
“Terima kasih banyak atas kebaikan anda, Count Edward, dan Nona Iris.” Aludra memberikan hormatnya, dan Maria mengikuti tanpa sepatah kata apapun.
“Ya, padahal tidak apa kamu tinggal lebih lama lagi. Dan, kamu yakin tidak ingin menjadi pengawal pribadiku? Aku akan memberikan bayaran yang layak untukmu.”
Edward tampak tidak menyerah dengan tawaran tersebut. Tentu saja orang sepertinya membutuhkan kaki tangan kuat untuk melindunginya. Meski bangsawan tahu menggunakan pedang namun dia tetap perlu bawahan.
Tak perlu mengotori tangan jika memiliki harta untuk membuat orang lain menggantikannya melakukan pekerjaan kotor dan kasar.
Namun tak peduli seberapa menggoda tawaran yang diajukan Edward, seberapa banyak harta yang rela dia keluarkan untuk mendapatkan kekuatan Aludra dan Maria, tak satupun tawarannya diterima.
Bahkan untuk menjadi tentara bayaran saja Aludra menolak. Itu karena dia tak mau menjalin hubungan lebih mendalam dengan bangsawan tersebut.
“Maaf lancang, Count. Saya tak menyukai bekerja di bawah seseorang terutamanya seorang bangsawan. Sepupu saya memiliki pengalaman tidak menyenangkan yang meninggalkan trauma mendalam.”
“Begitu, aku takkan memaksamu. Sesuai janji, aku akan memberikanmu Manastone berkualitas tinggi sebagai balas budi telah menyelamatkanku.” Edward hanya tersenyum masam dan melepaskan Aludra.
Dia tak bisa menjadi terlalu memaksa jika tak ingin menunjukkan kesan sebagai bangsawan buruk. Memiliki hubungan baik dengannya sudah cukup. Edward merasa pria di depannya akan menjadi orang besar nanti.
Aludra menemukan Manastone yang diberikan Edward berbeda dari biasanya. Sejauh ini Aludra hanya memiliki Manastone berupa kepingan yang ukurannya berbeda-beda.
Namun kali ini dia mendapatkan langsung Manastone berbentuk bundar yang ukurannya dua kali dari bola kasti. Manastone berwarna ungu menyala, di dalamnya seakan ada asap yang terjebak di dalamnya.
Itu tampak seperti sesuatu yang akan digunakan penyihir dalam banyak novel atau bola kristal yang digunakan untuk meramal.
Namun ini nyata, dunia yang nyata. Sesuatu yang tampak seperti hanya ada dalam kisah benar-benar ada di tangannya saat ini.
Tidak salah lagi itu adalah Manastone dengan kualitas tinggi yang takkan habis dengan mudah.
Seakan tidak cukup, Edward juga memberikan sekantong koin emas dan beberapa dupa pemberian Iris.
Aludra terkejut bahwa wanita itu benar-benar memberikannya meski dia tak serius memintanya saat itu. Namun Aludra tak menunjukkan kebingungannya dan menerimanya dengan senang.
Siapa yang akan marah menerima barang gratis yang berguna?
“Anda benar-benar dermawan, Count Edward. Saya harap bisa melakukan kunjungan kepada anda di masa depan!” Aludra berterima kasih dan tersenyum.
Setelah mengucapkan perpisahan dengan lancar, Aludra dan Maria tidak lekas meninggalkan kota Purplestone. Mereka menuju penginapan yang berada cukup jauh dari kediaman Solva.
Memesan satu kamar untuk dua orang dan meletakkan barang bawaannya, Maria yang sudah penasaran akhirnya bertanya alasan mengapa Aludra meninggalkan kediaman Solva.
Seharusnya jika masih ingin menetap di kota Purplestone maka bersama Edward adalah pilihan bijak menghemat anggaran. Mulai dari tempat tinggal dengan fasilitas VIP, hingga makanan lezat akan diserahkan secara gratis.
Aludra kemudian menjelaskan dengan tatapan dingin.
“Besok tepatnya seorang pahlawan akan datang ke kota ini.”
Keberadaan yang begitu megah seperti pahlawan. Umumnya orang akan berbondong-bondong untuk mencoba melihatnya dari dekat. Namun kasus ini tidak berlaku untuk Aludra.
Bahkan jika Maria tak dikenali namun Aludra berbeda. Setidaknya dia yakin para pahlawan telah mengetahui wajahnya mengingat dia membuat keributan saat pertama kali dipanggil ke dunia ini.
“Pahlawan?” Maria tercengang mendengarnya, “Apa mungkin nona Bellatrix atau tuan Orion?”
Aludra menggelengkan kepalanya, “Aku rasa bukan. Tidak bisa dipastikan namun setidaknya aku yakin bukan mereka berdua.”
Sudah tersebar kabar bahwa para pahlawan pergi mengembara masing-masing ke tempat yang berbeda. Sejauh yang diketahui Bellatrix dan Orion saat ini berada di tempat yang jauh dari kota Purplestone.
“Begitu. Bukankah buruk andaikan pahlawan benar-benar ada di sini? Besar kemungkinan dia akan memiliki tujuan yang sama dengan kita.”
Aludra ingin mengatakan tidak namun dia tak memiliki dasar yang kuat. Di waktu yang penuh ketidakpastian seperti ini, apapun bisa saja terjadi secara tidak terduga.
“Menurutku tidak sepenuhnya buruk andaikan kita bisa memanfaatkan situasinya.”
Tak peduli seperti apapun situasinya, hal yang perlu dilakukan adalah mencari celah untuk mendapatkan keuntungan di pihaknya. Aludra takkan menyerah dengan tujuannya pergi ke Kuil Parthenon.
Sekalipun dia harus berbenturan dengan pahlawan nantinya, Aludra tak peduli. Bagian pentingnya adalah bagaimana cara dia menyediakan rencana atas kemungkinan terburuk.
“Memanfaatkannya bagaimana?” tanya Maria, memiringkan kepalanya.
Aludra tersenyum tipis, “Yah, kamu akan mengetahuinya. Untuk sekarang mari berpencar dan mengumpulkan informasi. Aku juga sedikit tertarik dengan insiden yang terjadi setiap malam tertentu.”
Maria dan Aludra berpisah jalan untuk mengumpat informasi. Aludra akan pergi ke pasar untuk mendapatkan rumor yang beredar, sementara Maria menuju guild petualang.
Saat pergi ke pasar Aludra melihat banyak hal yang baru dijumpai olehnya. Mulai dari senjata unik berbentuk gunting besar, anak panah yang berbentuk aneh hingga pedang dengan bentuk uniknya.
Aludra tidak tahu pasti apa itu namun di dunia ini ada senjata sihir. Dari yang dia baca, senjata sihir memiliki bentuk yang berbeda dan hanya bisa digunakan beberapa kali sebelum akhirnya lenyap.
“Haruskah aku memiliki satu? Barangkali aku bisa mengotak-atik benda itu dengan Alkimia,” gumam Aludra.
Jika dia bisa menerapkan mekanisme senjata sihir ke dalam Alkimianya maka itu akan menguntungkan. Bahkan jika itu tak bisa, dirinya takkan dirugikan.
Aludra berharap bisa menghasilkan senjata sihir dengan memanfaatkan Alkimia. Itu akan sangat menguntungkan dirinya dari berbagai aspek.
Dia juga tak khawatir tentang kurangnya kekuatan saat menghadapi lawan-lawan sulit ke depannya.
Hanya saja tak ada jaminan itu akan berhasil, Aludra tak yakin dengan keberuntungan miliknya.
‘Jika aku orang yang beruntung mampu membuat senjata sihir dengan Alkimia maka itu akan melancarkan jalan yang aku tempuh. Namun sayang keberuntungan adalah musuhku.’
Jika Aludra adalah orang yang memiliki keberuntungan maka dia takkan pernah tiba di dunia ini. Jelas dia adalah jenis manusia yang diberikan banyak kesialan dalam hidupnya semenjak datang ke dunia ini.
Meski tak memiliki banyak harapan dirinya bisa membuat senjata sihir, setidaknya Aludra yakin dia akan menemukan sesuatu yang bisa digunakan olehnya. Tak apa jika hanya sedikit hal, selama itu membantu bukanlah masalah.
“Sebaiknya aku mencobanya,” Aludra menetapkan tujuan.