The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Persyaratan



Sudah lama sejak terakhir kali Aludra membersihkan dirinya dengan benar. Mandi di pemandian air panas yang membuat tubuhnya seakan meleleh.


Dilengkapi dengan pakaian berupa kemeja putih dengan kerah berjumbai dan celana hitam panjang. Aludra kemudian pergi ke kamar Maria untuk menemuinya dan melakukan pembicaraan.


Sesampainya di sana Aludra dikejutkan oleh pemandangan tak terduga.


“Kamu tampak cocok dengan pakaian itu, Maria.”


Maria saat ini menggunakan kemeja putih dengan lengan berjumbai, rok abu-abunya yang pendek dan kaos kaki hitam panjang menutupi kulit pahanya. Rambutnya diikat ponytail, mengekspos lehernya yang putih.


“Terima kasih,” Maria tersenyum tipis dan sedikit merona. “Omong-omong, hal apa yang membawamu ke sini?”


“Ini tentang tujuan kita,” ujar Aludra. “Manastone mungkin berhasil kita dapatkan, tetapi kita belum bisa langsung menuju Kuil Parthenon.”


“Mengapa?” tanya Maria, mengerutkan alisnya.


Aludra duduk di kasur dan meluruskan kakinya dengan santai, dia memandang langit-langit selagi memikirkan beberapa hal.


“Kita harus mengumpulkan informasi terlebih dahulu tentang tempat itu tingkat bahayanya yang tinggi.”


Maria duduk di sisi lain Aludra dan mengerti maksudnya.


“Apa kamu khawatir tentang Red Forest? Aku rasa dengan kemampuan kita sekarang, tempat itu bisa dilalui.”


“Aku tak terlalu mengkhawatirkan tempat itu, tetapi hal lainnya yakni, lokasi dari kuil itu sendiri.”


Sebelum menuju Kuil Parthenon mereka harus melalui Red Forest, sebuah hutan yang mematikan. Dari yang Aludra dengar, tempat itu dipenuhi racun dan menjadi sarang beberapa monster yang bermutasi.


“Tempat yang bahkan pahlawan belum mampu menjelajahinya dengan bebas. Jika para pahlawan saja tak mampu, kita takkan bisa.”


Aludra tidak bodoh, pergi ke sana tanpa persiapan matang adalah langkah bunuh diri. Meski begitu dia tak menyerah pergi ke tempat itu. Ada Artefak Kuno yang mungkin berguna untuknya.


“Kita harus menyusun banyak hal dan melakukan persiapan demi tujuan kita. Untuk sekarang kita akan tinggal di sini, mungkin saja ada beberapa hal yang bisa kita manfaatkan dari bangsawan Solva.”


Aludra menjilat bukan tanpa alasan. Dia membutuhkan penyokong seperti bangsawan agar meningkatkan kemungkinan berhasil mendapatkan Artefak Kuno.


“Baiklah kalau begitu … apapun yang terjadi kita tak boleh gagal. Ini semua demi Takt!” Maria mengepalkan tinjunya dengan erat.


Aludra hanya sedikit meliriknya dan diam. Baik dirinya maupun Maria tidak melupakan dendam masing-masing. Jika Maria dendam kepada keluarga kerajaan dan seisinya, maka Aludra mengutuk seisi dunia ini.


Bahkan sekarangpun Aludra masih memikirkan keluarganya yang jauh di sana. Meski harapan kembali tak lagi ada, namun bukan berarti harus melupakan.


***


Meninggalkan Maria di kamar, Aludra berjalan menuju halaman. Bunga ditanam sesuai jenisnya, taman terlihat berwarna-warni di bawah sinar rembulan.


Bulan purnama yang lebih biru dari biasanya, membawa perasaan damai dan lembut. Aludra mencium aroma yang asing baginya. Aroma yang terasa lembut dan menenangkan.


Angin segar bertiup dan membawa aroma itu menyebar kian jauh. Aludra menemukan sumbernya berasal dari tengah taman, sebuah tempat singgah kecil yang ada di sana.


“Apa yang anda lakukan di malam yang dingin ini, Nona Iris?” tanya Aludra ketika menghampiri sumber aroma tersebut.


Dia menemukan bahwa Iris sedang membakar dupa yang menyala dengan api berwarna kebiruan. Aromanya menyebar dengan luas dan tak hilang meski angin meniupnya dengan kencang.


“Tuan Amatsumi …,” panggil Iris. “Ya, ini hal yang biasa aku lakukan. Membakar dupa untuk menenangkan pikiran dan batinku.”


Aludra hanya diam dan memandang dupa tersebut. Memang setiap kali menghirup aromanya ada perasaan aneh yang membawa kenyamanan ke hatinya.


“Ini memang sangat menyenangkan, membawa pikiran saya lebih damai.”


Iris tersenyum, “Kamu boleh duduk jika mau.”


Aludra menurutinya dan memandang Iris yang masih menggunakan cadar untuk menyembunyikan wajahnya. Aludra tidak tahu apa alasannya namun dia tak berniat melakukan pencarian.


Aludra berterima kasih dan memberikan hormat kepadanya. Iris hanya melambaikan tangan dan tersenyum masam.


“Tidak perlu terlalu kaku. Aku lebih nyaman jika kamu tak mengkhawatirkan formalitas.”


“Jika itu yang anda— baiklah, nona.” Aludra segera menghilangkan formalitas, toh dia sendiri muak dengannya. “Apa kamu sedang memikirkan sesuatu sampai membutuhkan ketenangan?”


Iris mengangguk, “Ada berbagai hal seperti pertunangan dan hal lainnya. Namun yang paling membuatku risau adalah nasib kota ini.”


Aludra mengerutkan alisnya. Dia tentunya tidak menyukai ada kekacauan disaat dirinya tengah melakukan persiapan. Hal ini tentu tidak disambut baik.


“Kota ini? Apa ada masalah yang serius?”


“Aku yakin kamu tahu Red Forest yang tidak jauh dari kota ini.”


Itu adalah tempat di mana Kuil Parthenon berada, tujuan yang sedang Aludra tempuh.


Iris menjelaskan bahwa belakangan ini situasinya tidak sedang berjalan damai. Ada banyak pergerakan aneh yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.


“Sejak dua puluh tahun yang lalu, mulai muncul kasus orang hilang yang tidak diketahui pelakunya. Namun saat guild petualang menyelidikinya, mereka menemukan beberapa jejak orang hilang berada di dekat Kuil Parthenon.”


Awalnya kasus itu ditutupi dari masyarakat mengingat bahkan kerajaan belum bisa mengusik kuil tersebut. Namun belakangan ini kasus orang hilang meningkat dengan pesat.


Bahkan mulai ada gemuruh mengerikan datang dari sekitar Red Forest. Menurut penyelidikan, ditemukan beberapa makhluk aneh mulai berkeliaran di kota setiap malam.


“Itu masalah yang mengerikan dan penuh misteri. Namun aku tidak berpikir bahwa itu menjadi tanggung jawab nona.”


Harusnya Edward yang mendapatkan masalah terkait hal itu mengingat dia yang memipin kota ini.


“Itu memang benar. Namun ada beberapa hal yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan semua ini.”


Iris menatap bulan dengan tatapan sedih dan menyampaikan, “Untuk melakukannya ayah pergi ke ibukota dan meminta pertolongan.”


Raja Etherbelt, Andrea bersedia mengirimkan bantuan pasukan dan tim penyidik kerajaan namun pada akhirnya itu tidak benar-benar menyelesaikan masalah.


Edward berencana meminta pertolongan langsung kepada Bellatrix dan pahlawan lainnya, tetapi sayang bahwa saat ini mereka pergi mengembara ke berbagai tempat.


Kebetulan hanya ada satu pahlawan yang saat itu berada di ibukota. Pahlawan itu bersedia membantu namun menuntut beberapa syarat untuk dipenuhi.


“Kami tak bisa menolak atau menentang seorang pahlawan, bahkan yang mulia raja tak mau campur tangan.”


Aludra tak pernah bertukar kata dengan pahlawan selain Bellatrix. Dia hanya pernah melakukan percakapan singkat dengan empat orang termasuk Bellatrix saja.


“Jika boleh aku mengetahuinya, apa persyaratan yang diajukan?” tanya Aludra.


Iris sedikit diam sebelum menjawabnya, “Aku harus menjadi istrinya.”


Itu syarat yang tidak terduga sederhana, hanya dengan menikah maka mereka akan mendapat pertolongan. Aludra tidak tahu apanya yang dipusingkan dari hal itu. Bukankah diantara bangsawan, pernikahan semacam ini hal yang lumrah?


“Aku seharusnya merasa terhormat karena akan menikah dengan seorang pahlawan. Namun, untuk beberapa hal … aku merasa takut dengan pria itu.”


Itu tampaknya hanya salah satu dari persyaratan yang diajukan, tampaknya ada beberapa lainnya yang tak bisa diungkapkan. Meski begitu Aludra tidak berniat menggali lebih dalam.


“Begitu, pasti berat untukmu, nona. Jadi, apakah kamu menerimanya?” tanya Aludra dengan sedikit simpati yang tentunya dibuat-buat. Pada kenyataannya Aludra tidak benar-benar peduli.


“Aku belum memberikan jawabannya … lusa, pahlawan itu akan datang untuk meminta jawabanku.”


Aludra terbelalak mendengarnya. Pahlawan akan datang ke kota ini. Hal itu bukan berita bagus untuknya karena bisa saja orang yang datang mengingat tentangnya.


Jika itu terjadi, maka fakta bahwa penduduk dunia lain yang ke-13 masih hidup akan terungkap pada dunia.