
Bersama bangsawan Solva Aludra menuju kota Purplestone. Dalam perjalanan terdapat beberapa monster keroco seperti goblin dan Wolfhorn namun dengan adanya Maria semua selesai dengan mudah.
Beruntung bahwa para bandit juga memiliki tenda, dan barang-barang Edward masih aman sehingga tak ada masalah saat berkemah. Mungkin kesulitan Edward dan putrinya adalah mengenai makan malam.
Meski mereka memandang aneh makanan yang disediakan Aludra namun mereka pada akhirnya menyukai masakan tersebut, bahkan meminta resepnya.
Selama melewati satu hari perjalanan bersama, Edward dan Aludra jadi sedikit dekat. Bahkan Iris juga tak lagi terganggu dengan kehadirannya.
“Yahh! Kalian memang orang yang kuat. Aku bertanya-tanya apakah kalian petualang dengan lencana tinggi? Namun aku tidak pernah mendengar nama kalian.” Edward tertawa dengan riang.
Aludra tersenyum tipis selagi memandang Edward yang sudah bersikap santai dan tak waspada terhadapnya.
“Sepupuku ini adalah seorang petualang dulunya namun dia berhenti dan memilih ikut denganku mengembara ke berbagai tempat.”
“Jadi begitu. Bakat kalian sungguh sia-sia, bagaimana jika kalian bekerja untukku?” tanya Edward dengan ringan dan tertawa.
Aludra tertawa kecil dan tak memberikan jawaban pasti, “Ahaha, maaf jika lancang namun kami akan memikirkannya lebih dulu.”
“Kita sudah sampai,” ujar Maria dengan ringan. “Di sana kota Purplestone.”
Aludra menatap dan terkesima, dia baru kali ini melihat kota unik seperti itu. Dinding kota terbuat dari batu yang mirip dengan kristal dan berwarna ungu.
Tampak seperti berlian namun Aludra yakin itu bukan berlian. Tidak mungkin benda berharga seperti itu digunakan untuk membuat dinding yang melindungi kota.
Tak hanya itu, Aludra juga menemukan batu kerikil keunguan di sepanjang jalan telah disebarkan secara tak alami.
Ada beberapa batang pohon yang terbuat dari batu ungu tersebut ditempatkan di sepanjang jalan menuju gerbang utama. Terkesan berlebihan namun itu sangat mempesona.
“Ini … pertama kali aku melihatnya.”
Kota Dart indah dengan pemandangan dan suasana pedesaannya, sementara kota ini tampak menakjubkan dengan keunikannya.
Edward entah mengapa merasa bangga, meski begitu Iris lebih darinya. Dia dengan senang pergi keluar dan berpegangan pada tepi pedati.
“Inilah kota kebanggaan kami, Purplestone! Seperti namanya, ada banyak batu ametis yang menjadi sumber utama pemasukan kami.”
Saking kayanya akan batu ametis, leluhur Edward menggunakannya untuk menjadi pelapis bagi benteng kota dengan batu tersebut. Kekerasannya sendiri tidak kalah dari semen berkualitas bagus.
Iris menjelaskan bahwa batu ametis juga memiliki kemampuan untuk mengusir monster lemah seperti goblin karena memiliki warna yang mencolok hingga membuat mereka takut.
“Jadi begitu,” ujar Aludra, “Dari kabar angin yang aku dengar, kota ini juga menjadi pemasok Manastone berkualitas tinggi. Apakah mungkin … .“
Seakan melengkapi penjelasan Aludra, Edward menyelesaikan kalimatnya.
“Ya. Di dalam pertambangan tak hanya ada batu ametis namun ada banyak mineral berharga lainnya. Ametis dan Manastone hannyalah salah satunya.“
Aludra diam-diam tersenyum, dia tak menyangka akan bisa berhubungan dengan orang yang mengelola pertambangan itu sendiri. Dia berhasil mendapatkan ikan besar di jala yang kecil.
Tujuannya ke kota Purplestone adalah untuk mendapatkan Manastone berkualitas sebelum menuju Kuil Parthenon. Karena mau bagaimanapun tempat itu bukan sesuatu yang bisa didatangi dengan mudah.
Dengan bantuan Edward dan Iris, mudah bagi Aludra dan Maria memasuki kota. Edward mengundangnya ke kediamannya dan tak ada alasan untuk menolak.
Kota tampak indah, batu ametis sungguh menjadi penghias kota ini. Berbagai aksesoris yang tampak mewah, makanan dan bahkan persenjataan tak ketinggalan untuk dijajakan.
Bagian yang membuat Aludra tertarik adalah aula kota yang memiliki air mancur dengan patung wanita berwarna ungu. Tampak indah dan juga elegan.
“Anda memiliki selera yang bagus, Count Edward!” ujar Aludra dengan tulus.
Di dalamnya sendiri cukup mewah dengan lukisan dan barang antik lainnya. Ruangan didesain untuk memberikan kenyamanan.
Para pelayan datang mengantarkan teh dan camilan untuk mereka.
“Sekali lagi terima kasih, tuan Amatsumi. Berkatmu kami bisa lolos dari para bandit itu,” ujar Edward dengan lembut. “Aku akan memberikanmu imbalan yang layak. Lalu, kamu boleh menetap di sini selama yang kamu mau.”
Aludra dan Maria serempak memberikan penghormatannya. Aludra menyampaikan, “Ini bukan apa-apa Count.”
“Apakah ada sesuatu yang kamu inginkan sebagai imbalan?” tanya Edward.
Aludra sedikit berpikir sebelum mengangguk, “Jika anda berkenan saya menginginkan beberapa Manastone sebagai imbalannya.”
Edward mengangguk dan menyuruh orangnya untuk segera menyiapkan. Kemudian dia menyadari bahwa Aludra tidak memiliki Mana dalam tubuhnya yang mana itu tidak wajar.
Aludra kemudian menjelaskan bahwa dia lahir dengan kondisi tidak memiliki Mana sedikitpun dalam tubuhnya. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebabnya meski dia telah memeriksakannya.
“Terlahir tanpa Mana … aku belum pernah mendengarnya,” guman Edward.
Di sisi lain Iris tampak mengerti sesuatu “Untuk mengatasinya kamu akhirnya mengandalkan Manastone. Menyerap Mana di dalamnya dan menyalurkannya langsung dalam bentuk sihir, kan?”
“Nona Iris sungguh cemerlang. Persis seperti yang anda katakan. Saya hanya bisa menggunakan Manastone jika ingin menggunakan sihir,” ujar Aludra.
Iris segera mengerutkan alisnya dengan curiga, “Kamu tak diberkati Mana, tetapi dari mana kamu mempelajari sihir?”
Sungguh aneh jika Aludra bisa menggunakan sihir meski tak memiliki Mana sejak lahir. Iris juga mengatakan bahwa Aludra tak mungkin belajar melalui Manastone mengingat harganya cukup mahal.
Rakyat jelata takkan melakukan pemborosan untuk membelinya. Terutama untuk digunakan oleh orang seperti Aludra.
Untuk menjawab hal itu, Maria segera menyela percakapan.
“Maaf menyela, Nona. Hal itu disebabkan oleh Grimoire yang diberikan oleh mendiang orang tua saya kepadanya. Kebetulan ibu saya adalah penyihir yang berbakat.”
Maria menjelaskan bahwa ibunya memiliki beberapa Grimoire yang diberikan kepadanya namun dikarenakan Maria lebih cocok ke pertarungan fisik, dia segera memberikannya untuk Aludra.
Tentunya semua kisah ini adalah karangan belaka. Aludra tidak memiliki pengetahuan umum tentang dunia ini dan menyerahkannya kepada Maria.
‘Di dunia ini Alkimia adalah pengetahuan dasar yang tidak begitu berguna. Namun mereka tak menyadari kekuatan terpendam dari Alkimia. Mungkin bisa dikatakan aku satu-satunya yang sadar.’
Entah karena Aludra yang menyadarinya berkat bantuan pengetahuan dari bumi, atau penduduk dunia ini yang pengetahuannya tertinggal. Yang manapun itu, hal ini harus disembunyikan jika Aludra tidak ingin sosoknya diketahui secara luas.
“Grimoire … sebuah buku ajaib yang membantu orang mempelajari sihir dalam waktu yang singkat,” ujar Iris. “Aku mengerti, jadi itu alasannya.”
Grimoire adalah jalan pintas mendapatkan kekuatan tanpa banyak usaha seperti berguru dan lainnya. Bahkan diantara para bangsawan menggunakan Grimoire adalah hal lumrah.
“Yah, untuk saat ini sebaiknya kalian membersihkan diri dan beristirahat,” ujar Edward, menepuk tangannya untuk memanggil dua pelayan. “Antarkan mereka.”
“Baik, tuan.”
Aludra memberikan pandangan mata kepada Maria dan mengangguk. Dia menyampaikan bahwa mereka akan beristirahat di kediaman bangsawan Solva.