The Lost Of Legends

The Lost Of Legends
Kuil Parthenon IV



Mintaka menerjang langsung ke depan dan berusaha menghancurkan Arc Lich sekuat tenaga. Benturan besar terus terjadi antara bayangan hitam dengan kapak berapi-api.


Situasi awal tampak seperti seakan-akan Mintaka memegang kendali, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Arc Lich hanya bermain-main dengannya, mencari tahu seberapa kuat pahlawan.


Kemudian setelah beberapa waktu dia mulai membangkitkan Undead dan menghalangi prajurit lainnya.


“Kamu mencegah orang lain mendukungku untuk melenyapkan dirimu, ya?” Mintaka tersenyum lebar. “Maka ini duel diantara kita.”


“Kamu terlalu lemah. Ini bukan duel yang aku inginkan.”


Mintaka mengerutkan alisnya. Dirinya yang seorang pahlawan dikatakan lemah?


“Lemah? Aku? Jangan main-main!”


Mintaka menerjang dengan liar seakan-akan kehilangan akal sehatnya. Kampak miliknya mulai membesar.


“H-hah?”


Namun seketika visi Mintaka terbalik. Dia memandang dunia secara terbalik, tidak tahu apa yang terjadi.


“Kamu lemah. Bahkan tidak menyadari musuhmu bukan aku. Sejak awal tak pernah ada yang namanya duel.”


Suara wanita yang dulunya menjadi pemandunya ke tempat ini. Itu adalah Cage yang tampak seperti mayat hidup, dengan matanya memutih seakan-akan kehilangan kesadaran.


Baru saja, Cage membanting tubuh Mintaka dan membenturkan kepalanya ke lantai. Itu adalah penyebab mengapa visinya tiba-tiba terbalik.


“Curang! Bisa-bisanya kamu menggunakan strategi licik seperti itu!”


“Mengapa tidak boleh? Apa alasan aku tak bisa melakukannya?”


Lich mengangkat kedua tangannya, memunculkan bola api hitam raksasa dengan sangat mudah.


“Akan aku tunjukkan bahwa pemantik apimu tidak ada apa-apanya!”


Siapapun dapat yakin bahwa api hitam itu sangat berbahaya. Manusia pasti langsung lenyap bahkan hingga debu tak tertinggal. Bahkan kemungkinan buruk paling baik adalah itu api yang hanya membuat manusia melepuh dan terkena kutukan.


Namun tak peduli apapun kemungkinannya, tujuan akhir mereka yang terpapar apinya adalah kematian.


Bahkan Mintaka tahu betul hal itu. Dia benci mengakuinya namun Lich di depannya jauh lebih kuat.


“Aku adalah pahlawan! Takkan mungkin menyerah karena ini! BURNING!”


Kapaknya mengeluarkan kobaran api besar sampai-sampai membakar tubuh Mintaka. Namun itu tidak meninggalkan luka apapun, justru tampaknya dia telah diperkuat.


“Banyak bicara.”


Lich mengulurkan tangannya dan melempar api hitam langsung menuju Mintaka. Akan tetapi, sebelum serangannya menjauh dari tangan, Mintaka bergegas melompat dan menghantamnya.


“Burning On - Meteor Axe!”


Kapaknya melesat cepat dan benturan keras mengikuti. Seisi kuil bergetar hebat akan benturan tersebut.


Lich tampak mendominasi sekilas, tetapi bahkan monster itu mulai kesal. Mintaka perlahan maju dan bola api hitam kian memudar sebelum pecah berkeping-keping.


***


Di sisi lain Aludra hanya mengamati dari tempat yang aman selagi sesekali memberi bantuan kecil sampai dia menyaksikan benturan hebat antara Mintaka dan Lich.


Untuk beberapa alasan semua orang menjadi sangat bersemangat dan menghadapi keroco yang diciptakan Lich.


“Apa kita hanya akan terus menonton?” Maria yang sudah menyelinap dan kembali ke sisi Aludra.


“Entahlah. Sejak tadi aku penasaran dengan cahaya di dada tengkorak itu.”


Cahaya kemerahan yang menyala di dada Lich. Ini adalah pola yang klise di berbagai kisah fantasi yang pernah Aludra baca. Jika dunia ini juga memiliki klise seperti itu, maka Lich akan tewas jika cahaya di dadanya lenyap.


“Itu adalah pendukung kehidupan Lich dan sumber sihirnya. Mungkin lebih mudahnya itu seperti Mana Stone. Meski ini salah satu cara membunuhnya namun sangat sulit mengandalkan cara ini.”


Cara lainnya adalah menghantam tengkorak jelek itu dengan sihir suci yang cukup kuat. Meski begitu, Aludra bukan orang tanpa otak.


“Ubah rencana. Kita bantu Mintaka.”


Tanpa berkonsultasi sedikitpun Aludra melangkah maju menuju Mintaka. Maria tidak banyak protes meski dia merasa ragu.


Perubahan pikiran Aludra memang mengejutkan, tetapi menebak apa yang ada di kepalanya sangatlah sulit.


“Kuargh! Bajingan kau!” Lich menjerit kesakitan dan menampar Mintaka ke tanah.


Aludra yakin bahwa Mintaka sudah kehilangan cukup banyak tenaga. Faktanya adalah orang itu terkapar di tanah dan kesulitan untuk bangun.


‘Namun itu bagus. Dada tengkorak jelek itu retak.’


“Aku akan membunuhmu, pahlawan!”


Aludra menarik sihir dari Mana Stone dan menghantamkan tangan kanannya ke lantai.


“SEKARANG!"


Maria segera melesat ke depan dan menyebarkan benangnya dengan cepat. Aludra menciptakan batu di setiap mata jangkar benang Maria melesat untuk menjadi penyangganya.


Lich dengan cepat diikat dan gerakannya sangat dibatasi. Benang Maria jelas cukup kuat untuk menahan keparat tengkorak jelek.


“Berani-beraninya manusia seperti kalian—”


Lich berhasil membebaskan tangan kirinya, tetapi segera selendang ungu menahannya dengan kuat. Bahkan kepalanya dibungkus tebal oleh selendang ungu tersebut.


“Aku akan membantu!” Iris yang tidak lagi mengenakan cadarnya dan memiliki darah mengalir di kepalanya.


Wajah cantiknya bahkan tak berubah meskipun darah mengalir dari kepalanya.


“Lakukan serangan terakhir, wahai pahlawan!” Aludra berteriak dengan keras.


Mintaka menggertak giginya dengan kesal. Dia perlahan bangkit, mulai berlari dan mengayunkan kapaknya sekali lagi.


“Dengan ini akan ku akhiri!”


Kampak mengeluarkan cahaya keemasan yang terang. Mintaka melesat dan menghantam dada Lich sekuat tenaga.


Tulang rusuk yang melindungi kristal di dadanya perlahan retak, semakin parah dan hancur. Namun hanya sebatas itu saja. Serangan Mintaka segera berakhir tanpa sempat menghancurkan kristal di dalamnya.


“Sial! Hanya sampai sini?” Mintaka mengumpat kesal karena ketidakmampuannya.


Hanya satu langkah lagi dia akan menghancurkan Lich itu. Prestasi 'Pembunuh Lich' tepat ada di depannya. Namun mengapa sekarang terasa sangat jauh?


“Belum berakhir!”


Mintaka dapat menemukan orang melesat melewatinya. Dia tampak seperti berselancar dengan tanah yang tumbuh seperti pohon.


Pria itu, Aludra membalut tangan kanannya dengan benang Maria. Dia membalutnya sangat tebal hingga terlihat sangat besar.


Aludra memanfaatkan tanah yang terus bergerak dan dorongan angin kuat yang menghempaskannya. Dia terus melaju dan mengulurkan tangannya.


Untuk beberapa alasan dia memiliki senyuman di bibirnya.


‘Akan kuambil sumber kehidupanmu!’


Bang!


Tangan Aludra yang terbungkus benang tebal menghantam dada Lich. Dia mencapai kristal merah di dada Lich.


“H-hentikan! Hentikan!!”


Lich mengamuk dan memberontak, tetapi Maria dan Iris menahannya dengan kuat.


“Mayat harus tetap jadi mayat!” Aludra berteriak dan mencabut Mana Stone dari dada Lich.


“Sialan!”


Lich mulai berubah menjadi asap sebelum entitasnya menghilang dari dunia ini. Cage yang dirasuki olehnya mulai sempoyongan dan tak sadarkan diri.


Aludra memandang batu bundar kemerahan di tangannya, dia mencoba menyerap mana di dalamnya dan terkejut.


‘Ini Mana yang sangat dingin. Sungguh berbeda dari yang biasanya.’


Biasanya akan ada perasaan hangat dari menyerap mana, tetapi ini pertama kali Aludra merasakan yang dingin.


‘Namun ini cukup. Kekuatan sihir di dalamnya jauh lebih besar.’


Hal terakhir yang bisa dilakukan Aludra saat ini adalah menjarah apapun yang ada di tempat ini. Kemungkinan terbaik adalah Artefak Kuno bisa dia miliki.