
Aludra mulai terpojok, enam orang pembunuh memblokir setiap rute pelariannya. Meski dia bisa mencoba menerobos keluar namun dia tak yakin bisa melarikan diri begitu saja.
Para pembunuh pastinya bisa mengejarnya, belum lagi adanya sihir menjadi satu hal merepotkan. Mereka adalah profesional, tidak lucu jika membiarkan amatir seperti Aludra meloloskan diri.
“Kamu adalah pria yang cerdik namun begitu terobsesi untuk kembali ke duniamu. Itu keberuntungan karena aku menemukan dongeng kecil tentang kekuatan dewa atau apalah di jurang ini.”
Eleanor mulai berbicara bahwa dewa takkan meninggalkan bagian tubuh apapun karena setiap anggota tubuh dewa yang terpisah dari tubuh akan segera melebur dengan alam.
“Mana miliki dewa? Ini lucu karena menurut penelitian setiap kerajaan, Mana tersebut sudah lama lenyap menjadi tumbuhan dan bahkan konsumsi monster! Singkatnya kamu takkan pernah mendapatkan apapun dari sini!”
Eleanor terus berbicara tanpa henti sementara Aludra terus diam sepanjang perkataannya. Diamnya karena terguncang oleh fakta yang diungkap Eleanor.
Semuanya adalah kebohongan belaka yang digunakan untuk menjebaknya? Lantas untuk apa perjuangannya selama ini?
“Sesungguhnya aku pikir mustahil kamu kembali. Jika dipikirkan dengan akal sehat, bagaimana caramu tahu bahwa sihir yang kamu gunakan akan tiba di tempat kamu berasal?”
“Semua itu … kebohongan?” Akhirnya Aludra yang mematung mulai berbicara.
Jurang Tanpa Dasar adalah harapan Alura untuk kembali ke dunianya. Bahkan jika pada awalnya itu hanyalah dongeng saja, setidaknya masih ada harapan.
“Manusia tidak akan pernah bisa menggunakan sihir dewa.”
Bahkan jika tidak pernah ada manusia menggunakan kekuatan dewa, maka Aludra akan mencari caranya dan menjadi manusia pertama yang mampu menggunakan kekuatan dewa.
“Sihir memang terus berkembang, tetapi sejak berabad-abad lamanya manusia tidak akan bisa melakukan hal-hal yang bisa dewa lakukan. Membuat sihir antara dunia adalah mimpi belaka. Oleh sebab itulah mengapa kita manusia tidak pernah bisa setara atau layak disebut dewa.”
Aludra yakin itu bukan mimpi, dia akan mewujudkannya menjadi nyata. Tak peduli apa yang Eleanor katakan, Aludra tetap akan berusaha untuk pulang.
“Bangunlah dari delusimu! Ini akhir bagimu, kamu takkan tahu atau pernah bisa untuk pulang!” Eleanor berteriak keras.
Aludra diam seribu bahasa, matanya menatap Eleanor dengan tatapan kosong, dia kemudian berdiri dan bangkit.
“Aku memiliki tawaran luar biasa untukmu; jadilah peliharaanku dan ibunda. Kamu takkan menderita, setiap hari adalah surga dunia bagimu. Segalanya akan bisa kamu miliki. Harta, tahta, bahkan tubuh ini!” Eleanor berkata dengan senang dan merona.
Mendengar itu Aludra mulai melangkah berat, lambat, dan menderita.
Langkah yang berisi kesedihan dan keinginan kuat untuk kembali. Tekadnya takkan goyah. Tidak dengan cara apapun.
“Kamu … berusaha mencuci otakku, kan? Dengan menyampaikan kalimat putus asa bagiku dan memberikan harapan untuk kenyamanan.”
Aludra tidak yakin dirinya benar namun pastinya Eleanor memiliki tujuan terselubung. Faktanya dia menginginkan Aludra.
“Kamu hanya salah paham,” Eleanor tersenyum. “Ibunda menginginkanmu menjadi anjing peliharaannya yang setia dan menurut tak peduli diperlakukan seperti apapun.”
“Sadar dirilah, meski para pahlawan jauh lebih menawan, tetapi kamu memiliki pesonamu sendiri. Kesetiaan terhadap keluarga yang jauh di sana membuatmu menarik. Bahkan tak hanya ibunda, aku sendiri cukup menyukaimu. Karena itu, jadilah anjing kami!” Eleanor merentangkan kedua tangannya, seakan-akan menyambut.
Bukannya datang dengan menurut, Aludra justru menarik pedangnya dan berlari keras, juga berteriak.
“JANGAN MAIN-MAIN, KEPARAT!”
Aludra menerjang langsung ke arah Eleanor namun dengan gesit para pembunuh itu menghadangnya.
Tanpa mengurangi kecepatan Aludra mengayunkan pedangnya dengan kuat, tetapi tanah di depannya segera naik dan membentuk dinding pemisah antara dia dengan pembunuh lainnya.
Aludra berhenti bergerak, dia menemukan dua pembunuh melompat dari tembok tanah langsung ke arahnya, dengan pisau kecil bergerigi di tangan mereka.
“Jangan bunuh ataupun meninggalkan bekas luka yang tidak hilang! Dia adalah peliharaanku, takkan ku maafkan jika dia ternoda!” teriak Eleanor dari sisi lain dinding.
Para pembunuh itu tampak kesal namun dengan patuh menurut. Serangan demi serangan dilancarkan ke arahnya, tidak dengan tujuan membunuhnya, tetapi melukainya dan membuatnya lelah.
Aludra berdecak kesal. Bahkan jika para pembunuh tersebut memiliki batasan atas tindakannya, mereka masih jauh lebih kuat. Aludra sama sekali tidak bisa mengimbangi pergerakan mereka.
Sangat jelas mana tentara yang terlatih dan juga tidak. Aludra tidak terbiasa bertarung melawan manusia seperti ini. Belum lagi jika dihadapkan oleh pilihan membunuhnya maka Aludra yakin dirinya tak bisa.
Hanya dengan beberapa gerakan dari pembunuh itu Aludra sudah memiliki luka di sekujur tubuhnya. Pisau bergerigi tersebut memotong dagingnya dengan menyakitkan.
Tak sampai membunuhnya, tetapi kehilangan banyak darah perlu dihindari. Bahkan saat ini kepalanya terasa sakit dan mulai kesulitan bernapas.
Para pembunuh tak lagi menggunakan pisaunya dan menggunakan tinju, babak belur sudah Aludra. Tak kuat memegang pedang, berdiri terhuyung-huyung dengan rasa sakit.
“Hentikan!” perintah Eleanor, menghancurkan dinding batu dan menatap Aludra.
“Hidupmu sudah tak berarti sejak kamu datang ke dunia ini hanya untuk menjadi sampah!” ujar Eleanor dengan sedikit tawa dalam suaranya.
“Kamu tampak begitu menyedihkan, ha ha ha! Dengan mudahnya, kamu tertipu oleh gadis yang lebih muda darimu!”
“Baiklah, biar saja bila kamu tak berminat menjadi peliharaanku! Ibunda akan mengerti. Kalau begitu, mengapa tidak kamu melompat ke dalam jurang? Barangkali kamu akan menemukan jalan pulang melalui kematian!” Eleanor tertawa meski raut wajah marah, panik dan berkeringat dingin.
Aludra berbalik, berjalan dengan lemah dan wajah tanpa emosi. Dia tahu takkan menang melawan para pembunuh itu. Jika kesadarannya hilang di sini, maka Aludra tak yakin bisa merasakan kebebasan.
Bagaimana tidak? Baginya setiap guntur yang berbunyi adalah ejekan atas perayaan para dewa atas penderitaannya.
“Apa yang kalian rayakan? Apa itu untuk merayakan penderitaanku? Bahagia rasanya melihat penderitaan dari orang yang kamu permainkan, ya!”
Aludra awalnya tidak percaya keberadaan dewa atau semacamnya sebelum dia datang ke dunia ini. Namun sekarang dewa, iblis dan malaikat itu nyata.
Mereka menciptakan sihir untuk memanggil manusia bumi ke dunia ini.
Akan tetapi, mereka tidak membuat sihir untuk mengembalikan seseorang ke tempat asalnya.
Lantas ketimbang berkah, ini seperti hukuman bagi Aludra. Hukuman yang lebih menyakitkan ketimbang kematian.
“Hal yang menyedihkan, kalian pasti amat menikmati ini keparat!”
“Apa dia sudah gila?” bisik seorang pembunuh.
“Entahlah. Aku tidak yakin, mungkin ini yang namanya putus asa.”
Putus asa. Kalimat yang penuh makna dan juga menyedihkan.
“Hahaha, inilah dunia. Penuh ketidakadilan dan kejam.” Aludra menengadah dan tertawa, menutup mata dengan tangan meski air tetap bocor turun ke pipi.
Aludra kemudian menatap jurang sekali lagi, kemudian menatap Eleanor dengan senyuman hampa. Wajah itu, adalah wajah pria yang kehilangan alasannya untuk tetap hidup.
“Aku akan kembali. Tak peduli bagaimana caranya, aku pasti akan kembali ke rumah. Bahkan jika harus mati di sini ... jiwaku pasti akan menemukan jalan pulang.”
Dengan kuat menjatuhkan dirinya ke jurang, menatap langit mendung dengan guntur. Dari sisi tebing Aludra menemukan Eleanor mengintip.
“Sampai akhir kamu takkan bisa kembali! Kamu akan mati tanpa pernah menyentuh dasar!”
Aludra tidak mengindahkan teriakkan Eleanor dan memejamkan mata. Dalam jatuhnya berbagai kenangan terlintas dalam benak.
Kenangan yang begitu indah, manis seperti madu, juga menyakitkan seperti racun. Banyak sekali kenangan indah yang kini menusuk hatinya.
‘Maafkan aku … aku takkan bisa lagi menemui kalian.’
Sudah tidak ada secercah harapan yang bisa Aludra kejar. Oleh karena itu pilihan terakhirnya adalah kematian, barangkali dia bisa kembali ke keluarganya. Mungkin, inilah harapan terakhirnya.
Seperti halnya dia yang terlempar ke dunia ini setelah jatuh, mungkin saja akan muncul fenomena di mana Aludra kembali saat jatuh ke dalam jurang.
Berpikir bahwa itu akan terjadi namun nyatanya tak ada apapun.
Aludra mengulurkan tangannya ke langit, dan saat itu juga sesuatu meraihnya, juga memeluknya.
“Aku mendapatkanmu!” teriak gadis dengan suara yang senang.
Aludra terbelalak, dia dapat merasakan peluk hangat dari gadis yang menangkapnya.
“Datanglah, Skype!”
Dengan teriakan tersebut seekor burung elang coklat muncul. Ukurannya cukup besar untuk menampung dua orang di punggungnya. Dengan cakar tersebut dia menangkap Aludra dan gadis yang menolongnya, segera melemparkannya ke punggung.
“Syukurlah masih sempat. Apa kamu baik-baik saja, Aludra?!” ujarnya dengan khawatir.
Aludra hampir kehilangan kesadaran, visinya mengabur dan menatap wajah yang menyelamatkannya.
“Kamu … Maria?”
Aludra hilang kesadarannya, memejamkan mata, segera setelah mengatakannya.
...****************...
Note:
Yo, kita bertemu lagi.
Tidakkah kalian merasa bahwa ayah dan anak (Rigel dan Aludra) memiliki kesamaan saat memulai takdirnya? Ya! Jurang Tanpa Dasar adalah tempat yang cukup penting.
Di seri The Legends of Creator Hero ada banyak hal yang saya belum jelaskan, karena sejak dulu saya sudah terpikirkan membuat karya tentang ayahnya, yakni Aludra.
Meski update tak beraturan, namun bisa saya katakan kisah ini layak dibaca. Berbeda dengan semua karya saya, mungkin ini satu-satunya karya di mana saya menyempatkan beberapa menit untuk proses editing, hehe.
Yah, hal lainnya adalah ...
19 bab awal dari novel ini adalah prolog. Dalam artian semuanya belum benar-benar di mulai, prelude.
Segalanya akan dimulai pada chapter 20. Mulai dari titik itu saya akan berusaha menyampaikan, seberapa busuk pria bernama Aludra ini.