
Aludra pergi ke halaman depan untuk menemui Bellatrix yang akan menemaninya namun dia terkejut bahwa Andrea ada di sana.
Tak hanya Andrea, tetapi istrinya, Elizabeth dan putrinya Eleanor juga ada di sana. Juga, Alnilam dan orang-orang lainnya. Aludra tidak asing dengan wajah-wajah tersebut.
‘Mereka orang-orang yang dipanggil sama sepertiku dan Bellatrix.’
Ini pertama kalinya sejak hari pemanggilan Aludra melihat mereka semua berkumpul. Tampaknya ada sesuatu serius yang sedang mereka bahas.
“Bellatrix,” panggil Aludra. “Apa yang terjadi?”
“Aludra,” ujar Bellatrix dengan wajah yang terlihat sedih.
Andrea menatap Aludra dengan tajam dan sedikit tersenyum, “Akhirnya kamu memutuskan untuk keluar setelah satu tahun lamanya, ya?”
Aludra tidak tahu apakah Andrea mengucapkan syukur atau ejekan karena cara bicaranya dianggap abu-abu.
“Aku telah menemukan harapan untuk kembali ke duniaku,” ujar Aludra, mendekat dan berdiri di sisi Bellatrix.
“Kamu? Menemukannya?” Andrea terlihat terguncang karena perkataan Aludra.
“Ya, ayah!” Eleanor lekas menyela, mencondongkan badannya dan tersenyum lembut. “Jurang Tanpa Dasar adalah harapan terakhir yang bisa dimiliki.”
“Jika kita berhasil mendapatkan bagian dari kekuatan dewa, maka bukanlah mustahil membuat sihir tersebut.”
Andrea mengangkat alis atas penjelasan Eleanor dan menatap Aludra, “Kamu percaya diri bisa menemukannya?”
Aludra tidak tahu mengapa Andrea menanyakan sesuatu seperti itu.
“Sejak awal aku takkan melakukannya jika tak yakin bisa mendapatkannya.”
Alasan Aludra sangat yakin pergi ke Jurang Tanpa Dasar adalah karena dia memiliki harapan juga keyakinan kuat terhadapnya. Aludra takkan melakukannya jika ia tak percaya diri.
“Tak ada satupun orang yang mencapai dasar dari jurang. Aku mengatakan ini demi kebaikanmu, kamu tak perlu mengambil tindakan paling berisiko di tahap awal.”
Andrea meminta Aludra untuk mencoba banyak cara dan menjadikan Jurang Tanpa Dasar sebagai pilihan terakhir mengingat resikonya adalah kematian.
Aludra tentunya tidak mengindahkannya dan hanya berterima kasih, meski begitu dia terkejut lantaran Andrea seakan mempedulikannya. Aludra berpikir kalau Andrea membencinya namun sepertinya asumsinya salah.
“Aku tahu ini berisiko namun pada akhirnya aku akan terus melakukan hal berisiko lainnya. Bahkan jika aku melakukan penelitian terhadap hal lainnya, tak dipastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan.”
Alasannya tergesa-gesa adalah karena tak mau pergi terlalu lama. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan keluarganya di bumi yang jauh sana.
“Begitu, maka sesukamu saja,” Andrea tidak berniat menghentikan Aludra.
“Kalau begitu Bellatrix, bisakah kita berangkat sekarang?” tanya Aludra.
“Untuk itu,” Bellatrix tampak kesulitan menjawabnya.
“Dia tak bisa pergi bersama pecundang sepertimu.”
Aludra mengerutkan alisnya dan menemukan seorang pemuda berkata demikian. Dia mungkin seumuran dengan Bellatrix, remaja dengan rambut panjang kebiruan, mata sebiru kristal dan tingginya nyaris menyamai Aludra.
Dia bocah tampan yang diberkati. Aludra tak menganggap dirinya sendiri tampan, tetapi jika dibandingkan dengan bocah itu maka Aludra akan tampak memalukan.
Melihat kapak di punggungnya, Aludra yakin bocah itu juga berasal dari bumi dan seorang pahlawan.
“Kamu hanya orang biasa yang kebetulan dipanggil ke sini untuk menjadi pecundang. Menjauhlah, jangan menempel pada kami dasar cacing tanah!” dia mendorong Aludra dengan sedikit kuat.
Aludra sedikit tersentak, dia mengerutkan alisnya dengan tidak senang karena sikap tersebut namun Bellatrix segera memposisikan diri diantara Aludra dengan pemuda itu.
“Hentikan ini, Mintaka! Kamu tak pantas melakukan sesuatu seperti merendahkannya!” bentak Bellatrix.
Entah kali keberapa bagi Aludra untuk terusik dengan nama orang lain namun untuk sekarang Aludra tidak akan memikirkannya mendalam karena situasi di depannya jauh lebih penting.
“Jangan hentikan aku, Bellatrix. Dia adalah aib bagi kita, pilihan terbaik adalah tetap diam menjadi ayam penyendiri di dalam perpustakaan.”
Mintaka mulai mengambil kapaknya dan menatap dengan tajam, “Minggir, ketimbang berakhir di Jurang Tanpa Dasar, sebaiknya aku yang menghabisinya.”
Sebelum Mintaka bergerak lebih jauh, Aludra menemukan pria lainnya datang menepuk bahu Mintaka. Sontak hal itu membuat Mintaka membeku.
“Orion,” gumam Bellatrix, dia tampak sedikit senang karena sesuatu.
“Tidakkah kamu dengar? Hentikan semua tindakanmu ini, Mintaka.”
“Bagaimana jika aku menolak?” tanya Mintaka.
“Kamu harus rela menerima akibatnya.”
“...” Mintaka menepis tangan pria bernama Orion itu dan berjalan menjauh, “Kalian sungguh menyebalkan, padahal aku hanya bercanda tentang ini.”
Aludra menghembuskan napas lelah untuk menenangkan emosinya. Meskipun dia tak takut namun Aludra tahu dirinya akan kalah jika bertarung dengannya.
Tentu saja, Mintaka adalah seorang pahlawan yang diberkati senjata dan kekuatan, sementara Aludra hanya manusia biasa. Perbedaan kekuatannya bagaikan langit dan bumi.
“Terima kasih,” ujar Aludra kepada Orion.
Orion, pria dengan rambut hitam dan bermata biru langit juga hijau tosca, orang langka dengan heterochromia. Aludra dapat dengan jelas mengatakan bahwa dari pahlawan lain, pria ini paling berbeda. Baik dari segi penampilan dan juga pembawaannya.
“Bukan masalah,” ujar Orion. “Sayangnya Bellatrix tak bisa memberikan bantuan padamu. Kami harus menghadapi seekor naga yang membuat kekacauan.”
Orion menjelaskan bahwa kehadiran Bellatrix sangat diperlukan karena lawan mereka adalah naga berdarah murni.
Di dunia ini ada dua jenis naga, murni dan tidak murni. Naga dengan darah tidak murni adalah jenis monster tertentu yang mengkonsumsi bagian naga seperti daging ataupun darah.
Hal itu mampu menyebabkan mereka bermutasi menjadi seekor naga, bahkan ada kasus di mana naga meletakkan benihnya di ras lain.
Perbedaan antara yang murni dan tidak terdapat di ukurannya dan juga kekuatannya. Naga dengan darah murni jauh lebih mendominasi dalam kekuatan dan ukurannya.
“Menaklukkan naga?”
Andrea mengambil alih dan menjelaskan bahwa ini adalah penaklukan besar pertama yang dilakukan oleh para pahlawan. Kehadiran Bellatrix tentunya sangat dibutuhkan.
Dan, jika perlu dibandingkan dengan Aludra, maka menaklukkan naga adalah prioritas utama yang perlu dilakukan.
“Penaklukkan ini tidak akan memakan waktu sedikit mengingat kita harus dengan hati-hati melakukan penanganan.”
Ada kemungkinan bahwa naga tersebut telah membuat beberapa monster menjadi naga dengan darah tak murni.
Aludra bisa saja menunggu Bellatrix untuk kembali dari misinya namun Aludra menolaknya lantaran dia tak mau waktunya terbuang sia-sia.
“Kamu tak perlu memaksakan diri untuk membantuku. Sejauh ini bantuan yang kamu berikan sudah lebih dari cukup. Oleh karena itu terima kasih, Bellatrix.”
Tidak sopan jika Aludra bersikeras membuat Bellatrix mengantarnya.
“Namun meski begitu—” Bellatrix mulai membantah, tetapi Aludra dengan cekatan menyela.
“Setiap orang lahir dan hidup dengan menjalani tanggung jawabnya sendiri. Aku bertanggung jawab atas diriku, dan gelarku sebagai kepala keluarga juga seorang ayah. Kamu bertanggung jawab atas dirimu, dan gelarmu sebagai pahlawan.”
Aludra memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan menghidupi keluarga kecil miliknya. Dia tak ingin meninggalkan tanggung jawab tersebut, oleh karena itu Aludra bersikeras untuk pulang.
Menatap Bellatrix yang terlihat sedih, Aludra yakin gadis itu tidak puas. Aludra sendiri mulai menganggap Bellatrix adik perempuannya yang naif tentang hal-hal seperti ini.
“Kamu adalah seorang pahlawan, maka bersikaplah seperti halnya pahlawan. Oleh karena itu, Bellatrix. Jangan meninggalkan tanggung jawabmu untukku.”
Tanggung jawab adalah hal yang penting karena manusia hidup dengan tanggung jawab. Mereka yang melarikan diri dari tanggung jawabnya adalah pecundang lemah yang tak mampu melawan arus kehidupan.
“Anda tak perlu khawatir, nona Bellatrix,” untuk pertama kalinya Elizabeth berbicara. “Aku akan memerintahkan prajurit untuk menemaninya dengan selamat ke Jurang Tanpa Dasar.”
Aludra tidak yakin apakah itu hanya untuk menenangkan Bellatrix atau sungguh-sungguh niat murninya Elizabeth untuk membantunya.
“Itu benar, selain itu aku juga tertarik untuk menyelidiki Jurang Tanpa Dasar,” ujar Andrea. “Aku akan memberikan bantuan sebisaku tentang itu.”
Bellatrix terlihat lega karena akan ada yang membantu Aludra, meski begitu dia tetap terlihat tidak puas namun beruntung bahwa dia tak terlihat ingin mendebat.