
Aludra dapat merasakan tubuhnya merinding, meski tak mampu menemukan Mana namun dia masih bisa merasakan bahaya di sekitarnya.
Melihat ke orang-orang lainnya, tampaknya tidak hanya Aludra yang memiliki perasaan demikian. Maria, dan orang-orang lainnya merasakan kengerian yang sama.
“Aura yang sungguh tidak menyenangkan ... ini sangat haus darah,” ujar Maria, bergidik ngeri saat dia merasakannya.
Maria baru pertama kali merasakan sesuatu seperti ini. Dia telah berhadapan dengan berbagai macam monster berbahaya, tetapi kali ini sangat berbeda. Hampir seakan-akan kematian itu sendiri sedang mengancamnya.
“Kehehehe ...”
Sebuah tawa mengerikan mulai bergema yang asalnya tidak diketahui secara pasti. Aludra tak bisa memastikan siapa pemilik suara itu karena yang jelas tidak ada salah satunya berasal dari regu penaklukan.
“Siapa kau?!” bentak Mintaka, “berhenti jadi pengecut dan tunjukkan dirimu!”
Suara itu mulai tertawa seakan-akan itu sesuatu yang lucu, dia tak terprovokasi oleh perkataan Mintaka begitu mudahnya. Saat itu juga dia mulai berbicara.
“Makhluk rendahan, akhirnya kalian memiliki nyali untuk mencoba menaklukkanku ... kehehe, akhirnya kebosanan sunyi ini akan berakhir.”
Itu menggambarkan suka cita dan seperti benar-benar bersyukur. Aludra yakin makhluk yang berbicara ini sangat aneh. Siapa yang akan dengan senang menyambut orang-orang yang berencana membunuhnya?
Yah, tujuan regu penaklukan ini adalah menghancurkan Kuil Parthenon. Makhluk apapun yang tinggal di dalamnya akan secara tidak langsung menjadi target pembinasaan.
“Jika kalian berpikir cukup bernyali, memiliki kekuatan sepadan untuk menghancurkan kuil ... maka datang temui aku.”
“Wahai manusia yang diberkati kekuatan dewa ... aku telah lama menantikan hari di mana pertemuan kita yang sudah ditakdirkan kehehe ...”
Suara tersebut perlahan menghilang dan perasaan ngeri yang Aludra dapat rasakan mulai menghilang. Hal tersebut jelas meninggalkan suasana canggung diantara para penakluk.
Mintaka juga menyadari hal itu dan memutuskan tak bisa pergi lebih jauh dari ini. Bergerak maju saat moral semua orang rendah adalah tindakan bodoh.
‘Karena inilah aku benci orang-orang lemah!’
Awalnya dia berencana menaklukkan Kuil Parthenon sendirian dan mengambil semua kehormatan serta sanjungan untuk dirinya sendiri. Bahkan, dia akan mendapatkan wanita tercantik di kerajaan— mungkin dunia ini sebagai istrinya.
Namun berita menyebalkan datang, Bellatrix dan Orion akan ikut membantunya. Bahkan Aegist berkemungkinan besar akan ikut andil. Jika ada orang-orang itu maka dia takkan mendapatkan semua sanjungan itu.
Bahkan mungkin saja para bajingan itu akan mencegahnya menikahi Iris dengan alasan pahlawan tak membutuhkan imbalan atau sejenisnya.
‘Mereka benar-benar mendalami bermain pahlawan. Tidakkah mereka berpikir bahwa dengan gelar semacam ini akan menguntungkan bagi kita?’
Mintaka memiliki pemikiran berbeda dengan yang lainnya. Dia adalah orang yang terpilih diantara banyaknya manusia. Seorang tokoh utama, Mintaka memiliki ambisi besar berdiri di atas semua orang.
Sebelum datang ke dunia ini, Mintaka hanya seorang penebang pohon. Dia sering mendapatkan tatapan merendahkan dari orang-orang di sekitarnya.
Tentu dia kesal akan hal itu, tetapi juga mengagumi disaat bersama. Saat itu Mintaka berpikir, betapa luar biasanya berdiri di posisi yang membuatnya bisa menatap rendah semua orang.
Oleh karena itu, Mintaka berniat menggunakan posisinya sebagai pahlawan untuk berdiri di atas semua orang dan menatap rendah mereka.
‘Menghancurkan Kuil Parthenon harus menjadi batu loncatan untukku.’
“Kita akan beristirahat dan berkemah di sini. Sift jaga akan bergerak seperti yang sudah direncanakan!”
Ada kekhawatiran monster akan menyerang tanpa disadari, mungkin juga akan ada orang yang pergi jauh kemudian tersesat. Alhasil pandangan tertuju kepada orang yang mengetahui tentang kabut ini.
Aludra juga menatapnya, tetapi ada yang aneh dari gadis itu. Sesaat wajahnya benar-benar suram dan tubuhnya gemetar hebat. Hal itu hanya berlangsung sesaat sehingga semua orang tak melihatnya kecuali Aludra.
“Jangan pergi lebih dari dua ratus meter, kita akan menyalakan api untuk mengurangi risiko tersesat oleh kabut. Tentu, ada kemungkinan monster juga melihatnya sehingga keamanan perlu ditingkatkan lagi. Cage dengan cepat menghilangkan kekhawatiran semua orang. Dia tidak pernah menyadari tatapan Aludra sampai akhir.
Malam telah tiba, sekarang adalah waktu Aludra untuk berjaga sebentar. Meski hari seharusnya sudah gelap namun keadaan di dalam kabut tidak benar-benar gelap, hampir terasa sungguh menyeramkan.
“... Kuil Parthenon, aku penasaran apa yang akan aku temukan di dalamnya,” gumam Aludra, cukup pelan sehingga hanya di dengar oleh Maria di sampingnya.
“Ya, itu tempat yang masih misteri,” Maria mengangguk setuju. “Apa kamu yakin akan menggunakan rencana seperti itu, Aludra?”
Aludra memiliki rencananya sendiri setibanya di Kuil Parthenon. Dia tidak menyerah untuk mendapat Artefak Kuno pertamanya meski kesulitannya akan benar-benar luar biasa.
Terutama rencananya yang tidaklah mudah dilakukan dan penuh risiko.
“Kita tidak punya pilihan lain selain melakukannya. Memang sangat berisiko namun tergantung pada Artefak Kuno yang akan kita dapatkan, situasinya bisa berbalik.”
Aludra tidak terlalu menyukai gagasan bahwa dia cukup bergantung pada Artefak Kuno yang bahkan belum pasti apa itu. Jika itu sebuah senjata yang berguna untuk serangan maka dia bisa memanfaatkannya untuk melarikan diri. Akan tetapi jika berbeda, situasinya akan krisis.
Mengesampingkan percakapan mereka, Aludra memandang sekitarnya dengan aneh. Dia menemukan ada yang hilang.
“Bukankah harusnya ada empat orang lain yang berpatroli di sekitar?” guman Aludra.
Maria juga memperhatikan. Tak jauh harusnya mereka bisa melihat dua obor yang menyala, kini mereka tak lagi bisa menemukannya.
“Tidak mungkin mereka melangkah terlalu jauh, kan?” tanya Maria.
Keduanya mulai berdiri, Maria berniat memimpin jalannya, Aludra bersiap menyerang dan memegang Manastone-nya.
Disaat itu juga, tepat di belakang keduanya muncul tangan hitam besar yang berniat mencengkeramnya. Aludra dan Maria tak menoleh ke belakang, tetapi mereka dapat merasakan firasat tidak enak.
Maria tak bisa membantu, namun Aludra memiliki reaksi cepat dan memukul tanah. Tempat di mana dia dan Maria berdiri mulai runtuh, menciptakan lubang yang membuat mereka jatuh sehingga menghindari cengkraman tangan besar itu.
Aludra baru pertama kali melihat sesuatu seperti itu, tangan besar hitam yang seperti terbuat dari bayangan. Terlambat sedetik saja, Aludra dan Maria pasti akan jadi bubur.
Aludra menarik napas dalam-dalam dan mulai berteriak keras.
“ADA SERANGAN!”
Sontak hal tersebut membuat orang-orang yang beristirahat terbangun dan terkesiap. Mintaka keluar dari tendanya dan siap bertarung. Di tenda lain, Iris yang baru saja memasang cadarnya juga keluar.
“Apa yang terjadi?!” bentak Mintaka.
Aludra membuat tanah tempatnya berada naik kembali, dia menatap Mintaka dan berteriak.
“Serangan! Empat orang telah menghilang karenanya!”