The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Tak Ingin Bangun



Aludra berbaring di kasur lamanya yang nyaman, lumayan dirindukan olehnya. Entah sudah berapa lama kenyamanan tersebut tidak lagi dirasakannya.


Sinar mentari menusuk pipinya dengan riang melalui jendela. Bunga mawar dan tanaman hijau bak lukisan dari balik pintu kaca, menciptakan pemandangan segar di pagi hari yang cerah.


Gorden putih yang tertiup angin alam nian menyegarkan, membawa semua hal-hal baik untuk hari ini.


Aroma masakan yang lembut di hidung, suara sesuatu yang diceburkan ke dalam wajan panas mengiringi dengan damai. Sebuah kedamaian yang dulu Aludra jalani sehari-hari sebagai orang berkeluarga.


Saat membuka matanya dia menatap langit-langit yang dikenalnya, ruangan putih yang dia akrab, suasana damai pagi hari yang tidak asing untuknya. Suasana yang tak pernah ia benci untuk merasakannya.


Bangun, seseorang muncul di pintu kamarnya, dengan lembut tersenyum dan mengetuk pintu dengan centong sayurnya. Kasih sayang yang penuh kehangatan dari sang istri. Rutinitas pagi yang takkan pernah membuatnya bosan.


“Kamu sudah bangun? Seperti biasa kamu orang yang rajin. Mari makan. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.”


Wanita yang wajahnya tak bisa dilihatnya, seakan-akan sengaja dikaburkan untuk menciptakan kerinduan. Dengan celemek merah dikenakannya, dia memimpin jalan menuju ruang makan.


Punggung yang mungil dan tampak rapuh, serta leher mempesona lantaran rambutnya dikuncir. Sebuah hal yang ia lihat kala pagi hari menuju sarapan pagi. Hal yang selalu menghangatkan hatinya setiap waktu.


Aludra hanya mengikuti dengan patuh tanpa ada perlawanan. Duduk, menatap makanan di hadapannya dan sekitarnya. Tepat di depannya ada wanita yang membangunkannya. Dan, di sisi kiri meja, seorang anak yang belum berusia lima tahun berada. Dengan kursi bayi yang memiliki tempat makannya sendiri, satu paket.


Benar, ini adalah gambaran kehidupan Aludra andaikan dia berhasil kembali, atau setidaknya tidak pernah datang ke dunia lain, seandainya takdir tidak berkata lain.


“Apa kamu sudah mau pergi?” tanya istrinya. “Semoga lancar dengan pekerjaanmu. Aku dan putra kita akan menunggumu di sini, rumah kita.”


Istrinya menggendong putranya yang tertawa riang selagi menyantap buburnya. Aludra berniat menggapainya, menyampaikan sayang dan memeluknya.


“Tidak peduli seberapa lama kamu pergi, kami akan menanti kepulanganmu,” kalimat diakhiri dengan istrinya mencium kening anak semata wayangnya; yang tertawa riang penuh kehangatan.


Harapannya adalah Aludra ada di sana, berusaha menggapai dan mendekap erat-erat.


Namun apa daya? Sosok istri dan anaknya kian menjauh, menjauh, dan menghilang. Aludra seperti ditinggalkan— lebih tepatnya dia meninggalkan mereka. Semakin jauh hingga akhirnya dunia yang dilihatnya menghitam dan menghilang.


Kesadaran menariknya kembali dari mimpi indah yang menyakitkan tersebut.


Kembali kepada kehidupan nyata yang penuh oleh rasa sakit. Hanya disaat seperti ini, seseorang lebih menginginkan bermimpi sekali tuk selamanya tanpa bisa bangun lagi.


Aludra merasakan hal yang serupa dengan itu. Keinginan kuat untuk memiliki mimpi indah yang abadi.


****


Langit-langit yang tidak dikenal, kumuh dan juga kasur yang tidak nyaman karena bagian dalamnya diisikan oleh jerami, sesuatu yang berbeda dari di bumi dan kerajaan.


“Di mana … aku?”


Aludra menatap kanan dan kiri, atas dan bawah. Kini dia berada di sebuah ruangan yang begitu sederhana. Tak ada apapun yang spesial mendekorasi bagian dalam.


Dari ruangan lain aroma harum dari makanan tak dikenal menggelitik hidungnya dengan lembut, seorang gadis kemudian masuk ke dalam.


“Kamu sudah sadar, Aludra?”


“Maria?” gumam Aludra, tatapannya tampak mati seakan tidak peduli pada apapun lagi. “Apa maksud … semua ini?” lanjutnya.


“Maaf?” Maria meletakkan bubur di tangannya selagi memiringkan kepalanya, “Aku tidak mengerti apa maksudmu?”


Aludra menggigit bibirnya dengan kesal dan menggenggam selimutnya sekeras yang ia bisa.


“MENGAPA?! Mengapa kamu menyelamatkanku? Aku akan kembali ke duniaku, tidak peduli apa caranya ... AKU AKAN KEMBALI!”


Tentu, mengapa perlu Maria menyelamatkannya? Aludra tidak butuh diselamatkan. Dia melompat karena ingin kembali ke bumi; melalui kematian.


Sejak awal Aludra tidak pernah membutuhkan keselamatan. Lebih tepatnya tidak ada keselamatan untuknya.


“Itu semua kebohongan, Aludra! Putri dan ratu bersekongkol untuk menipumu, mereka berniat menjadikanmu mainan mereka dengan cara memberikan harapan untukmu lalu membuatmu putus asa!”


“Dengan membuatmu putus asa dan kehilangan tujuan hidup, maka kamu akan menjadi boneka mereka. Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri. Oleh karena itu aku bergegas pergi dan menyelamatkanmu. Meski tak sempat memberikan peringatan, namun—”


“TUTUP MULUTMU!”


“...”


Aludra tahu itu setelah Eleanor mengungkap sisi busuknya, meski begitu dia tetap memilih untuk melompat. Bukan karena menyerah, tetapi mengambil pilihan lain untuk kembali. Mungkin bisa disebut sebagai pertaruhan paling bodoh.


“Mengapa kamu tidak membiarkanku, Maria? Aku hanya ingin kembali, itu saja. Mengapa kamu menghentikanku?”


Air mata yang tak terbendung, kesedihan yang tak tertampung. Bukan kata-kata, tetapi air mata telah menguraikan segalanya. Aludra sungguh ingin kembali menemui keluarganya, dia tak tahu bagaimana hidupnya tanpa mereka.


“Kamu ingin mengatakan bahwa dirimu berharap kematian tidak akan datang saat melompat dan malah akan mengembalikanmu? Jangan bercanda!!” Maria berteriak keras, datang dan memberikan pelukan penuh kasih sayang.


Mendengar itu membuat Aludra tak bisa berkata-kata dan hanya menangis dalam pelukan Maria sampai akhirnya ia tertidur dengan lelap.


***


Maria membaringkan kembali Aludra di kasurnya, dia membawa kembali buburnya dan meletakkan di tempat tertutup agar tak dingin.


Duduk di ruang depan, Maria mulai memikirkan berbagai hal selagi menyantap teh hijau.


“Aku telah pergi selama dua hari dan meninggalkan tugasku di istana. Harusnya ratu dan putri sudah menyadari jika akulah yang menguping percakapan mereka.”


Maria tahu bahwa ini akan terjadi saat dia pergi dan berusaha menyelamatkan Aludra. Keluarga kerajaan bukanlah orang bodoh, saat tahu seorang pelayan menghilang atau mengundurkan diri.


Meski begitu Maria tak khawatir akan hal itu, tak mungkin mereka akan mengejar pelayan sepertinya. Selain itu Maria tahu caranya bertahan mengingat dia dulunya seorang petualang.


“Sepertinya aku akan menjadi petualang lagi untuk uang atau setidaknya sampai aku mendapatkan pekerjaan baru.”


Maria mulai kepikiran tentang Aludra, pria malang yang hanya ingin kembali ke dunianya sendiri. Dia seorang pria yang begitu mencintai keluarganya sampai Maria berpikir betapa beruntungnya gadis yang mendapatkan hatinya.


Jika ada yang bisa dia bantu maka Maria akan melakukannya, tetapi itu bukan hal yang mudah.


Seketika dia memikirkan berbagai hal, seseorang masuk ke rumahnya, adik kecilnya yang pulang. Bocah dengan rambut merah dan wajah yang ceria.


“Selamat datang, Takt.” Maria memberikan sambutan dengan lembut.


Melihat kehadiran Maria membuat bocah itu terbelalak,“Kak? Kamu sudah pulang rupanya!”


Takt lekas memberikan pelukan dan Maria menyambutnya. Wajar saja, harusnya Maria hanya mendapatkan libur setiap tiga bulan. Tentunya ada beberapa keadaan yang membuatnya mungkin untuk pulang meski tak banyak.


“Hm? Apa ada seseorang di dalam?” tanya Takt dengan penasaran.


“Ya, dia adalah kenalanku. Mungkin dia akan tinggal bersama kita untuk beberapa waktu lamanya.”


Takt berjalan terhuyung-huyung menjauh, dia tampak seperti sangat terguncang, “A-apa dia laki-laki?”


Maria memiringkan kepalanya, “Ya, apa ada masalah?”


Mendengar hal itu Takt segera menangis sedu tanpa alasan yang jelas.


Maria tentu bertanya-tanya tentang apa yang terjadi kepada bocah itu, saat dia hendak melakukan sesuatu Takt lanjut bicara.


“Syukurlah! Aku pikir kakak tak lagi tertarik pada pria dan akan hidup sendiri seumur hidup! Aku juga senang bahwa sebentar lagi aku akan menjadi seorang paman dan memiliki kakak ipar!”


Takt menangis haru sedemikian rupa, meski begitu Maria merona seperti tomat.


Dia bertanya-tanya dalam pikirnya, apa yang diharapkan oleh bocah itu? Apa yang dipikirkan adik kecilnya sampai bersukacita? Pasti bukan hal yang bagus. Maria tidak ingin merebut suami orang tentunya.


“A-apa yang baru saja kamu katakan?! I-itu tidak seperti yang kamu bayangkan!”


Takt dengan polosnya berkata, “Habisnya mendiang ibu kita mengatakan padaku; saat pria dan wanita yang bukan pasangan berada di rumah berdua saja, maka ular botak akan menyemburkan bisa ke dalam lubang untuk menciptakan bayi.”


“Itu …sedikit bengkok, namun ... argh!”


Maria tidak bisa menjelaskannya kepada Takt. Sekalipun bocah itu sudah berumur tiga belas tahun, dunia orang dewasa masih terlalu jauh untuknya.


Pada akhirnya Maria hanya bisa merelakan anggapan Takt berjalan seperti adanya, tak berusaha memberikan penjelasan lebih jauh. Toh, cukup memalukan untuk menjelaskannya.


Saat mereka pergi untuk melihat kondisi Aludra, Takt tampaknya dikejutkan oleh sesuatu.


“Dia … orang yang dulu bersama pahlawan panah.”


Maria tidak terkejut jika Takt mengetahuinya mengingat Aludra pernah berburu monster bersama Bellatrix ke desa Dart, tempat tinggal Maria juga Takt saat ini.


“Ya, dia adalah penduduk dunia lain, sama seperti pahlawan lainnya, tetapi dia berbeda karena tak memiliki kekuatan spesial.”


Maria memberikan sedikit penjelasan tentang situasi yang dialami oleh Aludra. Takt setelah mengetahui garis besar kisahnya juga merasa iba dan prihatin.


Pria yang hanya ingin bersama keluarganya, kembali ke tempat bernama rumah namun tak diizinkan oleh dunia.


“Apa tidak ada jalan untuknya kembali selain mengandalkan jurang yang tak jelas itu?” tanya Takt dengan sedih.


Kala itu Maria menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Dia hanya tersenyum masam selagi diam-diam menahan air mata.


“Jika ada sesuatu seperti itu maka dia takkan pernah memilih Jurang Tanpa Dasar sebagai tempat meletakkan harapan.”