
Empat orang telah menghilang dalam sekejap. Hampir menjadi enam jika saja Aludra terlambat bereaksi untuk menyelamatkan dirinya.
Mintaka dan yang lainnya muncul, bergegas mencari senjata dan dalam siaga penuh. Mereka menantikan serangan berupa tangan besar yang dimaksudkan oleh Aludra.
“Tetap waspada!” ujar Mintaka, dengan segera menyiapkan kapaknya.
Dia bisa merasakan aura tak menyenangkan mengelilingi tempatnya, tak salah lagi ada makhluk yang mengintai dan menyerang mereka di sini.
Aludra di sisi lain mulai mundur ke tengah bersama Maria. Dia butuh perlindungan sekaligus menjaga agar tak menggunakan terlalu banyak kekuatan.
Bahkan orang sepertinya yang tidak memiliki dan tak mampu merasakan Mana bisa merasakan perasaan bahaya yang mencekam.
“Jangan masuk terlalu dalam menuju kabut, tetap dalam kelompok!” ujar Aludra.
‘Akan sulit bagi rencanaku jika ada sedikit orang.’
Aludra tidak menyadari bahwa teriakannya justru mengundang penasaran seseorang. Itu adalah Iris yang merasa familiar dengan suara itu.
‘Apa itu Amatsumi? Aku merasa yakin dengan suaranya.’
Iris tidak merasa salah mengenali orang. Tentu, dia tidak akan terkejut jika Amatsumi, Aludra ikut andil ke dalam penaklukan untuk uangnya. Namun Iris tidak mengerti mengapa dia menyembunyikan identitasnya, bahkan tak datang menyapanya.
“Apa kita akan bertarung, Aludra?” tanya Maria, “Iris ada di sini. Dia pasti mengenali cara kita bertarung.”
Aludra tahu itu dengan sangat jelas. Cara bertarung keduanya sangat unik dan berbeda dari yang lainnya. Terutama Manastone di tangan Aludra, Iris mustahil tidak mengenalinya.
“Lakukan seminimal mungkin. Kita tak bisa bertahan jika hanya diam tanpa melakukan apapun.”
Bagaimana mereka bisa mendapatkan Artefak Kuno jika tidak selamat dari situasi ini?
Hal pertama adalah berhasil bertahan hingga tiba waktunya untuk memasuki Kuil Parthenon. Untuk sampai ke sana tentunya tidak bisa hanya dengan dua orang. Aludra dan Maria masih terlalu lemah.
Suka maupun tidak mereka tetap harus membantu seminimal mungkin.
“Aku bisa merasakan aura mencekam ini ... namun arahnya tidak jelas,” ujar Maria dengan khawatir.
Aludra memandang sekitarnya dengan waspada. Kiri, kanan, dan atas lalu bawah. Tidak ada satupun arah yang menunjukkan keberadaan makhluk aneh itu.
Saat itu juga, insting kuat milik Aludra berdering keras, dia merasakan kehadiran itu semakin dekat dan dekat ke arah mereka.
Aludra menatap ke langit dan berteriak, “DI ATAS!”
Sontak orang-orang menatap ke atas dan menemukan tangan besar berwarna hitam jatuh. Tangan tersebut tampak seperti tulang hitam tanpa daging, dan sedang jatuh tepat ke arah mereka.
“Siapkan perisai!” Perintah datang dari Mintaka.
Para penyihir terkesiap dan merapalkan mantra dengan cepat.
“Shield!”
Empat lapis perisai muncul di udara dan menahan jatuhnya tangan besar itu sesaat. Satu demi satu perisai dihancurkan lantaran tak cukup mampu menahan kekuatan tangan besar itu.
“Sisanya serahkan padaku!” Mintaka meraih kampak miliknya dan melakukan ancang-ancang untuk melemparkannya ke udara.
Kampak terbang berputar layaknya boomerang. Mintaka kemudian melompat dan meraih kembali kampak tersebut sebelum mengayunkannya dengan kuat.
“Wind Axe!”
Bentrokan kuat antara senjata ilahi dengan tangan tengkorak hitam menggema. Bentrokan tersebut menciptakan angin ribut di sekitar sampai Aludra harus menutup mata dengan tangan demi mencegah kencangnya angin menerpa wajahnya.
Pukulan kuat Mintaka berhasil membuat tangan tersebut berhenti jatuh dan mengganti targetnya kepadanya.
Mintaka tersenyum senang, “Benar, akulah lawanmu dasar tangan jelek!”
Kapaknya mulai bersinar terang dan berapi-api, dengan senyuman riang di bibirnya, Mintaka berputar-putar dan menyerang tangan tersebut.
Berputar dan menghindari tinju yang diberikan tangan, pertarungan sengit terjadi di udara. Mintaka kemudian melompat jatuh ke tanah. Tangan tengkorak hitam mengejarnya dan mungkin berencana meremukkannya.
Namun tangan itu tidak tahu, bahwa lawannya adalah manusia kuat yang dikenal sebagai pahlawan. Mintaka jatuh ke tanah bukan tanpa alasan, dia sengaja melakukannya.
“Aku tidak tahu kamu itu apa namun akan kupastikan hidupmu berakhir ...”
Kapaknya semakin berapi-api dan terbakar. Api tersebut mulai berkumpul di ujung bilah kapaknya. Dengan kekuatan tangannya hingga mengeluarkan banyak urat, Mintaka melemparkan kampaknya jauh ke udara.
Kampak tersebut meleset dari tangan tengkorak hitam dan terus menuju langit hingga tak lagi terlihat. Namun serangan tersebut tidaklah meleset karena tujuan Mintaka sejak awal adalah langit.
Saat itu juga, langit menampilkan cahaya oranye seperti matahari terbit. Sesuatu yang terang berputar lambat di udara, itu adalah kampak. Mintaka kemudian tersenyum saat mendarat di tanah.
Dia menunjuk langit sebelum menghantamkan tangannya ke tanah dan menggumamkan, “Meteor ... Axe!”
Kampak yang berputar lambat di udara mulai jatuh dengan sangat cepat. Menghantam tangan tengkorak hitam dan membelahnya. Aura gelap tangan tersebut menyebar dan menuju ke suatu tempat. Sementara di sisi lain kampak menghantam tanah dengan kuat.
Awan debu tercipta karena hempasan angin kencang berkat kejatuhannya. Tanah tempat kampak tersebut jatuh memiliki kawah kecil yang tampak panas. Persis seperti meteor yang jatuh.
Aludra terkesima dan tercengang oleh pertarungan singkat yang luar biasa tepat di depan matanya. Ini adalah kedua kalinya Aludra melihat orang dengan kemampuan yang sangat hebat.
Kali pertama adalah waktu di mana Bellatrix membunuh Griffin dengan satu serangan. Kekuatan kampak milik Mintaka menjadi yang kedua.
“Inikah kekuatan pahlawan?” gumam Aludra dengan tak percaya.
Itu tidaklah lemah meski kampak sebagai senjata tampak diremehkan. Namun ketika hal itu tertuju kepada Pahlawan Kampak, tentunya gelar tersebut tidak kosong. Kekuatannya cocok menyandang gelar pahlawan.
‘Butuh berapa lama bagiku untuk mendekati kekuatan mereka?’ pikiran Aludra berdebat setelah membandingkan Mintaka dengan dirinya.
Dia hanya bisa menggerakkan giginya dengan kuat. Aludra sadar betul perbedaan diantara mereka bagaikan langit dan bumi. Di hadapan pahlawan, bajingan sial seperti Aludra hannyalah nyamuk.
Iris yang berada di sisi lain berusaha pergi ke lokasi pertempuran, dia ingin memastikan ada tidaknya orang yang terluka.
Saat dalam perjalanan tersebut Iris menemukan seorang pria berjubah dengan topeng menutupi wajahnya. Tentu Iris tidak tahu siapa itu, tetapi melihat gadis di sampingnya jelas dia mengenali. Belum lagi Manastone di tangan pria itu terlihat akrab.
“Itu kamu, Amat—” Iris berniat memanggil namun dia mendengar langkah kaki dari kejauhan. Sebuah langkah kaki kecil yang berlari.
Iris terkesiap, dia tahu itu langkah manusia. Namun hal yang membuatnya waspadalah adalah arah datang suara langkah kaki tersebut.
‘Itu datang dari tempat bayangan hitam yang hancur pergi.’
Saat Mintaka berhasil menghancurkan tangan aneh itu, bayangan yang membentuk tangan tersebut menghilang dan menuju ke suatu tempat. Iris saat itu hanya bisa memperhatikan dan tak bisa mengejar.
Jika dia melakukannya ada kemungkinan terpisah dari rombongan. Oleh karena itu hanya memandang ke kejauhan adalah hal bijak.
Namun seseorang datang dari arah tempat bayangan itu pergi. Bagaimana Iris tidak khawatir tentang itu?