-akan mengatakan kalau dia takkan pernah menyerah sekalipun dunia adalah musuhnya.
‘Apa yang dia rencanakan? Jelas bukan hal mudah menghadapi semuanya hanya dengan kekuatan fisik,’ pikir Bellatrix.
Bellatrix tahu dengan jelas bahwa Aludra memiliki sangat sedikit Mana di dalam tubuhnya sehingga hampir mustahil baginya untuk menggunakan sihir.
Bisa dikatakan bahwa Aludra warga bumi tanpa apapun yang spesial dan harus hidup di dunia yang begitu keras. Sama seperti halnya melempar tikus ke kawanan singa dan mengharuskannya bertahan hidup.
Telat menyadari, Bellatrix menemukan Aludra tertusuk di bahu kanannya, meski begitu dia tidak tampak menyerah dan menemukan jalan keluarnya sendiri.
Sekali lagi Bellatrix berdecak kagum lantaran Aludra berhasil menghabisi lima goblin sendirian hanya bermodalkan kekuatan fisiknya saja.
Saat ini Aludra terlihat tengah berduel dengan goblin yang tersisa. Bellatrix tak bisa bersembunyi lagi dan memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
“Aludra,” panggil Bellatrix. “Biar aku saja yang menangani satu itu.”
Aludra terluka di bahu dan tangan kirinya, darahnya mengalir cukup banyak sehingga Bellatrix tak bisa diam saja. Meski begitu Bellatrix menemukan bahwa Aludra sama sekali mengacuhkannya, dia hanya mengatakan;
“Ini mangsaku.”
Bellatrix hanya terdiam dan mengangguk, jika Aludra menginginkan demikian maka Bellatrix hanya bisa menurut. Jika nantinya Aludra terpojok maka Bellatrix akan membantunya dengan atau tanpa persetujuan Aludra.
Awalnya Bellatrix ragu lantaran Aludra harus bertarung dengan tangan kosong namun hanya butuh waktu satu menit bagi keraguannya hilang. Dalam waktu singkat Aludra memberikan beberapa pukulan dan tendangan kuat.
“Apa dia juga bisa matrial art? Luar biasa.”
Dalam waktu singkat Aludra berhasil membuat goblin tersebut tak berkutik dan menusuknya dengan pisau.
“Kerja bagus,” ujar Bellatrix menghampiri Aludra dan memberikan potion penyembuhan. “Bahkan diantara para petualang bukan hal mudah mengatasi enam goblin sendirian.”
“Terima kasih, namun itu bukan pertarungan mudah,” ujar Aludra setelah meminum potion penyembuh dan menatap pendarahannya yang perlahan berhenti. “Ini sulit diterima akal sehat tak peduli berapa kali aku memikirkannya.”
Bellatrix hanya tersenyum masam lantaran hanya Aludra saja yang masih menggunakan logika dari bumi untuk dunia ini. Sejak pertama kali tiba, Bellatrix tidak lagi memikirkan keanehan tersebut karena di dunia dengan sihir hal itu adalah wajar.
“Meski goblin hanya monster lemah namun setidaknya kamu memiliki pengalaman berurusan dengan monster. Untuk sekarang mari—” Bellatrix menghentikan kata-katanya.
Dia menemukan sesuatu yang besar berada di dalam gua, dengan sigap dia memapah Aludra dan menjaga jarak dari gua.
“Apa yang terjadi?” tanya Aludra dengan penasaran.
Sedetik kemudian Bellatrix bisa merasa hembusan angin hangat datang dari dalam gua, angin yang berbau cukup busuk. Langkah besar mulai terdengar, monster berbadan singa dan berkepala elang menampakkan dirinya.
“Itu … Griffin?”