
Di hari yang cerah terdapat sebuah kereta kuda melaju dengan kencang, tampak bergerak dengan kecepatan penuh miliknya.
“Cepatlah! Mereka akan segera mengejar!” bentak seorang pria paruh baya dengan kumis lebat.
Kusir dan pengawal yang berwaspada juga tampak tergesa-gesa, mungkin juga sedikit takut.
“Kalian takkan bisa lari dari kami!”
“Kejar mereka bahkan jika itu sampai ke ujung dunia!”
Mereka saat ini tengah dikejar oleh kelompok bandit gunung. Sebuah kelompok yang menjarah siapapun tanpa pandang bulu.
“Cih! Mereka sangat keras kepala. Aku tak menyangka ada orang bodoh yang berani merampok bangsawan seperti kami!” ujar pria berkumis tebal.
Para pengawalnya telah terbunuh oleh strategi licik bandit gunung yang memanfaatkan tebing gunung untuk menjatuhkan batu besar. Berkat keberuntungannya dia bisa lolos, tetapi mungkin tak bisa lolos dari kejaran bandit.
“Ayah … aku takut,” ujar gadis yang bersembunyi di dalam kereta kuda.
“Bersabarlah, putriku. Saat kita mencapai kota para bajingan itu takkan berani bertindak!”
Menatap kebelakang, terlihat jelas para bandit belum menyerah. Mereka menembakkan anak panah hingga sihir untuk menghentikannya.
“Jatuhkan mereka! Bangsawan ini memiliki banyak harta bersamanya!”
“Kita akan mendapatkan anak gadisnya yang cantik itu! Malam ini kita akan bersenang-senang sebelum menjualnya!”
Para bandit tertawa dengan riang saat membuat pernyataan jahat seperti itu.
“Dasar sekumpulan sampah!” umpat pria berkumis tebal.
Seorang bandit tengah merapalkan mantra, menembakkan bola angin dan mengenai roda kereta kuda. Hal tersebut membuat rodanya hancur dan kereta kuda berguling jatuh tak seimbang.
Kuda yang terlepas dari pengaitnya melarikan diri, meninggalkan orang-orang yang harusnya mereka angkut dalam kepungan bandit.
Si bangsawan berkumis mengeluarkan pedang dari sarungnya.
“Jangan khawatir, nak. Ayahmu akan berkorban untuk melindungimu!”
Bangsawan lebih kuat dari rakyat jelata namun tetap saja sulit menang melawan bandit. Belum lagi jumlah mereka tak sedikit.
Ada sekitar sebelas orang bandit mengepungnya. Si kusir telah melarikan diri, hanya tersisa satu prajurit yang bersamanya. Sangat jelas pihaknya tidak diuntungkan namun apa boleh buat.
“Tuan, saya akan memberi celah untuk anda dan putri anda melarikan diri!”
“Itu percuma! Mereka takkan meloloskan mangsa begitu saja,” bangsawan tersebut membantah. “Nak, sebaiknya kamu pergi melarikan seorang diri. Pergilah melewati hutan dan menuju kota.”
“Tapi bagaimana dengan ayah?!”
“Ayah akan menyusul setelah membasmi sampah ini! Ayah tak peduli harus kehilanganmu seluruh martabat maupun nyawa, asalkan kamu harta berhargaku tidak terluka!”
Mendengar percakapan diantara mereka, para bandit mulai tertawa seakan mendengar sebuah lelucon.
“Hahaha, kamu pikir bisa mengalahkan kami? Dalam mimpimu!”
“Hajar dia!”
Para bandit mulai bergerak untuk menyerang, si bangsawan dengan canggung memasang kuda-kuda. Dia tahu takkan menang namun tetap melakukan perlawanan sia-sia yang tak berarti.
Sebuah bilah pedang diarahkan kepadanya, bangsawan tersebut tak siap dan menutup matanya karena takut. Pengawalnya juga tak menduga hal tersebut dan berniat menolong.
“Tidak, ayah!” teriak gadis dari dalam pedati, mengulurkan tangannya dengan tujuan ingin menolong.
Si bangsawan tetap memejamkan matanya sampai beberapa detik, dia bingung bahwa rasa sakit yang dinantikan tak kunjung datang. Begitu membuka matanya, dengan ajaib pedang berhenti di udara, si bandit juga mematung.
Tidak, bukannya mematung secara ajaib. Secara samar dia melihat adanya kawat tipis melilit bandit dan juga pedangnya.
Sampai akhirnya kawat melilitnya semakin erat dan memotong daging hingga akhirnya kepalanya terputus, berguling ke tanah dengan dramatis.
Bangsawan tersebut terkena darah di sekujur tubuhnya, dia juga tampak gemetar akan pemandangan mengerikan yang terjadi dengan aneh.
Di sisi lain para bandit juga memiliki kebingungan yang sama. Mereka tak tahu apa yang terjadi, dari mana benang kawat itu berasal?
“Siapa yang melakukannya?! Cepat keluar layaknya pejuang!” teriak pemimpin bandit yang berkepala botak dan luka di mata kirinya.
Dari dalam hutan kemudian muncul sesosok gadis berjubah putih dengan garis merah muncul dari dalam hutan. Matanya tampak sinis dan menyeramkan dengan tambahan kantung matanya menghitam seperti orang yang belum tidur dalam waktu lama.
Rambutnya merah seperti darah, tak diragukan lagi dia tampak seperti wanita cantik dengan pembawaan cuek dan sulit didekati. Meski begitu ada pesona elegan yang dipancarkan.
“Siapa kau?!” tanya bandit.
“Terserah siapa dia, cepat bunuh ****** ini!” ujar pemimpin bandit dengan marah.
Dua bandit segera menurut dan menerjang ke arahnya. Wanita itu hanya diam selagi menarik kembali kawatnya; yang bergerak seakan-akan itu hidup. Kawat tersebut memiliki ujung seperti mata anak panah, tampaknya berguna untuk mengaitkan pada sesuatu.
“Hati-hati dengan kawatnya!”
Dengan acuh wanita itu melemparkan kawatnya ke arah bandit, langsung menuju mata dengan cepat namun sang bandit tak ceroboh. Dengan punggung pedangnya dia mampu menangkisnya.
Kawat terpental namun segera berputar melilit bandit tersebut seakan-akan hidup. Bandit yang terlilit meminta pertolongan namun sebelum ditolong kawat tersebut telah memutilasinya.
“Kurang ajar!” bandit lainnya datang dengan cepat.
Wanita itu hanya memandang sinis menatap pedang yang tertuju kepadanya. Sebelum bilah pedang mencapainya, tanah muncul menjadi pembatas antara dirinya dengan pedang.
Melalui benturan keras besi dan tanah hingga memercikkan api, pedang si bandit patah menjadi dua. Bandit tersebut terkejut namun sebelum melakukan apapun, kawat lain menusuk lehernya dan mata kawat menancap di dinding tanah.
Tiga bandit langsung mati mengenaskan oleh seorang gadis. Baik bangsawan, prajurit maupun para bandit tak mempercayai mata mereka.
“Apa-apaan ini … siapa dia?” Pemimpin bandit mulai ketakutan dan gemetar melihat gadis itu, “A-apa mungkin … pahlawan?”
“Aku tak menyangka bahwa bandit benar-benar seorang pecundang. Ini menyedihkan, kualitas penjahat saat ini benar-benar rendah. Bahkan monyet mampu bertindak lebih dari ini.”
Suara yang terdengar lembut namun penuh intonasi penghinaan menusuk telinga. Para bandit mulai mencari suara pria yang bicara, sampai salah satu dari mereka menemukan sesosok pria di belakang.
Pria yang duduk dengan santai di bawah pohon. Orang dengan jubah kecoklatan yang menggunakan tudung seakan tak ingin dunia melihat wajahnya.
“Siapa kau?! Sejak kapan kamu ada di sana?!”
“Siapa aku?” guman pria itu, mengangkat kepalanya dan tersenyum. “Aku malaikat mautmu!”
Pria itu menghantam telapak tangannya ke tanah. Segera tanah tempat para bandit berpikir jatuh turun, menciptakan lubang persegi yang membawa mereka semua jatuh.
Tak lama kemudian, tanah lainnya muncul dan mengurung para bandit di dalam tanah. Jeritan mereka masih dapat terdengar.
“Tolong, siapapun tolong aku!”
“Di sini gelap, sulit untuk bernapas!”
“Tidak! Aku tak mau seperti ini!”
“Tidak … apa ini, tempatnya menyempit!”
“Hey! Jangan banyak bergerak, tempat ini mengecil!”
Teriakan mereka terus berlanjut tanpa akhir. Tidak ada yang dibunuh, mereka terus mengeluh sulit bernapas dan sempit, bahkan ada yang mulai berteriak serta menangis.
“Ini bagus … Maria, ambil persediaan dan harta para bandit. Ah, kita juga bisa menggunakan kereta kuda mereka mengingat kuda kita mati karena Wolfhorn.”
“Baiklah. Kalau begitu aku akan memindahkan barang-barang kita terlebih dahulu.”
Maria pergi kembali ke hutan dalam sekejap mata. Pria itu kemudian mendekati bangsawan dan mengabaikan jeritan di bawah kakinya. Senyuman sinis terlukis di bibirnya.
“S-siapa kau?” tanya bangsawan itu dengan gemetar.
“Aku? ... benar,” pria itu tampak berpikir sebelum tersenyum, kilat kemerahan tampak bersinar dari bola matanya. “Aku hanya seorang pengembara, panggil aku … Amatsumi.”